Bab.6(Cinta pada pandangan pertama)

Keesokan pagi

Seperti biasa Joan akan beribadah pagi di gereja, dia bersama-sama Eve berjalan menatapi jalan kecil menuju Gereja.

"Joan. Bukannya kau sedang sakit. Kenapa tidak beristirahat saja di rumah?" tanya Eve yang terus memegang tangan Joan hanya masih terasa hangat.

"Tidak Eve ... Walau tiga hari ini aku merasa demam tapi aku tidak mungkin meninggalkan ibadah pagi yang hanya seminggu sekali hanya karena aku demam!"

"Aah Joan ... Kau memang taat! Aku doakan kau selalu berkah dan segera bertemu jodoh mu." kelakar Eve dengan tertawa.

"Eve ... Kau ini kenapa sih?" tukasnya dengan ikut tertawa mendengar kelakar sahabatnya itu.

Sepanjang perjalana mereka terus tertawa walaupun Joan merasa demamnya tidaklah turun, bagian tengkuk nya masih terasa sangat panas seperti terbakar. Dia pun sekali hanya mengompresnya dengan kain yang dibasahi air dingin.

Mereka tidak pernah tahu. Sepasang bola mata merah telah memperhatikan mereka dengan tajam dari atas pilar di lantai 2 gereja yang akan mereka tuju.

"My Lord ... Kulihat kau selalu memperhatikan wanita itu. Apa kau tertarik pada wanita yang satu itu atau satunya lagi?" tanya Mathias yang heran saat melihat Paul terus menatap keluar jendela.

Matias menarik nafas dalam-dalam, sesekali gumaman gumaman terdengar lirih.

"Hmmmm ... Aku bisa mencium wangi darahnya dari sini, wangi sekali Paul!" tukas Mathias.

"Aku pun merasa yang sama, wangi darahnya sangat manis bukan?"

"Ya ... Drah yang manis!" timpal Mathias.

"Jangan kau sentuh dia. Dia Milikku Mathias!" sergah Paul dengan menoleh ke arah adiknya dengan tatapan yang bisa membunuh.

"Oke ... Oke. Aku tidak akan menyentuhnya! Kau tahu itu Paul, dia incaranmu dan dia milikmu." ucap Mathias meyakinkan diri.

"Ya kau tahu itu, jadi jangan ganggu mereka!"

"Baiklah aku tidak akan mengganggu mereka."

"Terima kasih Mathias!"

"You welcome Paul!"

Mathias menghilang dengan cepat, entah ke mana dia pergi Paul tidak peduli, yang dia pedulikan hanya gadis yang tengah berjalan semakin mendekat.

"Joan ... Kita akan terus bertemu, aku sudah memilihmu. Bersiap-siaplah Joan." gumamnya Paul yang memastikan Joan sudah masuk.

Paul memberinya waktu untuk beribadah, bagaimanapun juga Joan adalah manusia yang percaya adanya tuhan. Tapi tidak dengan dirinya. Paul tidak percaya Tuhan, karena dialah sang penguasa kegelapan.

Joan masuk ke dalam untuk melakukan ibadah pagi. Setelah selesai Joan dan Eve menemui Pastor.

"Pastor aku ingin mengakui sebuah pengakuan dosa." ujarnya tanpa basa basi.

Eve tertawa, "Apa kau benar benar punya Dosa Joan?"

"Sttth ... Diamlah!" Joan menyenggol lengan sahabatnya itu.

"Iya silakan Nak, pergi ke ruangan itu." Tukas pastor.

"Terima kasih."

Joan dan Eve pun menuju ke sebuah ruangan persegi, didalamnya terdapat pintu dari dua arah berlawanan dengan celah celah sangat kecil. Serta sebuah penghalang yang bisa di buka tutup.

Di sanalah biasa tempat untuk sebuah pengakuan, seseorang terlihat sudah berada di dalam saat Joan masuk sebab penghalang di tengahnya sudah tertutup.

Joan langsung mendudukkan tubuhnya di kursi kayu yang cukup kecil.

"Pagi anakku!" sapa seseorang dari balik celah.

"Pagi!" Sahut Joan, "Apa kau tahu sesuatu. Hari akhir ini aku merasa aneh aku terus bermimpi bertemu seseorang, aku juga merasa hatiku berdebar saat melihatnya tapi aneh, aku seolah sangat dekat dengannya. atau dia selalu mengawasi ku aku tidak tahu." Joan terus bicara mengenai pertemuan yang menurutnya aneh dengan pria berwajah pucat yang selalu menolongnya.

Sementara seseorang balik penghalang satunya lagi tanpak tersenyum menatap wajah Joan pada celah celah kecil,

"Apa dia sangat tampan rupawan?"

Joan terlihat berfikir, "Hmmm ... Kulit wajahnya putih sekali, lebih pucat dari pada kulitku. Tapi..."

"Tapi ...? Aku bertanya apa dia tampan?"

Joan tersipu, Paul memang tampan rupawan, dengan tubuh tinggi dan tegap, bola mata meneduhkan dan juga hidung mancungnya.

"Ya dia sangat tampan, seperti pangeran dari negeri dongeng."

Paul kembali tersenyum, terus bertanya seperti apa rupa pria yang selalu merasa dekat dengannya. Dia tidak perlu mendengarkan suara hati ataupun pikiran Joan karena kali ini Joan dengan lancar menceritakannya sendiri dan tidak tahu kalau dirinya yang berada didalam sana.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Joan polos.

"Mungkin itu yang di namakan cinta!" kelakar Paul dengan terus tersenyum.

"Cinta?"

"Ya ... Kau hanya harus memperhatikannya. Aku rasa pria itu juga menaruh hati padamu. Dia selalu ingin dekat denganmu, bahkan hadir dalam mimpimu." terang Paul yang terus menahan agar tidak ketahuan. "Cinta pada pandangan pertama, kecantikanmu bahkan mengalahkan bulan purnama yang begitu indah. Penantian yang panjang pun yang terbayarkan sudah." Ujar Paul yang terus menatap wajah cantik Joan.

Joan mengangguk, namun juga heran mendengarnya. Seorang pastur yang biasanya bijaksana ini terdengar sangat aneh.

"Apa kau juga pernah jatuh cinta?" pancing Joan.

"Jatuh cinta?"

"Ya ... Bagaimana rasany jatuh cinta pada seseorang?"

Paul tampak terdiam, selama ribuan tahun hidup kekal abadi, jelas banyak wanita yang dia jadikan pengantin maupun selir. Namun tidak pernah dia sejatuh cinta ini pada gadis terlebih berasal dari manusia.

"Pastur?"

"Ya ..., tentu saja! Tapi saat ini aku hanya melihat seseorang saja. Aku...."

Traak!

Dengan cepat Joan membuka tutup yang jadi penghalang keduanya, seketika Joan terbeliak melihat Paul begitu juga dengannya.

"Kau?"

"Halo Joan?"

"Astaga ... Jadi sejak tadi aku bicara padamu?" Sentak Joan yang terlihat marah.

"Maafkan aku Joan!"

Joan bangkit dengan marah, disertai rasa panas yang membakar tengkuknya lagi hingga dia berteriak.

"Aarggkk!"

"Joan?"

Paul bergegas menghampirinya, "Ada apa Joan?"

"Berhenti ... Jangan dekati aku!" ujarnya dengan mencegah Paul untuk tidak mendekatinya.

"Aku tahu, maafkan aku, tapi apa yang aku katakan itu lah kenyataannya, aku jatuh cinta pada pandangan pertama, saat aku melihatmu di sini Joan. Aku ...!"

Joan tampak terdiam menatap Paul, sementara rasa perih ditengkuknya semakin menjadi jadi.

"Paul!"

"Aku tahu caraku ini salah, aku hanya sedang mendinginkan fikiran saat kau datang dan menganggapku seorang pastur." terang Paul.

Namun Joan tidak ingin mendengar apapun yang di katakan oleh Paul, jujur dia sangat malu saat ini karena telah mengungkapkan perasaannya. Joan pun segera keluar dari ruangan tersebut dengan sedikit berlari.

Paul mengejarnya keluar, mereka tampak berlari ke arah aula gereja.

Disanalah beberapa dari klan Vampir tengah berkumpul dan langsung menundukkan kepalanya saat melihat Joan. Joan yang berdiri mematung itu heran melihat mereka semua yang terlihat ketakutan.

"Kenapa mereka memberi hormat padaku dan takut seperti itu?"

Namun Joan menyadari saat seseorang berdiri di belakangnya, Joan menoleh ke arah belakang dimana Paul berdiri dengan gagah, Joan bahkan baru sadar jika Paul terlihat seperti seseorang yang memiliki posisi yang tinggi sampai semua orang di dalam aula membungkuk takut melihatnya.

"Sebenarnya. Siapa kau ini Paul?"

Terpopuler

Comments

lina

lina

calon laki mu ☺️☺️

2023-01-22

1

lina

lina

wiiih pangeran vampir

2023-01-22

1

lina

lina

waduh, bearti paul punya banyak bjni dong? pnya banyak anak dr wanita lain? alias vampur cewe gitu?

2023-01-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!