Bab.04(Terbang)

Joan masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Paul. Terlebih jika paul bisa menduga jika dirinya dalam bahaya saat itu.

"Apa kau seorang cenayang?" tanya Joan konyol, dia memang tidak pernah percaya hal hal semacam itu.

"Mungkin, jujur feelingku sangat kuat Joan."

Paul masih belum melepaskan tangannya yang mengerat dipinggang Joan, untuk beberapa saat mereka saling menatap hingga terdengar sebuah teriakan pria dari belakang yang melihat sesuatu yang mencurigakan.

"Aku melihat sesuatu di perbatasan desa, sejumlah orang yang mengerikan!" teriak seseorang yang membawa obor dan melewati mereka berdua.

Pria itu berhenti, dan melirik pada Joan." Joan apa ayahmu ada di rumah? Aku harus bertemu dengan ayahmu."

Joan terbeliak dan buru buru meelepaskan pelukan Paul. Tentu saja pria itu tidak menyadari kehadiran Paul karena Paul megggunakan kekuatannya agar manusia yang tengah berdiri itu hanya meihat Joan seorang.

"Ayah ... Aa---ada di rumah," cicit Joan. Mati, aku bisa ketahuan pergi menyelinap oleh ayah jika begini, kalau sudah begini, aku ingin bisa terbang agar sampai di rumah dengan cepat!

Paul tersentak saat mendengar suara hati Joan pada saat ini, tanpa sengaja namun cukup membuatnya tergelitik, merasa senang karena akhirnya bisa mendengarnya.

"Jangan mati, kau masih terlalu muda dan cantik untuk mati Joan" Bisik Paul dari arah samping tepat di teinga nya.

"Hah? Apa maksudmu paul?"

"Baiklah, aku pergi dulu Joan. Pulanglah, hari sudah gelap". Ujarnya lagi mengingatkan Joan agar pulang kembali ke rumah.

Joan mengangguk kecil. Rencananya pergi ke rumah Eve berantakan jika pria itu mengadukannya pada ayahnya nanti. Dia bisa bisa mati karena tidak mendengarkan ayahnya yang melarangnya keluar dari rumah.

"Ini semua gara gara kau Paul, aku bisa mati karena ayahku pasti akan membunuhku jika tahu aku pergi dari rumah," ujar Joan mendengus kesal. Andai saja Paul tidak datang, sudah pasti dia sampai di rumah Eve sejak tadi, atau justru tenggelam.

Joan bergidik membayangkannya.

Paul menatapnya datar, masih tidak percaya jika dia lagi lagi mendengar fikiran Joan, dengan cepat dia menarik tangan Joan hingga rasanya tubuh Joan melayang di udara, saking cepatnya , Joansampai memejamkan mata dan tanpa terasa tubuhnya berada diatas angin karena rasa dingin yang tiba tiba menerpanya hingga ke kulit ari, padahal dia saja memakai mantel tebal.

Perlahan Joan membuka matanya, mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang dia lihat. Hamparan langit hitam dan juga rumah rumah penduduk kini telihat kecil dan juga banyak dengan aneka lampu warna warni.

Kedua tangannya merekat memegangi pakaian yang dikenakan Paul, "Paul apa yang kau lakukan ini, apa ini ssemacam sihir?"

Paul tersenyum dingin, "Tenanglah dan lihatlah. Tidak perlu takut karena aku tidak akan membuatmu terjatuh,"

"Tapi bagaimana bisa. Apa ini?"

Paul terus menatapnya, menatap wajah kaget gadis yang beberapa hari ini membuatnya berfikir keras karena tdak bisa membaca fikiran ataupun ucapan dalam hatinya, namun kali ini pertaman kalinya dia mendengar suara hatinya dan fikirannya, membuatnya jadi kenyatakan.

"Bukankah kau ingin terbang?"

"Paul ini tidak mungkin terjadi. Apa yang terjadi ini ... aku ... aku aneh, aku kan bicara dalam hati! Kenapa kau bisa mendengarnya?"

Paul tersenyum mendengarnya. Tentu saja dia kini telah mendengarnya dan merasa bahagia, membawanya pergi tanpa terasa dalam waktu beberapa detik saja ke pegunungan Selatan dengan secepat kilat.

"Paul ini di mana?" Tanyanya polos.

"Inilah rumahku!"

"Rumahmu ... kau tinggal di istana. Apakah seorang pangeran atau raja? Apa aku sedang di negeri dongeng ... Ah tidak mungkin aku pasti bermimpi lagi." Kata Joan yang membuat Paul berdiri menatapnya dingin.

"Kau tidak bermimpi Joan! Ini kenyataan."

Dan aku yakin sekarang kalau kau adalah pengantinku. Batin Paul

Joan terbelalak saat pintu masuk sebuah bangunan yang terlihat seperti istana yang memiliki pintu besar dan tinggi itu terbuka, bahkan Joan harus menengadahkan kepalanya ke atas saking tingginya pintu yang dia lihat itu.

"Apa Ini rumah?" desisnya tanpa suara.

"Masuklah, aku ingin kau melihatnya sendiri."

Keduanya berjalan masuk, kedua mata Joan mengejap-ngejap tak percaya dengan apa yang dia lihat, bangunan semi Eropa yang seperti sebuah kastil di negeri-negeri dongeng yang pernah dia lihat di dalam buku cerita sewaktu masih kecil dengan benda-benda yang menurutnya aneh.

"Ini benar-benar mimpi ... Aku sedang bermimpi!" ujarnya mencubit lengannya sendiri, "Aaaww ... tapi sakit, apakah ini mimpi?"

Dia masih tidak percaya dengan apa yang dialami saat ini.

"Ya anggap saja kau sedang bermimpi Joan dan nikmatilah mimpimu malam ini," lagi lagi suara Paul membisikinya dari arah belakang, yang berdiri menatapnya dengan senyuman tipis terulas di bibirnya yang pucat.

Ruangan dingin dan kosong serta pencahayaan yang redup membuat Joan sedikit bergidik takut namun juga merasa tempat itu tidak aneh baginya, Joan terus melihat-lihat benda-benda yang berbeda di atas sebuah meja kayu yang panjang foto seukuran besar yang terlihat seperti lukisan Paul.

"Apakah ini kau?"

"Itu kakek buyutku!"

"Mirip sekali denganmu."

"Ya semua orang bilang begitu," jawab Paul, tentu saja itu lukisan dirinya beribu ribu tahun lama nya.

Mereka juga menaiki tangga untuk menuju ruangan yang lebih besar, terdapat lampu-lampu kecil yang menempel di dinding yang hanya membuat ruangan itu semakin redup.

"Ini menakutkan Paul!"

"Benarkah?"

"Ya ... Apa kau tidak akan senang kalau tinggal di sini?" "Tidak. Untuk apa aku tinggal di sini, aku punya rumahku sendiri?"

"Kau benar Joan!" ujar Paul dengan nada kecewa. "Tapi aku harap kau tidak takut kalau tinggal di sini nanti."

"Untuk apa aku tinggal di sini?"

"Ya mungkin saja." tukas Paul dengan rasa ingin tahu yang lebih tinggi.

Joan terus berjalan, hingga beberapa langkah dia berhenti saat merasa tengkuknya panas tiba-tiba. Didepan sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar yang luas, tiba-tiba tengkuknya merasakan hawa panas seolah terbakar.

"Aaarrgg!" pekiknya dengan memegangi tengkuknya.

"Kau kenapa Joan?"

"Tidak ... aku tidak apa-apa. Tapi sepertinya aku sakit!" "Apa yang kau rasakan?"

" Entahlah aku merasa tubuhku panas, lebih baik kita pulang saja Paul." ujarnya melewati kembali ruangan kamar di mana pedang naga merah yang tersimpan di dalam lemari milik Paul.

Joan terbangun di pagi hari dan merasa sakit diseluruh badan. Hawa panas menyeruak di dalam tubuhnya terutama tengkuknya, " Aaaah ... sepertinya aku benar-benar bermimpi dan sakit sampai rasanya nyata dan menjadi sakit begini." katanya saat sadar dia berada di dalam kamarnya sendiri.

Sang ibu datang dengan membawa air, "Joan kau sudah bangun?"

"Iya Bu, aku sudah bangun, apa yang terjadi. Apakah aku demam sepanjang malam?"

Terpopuler

Comments

lina

lina

ko tau rau udah d rumah?

2023-01-14

1

lina

lina

ko joan jdi kepanasan?

2023-01-14

1

lina

lina

waduh, paul udah tua amat

2023-01-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!