Sakit

"Lepaskan aku!!!" Alice terus memberontak saat Alexander menangkap dirinya yang berusaha untuk melarikan diri. Tapi sedetik kemudian, Alexander mengangkat tubuh Alice ala karung beras dan membawanya masuk ke dalam mansion nya.

"Kyaaa..!!! Turunkan aku!!" teriak Alice

"Diam!! Aku tidak akan membiarkan mu pergi begitu saja setelah kau berhasil mengobrak-abrik isi hatiku. Kau berhasil membuatku tidak bisa berhenti memikirkan mu, Alice."

"Itu bukan urusanku, sialan!!"

Plak

Alice tertegun saat Alexander memukul pantatnya. "Dasar mesum!!!" teriaknya lagi

"Ish.. Kenapa kau suka sekali berteriak, hah?" Alexander membawa Alice ke kamar yang sudah dia siapkan untuk wanita itu sebelumnya. Dia melempar tubuh mungil Alice ke tempat tidur dan menindihnya.

"Akh..!!" Alice mengaduh kesakitan, tapi kemudian dia dikagetkan dengan wajah Alexander yang begitu dekat dengan wajahnya. "Ma_mau apa kau?"

"Aku sudah bilang, kan. Aku menginginkanmu, aku ingin kita menikah sayang." Alexander mengusap pelan pipi Alice, tapi wanita itu justru menghindar. Alexander bisa mengerti, mungkin wanita itu belum bisa menerima semua ini. Untuk itu dia akan memberinya waktu untuk berfikir. Dan dia berharap, Alice bersedia menikah dengan nya.

Alexander memberi kecupan singkat di pipi Alice dan beranjak dari atas tubuh wanita itu. Dia memegang bahunya yang terasa nyeri dan ternyata lukanya kembali terbuka. Mungkin karena ia gunakan untuk mengangkat tubuh pujaan hatinya tadi.

Alice ikut beranjak, dia melihat Alexander yang memegang bahunya, "Ba_bahu mu....

"Oh ini? Sepertinya luka ku kembali terbuka." Alexander membuka jas nya dan ternyata benar, darah segar merembes dari kemeja putihnya.

Alice terkejut, dia ingin membantu mengobatinya, tapi mengingat sekarang dia menjadi tawanan pria itu, dia mengurungkan niatnya.

"CK.. Menjijikkan." geram Alexander

Alice melihat Alexander yang fokus pada bahunya yang terluka, dia mengambil kesempatan untuk berlari kearah pintu. Tapi sayang, Alexander menyadari gerakannya. Pria itu menangkap pinggang Alice dan kembali menghempaskan nya di tempat tidur.

"Aw..." pekik Alice. "Apa kau selalu kasar pada wanita, hah?" teriaknya lagi

"Maaf sayang, aku tidak bermaksud kasar padamu. Aku hanya tidak ingin kau pergi dari sini." Alexander duduk di tepi tempat tidur dan kembali berkata, "Aku mohon jangan pergi!! Tetaplah di sini, di sisiku. Aku akan membuatmu bahagia, aku akan memenuhi apapun yang kau inginkan sayang. Jadi, kau mau kan menikah dengan ku?"

"Kau sudah gila, Alex. Kau gila!! Kita baru bertemu semalam, bagaimana bisa kita menikah? Kita juga tidak saling mencintai. Jadi, please !! Biarkan aku pergi!!"

Tatapan Alexander berubah tajam, rahangnya mengeras dengan kedua tangan yang mengepal erat. "Sampai kapanpun, aku tidak akan melepaskan mu, Alice. Dan masalah cinta, aku berjanji akan membuatmu jatuh cinta padaku secepatnya dan menjadi milik ku seutuhnya. Jadi, jangan harap kau bisa keluar dari sini." Alexander beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar tersebut.

Alice berlari kearah pintu. Dia mencoba membuka pintu, tapi sayangnya pintu tersebut terkunci dari luar.

"Alex!!! Kenapa kau kunci pintunya? Cepat buka Lex!! Alex!!!" Alice menggedor pintu sambil terus berteriak memanggil Alexander. Tapi pria itu hanya terdiam di depan pintu dan pergi begitu saja. Dia menuruni anak tangga dan berdiri diruang tengah. Dia memerintah Aaron untuk mengumpulkan semua pelayan yang ada di mansion tersebut.

"Dengar baik-baik !! Wanita yang saat ini ada di kamar lantai dua, dia adalah calon istriku, calon nyonya Smith. Jadi kalian harus melayani nya dengan baik dan jangan biarkan dia keluar selangkah pun dari kamar tersebut tanpa seijin ku. Apa kalian mengerti?" seru Alexander dengan suara lantangnya

"Kami mengerti, tuan." jawab mereka serempak

"Bagus." ucap Alexander. Dia menatap Aaron dan kembali berkata, "perintahkan bodyguard untuk membawa barang-barang yang dikembalikan Alice ke lantai dua. Dan minta pelayan merapikan barang-barang tersebut di kamar Alice dan awasi dia, jangan sampai dia kabur."

"Baik tuan." sahut Aaron

Alexander pergi keruang kerjanya, dimana dokter Qomar menunggu. Ya, setiap Alexander terluka, dokter pribadi pria itu akan standby di mansion sampai lukanya sembuh. Dan sekarang, luka yang baru saja diobati kembali mengeluarkan darah. Tapi tidak terlihat kesakitan sedikitpun dari wajah pria itu.

...****************...

Di kamar, Alice masih terus berteriak meminta untuk di bukakan pintu. Tapi tidak ada satupun yang membukanya. Dia kesal, dia merasa sangat sial karena terkurung di rumah mewah yang menyerupai neraka ini.

"Argh... Buka pintunya sialan!! Kau mau mengurungku sampai kiamat pun, aku tetap tidak mau menikah denganmu. Jadi lebih baik lepaskan aku." Alice menendang pintu sebagai bentuk kekesalannya. Tapi tak berapa lama, pintu terbuka dan beberapa pelayan masuk membawa barang pemberian Alexander yang dia tolak.

Mereka menyimpan barang-barang tersebut wardrobe dan merapikan tempat tidur dan barang-barang yang Alice pecahkan.

Alice melirik keluar, dia melihat para pelayan yang sedang sibuk dan dia mengambil kesempatan tersebut untuk lari kearah pintu. Tapi sayang, langkahnya terhenti karena seseorang yang tiba-tiba berdiri tegap di depan pintu.

"Anda mau kemana, nona?" tanya Aaron

"A_aku....

Ucapan Alice tertahan kala melihat senjata api yang dipegang oleh Aaron. Dia menelan ludahnya kasar dan kembali masuk ke kamarnya.

"Siapa sebenarnya pria itu? kenapa dia membawa senjata?" batin Alice

Setelah para pelayan selesai melakukan tugasnya, mereka menunduk hormat pada Alice dan pamit undur diri.

Pintu kembali tertutup dan terkunci dari luar. Dan hal itu membuat Alice frustasi. Apalagi dia mendengar perintah untuk bodyguard berjaga di depan pintu. Sial!! Dia benar-benar sial!! Niat hati pergi ke Qatar untuk melihat penampilan idolanya dan berlibur menikmati keindahan wisata Qatar, Tapi semuanya gagal. Dia gagal menyaksikan penampilan sang idola karena menyelamatkan Alex. Dan sekarang, dia tidak bisa menikmati liburannya karena di kurung oleh Alex.

Argh.. Rasanya Alice ingin berteriak memaki pria itu. Alasan macam apa yang pria itu gunakan. Ingin menikah dengannya? Apa ada, orang baru pertama kali bertemu dan dia langsung melamar untuk menikah? Gila!! Ini benar-benar gila.

"Lihat saja!! Aku akan melakukan sesuatu yang membuat mu menyesal telah mengurungku di sini." gumam Alice

...****************...

Tiga hari berlalu, Alice masih terkurung dalam kamar mewah di mansion Alexander.

Apakah dia diam saja? Tentu saja tidak. Berulang kali dia berusaha kabur, tapi sayangnya selalu gagal. Dia bahkan rela kabur melalui balkon dengan membuat tali dari robekan kain.

Tinggi balkon tidak main-main. Walaupun sudah memakai kain yang dia bentuk menjadi tali yang panjang, tetap saja tidak bisa mencapai bawah. Tapi niatnya sudah bulat untuk bisa keluar dari tempat terkutuk itu, akhirnya dia mengumpulkan keberanian untuk turun. Tapi aktraksi nya di pergoki pelayan, dan untungnya saat kejadian itu, Alexander sedang berkeliling di halaman dan melihat Alice yang bergelantungan di atas menggunakan tali.

Alexander melipat kedua tangannya di depan dada sambil melihat Alice yang berusaha keras untuk turun.Tapi pada saat dia sudah sampai di ujung tali, mau tidak mau Alice harus melompat dan dia mendarat dengan sempurna tanpa luka sedikitpun karena Alexander berhasil menangkapnya.

Usahanya untuk kabur selalu gagal, tapi bukan berarti dia kehabisan akal. Dia melakukan aksi mogok makan. Dan ya, selama tiga hari, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyentuh makanan yang di siapkan pelayan untuknya.

Aksi mogok makan yang di lakukan Alice sampai di telinga Alexander. Awalnya Alexander mengira jika Alice hanya menggertak nya saja. Dia yakin jika Alice tidak akan tahan jika di hadapkan dengan makanan yang lezat yang menggugah selera.

Tapi sepertinya Alexander lupa jika Alice memiliki kehidupan yang berbeda dengannya. Dan kini keadaan Alice sangat memprihatinkan. Di terlihat pucat dan lemah.

Brakh

Alice melirik sekilas kearah pintu dan mendapati pria yang ia benci belakangan ini masuk dengan pria botak berbaju putih.

"Kau benar-benar sudah menguji kesabaran ku, Alice." Alexander mengangkat Alice ala bridal dan membaringkannya di tempat tidur.

Tidak ada perlawanan, karena Alice tidak mempunyai kekuatan untuk melakukan hal itu. Sepertinya dia telah salah mengambil keputusan. Bagaimana jika pria itu mengambil kesempatan di saat dia lemah seperti sekarang? Sungguh pemikiran yang hebat, Alice.

"A_aku ingin pulang." lirih Alice nyaris tak terdengar

Alexander tidak menghiraukan nya. Dia meminta dokter untuk memeriksa Alice.

Jarum infus terpasang di tangannya. Sesuatu juga di suntikkan ke dalam botol infus.

"Bagaimana?" tanya Alexander

"Nona mengalami dehidrasi, tuan. Tubuh nona juga lemah. Tapi anda tidak perlu khawatir. Kondisi nona akan segera pulih. Cukup beri makan makanan yang bergizi dan minum vitamin." seru dokter Qomar

Alice hanya bisa diam memperhatikan orang-orang yang berdiri di samping tempat tidurnya. Harusnya dia tidak menyiksa diri sendiri. Akan lebih baik' jika dia langsung mati. Hah... Rasanya hal itu juga sulit terjadi. Tidak hanya dirinya, tapi kehidupannya juga sudah di belenggu oleh Iblis tampan yang saat ini mengurungnya.

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

iblis tampan bukan pangeran tampan 😂

2024-10-13

1

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

takut juga 😂😂

2024-10-13

1

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

kurang kasih sayang kali 🤣🤣

2024-10-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!