Bab.16(Keturunan Terakhir)

"Kalau begitu kau cobalah sendiri dan lakukan seperti apa yang dia lakukan!"

Mathias tentu saja kaget mendengarnya kenapa dia yang dijadikan kelinci percobaan tapi ini adalah perintah sang pemimpin yang tidak mungkin bisa dia tolak apapun yang terjadi.

"Ayo lakukan Mathias!" teriak Paul hingga semua barang yang berada di dinding berjatuhan saking kuatnya teriakannya itu.

Menakutkan? Tentu saja, Paul sangat menakutkan jika marah bahkan dia tidak akan segan membunuh adiknya sendiri karena terbukti melakukan kelalaian.

Mathias pun menelan exstrak yang sudah dibuatnya itu, hal yang sama terjadi, kepulan asap terlihat di permukaan kulitnya, serta ruam ruam kemerahan kini terlihat sangat jelas di kulitnya yang pucat.

Dengan sedikit keraguan, Mathias mengeluarkan tangan dari celah jendela dengan sinar matahari langsung yang mengenai kulitnya.

Dan yang terjadi sama halnya dengan budak Vampire yang kini telah musnah tanpa sisa, bahkan abu tubuhnya pun tidak terlihat sama sekali.

"Arrggh..."pekiknya dengan keras saat kulit tangannya melepuh terkena sinar matahari, tidak ada yang terjadi saat dia sudah mengkomsumsi extrak darah yang dibuat dari darah David, darah itu nyatanya tidak berguna sama sekali.

"Bedebaah!" teriak paul yang langsung melesat mendatangi Mathias yang berdiri di dekat jendela.

Bruk!

Alih alih menolongnya karena tangannya melepuh, Paul justru memukul Mathias dan menendangnya sampai pria yang berambut panjang itu terjungkal kebelakang dan menabrak dinding hingga dinding di belakangnya kini hampir roboh.

"Bereskan kekacauan ini Mathias!" serunya dengan berteriak keras, tak sampai di situ, dia pun mengambil pedang milik Mathias tanpa menyentuhnya. "Atau kau akan mati oleh senjatamu sendiri, aku tidak main main Mathias, jangan meremehkan hal ini, sesuatu akan terjadi jika hal ini sampai terdengar seluruh klan yang lain. Dan ingat, kau sendiri yang akan bertanggung jawab Mathias." ujar Paul marah dan langsung melesatkan pedang hingga hampir mengenai kepala Mathias lalu dia pergi.

Paul tersentak kaget, dia terhenyak saat pedangnya tertanjap tepat di atas kepalanya, kilatan pedang bahkan nyaris tidak terlihat olehnya.

"Kurang ajar, pria itu berbohong dengan mengatakan jika dialah keturunan terakhir dan tidak memiliki anak, aku akan mencari anak itu bagaimana pun caranya, ini pasti ada yang tidak beres karena aku tidak bisa mencium sedikitpun tentang keberadaannya. Tidak ada jejak sedikipun, aku kira aku salah mengira dan terlalu naif karena mengambil kesimpulan semudah itu, ini pasti sudah terencana dengan baik, Bathory biadabb lihat saja .. Aku pasti akan menemukannya cepat atau lambat!"

^Flashback Off^

Kini tatapaan Paul sedikit berubah, menatap Joan dengan sangat teduh dan membuat gadis itu mengernyitkan kedua alisnya.

"Dari mana saja kau ini? Kenapa pergi begitu saja dan tidak mengatakan sesuatu!"

"Ada sedikit urusan yang tidak bisa aku tinggalkan, aku fikir kau sudah aman dan kau butuh waktu sendiri."

Ingat Joan, kau tidak boleh sedikitpun percaya pada orang baru kecuali jika hati mu yang mengatakan hal itu, kau hanya perlu mengikuti apa kata hatimu saja. ucapan ayahnya didalam surat kembali teringat saat menatap Paul, Paul bisa dia percaya, setelah kemunculan Paul yang selalu tiba tiba di dalam hidupnya, bahkan kehadiran nya itu saat dirinya tengah dalam bahaya.

Melihat Joan yang hanya terdiam, Paul melangkah maju dan mendekatinya.

