Bab.02(Paul Sancwres)

Semua tersenyum saat mendengarnya, inilah yang ditunggu tunggu selama ini, selain mereka akan sangat agresif, kekuatan mereka akan bertambah saat bulan purnama. Satu persatu melesat keluar, mereka mulai mengintai dan mencari mangsa. Bahkan ada yang mengintai langsung ke rumah rumah penduduk. Mengambil hewan ternak atau sekedar mencari hiburan dengan berperan seolah dialah pemilik rumah. Pergi ke klub malam dan mencari mangsa di sana atau hanya mengunjungi keluarga mereka yang masih manusia.

Paul sendiri masih terdiam, dia masih sangat jelas mengingat harum wangi gadis yang mencuri perhatiannya sedari pagi, satu satunya gadis yang tidak bisa dia baca fikirannya. Seolah tertutup oleh satu kekuatan atau dirinya yang tiba tiba lemah terhadapnya. Satu hal yang pasti, dia harus mengetahuinya sendiri.

"My lord ... Kau tidak pergi?" tanya Mathias yang bersiap siap pergi dengan topi yang menutupi sebagian dahi.

"Kau duluan saja Mathias, aku harus menyiapkan sesuatu. Ingatlah kembali sebelum fajar menyingsing. Walaupun kita masih bisa bertahan hidup tapi kekuatan kita tidak bisa digunakan atau bahkan lenyap saat terkena sinar matahari." terangnya mengingatkan.

"Tentu saja kakakku! Aku akan pulang setelah berkeliling, kulihat daerah ini sangatlah bagus. Kau tidak salah pilih."

Paul tertawa, dia mengerti apa maksud sang adik, puluhan gadis cantik bisa dia dapatkan sepuasnya malam ini. Bahkan jika dia ingin, dia mampu menyebarkan benih di rahim mereka tanpa harus menggigitnya lebih dulu atau menjadikan mereka sepertinya.

Klan Domique yang terlahir dari darah murni memang mampu memilih siapa saja yang bisa mereka bunuh atau tidak, yang bisa mereka jadikan vampir campuran atau bahkan budak tergantung keinginan mereka.

"Jangan nakal Mathias!" desisnya saat melihat Mathias melesat pergi.

Setelah kepergian Mathias, Paul masuk ke dalam kamarnya, dia membuka lemari dan mengambil kotak dimana dia mengamankan pedang naga merah miliknya, membalutnya dengan sehelai kain sutra emas yang hanya dia seorang yang bisa menyentuhnya.

Setelah menyimpan pedang miliknya, dia keluar dari tempat persembunyiannya dengan pakaian yang tidak lagi mencolok, dia mampu berbaur dengan banyaknya manusia tanpa mereka sadari dan tentu saja tujuannya adalah mencari gadis yang sejak petang mencuri perhatiannya.

Sementara Eve bergegas keluar dari suatu rumah dengan gadis berambut pirang menyusulnya dari belakang, gelak tawa mereka tidak bisa di elakkan lagi.

"Kau gila Joan, kau membuatku takut tadi. Ayahmu bisa marah kalau mereka tahu kita pergi ke pasar malam dan berbohong!"

"Tidak apa Eve, lagi pula hanya malam ini aku berbohong dengan mengatakan kalau aku pergi ke rumahmu." Joan tertawa lagi.

"Kau memang nakal Joan!"

"Ya itu karena aku tidak tahu apa alasan ayah melarangku keluar saat bulan purnama. Apa aku akan berubah jadi serigala seperti di dongeng dongeng yang aku dengar sejak kecil?"

"Hust ... Jangan bicara sembarangan! Bagaimana kalau memang benar jika manusia serigala itu ada. Kau mau apa?"

Joan tertawa lebih kencang lagi, "Aku akan memelihara satu, lumayan kan untuk mengembala ternak."

"Joan!!!"

Mereka terus berjalan ke arah kota, dimana pasar malam yang jarang ada itu kini dibuka. Masih dengan tertawa riang dan saling bercanda.

Bruk!

Seorang pria mabuk menabrak tubuh Joan. Pria yang sedang dalam pengaruh alkohol itu memeluk Joan dengan erat.

Aaagghh!

"Cantik! Maukah kau bersenang senang denganku malam ini?"

Teriakan Eve tidak berpengaruh apa apa, gadis lemah lembut itu lunglai dan jatuh pingsan setelah berteriak kencang, sementara Joan menendang tungkai kaki pria mabuk itu dengan keras.

"Hey ... Kau berani padaku?"

"Aku tidak takut! Sini kalau kau berani." Joan sudah menyibakkan roknya yang menjuntai dan siap dengan kuda kudanya.

Dia memang belum pandai berkelahi seperti kakaknya, tapi keberaniannya patut diacungi jempol.

