Semilir Angin berhembus sangat lembut saat Joan memasuki ruangan yang hanya berukuran tidak lebih besar dari kamar dimana dia terbangun tadi, ruangan yang terasa sangat menghangatkan hati dan terasa tidak asing baginya, aroma harum yang begitu dia kenali sejak lama yang tidak pernah tahu dari mana asalnya.
Namun dia tahu wangi harum itu tercium hanya saat dia mengingat ayahnya saja dan tanpa terasa bulir bening menitik perlahan dipipinya.
Rasanya dia tengah berada di dalam rumah dengan tawa riang dari kedua orang tua yang tengah bercengkrama dengan sinar yang menghangatkan suasana, yang akhi akhir ini tidak bisa dia temukan lagi.
"Joan. kami selalu berharap kau bahagia, ayah dan ibu sangat menyayangimu nak." Ucapan ibunya di pagi hari yang hnagat itu terus terngingang ngiang di telinganya. "Apa ini? Kenapa rasanya aku seperti diberada di rumah, ayah ... ibu, aku merindukan kalian , kenapa kalian pergi secepat ini." ujarnya dengan menatap foto keduanya yang tengah memeluk seorang bayi yang diperkirakan adalah dirinya sewaktu kecil.
Joan tentu saja terperangah saat melihat kertas usang kini bermunculan huruf huruf yang mulai tersusun dengan rapi.
"Aarrghh..." pekik Joan yang kaget saat didalam kertas usang kini muncul huruf demi huruf yang mulai jelas terbaca. Melemparkannya begitu saja sampai semua huruf itu sudah tidak lagi bergerak dan sudah terangkai menjadi kata kata yang merupakan kalimat yang membuatnya terperangah kaget.
"Apa itu sihir?" ujarnya, namun lama lama dia juga penasaran, dan dia pun akhirmya kembali mengambil kertas itu.
Dengan mengumpulkan keberanian, Joan menatap huruf demi huruf yang kini terlihat begitu jelas kemudian mulia membacanya. Tulisan yang sepertinya dia kenal sebelumnya.
"Ini kan tulisan tangan ayah, kapan ayah menulisnya." ujarnya dengan bergumam.
Tak lama diapun semakin terperangah saja."Tidak mungkin."
Joan, saat kau membaca surat ini, sudah di pastikan ayah dan ibumu sudah tidak ada, rumah singgah ini adalah peninggalan kakek buyutmu, ada banyak hal yang ingin ayah dan ibumu ceritakan langsung namun juga ada banyak alasan yang membuat kami tidak bisa melakukannya, yang pasti . Semua ayah lakukan untuk keselamatanmu, kau putri ayah satu satunya, putri kandung ayah, dan setelah kau berada di sini, semua pertanyaanmu akan terjawab, rasa penasaran dan juga apa yang kami simpan selama ini akan terkuak.
Kau pasti selalu menyalahkan ayah karena selalu berlaku kaku padamu, kau juga pasti merasakannya bukan? Itu semua karena ada banyak alasan yang akan kau mengerti satu hari nanti.
Joan, hari harimu kedepan tidak akan pernah mudah lagi, akan ada banyak rintangan dan kesulitan yang akan kau hadapi, bukan tentang orang orang baru yang akan kau temui saja tapi juga akan banyaknya ancaman yang membahayakan dirimu Joan, waspadalah dan jangan pernah percaya pada siapa pun kecuali jika hatimu yang mengatakannya sendiri, percayalah Joan, kau akan banyak sekali berubah mulai dari sekarang.
Ayah tahu Ini tidak akan mudah Joan, itu sebabnya benda yang saat ini kau genggam akan selalu menjagamu, asal kau berlatih keras dan berikan kekuatanmu padanya, kau juga pasti sudah bertemu leluhur mu yang mengatakan hal itu bukan? Ya itu benar, dia kakek buyutmu yang menyampaikan pesan leluruh kita. Kau tidak takutkan? Percayalah pada suara batinmu sendiri, kau juga akan kaget karena satu persatu akan muncul satu kesatuan kekuataan yang akan kau asah, kekuatan yang akan kau gunakan untuk melindungi dirimu sendiri.
Jaon, semoga hidupmu selalu bahagia, bertemu dengan pria yang akan membuat hidupmu sempurna, maafkan ayah dan ibu yang tidak bisa menemani mu lagi dan membiarkan kau dalam kesulitan ini sendirian.
Joan menangis tergugu saat mrembaca surat dari ayahnya, bahkan tangannya bergetar hebat saat memegang secarik kertas yang kini terjatuh ke lantai begitu saja.
Hatinya begitu sakit setelah membaca surat dari ayahnya yang baru saja kemarin di temukan tewas mengenaskan. Dan tubuh Joan pun lunglai ke lantai.
"Bagaimana ini, apa yang akan terjadi padaku setelah kalian pergi .. Ayah ... Ibu, aku takut ." gumamnya dengan bibir yang bergetar.
Hingga hari pun berganti malam, Joan masih betah tinggal di ruangan itu dengan memeluk lutut dan menangis seharian, entah serberapa banyak air matanya yang jatuh begitu saja. Dengan semua hal yang tidak dia mengerti bak potongan puzzle yang sudah dia temukan namun juga belum bisa dia rangkainya jadi sebuah gambar.
Joan tampak penasaran dengan sebuah koper yang sebelumnya dia tahu telah di keluarkan oleh Ibunya dan diberikan pada ayahya David.
"Itu kan?" gumamnya dengan berjalan ke arah koper yang terletak di sudut ruangan, Joan pun berlutut dan membukanya.
Tampak sebuah benda yang sama persis dengan benda yang di pegang Joan saat ini,
" ini ... ,?" ujarnya dengan mengambil benda itu dan menyandingkangnya dengan benda yang muncul secara tiba tiba saaat dirinya terbangun,
"Ini sma persis, apa benda ini satu pasang?" gumamnya lagi.
Setelah mengamatinya dengan seksama, Joan mengangguk dengan penuh keyakinan jika benda itu memang serupa dan merupakan pasangannya.
dia juga menemukan sebuah buku yang sudah terlihat lama sekali, buku yang bertuliskan nama keluarganya Bathory.
Gadis berusia 19 tahaun itu pun membuka lembar demi lembar buku yang sudah usang dan berdebu itu, beberapa cacatan yang membuatnya tersenyak.
"Apa ini ... Klan Vampir, Hunter vampire .. Peburu vampire? Apa ayah seorang pemburu vampir? Seperti yang dikatakan pria yang datang dan bicara tidak jelas dan sulit aku mengerti terutama aku juga bisa mendengar mereka dengan sangat jelas walau mereka sudah pergi. Apa mereka juga vampire?" tanyanya sendiri. "Atau pemburu vampir, ini sulit aku mengerti ayah, aku tidak tahu pa apa." monologny terus menerus.
Joan membawa semua benda yang membuatnya penasaran itu kedalam kamarnya sendiri, sampai dia menutup jendela yang kini sudah gelap.
"Astaga .... Ternyata sudah malam."
Hawa dingin mulai menyelimutinya, tanpa sadar dia melihat bayangan hitam berkelebatan diluar namun juga tidak berani masuk sampai lolongan serigala panjang terdengar dan menyeramkan. Joan bergidig, dia langsung masuk ke dalam kamar dan memutup tirai tirai yang berada dikamr, dia juga mengunci pintu kamr dan langsung naik ke atas ranjang dan bersembunyi di bawah selimut tipis.
Banyak suara suara aneh yang bisa di dengar dengan sangat elas, tapi dia tidak berni melihat bahkan mengintip sekalipun. Dai hanya bisa bersembunyi dan menutup kedua telinganya. Suara suara aneh seakan berkumpul di lubang telinga dan membuatnya sakit, seolah semua benda dapat bicara. sampai dia mmendengar suara yang sangat dia kenal memanggil namanya beruang kali.
"Joan ... Joan, kau kau itu? Kau sudah bangun?" cicitnya dengan tetapa berada dibawah dibawah selimut.
"Paul ... Kaukah itu?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments