Angkasa masih menunggu Arum untuk memberi tahu alamatnya dengan tak sabar, ia harap ia tak terlambat untuk menolong ibu Arum dari Alex.
"Rum, cepat katakan dimana alamat rumah mu jika aku harus menolong ibu mu?" tanya Angkasa memaksa.
"Berjanjilah, Captain tidak akan terluka jika saya memberi tahu alamat rumah orangtua saya, Capt," pinta gadis itu dengan wajah memohon mengeratkan genggaman pada tangan Angkasa.
Angkasa menunduk, melihat tanganya diremas erat oleh Arum, menunujukkan jika dia begitu khawatir. Apa kau mengkhawatirkan ku, Arum?
Angkasa memberikan senyum menyakinkan pada Arum.
"Percayalah padaku, Rum. Aku tidak akan terluka," ucapnya penuh keyakinan agar Arum peecaya, lalu Angkasa tangan Angkasa berpindah menggenggam tangan Arum, mengusap lembut tangan yang terasa dingin dan gemetar itu, memberi kekuatan.
Arum yang merasakan genggaman tangan Angkasa mengangguk, menatap Angkasa dan memberi tahu alamatnya.
Perlahan Angkasa melepaskan tangannya dari genggaman Arum, namum gadis itu seolah enggan Angkasa pergi, dan itu membuat Angkasa sangat bingung dengan sikap Arum. Saat kaki Angkasa telah melangkah keluar, Arum kembali memanggilnya.
"Capt, boleh saya minta satu hal lagi?" Angkasa diam, tapi kemudian mengangguk sebagai jawaban. "Jika Alex sudah ada disana lebih dulu, tolong jangan sakiti dia juga, bawalah ibuku tanpa menyakitiinya." Angkasa sampai harus kembali melangkah mendekat pada Arum mendengar permintaan Arum.
"Apa maksud mu, Arum? Sebenarnya kamu lebih mengkhawatirkan ibu mu, atau pacar mu itu?"
Oh Astaga, tadi Angkasa sempat merasa melambung karena Arum mengkhawatirkanya, ternyata dia salah, Arum mengkhawatirkan laki-laki itu.
Sungguh Angkasa tak habis pikir apa yang ada didalam pikiran Arum. Padahal tadi Angkasa sudah mulai semangat saat Arum mengkhawatirkanya, tapi kini dia kembali melemah karena Arum lebih mengkhawatirkan Alex.
"Aku-" Arum jadi gugup, "Captain Alex sebenarnya juga korban kekerasan dari ibunya sejak kecil karena ayahnya menikah lagi, Capt. Dia seperti itu karena ingin balas dendam pada ibu dan ayahnya, jadi jangan lukai Captain Alex."
"Tapi apa aku harus membenarkan apa yang dia lakukan?" Angkasa jadi tersulut emosi. "Apapun yang terjadi di masa lalunya, tidak seharusnya dia seperti itu, Arum. Melampiaskan kekecewaanya pada orang lain, dan bertindak merugikan orang lain? Apa kamu harus sebodoh itu menjadi budaknya?"
Seseorang tolong jelaskan padaku, apa yang harus aku lakukan pada Arum?
"Tapi itulah yang terjadi, Capt. Captain tidak merasakan apa yang kami rasakan, bingung harus melampiaskan pada apa? Pada siapa?"
Angkasa menghembuskan nafasnya kesal. Arum membanding-bandingkan dia dengan Alex maksudnya? Jika seperti ini dia bingung harus seperti apa? Tapi tindakan Arum juga tidak bisa dibenarkan.
"Terus maksud mu aku harus mengalah pada Alex, dan memaklumi semua yang dia lakukan karena masa lalunya? Iya Arum?" Angkasa sedikit membentak. "Arum jujur aku jadi bingung harus menyelamatkan ibu mu atau tidak?"
Arum tak menjawab, dia memilih diam dan menunduk, dan itu semakin membuat Angkasa kesal. Daripada dia menunggu Arum yang tak jelas, Angkasa memilih pergi tanpa mengatakan apapun pada Arum.
"Capt!" Panggil Arum hendak menyusul, tapi dia mengurungkanya karena Angkasa membanting pintu dengan keras.
"Ed, ikut aku." Angkasa mengajak Edward. Angkasa memilih mengambil tindakan sendiri, karena tak bisa menyelesaikan masalah jika menggunakan perasaan. Edward yang sedang tiduran disofa karena kamarnya dipakai suster Andini bangun.
"Kemana Capt? Ini sudah larut, besok saya ada jadwal pagi." Jawaban penolakan sebenarnya.
"Ikut saja, hanya sebentar, tidak menghabiskan waktu istirahat mu," ucapnya, "kamu panggilkan Suster Andini, kita akan keluar sebentar."
Mau tak mau Edward menurut, memangil suster Andini, lalu dia mengenakan jaket malamnya, menyusul Angkasa yang sudah berjalan lebih dulu. Saat berada didalam lift, tubuh Edward terlihat gelisah.
"Kita sebenarnya mau kemana Capt?" Lagi Edward bertanya penasaran, karena wajah Angkasa terlihat menahan amarah.
"Ikut saja kataku."
"Oke, tapi apa boleh saya minta penjelasan pada Captain siapa Captain sebenarnya?" Edward memiringkan kepalanya menatap Angkasa yang berdiri disampingnya. "Saya merasa jika Captain bukanlah pilot biasa seperti saya. Dari cara Captain bicara, dari tindak-tanduk Captain, dan tatapan Captain seperti Captain juga memiliki kekuasaan seperti Captain Alex." ups Edward menutup mulutnya saat Angkasa menatapnya tajam.
"Sudah, tidak perlu dijelaskan tidak apa-apa Caot. Kuasai saja apartemen saya, lakukan apapun sesuka Captain dirumah saya, membawa wanita, kamar saya di sabotase perawat, saya harus tidur disofa, dan rasa-rasa saya seperti dihipnotis menurut saja dijajah." Edward terlihat memelas. Namun Angkasa tak meresponya.
Angkasa dan Edward menaiki taksi online yang sudah Angkasa pesan, Edward tak lagi bertanya pada Angkasa tujuan mereka, dan siapa dia. 4Edward memilih bungkam, mengikuti saja kemana Angkasa akan membawanya, dijual oleh Angkasa pada mami-mami juga, mungkin Edward hanya pasrah.
Angkasa meminta sang supir untuk menghentikan mobilnya dijarak 700 meter dari rumah Arum.
"Ed, tunggulah disini, jangan pergi kemana-mana jika tanpa perintah ku," perintahnya.
"Ya, ya, ya. Capt kan sudah saya katakan, tubuh saya, apartemen saya, semuanya milik Captain, lakukan sesuka hati Captain." Segitu pasrahnya Edward. Dan lagi-lagi Angkasa tak menanggapi ucapanya, Angkasa berlari keluar menuju rumah Arum.
Angkasa memperlambat langkahnya saat dari jauh terlihat sinar lampu mobil mengarah padanya, merasa curiga, Angkasa memilih bersembunyi diantara bunga bonsai yang berjejer rapi didepan rumah yang ia lewati. Angkasa memperhatikan mobil tersebut, namun karena kaca film mobil itu sangat gelap, Angkasa tak dapat melihat isi dalam mobil tersebut.
Setelah dirasa mobil itu sudah jauh, Angkasa keluar dari persembunyianya. Ia mengingat alamat yang sempat Arum sebutkan. Saat sudah sampai didepan rumah yang diduga rumah Arum. Angkasa langsung masuk dan memeriksa halaman rumah tersebut. Nampak ada sapu yang tergeletak didepan halaman rumah itu, dan kursi teras yang berantakan.
"Sial, aku terlambat, sepertinya mobil tadi mobil suruhan Alex?"
Angkasa kemudian memilih mengetuk pintu rumah itu. Beberapa kali Angkasa mengetuk namun tak ada yang membuka, enggan mengundang kecurigaan warga setempat, Angkasa memilih pulang, meski ia kecewa.
* * *
"Sepertinya keinginan mu untuk tidak menyakiti Alex terkabul, Rum. Dia sudah membawa ibu mu pergi." Angkasa berkata dingin pada Arum.
"Jadi Mama saya sudah tidak ada disana?" lirih Arum mentapap kosong ke depan.
"Ya, orang suruhan Alex sudah lebih dulu kesana, bukankah seharusnya kamu senang karena Alex tidak apa-apa?"
"Capt, tapi bukan itu juga maksud saya."
"Istirahatlah Rum. Aku akan pulang, pesan ku jika tidak ada Edward, jangan membuka pintu jika ada tamu. Karena kita tidak tahu siapa yang datang." Suara Angkasa masih terdengar dingin, "aku akan berusaha menemukan ibu mu, tanpa menyakiti Alex."
Arum tak dapat menjawab apa-apa. Dia tahu Angkasa kecewa, tapi dia juga tahu bagaimana Alex melewati ini semua.
Wangi semerbak mi goreng instan memenuhi ruang apartemen Edward. Andini yang merasa cacing didalam perutnya berdemo setelah keluar dari kamar Arum, memutuskan memasak mi instan saja dari pada memesan makanan.