"Apa ada yang terjadi selama aku pergi?"

Tidak .. Aku tidak bisa mengatakan apa apa pada Paul. Aku tidak bisa mengatakan jika banyak hal yang aku temukan di rumah ini, termasuk dua orang pria yang datang menemui ku dengan tujuan yang berbeda. Aku masih belum bisa sepenuhnya percaya pada Paul, tapi melihatnya ada di sini aku jadi sedikit tenang. Batin Joan yang kini menatapnya nanar.

"Haei, kenapa kau menangis?" tanya Paul yang melihatnya berkaca kaca.

Paul semakin mendekatinya dan memegang kedua pundaknya lembut, membuat Joan sedikit tersentak karena dinginnya tangan yang menyentuhnya itu.

'"Katakan padaku Joan, kau bisa mengandalkanku."

Paul sendiri heran kenapa saat ini dia tidak bisa mendengar isi hati atau pun ucapan yang ada di fikiran Joan seperti tempo hari, apa yang sedang terjadi, kemunginan yang tengah terjadi dan apakah mungkin karena joan sendiri yang tidak ingin berbagi fikiran dengannya.

Tatapan Paul yang menenangkan, kehadirannya yang secara tiba tiba muncul dan selalu menolongnya di saat tepat, juga keraguannya yang kini hilang begitu saja.

"Paul ... Aku takut!" Lirihnya,

"Tenanglah, tidak akan ada hal buruk yang terjadi padamu, aku akan menjaminnya untukmu. Kau bisa percaya padaku Joan, aku akan selalu melindungimu..." tukas Paul dengan tatapan yang sulit diartikan.

Ada apa denganmu Joan, bahkan aku seperti kehilangan kekuatanku saat aku melihatmu, kau mampu mengosongkan fikiranku hingga rasanya aku lemah di depanmu. Batin Paul.

"Ada sesuatu hal yang saat ini aku takutkan akan terjadi Paul, tapi aku tidak tahu apa hal itu." cicit Joan

"Tidak ada yang perlu kau takutkan, selama masih ada aku di sisimu. Hm ... Kau percaya padaku bukan Joan?"

Joan menatap kedua manik Paul yang meneduhkan. dia ingin percaya tapi juga masih ada sedikit keraguan dihatinya jika pria itu sangat misterus dan Joan tidak tahua apa apa tentangnya, tapi satu hal yang dia tahu jika Paul benar benar membuatnya nyaman.

Percayalah jika hatimu yang mengatakannya Joan, percaya pada orang yang kau temui di saat hatimu yang mengatakanya sendiri, kau akan tahu kelebihanmu dan kuu akan tahu bagaimana hati dan fikiranmu menyatu.

Lagi lagi ucapan ayahnya di dalam surat terngiang ngiang didalam benaknya, dan keyakinan Joan yang saat itu muncul jika paul dapat dia percaya.

Gadis berusia 19 tahun itu memejamkan kedua matanya, meyakinkan hati dan fikirannya seperti apa yang dikatakan Ayahnya di dalam surat. "Paul ... Aku percaya padamu paul,"

Paul pun menarik tubuhnya dan mendekapnya erat, pria itu menarik dirinya kedalam pelukannya, "Tidak ada yang harus kau khawatirkan Joan, walau aku belum tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Kau hanya perlu percaya padaku dan aku akan melindungimu bagaimanapun caranya."

Joan mengabgguk lirih, saat ini dia memang memerlukan pelukan yang bisa membuatnya tenang, dan sedikit menghilangkan ketakutannya terhadap apa yang terjadi seperti yang dituangkan oleh ayahnya di dalam surat, kesulitan kesulitan yang akan dia hadapi sendirian.

Paul ... Bagaimana jika aku adalah keturunan terakhir dan hadirku adalah sebagai penerus yang harus meneruskan tugas Ayah. Tapi aku tidak tahu tugas apa yang dimaksud ayahku Paul, aku takut jika semua hal yang aku baca dan yang aku dengar dari pria berjubah hitam itu terjadi, vampir Paul ... Aku bahkan tidak tahu apa apa soal Vampire. Batin Joan.

"Paul ... Kenapa kau melakukan hal ini?"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!