"Kau?"
Paul menarik tangannya dan membawa nya untuk menepi, Joan mengikutinya dengan heran dan bertanya tanya, kenapa paul berada i tempat yang sama dengannya, apa Paul mengikutinya selama ini.
Joan melepaskan pegangan tangan paul, dan menghentikan langkahnya serta menatapnya tajam.
"Apa yang kau lakukan di sini Paul? Kau mengikutiku? Kau juga merasa aku dalam bahaya? Atau ini hanya akal akalanmu saja karena sebenarnya kau itu penguntit!"
Paul menggelengkan kepala, tatapannya teduh dengan kekhawatiran, dia tahu desa telah di serang hanya untuk mencari seseorang yang disinylair sebagai pembunuh salah satu anggota mereka, yang justru menjadi budak langsung dari Paul karena dia yang merubahnya.
"Kau mau ke utara bukan? Aku tahu jalan yang lebih cepat untuk kesana. Kau hanya perlu ikut denganku." jelas Paul tanpa menjelaskan jika penyerangan itu adalah perintahnya. Entah apa jadinya jika Joan tahu dialah yang memberikan perintah pada Mathias,
Tidak boleh terjadi, Joan tidak boleh tahu yang sebenarnya. Batin Paul.
"Aku tidak mau! Aku bisa sendiri dan jangan mengikutiku lagi,"
Joan berbalik, dia segera melangkahkan kakinya namun Paul kembali mencekal lengannya dengan cepat. Bahkan saking cepatnya, membuatnya tersentak.
Wusssh.
"Paul?" lirihnya dengan terkesiap saat angin tiba tiba kencang. "Apa yang baru saja terjadi?" desisnya pelan.
"Ikut denganku Joan, ini akan sangat berbahaya."
Joan terdiam, menatap kedua manik hitam Paul yang tajam nan berbinar, rahangnya yang kuat dengan alis tebal miliknya.
"Percaya padaku Joan agar aku bisa melindungimu."
Jaon masih menatapnya dengan tatapan yang penuh pertanyaan, Bahaya apa yang mengincarku, apa itu jugalah yang menyebabkan ibu yang ayah menyuruhku untuk pergi ke utara. Dan mereka .... Batin Joan.
Ada apa dengan orang tuamu, aku tahu kau dalam bahaya tapi aku tidak tahu apa yang sedang mengincarmu, aku tidak bisa membaca semua fikiranmu, aku juga tidak bisa melihat apa apa. Tapi aku tahu kau dalam bahaya Joan. Kenapa seperti ini. Kenapa dengan semua ini? Batin Paul dengan terus memusatkan fikirannya untuk melihat Joan lebih dalam, tapi semua fikiran Joan tidak bisa dia tembus.
"Joan ... Ikutlah denganku!"
Akhirnya Joan ikut bersama Paul, karena hari sudah gelap dan kereta api sudah lewat pula. Joan hanya perlu waspada pada Paul, tapi di sisi lain, hatinya bahagia karena bisa bersama sama dengan Paul.
Perjalanan pun nyaris tidak terasa, yang dia tahu Paul membawanya ke sebuah gang kecil dan langsung menuju utara.
Joan bahkan tidak sadar jika Paul membawanya melalui dimensi lain dan langsung menuju ke utara.
"Paul ... Apa sedekat ini? Kita tidak perlu perjalanan jauh ke utara?" tanya Joan yang mulai merasa aneh.
Paul menggelengkan kepala, "Ini jalan rahasia, hanya kau yang tahu Joan."
Joan mengangguk lirih, masih merasa aneh karena sosok Paul kali ini irit bicara dan semakin jarang tersenyum. Datar dan dingin.
"Joan?"
"Hm ...!"
"Kau bisa bertarung?"
"Bertarung. berkelahi maksudnya?"
"Ya ... Membela diri."
Joan mengangguk, "Sedikit saja."
"Tidak apa, yang paling penting kau bisa membela diri, mau belajar menyerang?" tanyanya lagi
Mereka terus berjalan, melewati pohon pohon pinus yang tinggi, jalan yang hanya bisa di lalui oleh kereta api, dipenuhi hutan lebat dan sungai yang mengalir deras.
"Aku ingin belajar memakai pedang!" Joan berputar dengan tangan lurus kedepan seolah memegang sebilah pedang, dia menyerang udara seperti menyerang lawan.
Paul mengulas senyuman, "Hati hati dengan langkahmu Joan!"
"Ya ... Paul!"
"Apa yang akan kau lakukan dengan pedang itu?" Paul menangkap tangan Joan, seolah menangkis serangan hujaman pedang.
Joan memutar tubuhnya ke belakang dan kini berada tepat di belakang Paul. "Aku bisa membunuh dengan pedang ini,"
Paul mengulas senyuman lalu berbalik menatapnya. "Siapa yang akan kau bunuh?"
Joan menatap balik kearahnya, hingga keduanya saling bertatapan dengan dalam.
"Musuh!" desisnya.
Paul melangkah lebih dekat, hingga jarak keduanya semakin dekat. Membuat degup jantung Joan berirama lebih kencang sementara Paul bisa merasakannya.
Paul memejamkan mata, merasakan detak demi detak jantung manusia sebab dia tidak pernah sekalipun merasakan detak jantung dirinya sendiri.
Paul menyentuh dadanya, merasakan bagaimana irama tidak beraturan dan semakin terasa bertalu talu.
"Ini?"
Joan tersentak kaget, dan mundur satu langkah karena gerakan Paul disertai dinginnya tangan Paul. Dan membuatnya segera menurunkan tangannya. "Maaf Joan."
Sementara Klan lain dari vampir di utara timur yang tengah bersitegang kini turun, mendapati dua orang manusia tengah mempersiapkan diri dan senjata andalannya untuk menyerang klan Dominiq.
David dan Elena tidak sadar jika mereka kini tengah diawasi, dan sadar ketika mereka sedang di kepung.
Mathias yang mendapat laporan dari salah satu anak buah kepercayaannya menyusul ke daerah utara. Hingga akhirnya menemukan mereka.
"Rupanya kau Bathory?" Mathias langsung menghampiri David. "Kau memiliki mata yang sama dengannya." ucapnya lagi.
Sudah sejak ratusan tahun yang lalu, leluhur Bathory menjadi salah satu klan pemburu Vampir yang disegani pada masanya. Dizaman itulah kejayaan klan Vampir banyak yang tumbang karenanya. Sang leluhur Bathory dan keturunannya sejak masa lalu terus bergulir hingga masa sekarang. Sampai David pemburu terakhir.
Mathias menyunggingkan bibir, hingga gigi taring tajamnya terlihat saat beradu pandang dengan David.
"Kau hanya berdua saja?" tanyanya kemudian beralih pada Elena.
Mathias mengambil nafas panjang. "Kekuatan Bathory akan membuat kami bisa keluar sepanjang hari, walau terik matahari menyengat sekalipun, legenda yang sejak dahulu aku percaya, tapi keturunan Bathory tidak pernah banyak keturunan."
David tersentak, itulah yang dikatakan nenek moyangnya dahulu agar terus memperbanyak keturunan dan menemukan keturunan terpilih.
"Aku lah keturunan terakhir!" tegas David mengambil tombak yang menjadi senjata andalannya yang siap digunakannya. "Tidak ada lagi Bathory setelahku!"
Trang!
Brak!
Elena menyerang tidak sabar dengan menembakkan busur panah kearahnya, namun meleset karena Mathias bisa menghindar dengan cepat.
Mathias melesat kearahnya dan langsung mencengkram lehernya. "Kau terlalu berani wanita!"
David berlari ke arahnya dan menendang punggungnya, "Lepaskan dia!"
Namun Mathias terlalu kuat, dia bahkan tidak goyah sedikitpun akibat tendangan dari David. Tangannya terus mencengkram leher Elena hingga mengangkatnya ke atas sampai kedua kakinya menjuntai dari tanah.
Trak!
David menghujamkan pasak ke arah jantung Mathias, hingga Elena terlepas dan jatuh seketika. Sementara Mathias ambruk dengan pasak timah tepat di dadanya, David bergegas menghampiri Elena dan membawanya.
"Kau tidak apa apa Elena?"
Elena menggangguk seraya memegangi lehernya yang kini memerah. "Aku tidak apa apa David."
Mathias mencabut pasak dan melemparkannya begitu saja, dia kembali bangkit berdiri dengan tatapan tajam ke arah keduanya.
Dan David terperanjat kaget saat luka mengangga di dadanya kini tertutup kembali, bahkan tidak terlihat luka sedikitpun.
"Sekarang giliranku Bathory. Kalian akan lenyap dengan cepat!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments