Dalam ketakutan yang luar biasa Joan akhirnya pergi dari sana, dia ingin kembali ke selatan dimana rumah peninggalan ayahnya dan tempat persembunyiannya yang aman kini berada, tidak ada yang tahu rumah itu kecuali Joan dan Paul saja.
Namun karena Joan nekat untuk kembali ke desa malam itu juga menyebabkan dirinya dalam bahaya, Mathias mencium lagi darah yang menyeruak wangi, tanpa dia sadar wangi itu pun pernah dia cium sebelumnya di gereja. Dan menemukannya tepat saat Joan berada di sisi sungai, komplotan yang terdiri dari anak buah klan Demon juga menemukannya, mereka yang saat itu hendak menyebrangi sungai justru mendapati Joan yang tengah berlari seorang diri, gadis itu ketakutan saat melihat mereka, membuat anggota klan Demon semakin curiga dengan apa yang dibawanya saat ini.
Belati yang dibawanya kini bergerak dan bercahaya sangat menyilaukan, dan elak membuat mereka akhirnya menangkapnya, entah kekuatan dari mana akhirnya Joan bertarung dan melawan mereka, dia dengan cekatan menghunuskan dan juga menusukkan belati ke arah lawan dan membuat mereka kocar kacir.
Joan sendiri kaget dengan kemampuan yang kini dia miliki, tubuhnya seolah bergerak sendiri tanpa kendali padahal dia sama sekali tidak pernah bertarung sebelumnya.
Kabar ditemukannya telah sampai pada pemimpin klan Demon yang tengah bertarung dengaan Mathias, hingga Mathias sendiri mendengarnya dengan telinganya sendiri.
"Seorang gadis dengan sebuah belati naga ada di sana."
Mathias terperangah, dia ikut melesat pergi mengikuti mereka untuk melihatnya sendiri. Dan benar saja, Mathias kini terperangah melihat joan yang lihai bertarung bahkan mampu mengalahkan semua lawan, dia berseringai seakan kagum pada gadis yang tidak asing baginya itu.
"Siapa gadis itu, dia sangat luar biasa,"
Namun Mathias tidak melakukan apa apa selain melihatnya dari kejauhan, dia ingin tahu siapa gadis yang tengah bertarung seorang diri melawan banyaknya klan Demon yang menyerangnya, dia tidak gentar apalagi takut walaupun hanya sendirian,
sampai akhirnya Joan kewalahan seorang diri, dengan nafas terengah engah dia memegang dua belati di tangan kakan dan kirinya.
Dengan tatapan tajam pada semua pria yang menatapnya dengan ganas, bak ingin sekali menerkamnya sampai mati. Tak berlangsung lama, akhirnya Paul datang dan menolongnya, kehadirannya menjadi ancaman bagi semua anggota klan Demon yang jelas bukan tandingannya, dengan sekali gebrak saja mereka pergi kocar kacir dan Mathias yang melihatnya tentu saja terperangah.
"Apa. Kau menolong gadis itu, siapa dia."
"Pergilah Mathias, biarkan aku yang mengurusnya kali ini,"
"Tunggu ... Apa gadis itu gadis yang selalu menarik perhatianmu saat di gereja, yang kau lihat sepanjang hari di hari pemberkatan?"
"Pergilah ..."
"Tunggu, aku justru ingin tahu lebih banyak tentangnya, bagaimana dia bisa bertarung begitu hebat padahal hanya seorang diri saja."
"Kau tidak mendengarku Mathias, aku bilang pergi, biar ini jadi urusanku,"
"Kau tidak mungkin turun tangan jika tidak ada apa apanya, apa kau dan dia menjalin sesuatu yang tidak aku ketahui?"
"YA .. aku sudah memilihnya sebagai pengantinku, puas kau?"
Tawa Mathias terdengar menggelegar setelah obrolan antara batinnya dengan batin Paul berlangsung, Mathias tidak pernah menyangka jika paul akan mengambil pengantin dari bangsa manusia, dan tidak dia duga siapa yang di jadikan pengantin oleh sang pemimpin itu akan menjadi ancaman baginya.
Mathiaspun pergi begitu saja, dia hendak memberi kesempatan bagi kakaknya yang sejak lama tidak pernah terlibat perasaan cinta dengan siapapun beberapa tahun belakangan ini, dan melihatnya seperti tadi membuatnya tersenyum.
"Aku senang akhrinya kau kembali memiliki keinginan untuk berkembang biak." guraunya dan tentu saja terdengar oleh Paul.
"Lancang kau Mathias!!"
Joan terperangah melihat Paul datang di saat tepat dan menolongnya dari banyaknya pria aneh yang terlihat haus melihatnya, dengan nafas yang masih terengah engah dia tersenyum tipis ke arahnya,
"Kau tidak apa apa?" ujarnya menyembunyikan Tubuh kecil Joan dibelakang punggungnya.
