Pukul 01.00 dini hari Arum sudah bersiap untuk pergi ke Bandara, tinggal menunggu mobil jemputan datang. Saat Arum keluar kamar, bersamaan pintu depan dibuka, papanya pulang dalam keadaan mabuk. Baru Arum melangkah ingin menolong papanya, pada saat itu juga pintu kamar mamanya terbuka.
Wanita yang mengenakan baju tebal berwarna army dan rok panjang abu tua itu keluar dengan tergopoh-gopoh menghampiri suaminya.
Secinta itu mamanya pada papanya, sangat tahu jika yang pulang papanya, sedang dia yang pulang dan pergi bekerja saja tak pernah disambut seantusias itu.
"Mas, kamu pulang?" Nining merendahkan tubuhnya, membantu suaminya yang terjatuh karena pengaruh alkohol itu.
"Hei, katakan pada Arum, supaya mau menuruti apa yang Alex mau," racaunya dengan suara serak khas orang mabuk. "Alex tidak akan pernah menikahi Arum jika Arum tidak pernah mau memberi apa yang Alex butuhkan."
Arum menghela nafas mendengar racauan papanya, benar dia sangat mencintai Alex, tapi untuk memenuhi apa yang Alex minta, dia tak bisa, belum tentu setelah dia menyerahkan segala apa yang ia punya, Alex akan bertanggung jawab dan menikahinya, akal sehat Arum masih berjalan.
Nining mengangguk, seraya meluruskan kaki suaminya di sofa, melepaskan sepatu dan kaos kaki yang suaminya itu kenakan.
"Iya, nanti aku akan bilang pada Arum, mas."
"Jangan iya, iya saja. Alex sudah terlalu sabar menghadapi Arum. Bahkan dia mencari kepuasan dengan wanita lain."
"I-iya, mas. Nanti aku pasti menyampaikan ini pada Arum." Nining membantu suaminya melepaskan kancing kemeja Didik, tapi tanganya sempat terhenti sejenak melihat ada bekas lipstik di kerah kemeja suaminya, dan ada tanda cinta disepanjang leher dan dada suaminya itu.
Dada Nining terasa sesak dan sakit melihatnya.
"Satu lagi," Didik mengangkat jari telunjuknya keudara, "jika Arum tak mau menuruti permintaan Alex, otomatis posisi ku akan digantikan oleh orang lain. Bilang pada anak mu itu, jangan jadi wanita tak tahu diri, tak bisa membalas budi. Ingat hidup kita banyak di bantu Alex."
"Iya, Mas."
Mendengar jawaban Nining, Didik secara refleks mendorong tubuh Nining, hingga Nining jatuh terduduk.
"Aku benci jawaban kamu yang hanya iya-iya saja, tapi tidak dilaksanakan."
"Pasti aku akan melaksanakannya mas."
"Sanah, rebuskan air hangat untuk ku, aku mau mandi, tubuhku sangat lelah."
Dengan cepat Nining berlari ke dapur, memenuhi permintaan suaminya. Arum menengadahkan wajahnya keatas, menghalau air asin yang ingin jatuh dari pelupuk matanya. Setelahnya, Arum menggeret kopernya keluar sebelum ada yang mengetahuinya.
* * *
Angkasa menuruni anak tangga dengan seragam pilot kebanggaanya yang sudah melekat ditubuhnya, dia terlihat semakin tampan dan gagah tatkala topi pilot dan dasi panjang yang terpasang dengan rapi seragamnya itu, tangan kananya menyeret koper yang selalu ia bawa setiap ia bertugas.
Dia tersenyum menyapa saudara kembar, adik, serta mama dan ayahnya yang sudah terlebih dahulu duduk disana.
"Selamat pagi semuanya." sapanya seraya menarik kursi disebelah awan, didepanya ada Delia dan Aira, adik perempuan satu-satunya.
"Selamat pagi juga Kakak ku yang ganteng seperti pangeran," Aira membalas sapaan Angkasa dengan ceria.
"Pasti ada maunya." celetuk Awan.
"Enggak, wuekkk," Aira menjulurkan lidahnya pada Awan.
"Pagi adikku yang cantik seperti Elsa." Angkasa mengusak rambut Aira sayang.
"Sudah kita mulai sarapan, jangan bercanda, Ayah sudah kesiangan." Abian menyudahi gurauan anak-anaknya yang diperkirakan tidak akan berhenti dalam wakti satu jam.
"Kakak sudah terlambat belum? Anterin Aira ya ke kampus." Aira meminta dengan wajah memelas yang dibuat-buat.
"Kenapa memangnya? biasanya juga diantar supir." Delia yang bertanya seraya menuangkan kecap ke piring Abian. Fokus Angkasa jadi berpindah ke kecap tersebut, isi kecap itu sudah berpindah ke botol khusus milik mamanya.
"Ma, kecap semalam sudah Mama pindahin?"
"Iya, kan memang biasa seperti itu."
"Botol bekasnya mana, Ma?" tanya Angkasa tak sabaran.
"Sudah Mama buang ke tong sampah."
Tanpa banyak bertanya lagi, Angkasa berdiri dan berjalan menuju tempat sampah yang berada di samping pintu belakang. Membuat Abian, Delia, Awan dan Aira yang melihat tingkah Angkasa tercengang.
Angkasa tanpa ragu, merobohkan tempat sampah itu hingga isi dalamnya berhamburan keluar, tak ia perdulikan bau bu*uk yang menyengat, justru Angkasa bisa bernafas lega telah menemukan botol kecap itu, lalu tanpa pikir panjang lagi Angkasa mencuci botol itu hingga bersih di wastafel, membuat saudara dan orang tuanya yang melihat tingkahnya jadi keheranan.
"Kamu ngapain mungutin sampah, Ang?" tanya Delia menghampiri Angkasa.
"Buat koleksi aja, Ma. Botol kecap ini susah didapat sekarang, Mama tahu sendiri, supermarket segede itu, cuma satu ini yang tersisa." jawabnya dengan tangan yang sibuk mencuci botol kecap, lalu mengelap botol itu menggunakan tissu hingga kering.
Aira, Awan, dan Abian saling pandang mendengar jawaban Angkasa.
"Ya ampun sayang, ini tuh banyak ditempat lain, cuma disupermarket yang kita datangi semalam aja stoknya habis. Mama bisa beliin satu karton untuk kamu kalau kamu mau."
Angkasa tersenyum menoleh kearah Delia.
"Tapi yang ini beda, Ma," jawabnya menyakinkan, Delia hanya diam, memperhatikan apa yang dilakukan Angkasa.
"Mobil jemputan Angkasa sudah sampai itu, Ma. Angkasa berangkat dulu ya," Angkasa mencium kening dan pipi Delia, lalu mengambil tangan mamanya untuk disalaminya.
Kemudian Angkasa mencium tangan Abian, dan mencium pipi Aira, tak lupa ia berpamitan pada saudara kembar seirasnya iru seraya dengan bertos ria ala laki-laki dengan tangan kiri yang masih memegang botol kecap yang sangat berharga baginya saat ini. Kemudian tanpa canggung ia memasukkan botol kecap itu kedalam koper pilotnya, meletakkan botol itu diantara tumpukan seragam cadangan dan baju gantinya, jangan sampai barang berharga itu lecet dan penyok.
"Kakak nggak jadi antar Aira?" tanya gadis itu mengingatkan, wajahnya terlihat sedih.
"Lain kali saja, Kakak sudah terlambat." Aira memberenggutkan wajahnya atas jawaban Angkasa, dan menghentakkan kakinya kesal, pasalnya Aira berniat ingin menyombongkan Angkasa pada teman-teman kampusnya, setelah ia menyombongkan Awan beberapa minggu lalu dan membuat seantero kampus.
Delia mengiring kepergian anaknya dengan tatapan penuh keheranan dan bingung. Dia kembali duduk melanjutkan sarapanya yang sempat tertunda.
"Mama akhir-akhir ini merasa ada yang aneh sama Angkasa," keluh Delia pada anak dan suaminya.
"Ada apa, Ma?" Awan yang bertanya.
"Ya kalian lihat sendiri tadi, dia mungut botol itu dari tekpat sampah,"
"Mungkin karena memang Angkasa butuh, Ma." Awan mencoba menjelaskan, meski dia sendiri merasa aneh dengan tingkah Angkasa.
"Bukan cuma itu sih, waktu itu Mama mau cuci seragamnya yang kena tumpahan kopi juga nggak boleh, malah tuh seragam dipajang atas tempat tidur."
"Masa sih, Ma?" Abian yang sejak tadi diam ikut berkomentar.
"Entahlah, semoga anak kita nggak kena penyakit yang sekarang menyerang para artis ituloh, apa namanya Mama lupa."
"OCD?" tebak Aira.
"Nah, iya itu," Delia membenarkan, "satu lagi Mama lupa, Angkasa juga nyimpen bekas bungkus roti srikaya didalam kopernya waktu Mama bongkar koper Angkasa. Aneh kan?"
Awan yang sedang mengunyah makanannya sontak memelankan kunyahanya, dia teringat curhatan Reini yang mengatakan jika Angkasa menolak Reini karena sudah ada wanita yang mengisi hatinya, Awan tersenyum, sangat penasaran siapa wanita yang berhasil membuat Angkasa menjadi pengepul sampah seperti ini.
"Memang botol kecap itu dapat dari mana, Ma?" tanya Awan kemudian ingin tahu.
"Ada yang tiba-tiba kasih ke Mama waktu Mama mau pulang, tapi Mama nggak sempat tanya siapa namanya, padahal kata Angkasa, kecapnya abis."
Awan mengangguk, dia dapat menyimpulkan jika gadis itulah yang telah berhasil merebut hati Angkasa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Femmy Femmy
Bu Nining..rebus air Bu setelah itu siramkan ke suami ibu yang tidak tau diri pulang kerumah hanya mabuk saja😠
2024-04-15
1
Femmy Femmy
ternyata Arum hanya dimanfaatkan Alex..maaf ya Arum saya sudah berburuk sangka sama kamu🙏
2024-04-15
0
Ersa
alasan....🙈😁
2023-08-20
0