Sengaja Menjebak

Angkasa melipat kedua tanganya dan meletakkan dibawah kepala untuk dijadikan bantalan, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna abu muda. Ia memikirkan sedang apa Arum dan Alex saat ini. Sepasang kekasih berada diapartemen hanya berdua, tidak mungkin jika mereka main conglak. Zaman sekarang, orang pacaran terkadang tak ada batasanya, apa Arum juga melakukan hal demikian?

Lantas jika itu sudah terjadi, apakah sudah dipastikan mereka akan bersatu? Dimana yang Angkasa tahu, Alex bukanlah laki-laki yang setia. Sangat disayangkan, Arum yang benar-benar menjaga hatinya, mendapatkan laki-laki brengsèk seperti Alex. Tapi jika Arum sudah sampai memberikan yang ia punya pada Alex, apa Arum bisa dikatakan wanita baik-baik?

Angkasa memindahkan posisi menjadi miring, tangannya terulur membuka laci nakas, namun sejurus kemudian dia bangkit dari tidurnya saat tak mendapati bungkus roti srikaya yang ia simpan didalamnya, kemudian Angkasa melihat keatas tempat tidurnya, seragam pilot kesayanganya yang terkena tumpahan kopi tak ada lagi ditempatnya. Angkasa coba mengingat, sepertinya dia tidak memindahkan harta berharganya itu.

Lalu siapa yang mengambilnya?

"Apa Mama?" gumamnya pada diri sendiri.

Seperti kehilangan emas batangan yang sangag berharga, Angkasa berlari keluar kamar, menuruni anak tangga seraya memanggil mamanya.

"Maaaaa."

"Mamaaaa," panggil Angkasa mencari mamanya, ia mencari dapur, lalu ke kamar mamanya, tapi tak menemukan keberadaan mamanya.

Angkasa kemudian berlari ke taman belakang, tapi tak ada satupun orang disana. Kemudian dia mendengar suara tawa Aira di ruang keluarga, Angkasa pun berlari kesana.

"Ya ampun Ma, Angkasa panggil-panggil ternyata disini." Angkasa dengan nafas tersengalnya menghampiri Delia yang duduk melantai bersandar di sofa, sedang diatasnya Aira duduk seraya mencabuti rambutnya yang satu persatu berganti warna putih.

"Ada apa sih, Kak? Seperti yang panik banget." Aira yang bertanya.

"Apa Mama membuang bungkus roti yang Angkasa simpan dilaci? Dan juga mencuci seragam yang Angkasa gantung?" tanyanya masih dengan nafas putus-putus.

"Tidak," jawab Delia menatap Angkasa yang membungkukkan badanya masih mengatur nafas.

"Tapi tidak ada, Ma." kekehnya.

"Mama tidak tahu sayang. Mungkin kamu lupa meletakkanya dimana, coba kamu ingat-ingat, mungkin kamu salah menyimpanya."

"Angkasa yakin tidak lupa, dua barang itu tidak pernah Angkasa pindah-pindah." Angkasa sangat yakin dengan ucapannya.

"Ih, Kakak apa sih? Cuma sampah sampai begitunya, seperti kehilangan emas," cebik Aira merasa heran.

"Itu lebih berharga dari kamu saat ini, Ai. Apa kamu yang buang?" tuduhnya pada Aira.

"Kakak jangan suudhzon, masuk kamar Kakak saja tidak pernah," jawab Aira tak terima.

"Sudah kamu cari yang bener Angkasa? Siapa tahu kamu lupa tadi pagi sebelum berangkat memindahkanya." Abian yang sejak tadi diam, ikut berkomentar.

"Tapi Angkasa yakin tidak memindahkanya, Yah. Tadi pagi sebelum berangkat kerja, masih ada. apa bibi hari ini ada masuk ke kamar Angkasa, Ma."

Delia menggeleng. "Tidak ada yang berani masuk kamar kamu tanpa seizin kamu sayang, kecuali satu orang yang suka keluar masuk kamar kamu-"

Belum selesai Delia menjelaskan, Angkasa langsung meluncur ke kamar Awan di lantai dua. Kamar Awan bersebelahan denganya, dan bersebrangan dengan kamar Aira.

"Anak kamu makin aneh, Ma. Hilang seragam kotor dan bungkus roti saja heboh se rt." Abian menggeleng, Delia mengendikkan bahu, tapi Aira merasa curiga, diapun menyusul Angkasa.

"Hei, Aira. Mau kemana? Tugas kamu belum selesai." Teriak Delia.

"Sebentar Ma. Aira lupa belum hubungi dosen Aira."

"Ish tuh anak." Decak Delia.

Tanpa mengetuk pintu, Angkasa membuka kamar Awan dan masuk.

