Menolak Pergi

Hubungan Alexander dan Alice kini semakin dekat. Bahkan keduanya tidak segan memperlihatkan kemesraan mereka di depan umum.Tapi tetap saja, Alice belum mau mengakui perasaannya. Dan Alexander tidak masalah akan hal itu. Dia tidak akan menuntut Alice untuk mencintainya. Setidaknya untuk saat ini biarlah wanita itu meyakinkan dirinya terlebih dahulu sebelum mengakui perasaannya.

"Apa kau yakin ingin ikut ke kantor?" Alexander memeluk Alice dari belakang. "Kau tidak takut hal itu terjadi lagi?" Tanya Alexander

"Ada kau di sisiku. Untuk apa aku takut?" Alice memutar tubuhnya menghadap Alexander dan memeluk leher pria itu. "Aku percaya kau tidak akan membiarkan ku terluka. Jadi aku akan tetap ikut ke kantor." Seru Alice

"Baiklah. Kalau begitu, kau bersiaplah!! Aku akan menunggumu di bawah."

"Oke." Alice kembali bersiap sedangkan Alexander keluar dari kamar wanita itu.

Sementara itu Sam kembali mencari celah untuk mendekati Alice. Dia bertekad untuk membawa Alice pergi. Apalagi dia mendengar dari Sean jika Alexander ingin menjadikan Alice miliknya. Itu tidak boleh terjadi. Dia tidak mau Alice bersama dengan pria lain karena baginya, hanya dia yang pantas untuk wanita itu.

Sam mendapat informasi jika Alice bekerja di perusahaan Alexander. Untuk itu dia pergi ke perusahaan Alexander setelah mendapatkan alamatnya dari Sean. Dia akan mencoba masuk dan membawa Alice pergi dari sana.

Sam mengamati perusahaan Alexander melalui teropong mininya. Dia mencari celah untuk bisa masuk kesana. Dan saat itu juga, terlihat dua truk box masuk ke perusahaan tersebut. Dua penjaga menghentikan dua truk tersebut untuk di periksa terlebih dahulu.

Sam memanfaatkan hal itu untuk masuk kesana. Dia mengendap-endap mendekati truk paling belakang. Dan dia naik ke atas dan tiarap agar tidak ada yang tahu jika dia ada di atas sana.

Truk itu maju perlahan dan berhenti. Penjaga kembali memeriksa isi box truk dan setelah memastikan semua aman, truk itu kembali melaju.

Truk tersebut berhenti di depan gudang yang besar. Sam turun perlahan. Dan saat salah satu petugas pengantar barang turun dari truk dan ingin membuka box tersebut, Sam langsung membekuknya dan membawanya ke tempat yang tidak terlihat orang. Sam menukar bajunya dengan baju orang itu. Dia menyamar menjadi pengirim barang dan memakai masker agar tidak ada yang mengenali nya.

Sam bertingkah seperti pengirim barang yang lain. Dia membantu mengeluarkan barang-barang dari dalam Box dan membawanya masuk ke gudang.

Sam melihat kesana kemari. Dan melihat beberapa pekerja yang sedang merapikan barang di gudang. Sam diam-diam menyelinap pergi dari sana dan melihat para ob tengah bersiap untuk mengerjakan pekerjaannya. Sam menyeringai. Dia mendekati salah satu ob dan bertanya letak toilet.

Ob tersebut menunjukkan letak toilet pada Sam. Dan saat Ob tersebut lengah, Sam membekap mulut ob tersebut dengan sapu tangan yang sudah ia lumuri dengan obat bius. Sam menyeret ob tersebut kedalam toilet dan kembali menukar baju mereka.

Sam keluar dengan seragam ob dan tidak lupa memakai maskernya. Dia mengunci pintu toilet dan menempelkan pengumuman jika toilet tersebut sedang di perbaiki agar ob itu tidak di temukan dengan cepat oleh orang lain.

Sam masuk ke perusahaan. Dia mengerjakan tugasnya sebagai Ob. Dia membersihkan setiap ruangan dan setelahnya dia menyiapkan minuman untuk para karyawan. Tapi dia belum melihat kedatangan Alice. Dia sempat berfikir jika wanita itu tidak datang. Tapi ekor matanya menangkap keberadaan Alice yang baru saja masuk ke lobby perusahaan bersama dengan Alexander.

Sam mengepalkan tangannya. Dia kembali teringat dengan perbuatan Alexander padanya. Rasa nya dia ingin menembaknya sekarang juga. Tapi bukan itu rencananya.

Dia berencana mengajak Alice untuk kabur. Dan setelahnya, Sean dan Laura yang akan maju menyerang Alexander saat pria itu kebingungan karena kehilangan Alice.

Sam mengikuti Alice dan Alexander dengan berpura-pura ingin membersihkan ruangan. Tapi keduanya terlihat memasuki lift khusus. Alhasil Sam tidak bisa mengikuti mereka.

"Sial." geramnya dalam hati. Sepertinya dia harus bersabar. Tapi waktunya tidak banyak.

"Hei kau!!"

Sam menoleh saat seseorang memanggilnya. Dia mendekat dan bertanya pada orang tersebut. "Ada apa?"

"Tolong antar kan minuman ini ke ruangan Tuan Alexander. Aku mau ke toilet sebentar." seru orang itu

Sam menyeringai di balik maskernya. Dia mengangguk mengiyakan dan menerima nampan berisi dua minuman tersebut. Ini kesempatan yang sangat bagus. Dia akan mencari celah untuk berbicara dengan Alice nantinya.

Sam naik ke lift khusus karyawan. Dia menekan tombol lantai atas di mana ruangan Alexander berada.

Ting

Lift terbuka. Sam keluar dari sana dan langsung menuju ruangan Alexander.

Tidak sulit mencarinya karena Ruangan Alexander mempunyai pintu yang besar. Dan tertulis Ruangan Presdir di sana.

Tok Tok Tok

"Masuk!!" seru Alexander

Sam menghela nafas sejenak dan membuka pintu tersebut. Dia meletakkan secangkir kopi di depan Alexander yang sedang memeriksa sebuah laporan. Ekor mata Sam melirik Alice yang juga tak kalah sibuknya. Sepertinya wanita itu mulai serius bekerja. Tapi dia yakin jika Alice mempunyai tujuan tertentu.

Sam beralih meletakkan minuman untuk Alice dan mengetuk meja Alice. Wanita itu mendongak menatap ob di depannya. Dia mengerutkan keningnya karena merasa mengenal mata ob tersebut.

Setelah nya, Sam keluar dari ruangan Alexander. Tapi Alice merasa curiga. Karena penasaran, dia pemit ke toilet.

"Aku ke toilet sebentar ya." ucapnya pada Alexander

"Cepat kembali." seru Alexander

"Iya-iya." Alice keluar dari ruangan Alexander dan mencari ob yang tadi mengantar minuman padanya.

"Di mana ob tadi? Aku yakin dia Sam. Atau aku salah mengenali orang?" batin Alice.

Tapi tiba-tiba, dia di bekap seseorang dan di bawa ke ruangan yang sepi dan sedikit gelap.

"Hmmpptt." Alice memberontak.

"Sst. Ini aku, Alice. Aku Sam." Sam membuka maskernya.

"Sam!!" Alice memeluk Sam. "Syukurlah kau masih hidup, Sam." seru Alice

"Iya, aku selamat karena ada yang menyelamatkanku. Dan sekarang aku datang untuk menyelamatkan mu."

"A_apa? Menyelamatkan ku?" tanya Alice terbata

"Iya, aku tahu kau sangat menderita di bawah tekanan pria itu. Apalagi aku dengar kau di paksa menikah dengan nya. Untuk itu aku datang. Sekarang ayo kita pergi dari sini!!" Sam menarik Alice. Tapi wanita itu menahannya

"Ada apa Alice?" tanya Sam bingung

"Sam, bukannya aku tidak mau pergi denganmu. Tapi....

"Tapi apa?" tanya Sam

Alice tidak tahu kenapa dia tiba-tiba ragu untuk pergi dengan Sam. padahal ini kesempatan bagus untuknya. Tapi jika dia pergi, belum tentu mereka akan selamat karena Alexander bukan orang sembarangan. Dia pasti akan dengan mudah menemukannya. Dan bisa saja Alexander membunuh Sam.

"Alice!!" panggil Sam

"Maaf Sam. Aku tidak bisa pergi dengan mu." tolak Alice

"Apa? Kenapa kau tidak mau pergi denganku, Alice? Apa kau mulai nyaman dengan pria gila itu?" sentak Sam

"Iya Sam. Aku mulai nyaman dengan Alexander." ingin Alice mengatakan hal itu pada Sam. Tapi dia tidak ingin Sam kecewa padanya. Apalagi pria itu mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan nya. Tapi akan lebih gawat jika dia ikut Sam pergi.

"Alice, jawab aku!!"

"Sam, dengar kan aku!! Aku sangat ingin pergi dari sini. Tapi tidak sekarang. Aku tidak ingin kau terluka untuk kedua kalinya. Jadi aku akan menggunakan caraku sendiri untuk keluar dari sini."

"Tapi Kau tidak tahu seberapa gilanya pria itu, Alice."

"Aku tahu Sam. Aku tahu semuanya. Untuk itu jika aku pergi denganmu, yang ada nyawa kita taruhannya. Dan aku tidak mau hal itu terjadi. Jadi aku akan mencari cara untuk keluar dari sini tanpa membahayakan siapapun." seru Alice

Sam mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menyangka jika Alice menolak ajakannya. Dia merasa usahanya sia-sia.

"Sam, aku tahu kau mengkhawatirkan ku. Tapi aku tidak ingin kau terluka untuk kedua kalinya. Nanti jika sudah tiba waktunya, aku akan pergi dari sini dan menemui mu." Alice menggenggam tangan Sam dan meyakinkan pria itu.

"Kapan?"

"Aku tidak tahu. Tapi dia memberiku waktu sekitar 10 bulan lagi."

"What?? 10 bulan?" pekik Sam

"Tidak ada cara lain Sam. Dan aku melakukan ini demi kebaikan kita. Aku tidak ingin melihatmu terluka Seperti kemarin. Jadi mengertilah." pinta Alice

Sam menghela nafas panjang dan menyetujui permintaan Alice. "Baiklah jika itu maumu. Kau harus berjanji padaku, kau akan baik-baik saja." seru Sam

"Pasti. Aku akan segera keluar dari sini jika misi ku berhasil."

"Aku percaya padamu." Sam melihat keluar dan tidak ada siapa-siapa disana. "Aku akan pergi. Jaga dirimu baik-baik." Sam memeluk Alice sejenak dan keluar dari ruangan itu.

"Hati-hati Sam." ucap Alice yang di jawab anggukan oleh pria itu.

Sam bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dia memakai maskernya dan membawa peralatan kebersihan.

Sementara itu di ruangan Alexander. Dia berdiri menatap keluar jendela dengan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.

"Jadi bagaimana sekarang tuan?" tanya Aaron

"Biarkan dia pergi dan ikuti dia!! Aku ingin tahu apa benar Sean yang menyelamatkan nya atau bukan." seru Alexander

"Baik tuan." Aaron membungkuk hormat dan keluar dari ruangan tersebut.

"Ingin membawa wanita ku? Heh.. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sekarang kita lihat siapa orang yang mendukung mu." seringai Alexander

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

Alex tahu kerana ada cctv yang memantau

2024-10-15

1

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

Sam, lelaki baik kau balik saja ke Indonesia, jangan cari masalah dengan Alex....jika memang Alice jodoh mu tak ke mana juga tu

2024-10-15

1

Violet_violeta

Violet_violeta

sam udah kayak kate😭😭

2024-06-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!