"Ya ... Aku tidak apa apa, kenapa kau datang kemari Paul?"
"Aku tidak sengaja lewat Joan dan aku melihatmu, tentu saja aku tidak akan tinggal diam saat mereka menyakiti pengantinku." ujarnya menohok
"Hah..."
Yang tidak Joan lihat saat ini adalah tatapan Paul yang mematikan, menyala seperti bola api yang mampu meluluh lantahkan tubuh, meremuk redamkan tulang bahkan mampu menghancurkan satu klan dengan mudah, hingga mereka lari tunggang langgang dengan cepat, ada yang berlari ke arah utara, ada yang berlari ke selatan, ke dalam hutan atau menceburkan diri ke dalam sungai dari mata mati hancur akibat tatapan bak iblis dari seluruh neraka yang bersemayam dalam diri Paul.
Dan sesuatu terjadi, membuat Joan tersentak hingga hampir tersungkur ke belakang saat tanpa sengaja melihat seorang pria berteriak dengan daging wajah yang hancur setelah bertatapan dengan Paul, padahal pria yang kini melindungi tubuhnya tidak melakukan apa apa selain hanya berdiri menatap semua dengan tatapannya.
Teriakan terdengar sangat menyakitkan, tidak hanya itu tubuhnys kini hancur tanpa sisa, hanya tulang belulang yang kini jadi abu lalu menghilang tertiup angin tanpa sisa. Dan komplotannya yang melihatnya ikut berteriak.
Seorang pria yang di sinyalir sebagai pemimpin klan mereka menyuruh semua anggotanya untuk mundur dan pergi dari tempat itu. Membuat Joan lega karena semua pria besar dan menakutkan itu akhirnya pergi.
Kini Paul tidak lagi memperlihatkan wajahnya yang asli, dia berbalik dan menatap Joan dengan nanar.
"Kau tidak apa apa kan?"
Joan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa apa Paul ... Apa yang terjadi pada mereka, kenapa mereka takut hanya karena melihatmu saja?"
"Entahlah, mungkin karena aku tampan, sedangkan mereka tidak, kau lihat wajahnya tadi bukan? Sangat buruk." ujar Paul dengan berdecak kecil. "Mereka tidak pandai merawat diri, bagaimana bisa mereka menunjukan diri di depan seorang gadis cantik sepertimu." ujarnya lagi dengan terus memidai kornea mata Joan yang juga menatapnya tanpa jemu.
Seakan tidak percaya dengan penjelasan tidak masuk akal dari Paul, kini Joan membalikkan tubuh dan berjalan meninggalkan Paup begitu saja.
"Joan... Tunggu aku!"
"Kau fikir aku tidak tahu apa apa Paul?" desisnya pelan.
"Memangnya kau tahu apa Joan?"
"Lupakan ... Aku tidak ingin membahasnya!"
Paul melesat menyusulnya dan menyamakan langkah dengannya.
"Apa yang tidak ingin kau bahas Joan?"
"Lupakan Paul ... Sudah aku bilang aku tidak ingin membahasnya lagi." sahut Joan yang berjalan lebih cepat.
Dengan cepat pula Paul mencekal lengannya dan membuat langkahnya terhenti. Cekalan tangannya sangat keras membuat Joan sedikit tersentak. "Maaf ...!" ujarnya dengan melonggarkan cekalan tangannya. "Katakan padaku apa yang kau katakan Joan!"
Joan menggelengkan kepalanya dan berusaha melepaskan tangan Paul, "Pergilah Paul ...!"
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan Joan. Bicaralah dengan ku agar aku tahu." ucap Paul dengan nada bicara yang menurun dari sebelumnya.
Joan menghela nafas, dia tidak ingin menatap wajah apalagi bertatapan dengan Paul langsung. Hingga Joan kembali berjalan tanpa peduli Paul yang menariknya.
"Joan! Aku sangat peduli padamu dan tidak ingin terjadi apa apa padamu. Jika aku salah ... Maafkan aku, tapi jangan seperti ini."
Joan terus berlari menjauhi Paul. Sampai dia hampir tergelincir masuk jurang namun beruntung karena Paul dengan cepat menangkapnya. Gerakan yang sangat cepat bahkan tidak lebih cepat dari kedipan mata.
"Sudah aku katakan aku akan menjagamy dengan baik. Jangan khawatirkan apa apa Joan."
Joan terdiam, dia hanya menatap Paul dengan dalam. Bibirnya bergetar menahan agar tidak menangis.
Paul ... siapa kau dan siapa mereka, aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku tidak bisa percaya semua terjadi begitu saja, apa yang bisa aku lakukan Paul, kenapa aku harus bertemu engan mu, ini sangat menyakitkan bagiku jika aku tahu kita tidak mungkin bisa bersama.
"Pergilah Paul!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments