Hari berlalu, minggu berganti, Angkasa menjalani profesi sebagai pilot tanpa ada kendala berarti, dia mendapat jadwal terbang di jam normal, tak ada juga yang mengetahui jika dia merupakan anak salah satu pemilik Airlangga Airlines. Selama itu pula, Angkasa selalu memperhatikan dari jauh pramugari yang sukses menyita perhatianya sejak awal ia bergabung di maskapai sang ayah.
Citra Arum Pratiwi.
Dia selalu menggumamkan nama itu setiap dia melihat gadis itu dari jauh. Arum pramugari cantik yang memiliki senyum yang bisa mengundang ribuan lebah untuk mengerumuninya. Apalagi saat dia tertawa, matanya mengecil hingga tak terlihat dan itu lucu dimata Angkasa.
Astaga, Angkasa ... Dia sudah ada yang punya, tapi kau mengamatinya sedemikian rupa.
Sebenarnya Angkasa tak ingin berburuk sangka dengan apa yang pernah didengarnya waktu itu, dia hanya sekali terbang bersama Alex, namun cukup jelas jika laki-laki yang sedang bercinta didalam toilet waktu itu adalah Alex. Angkasa ingin membuntuti, tapi itu bukan urusanya. Alex bukan laki-laki yang terikat pernikahan, sah-sah saja jika laki-laki itu ingin bercinta dengan siapapun, asal itu bukan di lingkungan kerja.
Apalagi kabar yang Angkasa dengar, jika Alex merupakan pilot profesional yang selalu tepat waktu dan disiplin dalam bekerja. Alex juga merupakan anak dari jajaran direksi di Airlangga Airlines. Angkasa tak ingin menanyakan ini pada ayahnya, biarkan saja Alex bertindak semaunya, asal jangan merugikan perusahaan.
Angkasa baru saja mendarat di ibu kota setelah beberapa hari terbang di berbagai pulau di Indonesia. Tak sengaja ia melihat Arum sedang berpelukan dengan Alex, sepertinya Alex baru akan flight, dan Arum mengantarkanya, dari pakaian yang dikenakan Arum, sepertinya Arum sedang mendapat jatah libur.
Angkasa melihat kedai kopi yang ada didepannya, ia mampir sebentar untuk membeli kopi.
Bughhh
"Maaf-maaf, saya tidak sengaja."
Refleks, Arum yang tak sengaja menabrak Angkasa membersihkan tumpahan kopi diseragam Angkasa yang ada ditangan laki-laki itu, bukanya risih atas yang Arum lakukan, Angkasa justru mengangkat kedua tangannya agar Arum bisa leluasa membersihkan noda kopi diatas seragamnya.
Kedua sudut bibir Angkasa terangkat, usahanya untuk dapat melihat wajah Arum dari dekat bisa terealisasi. Gadis itu tak memakai make-up sedikitpun, terlihat jika wajah Arum sangat halus dan putih, tak ada noda sedikitpun disana.
Arum mengangkat pandanganya menatap Angkasa.
"Maaf Capt, seragam anda jadi kotor gara-gara saya."
"Tidak apa-apa, saya juga salah, berjalan tidak melihat kedepan," ucap Angkasa tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik nan teduh itu.
"Anda mau terbang atau-"
"Saya baru saja mendarat," jawab Angkasa cepat memotong ucapan Arum, tak tega melihat gurat khawatir diwajah Arum, ekspresi yang berlebihan menurut Angkasa, dan setelah mendengar jawaban darinya, Arum menghela nafas lega.
"Syukurlah," Arum mengusap dada, "Captain bawa baju ganti? Biar saya cucikan seragam Captain yang kotor."
Angkasa tertawa, astaga ... dia polos sekali.
"Ini hanya tumpahan kopi, Nona. Jangan berlebihan, saya bisa mencucinya sendiri."
Arum menatap Angkasa tak enak, sedang Angkasa menikmati momen ini, polos, cantik, baik, Arum mampu menyihir Angkasa. Melihat Arum seperti ini, ada rasa muncul begitu saja ingin melindungi gadis ini, dari sorot matanya, terlihat jika Arum menanggung beban berat yang ia pikul sendirian.
"Tapi saya yang menabrak anda, Capt. Saya bertanggung jawab."
Angkasa tersenyum.
"Tenanglah Nona, ini hanya hal kecil. Tidak perlu berlebihan," entah mengapa sikap Arum yang seperti ini membuat Angkasa semakin penasaran dengan sikap Arum, jika orang lain, mungkin tidak akan peduli, cukup minta maaf dan pergi, tapi ini? Arum sampai ingin mencuci seragamnya.
"Anda tidak marah?"
"Untuk apa aku marah? Tenanglah, aku tidak akan marah."
"Capt, jika anda marah, biar saya cucikan seragam anda."
Angkasa tertawa, mengibaskan tangannya didepan wajah. Tawa yang begitu tampan, jika wanita lain yang melihat tawa itu pasti akan jatuh hati, sayangnya yang melihat tawa itu Arum, wanita yang hatinya sudah terikat dengan laki-laki lain.
"Aku tidak marah Nona, percayalah." Angkasa menyakinkan Arum agar gadis itu tidak cemas, "kenalkan, saya Angkasa. Driver Airlangga Airlines," Angkasa mengulurkan tangannya mengajak berkenalan, Arum hanya diam menatap tanpa menyambut tangan Angkasa, Angkasa mengangkat kedua alisnya bertanya-tanya.
"Saya Arum, saya juga pramugari di Airlangga Airlines." Arum menyebutkan namanya sambil menangkup kedua tangannya didepan dada.
Angkasa terpaksa harus menarik lagi tanganya yang kosong, seperti hatinya yang tiba-tiba menjadi kosong atas penolakan Arum.
"Arum, nama yang cantik, secantik orangnya," puji Angkasa tulus dari hati.
"Apa anda benar tidak apa-apa, Capt?" Arum bertanya lagi, itu sangat mengganggu Angkasa, karena pujian yanh ia lontarkan hanya seperti angin lalu bagi Arum.
"Tidak apa-apa, Arum. Ini hanya kotoran kopi, bisa dibersihkan."
"Baiklah, Capt. Kalau begitu saya permisi." Arum langsung membalikkan badannya meninggalkan Angkasa, padahal Angkasa masih ingin berbincang denganya dan mengajaknya minum di cafe.
"Arum." panggil Angkasa.
Arum yang sudah cukup jauh itu menoleh.
"Aku berharap suatu saat kita bisa terbang bersama," teriak Angkasa cukup keras, mengundang orang-orang disekitarnya jadi menatap padanya, namun Angkasa tak memperdulikan itu, dia menunggu respon Arum, dan akhirnya Arum tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
"Sayang sekali Arum, padahal aku ingin bicara lebih lama lagi dengan mu," gumam Angkasa, "ada apa dengan mu Arum? Kenapa kamu seperti menjaga jarak?"
Angkasa menunduk, dia tersenyum kecut, wajar jika Arum bersikap dingin padanya, Arum pasti menjaga hati Alex.
Gadis yang setia.
* * *
"Bbahh."
Angkasa berjengit saat seseorang mengagetkanya.
"Reini?"
"Kaget ya?" Reini tertawa sendiri karena merasa dia berhasil mengagetkan Angkasa, laki-laki yang selalu dingin padanya. Tapi kemudian tawanya itu terhenti tatkala melihat noda di seragam Angkasa. "Ini kenapa? Kamu mau flight apa pulang?" Rein coba menyentuh seragam Angkasa, namun Angkasa segera menepis tangannya, Reini jadi mengerucutkan bibir maju beberapa senti.
"Cuma mau bantuin bersihin doank padahal."
"Ketumpahan kopi tadi," jawab Angkasa, "ini mau pulang."
"Kebetulan, pulang bareng ya? Kamu mampir kerumah, pasti mama sama papa senang."
Angkasa tak menjawab, ia terus berjalan menuju mobil jemputan mereka masing-masing.
"Lain kali saja ya. Aku sudah berapa hari tidak pulang. Ingin istirahat." Angkasa berkata seraya membukakan pintu mobil yang akan mengantar Reini pulang. Sengaja ia menolak karena bukan Angkasa tak tahu, jika saudara kembarnya menyukai gadis itu.
*
*
*
Disebuah rumah lantai dua yang tak terlalu besar, jika dilihat dari luar, rumah bercat putih itu sangat damai dan tenang, dihalaman rumahnya ditumbuhi berbagai macam bunga berwarna warni yang begitu terawat, namun tak ada yang tahu apa yang terjadi didalamnya.
"Ampun mas, ampun, aku minta maaf. Aku tidak sengaja," rintih seorang wanita kesakitan memohon ampun.
Plakk
Bughhh
"Ampun katamu? Kamu itu sering sekali melakukan kesalahan yang aku tidak suka, Nining. Kamu ulang-ulang terus membuat aku kesal, " ucap laki-laki itu bengis, ia menarik, manampar, bahkan memukul wajah si wanita tanpa ampun dan belas kasihan meski wajah wanita itu penuh lebam bahkan ada setetes cairan merah keluar dari sudut bibirnya, ia kesakitan.
"Ini kemeja kesukaan ku," teriaknya tepat didepan wajah Nining, "ini kemeja mahal, pemberian bos besar, tapi kamu membuatnya rusak, dan kamu mau minta maaf begitu saja?" Didik mendengus, "jangan harap aku akan memaafkan mu dengan begitu mudah. Kamu harus mendapat hukuman." Ia menarik rambut wanitanya, membuat Nining kembali meringis kesakitan.
"Jangan Mas, ampuni aku, jangan hukum aku mas, sakittt ..." rintihnya lagi seraya menahan rambutnya yang ditarik, wajahnya memerah karena menahan rasa panas dan perih di kulit kepalanya, matanya pun sudah berkubang embun yang siap menetes.
"Rasakan wanita biadàb, enak saja kamu bilang minta ampun, kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu padaku." Didik semakin kuat menarik rambut istrinya.
"STOP PA." cegah Arum yang baru datang, menahan tangan laki-laki yang ia panggil papa itu. "Masih belum puas Papa menyiksa Mama? Iya? Mau Mama sampai mati? Arum bisa laporkan papa ke penjara kalau Papa menyiksa Mama terus."
Didik menoleh, dia matanya sudah merah karena marah.
"Lapor! Laporkan saja anak tak tahu diri, biar aku beri tahu sekalian siapa kamu," lantangnya didepan wajah Arum, Didik menghempas cekalan tangan Arum, lalu ia masuk ke kamarnya.
"Anak sama ibu, sama saja. Merepotkan, tak tahu diuntung."
Arum menghela nafas, lalu membantu mamanya yang kini terkapar tak berdaya di lantai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Femmy Femmy
jangan sampai Angkasa jatuh cinta sama Arum ya g sudah dicelup2 sama Alexa bisa murka bapakmu(Abian)
2024-04-15
0
Lina Susilo
kasian ya arum
2023-04-11
0
Azzuraaa
Arum Angkasa
2023-01-10
0