Edward yang sedang tidur disofa ruang tamu, terbangun mencium aroma yang membuat perut keroncongan itu.
"Kau hanya membuat satu saja, Sus? Aku hanya kau bagi aromanya?" celetuk Edward melihat jika Andini hanya membuat satu saja.
"Masak sendiri jika anda mau, Tuan. Saya hanya punya satu, bawa dari rumah." Andini meniup mi yang masih mengeluarkan uap panas itu sebelum memasukkan kedalam mulutnya.
Edward membuang nafas. "Hoh, lihatlah siapa yang menumpang siapa yang tuan rumah? Ya, kamu masak mi itu memakai air dan kompor milik ku bukan? Dan satu lagi, piring dan sendok yang kamu gunakan juga milikku."
Andini meletakkan sendoknya kasar. "Apa anda tahu alasan mengapa anda masih jomblo sampai sekarang, Tuan? Seharusnya Anda berpikir apa yang kurang dari diri Anda. Lagi pula aku disini atas perintah Tuan Angkasa untuk melayani Nona Arum, bukan melayani Anda." katus Andini seraya menggelengkan kepalanya heran.
"Ya, ya, ya. Jajalah aku sepuas kalian, kuasai semua yang ada disini." Edward kembali merebahkan tubuhnya di sofa yang terasa sempit ditubuhnya.
"Apa Tuan ada stok mi, saya buatkan." Tawar Andini pada akhirnya karena merasa tak enak.
"Carilah di stand lemari atas kompor, aku biasanya menyimpanya disana." Andini harus merelakan lezatnya mi yang masih panas itu, melangkah, melihat stok mi untuk Edward. Dan beruntung masih tersisa satu bungkus.
"Masih tersisa satu, tuan. Saran saya rajin-rajinlah belanja bulanan agar anda tidak kelaparan."
"Berilah saran itu pada cicak yang tidak memiliki pekerjaan, Suster." Sahut Edward sambil memejamkan mata.
* * *
"Kamu pulang jam berapa semalam sayang?" Tanya Delia melihat Angkasa turun dari tangga dan bergabung dimeja makan.
"Jam satuan, Ma." Angkasa duduk disebelah saudara kembarnya.
"Lain kali, jika pulang terlambat atau kamu ingin mampir kemana, kabari Mama kamu, jangan membuatnya khawatir, kamu tahu semalam dia tidak bisa tidur? Jangan membuatnya kurang tidur," ucap Abian menasihati putranya.
"Iya, Yah. Maaf Ma, Ayah. Semalam hape Angkasa lowbet, Jadi tidak sempat mengabari."
"Kakak sekarang kayak sibuk banget, biasanya pulang dari flight langsung pulang, nggak main dulu, Aira curiga Kakak sekarang udah punya pacar, biasanya orang itu berubah karena ada sesuatu, apalagi menyangkut cewek." Sambar Aira tepat sasaran.
"Anak kecil jangan sok tau. Kuliah yang benar."
"Kakak juga kerja yang benar, jangan pacaran terus, nanti anak orang hamidun." Aira tertawa.
"Hush Aira, omongan kamu itu. Jangan suka bicara yang macam-macam." Tegur Delia.
"Becanda, Ma."
"Memang semalam kemana sih, Brow. Nggak biasa-biasanya pulang selarut itu dan nggak mengabari Mama." Awan yang sejak tadi diam ikut nimbrung.
"Semalam ada teman kecelakaan, dia tinggal sendiri, jadi aku temani dia berobat dulu."
"Cewek apa cowok? Kalau cewek sih nggak papa, kalau cowok aku curiga kamu jeruk makan jeruk."
Bughhh
Angkasa menendang kursi Awan dibawah meja. "Masa nolongin orang harus pilih-pilih."
Abian dan Delia hanya geleng kepala mendengar perdebatan anak-anankya, meski mereka sudah tidak lagi kecil, tapi kelakuanya seperti anak kecil, dan Abian dan Delia senang, rumah mereka tetap ramai meski tak memiliki anak kecil, itulah mengapa Delia dan Abian tak memaksa Awan untuk mencari pekerjaan, dia seolah ditugaskan menemani, dan menjaga Delia dirumah, sampai Awan memutuskan sendiri yang ingin bekerja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Surya Hermawan
dari awal kok nggak afa sean ya kemana dia
2024-10-06
0
Femmy Femmy
sudah mau dirusak sama Alexa tetap saja Arum membela Alex 🤦apa kamu tidak takut kalau pempek mu digunakan sama Alexa sedangkan Alex tidak mau bertanggung jawab..pria brengsek😠
2024-04-15
0
Lina Susilo
ya ampun arum masih juga mmikirin alex
2023-04-12
0