"Tentu saja adalah aku Paul Sancwers. Bukankah kau sudah tahu aku Joan?"
Joan menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin, kau hanya seorang yang biasa saja, ku lihat mereka ketakutan melihatmu! Kau pasti memiliki sesuatu yang sangat istimewa sampai semua orang yang di sini tunduk dan takut melihatmu, kau punya kedudukan yang tinggi di depan mereka Paul." tukas Joan yang tidak begitu percaya pada apa yang di ucapkan Paul..
"Tidak Joan, kau hanya salah paham! Aku bukan siapa siapa!" ujar Paul yang langsung menatap semua orang yang tengah berada di sana, Mereka pun kocar kacir pergi.
"Aku tidak mudah dibohongi Paul!" Joan pun segera berlari keluar.
Dia segera mencari Eve yang tengah berdiri di depan pintu keluar, dengan cepat Joan menariknya.
"Ayo Eve ... kita pulang!"
"Joan. Kau membuatku terkejut, ada apa Joan?" Tanya Eve yang terlihat panik sendiri dengan menatap ke arah belakang. "Apa kau sudah selesai pengakuan dosa?"
"Nanti aku ceritakan! Kita pulang saja dulu."
"Ya tapi ada apa? Kau membuatku takut Joan!"
"Takut. Tidak perlu takut Eve,"
Joan terus menarik Eve agar langkahnya sama, Eve yang lebih lemah dari padanya dan selalu penakut.
Semetara Paul tidak mungkin menyusulnya saat ini terlebih diluar hari sudah mulai terik. Pria dingin itu hanya mampu melihat Joan yang pergi begitu saja.
"Joan ... maafkan aku, aku tidak bisa menceritakan semuanya padamu!" gumamnya.
Keduanya kini melangkah lebih cepat, melewati jalanan kecil lalu jembatan yang dibangun di bawah sungai, untuk sampai ke rumah Eve.
"Joan ... Kau langsung pulang atau mau mampir ke rumahku? Ibuku baru saja membuat roti kering.
"Tidak Eve ... Aku ingin langsung pulang saja!" sahut Joan saat mereka tiba di pertigaan.
"Baiklah kalau begitu. Kau harus hati hati ya!"
Joan mengangguk, "Kau juga Eve."
Joan pun melanjutkan perjalanan menuju rumahnya yqng hanya berjarak 100 meter saja, namun dia harus menyebrangi sungai lebih dulu. Fikirannya melayang pada pembicaraan memalukannya dengan Paul, dengan bodohnya dia menceritakan tentang perasaannya pada orangnya langsung. Bisa dibayangkan bagaimana malunya dirinya saat ini.
"Aku tahu kalau aku ini ceroboh! Tapi aku tidak menyangka kalau aku juga bodoh!" gumamnya merutuki diri sendiri.
Sosok Paul tidak juga hilang dari kepalanya, sosok misterius yang selalu datang saat dia kesulitan, yang tiba tiba muncul entah dari mana. Dan menimbulkan rasa penasaran yang semakin menggebu gebu. Hingga dia tiba di rumah.
Rumah yang tampak sepi, dengan kedua orang tuanya yang tidak terlihat di manapun. Joan sendiri langsung masuk ke dalam kamar.
Sampai hari menjelang malam, kedua orang tuanya tidak juga pulang, membuat Joan didera khawatir. Ditambah lehernya kini kembali terasa panas, Joan kembali merasakan kesakitan. Ruam ruam kemerahan kini terlihat bertambah jelas saja, tapi Joan tidak bisa melihat keseluruhannya, dia hanya bisa merabanya.
"Aneh ... aku akan kesakitan kalau bertemu dengan Paul, tapi sekarang? Apa Paul berada tidak jauh dari sini?" ujarnya penasaran.
Feeling Joan memang benar, saat ini Paul tengah memperhatikannya di atas pohon yang tidak jauh darinya. Dia terus menatap jendela yang masih bercahaya terang dimana Joan berada di dalamnya.
Sementara itu, siasat David berhasil, dia memergoki seorang pria yang berwajah pucat dan tingkah yang aneh tengah menghisap darah seekor anjing.
Pria yang terlihat aneh itu membuat David terhenyak, begitu juga Elena.
"David, awas!" teriaknya saat pria aneh dengan darah yang terlihat membasahi bibirnya.
David bisa mengelak, dia kemudian menendang perutnya hingga pria itu tersungkur ke tanah.
"David!" Elene kembali berteriak dengan melemparkan pasak yang terbuat dari perak milik David.
Trak!
David berhasil menangkapnya, pria aneh itu bangkit dengan cepat dan mendorong David hingga ke belakang dan membentur dinding.
Pria dengan wajah seperti mayat hidup itu jelas memiliki kekuatan lain, dia berusaha menggigit David namun David berhasil menghindar dengan memukul wajahnya.
"Bunuh dia David!" Elena kesal sendiri dengan suaminya yang terlihat menunda nunda untuk menusuk jantungnya menggunakan pasak yang dia pegang. Sampai Elena menarik busur yang sudah menjadi senjatanya selama puluhan tahun.
Blassss!
Trak!
Busur panah meluncur tepat bahunya, membuat pria itu menoleh ke arahnya dengan marah dan memperlihatkan kedua taring tajamnya.
David mengulas senyuman atas apa yang di lakukan oleh sang Istri, dengan begitu pria yang sepertinya baru saja berubah menjadi Vampire itu semakin marah.
"Tenang saja sayang! Dia sudah lemah."
Dan benar saja, Vampire baru itu sedikit melonggarkan cengkramannya pada kedua bahu David setelah busur panah menyebarkan cairan yang mampu melumpuhkan lawan.
Hingga mudah baginya untuk mengendalikannya.
"Sepertinya dia baru saja berubah, kekuatananya masih belum kuat." ujar David yang langsung mengingat tubuhnya menggunakan tali tambang yang besar dan kokoh.
"Sepertinya memang begitu! Dia bukan klan pemburu manusia, tapi dia juga korban, mereka sudah merubahnya menjadi Vampir." tambah Elena.
Sekian tahun belajar tentang Vampir dan menjadi pemburu Vampir membuatnya mudah mengenali jenis jenis klan Vampir.
Klan Vampire yang berdarah murni, atau klan Vampir campuran atau Klan Vampire yang hanya di jadikan budak Vampire,
"Sepertinya dia hanyalah budak David."
"Kau benar, kita akan membawanya pulang dan memancing tuannya agar muncul."
"Kau kan membawanya pulang? Bagaimana dengan Joan?" Elena khawatir jika Joan tahu hal ini dan justru mengundang banyak bahaya.
Itulah sebabnya selama ini mereka tidak mengatakan apapun pada Joan, karena bisa dibayangkan sebanyak apa bahaya yang akan mereka hadapi jika senjata itu mulai muncul saat identitas Joan terungkap.
David membawanya pulang, menempatkannya di ruang bawah tanah yang tidak diketahui oleh Joan sendiri. Bahkan dia mengikatnya kuat kuat pada tiang besi yang terpasang di sana,
Manusia yang baru saja berubah menjadi Vampir itu terus berontak tidak terkendali, dengan terus mencoba menggigit keduanya dengan gigi taring yang muncul setelah kematiannya dalam waktu 3 jam saja.
"Dengan ini, kita akan segera tahu dimana mereka bersembunyi. Jadi tetaplah waspada Elena."
Elena mengangguk, walau dirinya di dera rasa khawatir yang tinggi pula. Penangkapannya kali ini sudah tentu akan mengundang Vampir lain untuk datang.
Namun mereka sudah mempersiapkannya, Ruang bawah tanah yang sudah dipakaikan alat pemangkal Vampir.
"Katakan dimana seluruh klan Vampir bersembunyi?" Bentak Paul.
"Aku tidak tahu... Aku tidak tahu!"
"Katakan! Kalau tidak ingin kau hancur bagai debu." David masih membentaknya, walaupun pria itu hanya menjawabnya dengan hal yang sama pula.
"Katakan!" David menodongkan pasak perak tepat di jantungnya.
"Katakan atau kau akan mati!"
"Aku tidak tahu ... Aku tidak tahu mereka dimana! Kalau pun aku tahu, aku tidak akan memberitahukannya padamu. Tuan ku akan marah ... Tuan ku akan marah!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
lina
🤭🤭🤭 cinta biat bodoh joan
2023-01-31
1