Awan yang sedang bermain game di ponselnya sambil tiduran di tempat tidur hanya melirik kedatangan Angkasa sekilas, lalu melanjutkan lagi kegiatannya, seperti tahu dia akan dicari oleh saudara kembarnya.

"Kamu mengambil seragam ku, Awan?" tanya Angkasa, dadanya terlihat naik turun karena panik.

"Seragam? Seragam yang mana?" Awan berlagak tak tahu.

"Seragam yang aku gantung di atas tempat tidur, yang ada noda tumpahan kopi," jelasnya dengan mendetail.

Awan berakting pura-pura berpikir. "Oh itu. Aku bawa ke laundry tadi," jawabnya begitu santai tanpa merasa bersalah.

"Apa?" Angkasa melangkah lebar mendekat pada Awan, lalu merebut ponsel saudara kembarnya itu. "Kamu bawa kemana?"

"Ke laundry. Baju kotor kenapa di simpan sih, bisa jadi penyakit."

Astaga ... Angkasa menggeram menjambak rambutnya.

"Kamu tahu itu begitu berarti untuk ku? Itu bukan noda biasa, Awan. Tapi itu noda bersejarah dan penuh makna." Tekankan Angkasa disetiap ucapannya.

Awan tertawa terbahak. "Apa? bersejarah dan penuh makna? Astaga Angkasa, kamu masih waras kan? Sejak kapan noda kopi ada sejarahnya? Yang ada sejarah itu pahlawan, nama kota, nama negara."

"Sekarang berita tahu aku, di laundry mana kamu membawa seragam ku tadi?"

"Ditempat biasa." Angkasa sudah ingin keluar untuk ketempat yang disebutkan Awan, namun secepat kilat Awan menutup pintu itu lebih dulu.

"Awas, aku mau keluar." Angkasa menarik bahu Awan agar menyingkir.

"Eits, tunggu." Awan mengangkat jari telunjuknya didepan. "Apa seragam itu begitu berarti?"

"Menurut mu?"

"Ya sangat penting," jawab Angkasa memperhatikan wajah Angkasa yang terlihat begitu frustasi. "Dari pengamatan ku, aku bisa memastikan jika seragam itu lebih berharga dari satu pesawat milik ayah," ujarnya, "tapi aku bisa membawanya sekarang, asal kamu mau membagi kisah sejarah seragam itu padaku." Awan tersenyum penuh kemenangan, semua rahasia Angkasa, dia akan segera tahu.

"Jadi kamu sengaja mengambilnya?" tebak Angkasa tepat sasaran, "kembalikan Awan. Tidak lucu bermain-main dengan barang berharga milik orang lain."

"Hei, hei. Tenang my brother. Aku ini saudara kembar yang baik. Boleh aku tebak? Jika sampai bungkus roti, dan tumpahan kopi kau simpan sedemikian baik, berarti wanita itu sulit dijangkau, benar begitu?"

"Bukan urusan mu, cepat kembalikan seragam dan bungkus roti itu." pintanya, tapi Awan tak perduli, dia kembali merebahkan tubuhnya ketempat tidur.

"Yasudah kalau tidak mau berbagi, besok tinggal aku bawa ke loundry dan buang bungkus roti itu kedalam tong sampah."

Angkasa memejamkan matanya meredam emosi, resiko memiliki saudara kembar pengacara, pengangguran banyak acara ya begini, ingin tahu saja segala urusan orang lain.

"Jangan sampai aku menendang b*kong mu agar kau mengembalikan itu, Awan. Sepertinya sudah lama kamu tidak merasakan jatuh tersungkur ke tangga."

Hahahaha Awan malah semakin mentertawakan Angkasa, kemudian dia bangun, membalikkan badan menantang Angkasa, menunjukkan pada Angkasa bokongnya yang bohai menggoda.

"Ayo Captain Angkasa, aku sudah lama tidak dicium telapak kaki Captain, sudah rindu rasanya dicium sepatu pilot." Awan kembali menggoda Angkasa, Angkasa berkacak pinggang, memutar otak bagaimana caranya membuat saudara kembar sialannya itu untuk mengembalikan barang miliknya yang berharga tanpa bersusah payah.

Heh, dasar Awan, sudah tahu kartu kuningnya sudah terbuka, masih saja coba menantang.

"Oke, aku beri penawaran. Tinggal pilih, kembalikan barang milikku, atau aku telepon Reini dan mengatakan bahwa kau mencintainya."

Awan yang sudah merasa terbang diatas awan pun melemah. "Tidak adil. Kamu bisa punya kartu ku. Tapi kamu pelit membagi kartu mu. Aku rasa kita bukan saudara kembar, hanya memiliki kemiripan wajah saja. Kenapa kamu begitu pintar menjaga kartu mu."