Pria mabuk itu berlari ke arahnya, memiting leher dan membalikkan tubuhnya secepat kilat, gerakannya tidak terduga dan membuatnya kaget, dengan kedua taring yang siap menggigit tengkuknya dari belakang.

Aaaghh!

Joan berteriak namun dengan cepat pria itu membungkam mulutnya. "Diam dan jangan berisik! Aku hanya akan mengajakmu bersenang senang malam ini nona."

"Mmphh!" Joan masih berusaha berteriak walaupun bibirnya terbungkam, dia bahkan tidak tahu manusia jenis apa yang sedang mabuk saja gerakannya secepat kilat.

Tiba tiba angin berembus dengan cepat tanpa tahu dari mana arahnya, seorang pria tinggi berpakaian hitam berjalan ke arah mereka dengan wajah pucat miliknya.

"Lepaskan dia!"

Pria itu terkekeh, "Siapa kau! Tidak usah ikut campur. Pergilah dan cari wanita lain."

Paul berjalan santai ke arahnya, mengulas senyuman dingin dari bibirnya yang tidak kalah pucat. Membuat pria itu langsung terdiam saat melihat kedua matanya tajam berwarna merah, dia langsung melepaskan Joan dan berlari menjauh.

Joan tersedak dan terbatuk beberapa kali, terlihat lehernya memerah karena pitingan pria tadi. Paul menelisik, melihat apa dilehernya terdapat luka gigitan.

"Kau tidak apa apa?"

Joan mengangguk, "Aku baik baik saja. Terima kasih!"

Dan aneh karena jawabannya membuat Paul lega. Sesaat keduanya bertemu muka dan saling menatap, kini mata merah menyala itu berubah teduh saat Joan yang melihatnya.

"Wajahmu pucat sekali. Apa kau sakit?" tanya Joan tiba tiba.

"Sedikit. Cepatlah pulang, malam ini akan jadi malam yang sangat dingin." tutur Paul yang membuat Joan berfikir. "Tidak aman seorang wanita berkeliaran malam malam, ditambah temanmu juga lemah."

Harum sekali, membuatku gila dan tidak berdaya, tapi aneh, aku tidak bisa menebak isi fikirannya. Apakah dia memiliki kekuatan yang tidak dia sadari. Batin Paul.

Joan baru ingat temannya tergolek tidak sadar dan bergegas menghampiri Eve dan mengguncangkan kedua bahunya.

"Eve ... Sadarlah. Eve....!"

"Biar aku yang membawanya. Kau tunjukan rumahnya saja. Biar kuantar pulang." Paul melihat kesempatan yang ada dan memanfaatkannya.

"Tidak, kami mau ke pasar malam."

"Dengan keadaan begini? Kau tidak takut dengan pria pria mabuk yang pasti banyak berkeliaran di sana? Atau bahkan makhluk makhluk yang tidak kau ketahui Joan?"

Tajam, tegas dengan suara bariton dengan rahang kuat membuat Joan terdiam sesaat, bertepatan dengan itu Eve membuka matanya,

"Joan ... Kamu tidak apa apa kan?"

Berbeda dengan Joan yang tidak terlalu merasakannya, Eve justru merasakan hawa dingin yang tiba tiba menyeruak, dingin sekali dengan hembusan angin seolah menusuk tulang tulang di tubuhnya.

"Eve ... aku baik baik saja. Kau sendiri?"

"Joan ... Siapa dia?" tanyanya dengan takut.

"Dia ...? Dia pria yang menolongku tadi Eve."

Eve dibantunya berdiri, begitu juga Paul yang mengulurkan tangan ke arah Joan. Joan yang polos menyambut tangannya namun entah kenapa rasanya seperti tersengat karena tangan Paul sangat dingin.

"Paul ... Paul Sancwres."

"Joan, dan ini Eve."

Paul mengangguk lalu mengecup punggung tangan Joan dengan lembut. Gadis itu tersentak dan tidak mampu menggerakkan tangannya walau hanya untuk menariknya saja.

"Senang berkenalan dengan mu Joan." ujarnya lembut bak seorang pangeran menyambut puteri yang cantik.

Setelah itu mereka bertiga berjalan ke pusat kota menuju pasar malam. Lampu lampu kelap kelip sepanjang jalan dan membuat malam bulan purnama malam ini semakin semarak. Tawa orang orang tengah bermain wahana, dan pasar malam yang gemerlap meriah. Tiba tiba segerombolan pria berlari ke arah mereka.

"Joan Awas!"

Terpopuler

Comments

nacl

nacl

aw aw aw Paul meskipun nama kamu susah nyebutnya bikin lidah kepelotek duh manis juga dia yah ❤️❤️❤️

2023-02-10

0

lina

lina

kirain bakal pulang, lah malah lanjut ke pasar malam

2023-01-07

1

lina

lina

jagoannya joan dteng 💃💃

2023-01-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!