Dua mobil hitam melaju beriringan di pagi buta. Mereka membawa seorang pria yang saat ini tengah pingsan ke bandara untuk mengirimnya kembali ke negara asalnya.
Pria itu adalah Samuel.
Setelah mendapatkan informasi tentang pria itu, Alexander segera mengirim Sam kembali ke negara asalnya dan akan menutup akses pria itu agar tidak kembali lagi ke Qatar. Alexander melakukan hal itu agar Sam tidak lagi menemui Alice. Setidaknya sampai 11 bulan ke depan.
Tapi di pertengahan perjalanan, mobil yang membawa Sam di hadang oleh beberapa sepeda motor. Mereka menodongkan senjata dan meminta anak buah Alexander untuk keluar.
"Keluar!!!!" Teriak salah satu pria yang menghadang mobil anak buah Alexander
Anak buah Alexander saling pandang. Dan mau tidak mau mereka keluar dari mobil masing-masing.
Tiba-tiba dari arah belakang, muncul mobil berwarna hitam yang juga menodongkan senjata pada mereka.
Alhasil mereka tidak bisa berkutik. Orang-orang tak di kenal itu mengikat anak buah Alexander menjadi satu dan memasukkan nya ke dalam mobil. Mereka memasang bom di dalam mobil dan pergi begitu saja setelah memindahkan Sam ke mobil yang mereka bawa.
Anak buah Alexander mencoba untuk melepas ikatan di tubuh mereka. Tapi sayang, ikatan tersebut sangat kencang.
"Percuma. Semua sia-sia."
"Tapi setidaknya kita harus memberitahu tuan Aaron."
"Aku menyimpan ponselku di saku baju. Apa kalian bisa mengambilnya?"
Salah satu dari mereka bergerak maju dan mencoba mengambil ponsel tersebut menggunakan mulutnya. Sesekali mereka melirik bom waktu yang terus berjalan. Tidak ada waktu lagi karena sebentar lagi bom akan meledak. Tapi mereka tidak patah semangat. Dan akhirnya ponsel berhasil di keluarkan dari saku. Dia membalikkan tubuhnya dan mencoba menekan kontak menggunakan tangan yang terikat.
"Halo....
"Tuan, ada yang menghadang kami dan mereka membawa pria itu."
"Siapa?" Tanya Aaron di seberang
"Mereka....
Belum selesai anak buah Alexander berbicara, bom sudah lebih dulu meledak.
Aaron tertegun sesaat. Dia segera mengendarai mobilnya menyusul rombongan yang membawa Sam pergi ke Bandara.
Tapi sesampainya di sana, dia hanya melihat kobaran api yang sudah mulai padam. Dan dia yakin itu adalah mobil anak buahnya.
"Sial!!! Siapa yang berani melakukan hal ini?" Umpat Aaron. Dia semakin yakin jika pria itu tidak hanya sahabat Alice saja. Terbukti ada orang yang menyelamatkannya.
"Aku harus memberitahu tuan Alexander." Aaron mengendarai mobilnya kembali ke mansion Alexander.
...****************...
Alexander menatap Alice yang masih belum sadarkan diri. Dia yang mendapatkan kabar jika Sam di selamatkan oleh seseorang membuatnya yakin jika pria itu adalah salah satu bagian dari musuhnya.
Sebenarnya dari awal dia sudah curiga, hanya saja dia tidak ingin Alice semakin membencinya. untuk itu dia melepaskan Sam dengan mengirimnya ke
Indonesia.
"Ugh...." Alice membuka matanya perlahan dan melihat Alexander yang menatapnya
"CK..." Alice berdecak kesal karena dia masih hidup. sepertinya hidupnya pun sudah diatur oleh pria itu. Sampai 11 bulan kedepan, dia benar-benar tidak akan membiarkan Alice pergi.
"Harus nya kau menggunakan pisau yang tajam jika memang ingin bunuh diri, bukan dengan pecahan vas bunga yang tidak seberapa itu." Seru Alexander yang seolah tahu apa yang Alice pikirkan.
"Kau menantangku atau mengejekku?"
"Aku mana berani menantangmu, honey. Jika kau benar-benar melakukannya, aku akan sangat sedih."
Alice berdecih dan memalingkan wajahnya. Dia menahan sesak di dadanya mengingat jika Sahabatnya di bunuh oleh pria gila yang saat ini ada di dekatnya.
Air mata Alice menetes. Tapi dengan cepat ia mengusapnya saat Aaron tiba-tiba masuk ke kamarnya.
"Tuan, orang yang menyelamatkan Pria itu tidak meninggalkan jejak sama sekali. Tapi bisa di pastikan jika dia bukan orang sembarangan. Bisa jadi, dia adalah salah satu musuh Anda." Seru Aaron
Deg
"Apa maksud Aaron? Siapa menyelamatkan siapa?" Batin Alice
"Biarkan saja. Yang terpenting dia masih hidup. Tapi jika dia berani masuk ke wilayah ku dan berbuat ulah, habisi!!"
"Baik tuan."Aaron membungkuk hormat dan keluar dari kamar Alice.
"Apa kau senang sekarang?" Tanya Alexander
Alice menatap Alexander dan berkata, "apa maksudmu?"
"Pria yang kau sebut sahabat itu masih hidup. Aku mengirimnya untuk pulang ke negaranya, tapi di perjalanan dia di selamatkan oleh orang yang tidak di kenal. Dan anak buahku yang mengkawal pria itu tewas semua tak tersisa."
Deg
Alexander berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Dari awal aku sudah curiga pada sahabat mu itu. Tapi karena dirimu, aku berbaik hati memberinya tumpangan untuk pulang. Tapi lihatlah!! Dia di selamatkan orang lain. Itu artinya, ada yang membantunya."
"Asal kau tahu, Alice. Aku tidak mempunyai teman atau sahabat seperti mu. Dan jika ada yang berani masuk kemari, itu adalah musuhku. Itu artinya yang membantunya adalah salah satu musuhku. Dan jika semua itu benar, aku tidak akan segan-segan membunuhnya saat itu juga." Lanjut Alexander. Dia duduk di tepi tempat tidur dan mengecup singkat kening Alice. "Istirahatlah!!" Alexander keluar dari kamar Alice meninggalkan wanita itu sendiri
Alice menghela nafas lega. Dia bersyukur karena Sam masih hidup. Tapi dia juga merasa was-was karena jika benar Sam bergabung dengan musuh Alexander, maka pria itu tidak akan segan-segan untuk membunuh Sam.
Sebenarnya dia juga penasaran. bagaimana Sam bisa tahu jika dia berada di sini? Dan kenapa Sam bisa menjadi sekuat itu?
"Aku harap kau baik-baik saja Sam. Dan tidak melakukan hal yang ceroboh." Batin Alice
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
berarti Sam diselamatkan oleh
orang² Sean
2024-10-14
1
Yunerty Blessa
seperti nya Sean menyelamatkan Sam
2024-10-14
1
C a l l i s t o ®
Masak anak buah Alexander ga punya bekal senjata. Mafia apa mafia??
2024-06-13
1