* * *

Sementara Arum yang baru saja selesai membuang sampah, dan menutup pintu apartemen, dikejutkan dengan pelukan Alex dari belakang.

"Alex, kau membuat ku terkejut." Arum berjengit, mengusap dadanya.

Tangan Alex mengambil alih tempat sampah yang dibawa Arum, meletakkanya sembarang. Kemudian dia mengecupi leher jenjang Arum yang wangi.

"Kemarin ayah mu menemui ku, dia meminta untuk ku segera menikahi mu, apa kamu sudah tahu itu, Arum?" Bibir Alex tak lepas dari leher Arum, tak perduli tangan Arum yang coba menyingkirkanya.

"I-iya," meski mama dan papanya belum mengatakan secara langsung padanya, tapi Arum mengi-yakan, agar tak membuat perdebatan panjang .

"Tidurlah dengan ku malam ini, sayang. Maka aku akan mengabulkanya." Bibir Alex terus menelusuri leher Arum, pelan tapi pasti, kini semakin turun kebawah dan berhenti di tulang selangka Arum.

"Aku tidak bisa, Lex."

Alex mengangkat kepalanya, lalu mendorong tubuh Arum hingga Arum terjerembab jatuh keatas karpet berbulu ruang tamu milik Alex.

"Kau tahu aku begitu muak setiap kau menolak ku, Arum? Kamu pikir kamu siapa berani menolak ku berkali-kali, huh?" Alex merendahkan tubuhnya, mencengkeram kuat dagu Arum, hingga Arum meringis kesakitan.

"Sudah terlalu sabar aku menunggu, dan tak memaksa, tapi jika kau terus menolak, aku yakin, kau dan ayah mu sengaja ingin menjebakku, kalau kau benar sudah tidak suci lagi, dan orang pertama itu ayah mu, IYA? Katakan Arum?"

Terpopuler

Comments

Yuliana Purnomo

Yuliana Purnomo

itu namanya nafsu Alex bukan cinta

2024-05-15

0

Lina Susilo

Lina Susilo

dasar alex gk punya hati

2023-04-12

0

fauzi

fauzi

loh,,, semakin sulit posisi Arum,,, kasian Dy ny😀😁

2023-01-17

0

lihat semua
Episodes
1 Pilot Baru
2 Ada Apa Dengan Arum?
3 Pesan Untuk Arum
4 Calon Istri
5 Jangan Ikut Campur
6 Sebotol Kecap
7 Pengepul Sampah
8 Mencari Tahu
9 Sengaja Menjebak
10 Aku Mencintaimu Alex
11 Arum Yang Malang
12 Akhir Yang Menakutkan
13 The Ashera
14 Rahwana
15 Ucapan Terima Kasih
16 Jujur
17 Alex Dan Masa Lalunya
18 Positif
19 Barang Bukti
20 Hasilnya Sama
21 Bebas
22 Jalan Yang Arum Pilih
23 Meminta Tolong
24 Jebakan Tikus
25 Sebuah Rahasia
26 Sudah Selesai
27 Rencana Daniel
28 Calon Istri Awan
29 Perang Saudara
30 Persidangan
31 Akhirnya
32 Masa Lalu Yang Terungkap
33 Saling Tipu
34 Sensitif
35 Ajaran Yang Manjur
36 Jangan Melakukan Kesalahan Yang Sama
37 Sarapan Bersama
38 Panggilan Sayang
39 Kumpul Keluarga
40 Dua Calon Istri
41 Ungkapan Hati Angkasa
42 Isi Surat
43 Meluluhkan Hati Mama
44 Tinggal Bersama
45 Penagih Hutang
46 Tertipu
47 Pemandangan Panas
48 Sama-sama Emosi
49 Cobaan Terberat
50 Proses Penyerbukan Bunga
51 Melamar
52 Hukuman Buat Angkasa
53 Senyum Mengandung Luka
54 Melaporkan
55 Mendapat Restu
56 Dikdik Bereaksi
57 Kisah Yang Berbeda
58 Buntut Masalah Lama
59 Skenario Angkasa
60 Apa Itu?
61 Permintaan Nining
62 Hutang Janji
63 Masih Menagih Hutang Janji
64 Membuat Kecewa
65 Perhatian Awan
66 Diterima Dengan Baik
67 Keputusan
68 Peringatan Reini
69 Tak Tertolong
70 Pengurusan Kepulangan
71 Siapa Arum?
72 Sepasang Sayap Angkasa
73 Melepas Rindu
74 Kehilangan
75 Keputusan Awan
76 Season 2. Awan.
77 Season 2. Awan
78 Season 2. Awan
79 Seasion 2. Awan
80 Seasion 2. Awan (Saling Menghargai)
81 Seasion 2. Awan
82 Seasion 2. Awan
83 Seasion 2. Awan
84 Seasion 2. Awan
85 Seasion 2. Awan
86 Seasion 2. Awan
87 Seasion 2. Awan
88 Seasion 2. Awan
89 Seasion 2. Awan
90 Seasion 2. Awan
91 Seasion 2. Awan
92 Seasion 2. Awan
93 Seasion 2. Awan
94 Seasion 2. Awan
95 Seasion 2. Awan
96 Seasion 2. Awan
97 Seasion 2. Awan
98 Seasion 2. Awan
99 Seasion 2. Awan
100 Seasion 2. Awan
101 Seasion 2. Awan
102 Seasion 2. Awan
103 Seasion 2. Awan
104 Seasion 2. Awan
105 Seasion 2. Awan
106 Seasion 2. Awan
107 Seasion 2. Awan
108 Seasion 2. Awan
109 Seasion 2 . Awan
110 Seasion 2. Awan
111 Seasion 2. Awan. The End
112 Ekstra Chapter
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Pilot Baru
2
Ada Apa Dengan Arum?
3
Pesan Untuk Arum
4
Calon Istri
5
Jangan Ikut Campur
6
Sebotol Kecap
7
Pengepul Sampah
8
Mencari Tahu
9
Sengaja Menjebak
10
Aku Mencintaimu Alex
11
Arum Yang Malang
12
Akhir Yang Menakutkan
13
The Ashera
14
Rahwana
15
Ucapan Terima Kasih
16
Jujur
17
Alex Dan Masa Lalunya
18
Positif
19
Barang Bukti
20
Hasilnya Sama
21
Bebas
22
Jalan Yang Arum Pilih
23
Meminta Tolong
24
Jebakan Tikus
25
Sebuah Rahasia
26
Sudah Selesai
27
Rencana Daniel
28
Calon Istri Awan
29
Perang Saudara
30
Persidangan
31
Akhirnya
32
Masa Lalu Yang Terungkap
33
Saling Tipu
34
Sensitif
35
Ajaran Yang Manjur
36
Jangan Melakukan Kesalahan Yang Sama
37
Sarapan Bersama
38
Panggilan Sayang
39
Kumpul Keluarga
40
Dua Calon Istri
41
Ungkapan Hati Angkasa
42
Isi Surat
43
Meluluhkan Hati Mama
44
Tinggal Bersama
45
Penagih Hutang
46
Tertipu
47
Pemandangan Panas
48
Sama-sama Emosi
49
Cobaan Terberat
50
Proses Penyerbukan Bunga
51
Melamar
52
Hukuman Buat Angkasa
53
Senyum Mengandung Luka
54
Melaporkan
55
Mendapat Restu
56
Dikdik Bereaksi
57
Kisah Yang Berbeda
58
Buntut Masalah Lama
59
Skenario Angkasa
60
Apa Itu?
61
Permintaan Nining
62
Hutang Janji
63
Masih Menagih Hutang Janji
64
Membuat Kecewa
65
Perhatian Awan
66
Diterima Dengan Baik
67
Keputusan
68
Peringatan Reini
69
Tak Tertolong
70
Pengurusan Kepulangan
71
Siapa Arum?
72
Sepasang Sayap Angkasa
73
Melepas Rindu
74
Kehilangan
75
Keputusan Awan
76
Season 2. Awan.
77
Season 2. Awan
78
Season 2. Awan
79
Seasion 2. Awan
80
Seasion 2. Awan (Saling Menghargai)
81
Seasion 2. Awan
82
Seasion 2. Awan
83
Seasion 2. Awan
84
Seasion 2. Awan
85
Seasion 2. Awan
86
Seasion 2. Awan
87
Seasion 2. Awan
88
Seasion 2. Awan
89
Seasion 2. Awan
90
Seasion 2. Awan
91
Seasion 2. Awan
92
Seasion 2. Awan
93
Seasion 2. Awan
94
Seasion 2. Awan
95
Seasion 2. Awan
96
Seasion 2. Awan
97
Seasion 2. Awan
98
Seasion 2. Awan
99
Seasion 2. Awan
100
Seasion 2. Awan
101
Seasion 2. Awan
102
Seasion 2. Awan
103
Seasion 2. Awan
104
Seasion 2. Awan
105
Seasion 2. Awan
106
Seasion 2. Awan
107
Seasion 2. Awan
108
Seasion 2. Awan
109
Seasion 2 . Awan
110
Seasion 2. Awan
111
Seasion 2. Awan. The End
112
Ekstra Chapter

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!