Angin berhembus lebih kencang dari pada sebelumnya, Joan semakin tidak mengerti saja dengan apa yang telah terjadi, siapa pria yang ada dihadapannya kini, apakah pria ini yang juga datang sebelumnya dan mengatakn hal hal yang menurutnya aneh, namun Joan merasakan hawa keduanya sangat berbeda satu sama lain.
Tawa menggelegar kini kembali terdengar bahkan mampu menjatuhkan barang barang yang tergantung di dinding rumah, hingga berserakan dilantai.
"Aku memang tidak mengenalmu!"
"Kau memang tidak mengenalku, aku pun baru mengenalmu sekarang, David pintar berbohong rupanya, " ujarnya.
Joan mengernyit, "Kau mengenal ayahku?" tanyanya penasaran.
"Tentu saja aku mengenalnya, selama ini siapa yang tidak mengenal si Bathory itu, tapi sayangnya, David sudah mati sekarang dan itu sangat menguntungkan semua pihak." ujarnya lagi dengan kembali terawa.
"Jadi kau tahu siapa yang membunuh ayah dan ibuku?"
Pria itu menggelengkan kepalanya."Tentu saja aku tidak tahu, yang jelas semua yang menjadi musuh Bathory kini sedang berpesta karena kematiannya." dia tertawa lagi. "Sesuatu hal yang hanya sudah diramalkan sejak lama akan terjadi, kematian keturunan terakhir yang akan membuat klan kami semakin kekal abadi."
"Apa maksudmu?"
"Apa kau tidak tahu legenda itu? Sayang sekali, orang tuamu mungkin menyembunyikan dirimu atau kau memang bukan keturunan asli dari keluarga Bathory." ujarnya menohok.
Apa ini, apakah ini yang dimaksud ayah jika sejak kecil sampai sekarang aku tidak boleh jauh jauh dan mengatakan pada semua orang jika aku adalah anak angkat. Apa ayah sengaja, atau memang aku bukanlah anak kandungnya. Batin Joan.
"Ya ... Aku adalah anak angkat David dan juga Elena, mereka mengadopiku sejak bayi." ujar Joan berbohong.
Bak sebuah puzzle yang berantakan, kini Joan mulai menemukan potongan pertamanya.
"Benarkah? Pantas saja," ujarnya dengan melangkah lebih dekat di hadapan Joan, menatap wajahnya dengan tajam dengan sedikit endusan ke arahnya.
Kulit wajahnya pucat dengan kedua mata yang sedikit merah dan kulit tangan yang hampir melepuh. Joan memperhatikannya dengan tajam juga, dia seolah pernah melihat kulit wajah seputih nyaris pucat miliknya , dan dia ingat seesorang.
"Paul ... !" gumamnya tanpa suara.
"Sayang sekali, konon darah keturunan Bathory sangat bagus dan bisa menjadi kebebasan bagi kami."
'"Maksudnya?"
"Kalau kau bukan keturunan Bathory, tentu saja kau tidak akan tahu hal itu, dan tidak penting juga aku memberi tahukanmu karena semua tidak akan ada gunanya. Dan kau tahu siapa yang mendapatkannya? Klan dominiq sudah pasti, mereka akan semakin kuat saja sekarang dan kami bukan tandingannya, bahkan sejak dulu mereka lebih unggul dari klan manapun." ujarnya lagi.
Joan tentu saja terperangah mendengarnya, siapa klan Dominiq, unggul sejak dulu, kebebasan jika berhasil menumpahkan darah keturunan terakhir Bathory, apa yang dia katakan saja Joan tidak mengerti sama sekali.
"Apa klan itu yang membunuh ayah dan ibuku?" tanyanya semakin penasaran.
Bruk!
Pintu terbuka lagi, seorang pria masuk lalu mendorong pria yang tengah berbicara dengannya sampai dia terdiri ke belakang.
"Apa yang kau lakukan ini, kau malah mengobrol, ayo pergi atau kita mangsa dia!"
Pria pertama menggelengkan kepala, "Dia wanita lemah, ku fikir dia tahu banyak tentang keluarga Bathory tapi aku salah, dia tidak tahu apa apa, bahkan dia tidak tahu legenda itu. Ayo pergi, dia tidak berguna bagi kita."
"Benar begitu?"
"Kau bisa merasakannya sendiri bukan , dia bahkan tidak memiliki kekuatan apa apa, bahkan setetes darahnya saja tidak berguna bagi kita, kita sedang tidak kelaparan Muct, kita kemari guna mencari jejak tapi kita terlambat, klan Dominiq sudah datang lebih dulu dan berhasil menumbangkan musuh, kita kalah cepat ... ayo pergi sebelum kita hancur terbakar," ujarnya dengan berjalan keluar dengan gerakan cepat dan membuat Joan semakin teperangah,
Pria yang menyusulnya menatapnya tajam, kemudian dia juga berlalu pergi dengan melesat.
"Kau yakin?" samar samar Joan mendngar ucapannya walau jarak mereka sudah jauh, dan membuatnya kaget karena dia bisa mendengarnya dengan jelas.
"Tentu saja , dia tidak berguna, mungkin hanya akan jadi budak saja, walaupun dia besar dalam keluarga Bathory tapi dia tidak memiiki darah Bathory."
Joan kembali mendengarnya dengan jelas, bahkan kali kini ribuan suara mulai terdengar memenuhi lubang telinganya dan membuatnya gendang telinganya sakit.
"Ahh ... Apa ini? Kenapa membuat telingku sakit." ujar Joan yang langsung menutup kedua lubang telinga nya dengan kedua tangannya sendiri.
Semua ini sangat menyiksanya, dibalik pernyataan yang mengatakan bahwa dia hanya lah anak angkat, lemah dan tidak berguna cukup mengguncang, namun apa arti mimpi dan pernyataan yang mengatakan jika benda itu memerlukan kekuatan dirinya agar bisa di gunakan olehnya.
"Rahasia apa yang ayah tutupi dariku selama ini, apa aku benar benar bukan putri kandung ayah, apa aku benar benar diadopsi!" ucapnya lirih.
Prang!
Tanpa sengaja Joan menjatuhkan vas bunga dari atas lemari setinggi pinggangnya, hingga vas bunga itu pecah berserakan dan membuatnya kaget adalah saat ini dia menatap sebuah kunci yang sepertiya terbuat dari emas.
"Kunci apa ini?" gumamnya dengan megejarkan duaa manik hitamnyamelihat sekieliling apakah ada yang cocok atau tidak dengan kunci tersebut, sampai akhirnya pandangannya berakhir pada sebuah lemari yang terdapat di sudut ruangan.
Rasa penasaran pun tiba tiba hinggap dalam benaknya, dia bergegas berjalan ke arah lemari dan memasukkan kunci pada lubang pintu, namun anehnya lemari itu tidak terbuka sama sekali. Hingga Joan kembali mencabut kuncinya dari lubang pintu.
Kreket!
Bunyi sebuah pintu terbuka tepat saat Joan membalikkan tubuh guna mencari lubang kunci yang cocok untuk kunci yang dia pegang. Sontak gadis 19 thunitu menoleh kembali ke arah belakang dimana kini pintu dari lemari berwarna coklat itu terbuka.
"Hah. ini bukan lemari tapi sebuah pintu?" gumamnya saat melihat ada sebuah ruangan di dalam dengan pencahayaan cukup terang .
Jaon perlahan masuk ke dalam, dengan bola mata yang waspada dan juga semakin peasaran saja. "Tempat apa ini?"
Joan menyisir temat itu dengan seksama, terdapat barang barang milik David dan juga Elena, termasuk busur panah yang terpajang rapi. Di belakangnya terdapat foto yang tidak asing baginya yang memperlihatkan seorang pria dan wanita juga anak kecil ditengahnya.
"Ayah ... Ibu ...!" gumamnya saat mengenali gambar yang sedang dilihatnya.
Joan mengernyit saat melihat sepucuk surat dari kertas berwarna putih yang sudah sedikit lusuh, dia pun mengambilnya dan membukanya.
"Kok kosong. Tidak ada isi suratnya atau pun hal semacamnya.," ujarnya meembulak balikkan kretas yang sudah usang itu.
namun tidak lama kemudian tuisan mulai muncul ke permukaan kertas dan membuat Joan lagi lagi harus kaget.
"Waktu yang tepat jika kau datang hari ini Joan!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments