Secepat kilat Paul menarik Joan, dia membawanya sedikit terbang ke atas, membiarkan pria pria yang terlihat menyerangnya melewatinya begitu saja, mereka saling berteriak dan histeris saat seekor babi hutan mengejar dari arah belakang. Eve tidak mampu mengatakan apa apa saat melihat Joan melayang layang di atas kepalanya sejajar dengan genteng rumah penduduk, dia hanya menutup mulutnya tidak percaya.
"A---apa yang terjadi Paul?"
Menyadari kesalahannya karena memperlihatkan kekuatannya pada manusia, secepat kilat pula Paul membawanya turun dan kembali berpijak pada tanah, sedangkan Eve langsung berlari ke arahnya.
"Joan kau tidak apa apa kan?"
Dua kali Paul menyelamatkannya, dan dua duanya tidak bisa dia pahami dengan akal sehat, gadis itu terdiam menatapnya, dengan segala pertanyaan yang tidak bisa dia cerna sendiri, sementara Paul mengulas senyuman tipis ke arahnya.
Tiba tiba saja Paul terdiam, menengok sedikit ke arah hutan dengan kedua matanya bak elang dengan mengendus aroma klan vampire lain di sekitar mereka.
"Joan ... Pergilah!" serunya. "Pulanglah ke rumah,"
"Kenapa?" desis Joan tidak mengerti.
Wangi dari darah tercium sangat jelas, Paul menoleh kearah Joan namun tidak melihatnya terluka. Tapi saat melihat Eve temannya, terlihat lengannya terluka dengan darah yang menetes.
"Temanmu terluka, ini akan sangat berbahaya. Pergilah." sekuat tenaga Paul menahan dahaga yang tiba tiba tidak bisa dikendalikan, bulan purnama yang membuat seluruh klan vampire lebih bersemangat dan juga semakin tidak terkendali, juga merasa kelaparan yang tiada henti. Haus darah dan siap berburu.
Sekelompok Vampire sudah mengintai keberadaan mereka, namun karena melihat ada sosok Paul. Mereka tidak berani mendekat, mereka hanya mengawasi dibalik pepohonan saja terutama pada Eve yang masih terus meneteskan darah segar.
Akan sangat berbahaya jika para vampire dari klan lain ikut berburu di tempat persembunyian mereka yang baru ini, mereka bahkan tidak akan pandang bulu lagi. Paul berusaha melindungi mereka berdua dengan menggunakan kekuatan perisainya. Kekuatan yang mampu memanifulasi Vampire lain dan menyamarkan wangi darah.
Namun justru Paul yang tersentak kaget saat Joan sudah memperisai dirinya dan juga Eve hingga mereka terlindungi. Wangi darah yang menetes dari lengan Eve juga tersamarkan. Para Vampire klan lain itu pun kembali berlalu dengan melesat cepat ke arah lain, meninggalkan kedua gadis tanpa mereka sadari kalau mereka dalam bahaya.
Paul terdiam, sebenarnya siapa Joan. Dia yang tidak bisa membaca fikirannya atau Joan yang belum menyadari kekuatan yang keluar dari dalam dirinya.
Paul menyadari jika malam ini terlalu berbahaya, terlebih dahaga di dalam dirinya semakin memberontak saat mencium wanginya darah. Dia mulai tidak bisa mengendalikan tubuhnya, dia harus berburu darah hewan dengan segera.
"Sekarang sudah terlalu malam, kalian pulanglah, di sini terlalu berbahaya. Banyak pria pria tidak jelas!" terang Paul.
Joan menatapnya dengan perasaan tidak karuan, baru sekarang ada sosok pria yang begitu perhatian walaupun mereka baru saja bertemu, namun segala keanehan yang muncul membersamainya.
"Aku pergi lebih dulu Joan! Sampai bertemu kembali."
Sampai akhirnya mereka berdua memutuskan kembali pulang, setelah Paul menghilang dalam kepulan asap, mereka pun memutuskan untuk kembali pulang.
Paul memperhatikannya dari atas pohon besar, perisai yang terbentuk dari dalam tubuh Joan dan melindungi mereka berdua membuatnya heran, kenapa Joan tidak menggunakan perisainya sejak awal, membuat keingin tahuannya semakin menjadi saja. Walau tidak dia pungkiri kalau dia juga merasa tenang.
“Apakah dia cocok jadi pengantinku?”
Sampai malam berubah jadi pagi, Joan terbangun di kamarnya seolah tidak ada apa apa, dikagetkan oleh beberapa teriakan tetangga rumahnya dan orang orang di luar.
Hampir semua ternak diserang semalam tanpa kegaduhan, kambing, ayam, bahkan kelinci sudah menjadi bangkai dengan ceceran darah dimana mana. Beberapa orang pun kembali histeris ketika salah seorang anggota keluarga mereka ditemukan sudah tewas mengenaskan.
Joan turun dari kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya, bergegas keluar dari rumah untuk melihat keadaan dan dia melihat ayahnya tengah berdiri mematung.
"Ayah. Ada apa ini?"
"Masuk ke dalam rumah Joan!" hardiknya keras.
Joan sampai terkejut mendengarnya, tidak pernah ayahnya membentak seperti ini sebelumnya.
Joan menuruti perkataan sang ayah dengan masuk kedalam rumah. Terlihat sang ibu tengah mengeluarkan sebuah koper dari ruangan bawah tanah.
"Ibu. Ada apa?"
Elena menoleh kearah Joan, lalu kembali menggeret koper yang terlihat sudah sangat usang. Saking penasarannya Joan mengikuti ke manapun sang Ibu pergi.
David sang ayah baru saja masuk kedalam. "Kau sudah membawanya?"
"Iya."
"Ayah ... Ibu ... Ada apa?"
"Dengar Joan, sekarang belum saatnya kau tahu. Tapi ayah minta kau jangan keluar dari rumah mulai dari sekarang."
"Tapi ada apa Ayah?"
"Diluar sangat berbahaya sayang." tukas Elena tanpa menjelaskan apa apa lagi.
Joan yang kesal memilih kembali ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, alasan kedua orang tuanya selalu sama. Belum saatnya tahu.
"Sampai kapan aku akhirnya tahu. Hufftt!" keluhnya dan tiba tiba saja dia teringat sosok pria yang menyelamatkannya semalam. Paul.
Tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, Joan mengendap ngendap keluar dari rumah pada saat hari mulai petang. Dia melihat ada beberapa orang yang terlihat menyalakan api unggun dan bertugas berjaga jaga sampai hari menjelang malam. Mereka tampak asyik mengobrol dan Joan bersembunyi di semak semak lalu berlari kearah lain tanpa ketahuan.
Gadis berusia 19 tahun itu berjalan menyusuri jalanan sempit yang terjal, disampingnya terdapat sungai yang sangat dalam. sementara dia akan pergi ke rumah Eve yang berada disebrang sungai.
Entah kenapa tiba tiba dia terpeleset dan hampir terjatuh, dia sudah memejamkan mata dan membayangkan akan jatuh kedalam sungai yang dingin.
Aaargh!
Srakk!
Tubuhnya ternyata tidak basah maupun tenggelam. Melainkan seperti melayang perlahan ke atas dan kembali ke tanah dengan satu tangan yang tiba tiba merekat pinggangnya dengan erat dan menariknya kembali berdiri.
"Kenapa kau selalu ceroboh Joan?"
Joan membuka matanya perlahan dan melihat pria yang sama yang menyelamatkannya lagi.
"Paul. Kau?" Tanyanya dengan heran, kenapa pria bertubuh tinggi tegap dengan raut wajah dingin itu berada di dekatnya.
"Kenapa kau ada di sini. Kau mengikutiku?" tanya Joan lagi.
Wajah pucat itu mengulas senyuman, lagi lagi harum dari tubuh Joan menyeruak membuatnya candu, bahkan dia mampu mencium aromanya dari jarak jauh. Dengan kedua tangan yang masih merekat di pinggangnya dan manik hitam legam yang terus menatapnya, Paul tersenyum.
"Entahlah ... Aku merasa ingin pergi ke tempat ini, dan aku merasa kau dalam bahaya Joan."
"Hah?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
nacl
eh pampir modus 🤪
2023-02-10
0
lina
s paul peka bae itu perawan cskep 🤣🤣
2023-01-14
1
Kindly
up up up
2023-01-13
1