Seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya, setelah keadaan Alice membaik, dia di perbolehkan bekerja di perusahaan Alexander sebagai asisten pribadi pria itu. Dan sekarang, dia tengah bersiap untuk bekerja. Ini adalah pengalaman pertama nya bekerja di perusahaan besar. Untuk itu dia ingin tampil sempurna.
Dia memakai baju kerja yang sudah di sediakan oleh pelayan. Dia juga memoles sedikit makeup di wajahnya dan menggerai rambutnya.
"Perfect." Ucapnya di depan cermin. Dia menenteng tasnya dan keluar dari kamarnya karena Alexander sudah menunggu nya di ruang makan.
"Selamat pagi." Sapa Alice. Dia duduk di seberang Alexander dan langsung menikmati sarapan yang di sediakan oleh pelayan.
"Pagi juga sayang. Sepertinya kau sangat bersemangat hari ini." Seru Alexander
"Tentu saja, untuk pertama kalinya aku bekerja di perusahaan besar. Dan ini merupakan pengalaman pertamaku. Dan yang lebih penting, aku bisa keluar dari goa untuk menghirup udara segar."
Alexander tertawa, dia menyesap kopi miliknya dan kembali berkata, "jika begitu, selamat bekerja sayang. Dan aku harap kau betah bekerja di perusahaan ku."
"Tentu." Alice kembali menikmati makanannya. Dia sudah tidak sabar untuk bekerja dan menyibukkan dirinya. Dengan begitu dia bisa lupa waktu dan melupakan sejenak jika dia adalah tawanan Alexander.
"Aku sudah selesai. Kau habiskan dulu sarapanmu. Tidak perlu tergesa-gesa. Aku akan menemui Aaron terlebih dahulu." Seru Alexander.
Alice mengangguk dan menghabiskan sarapannya sedangkan Alexander menemui Aaron yang sudah stand by di depan.
"Bagaimana?" Tanya nya pada Aaron
"Dia tidak ada di rumah sakit manapun tuan. Jadi kemungkinan dia di rawat di rumah orang yang sudah menyelamatkannya."
Alexander mengangguk paham. Dia semakin yakin jika pria itu ada hubungannya dengan salah satu musuhnya.
Ya, Alexander memerintahkan Aaron untuk mencari sahabat Alice di semua rumah sakit yang ada di Qatar. Karena lukanya cukup parah otomatis dia akan mendapatkan perawatan dengan peralatan medis yang lengkap. Tapi ternyata pria itu tidak ada di rumah sakit manapun. Itu artinya orang yang menyelamatkannya merawat pria itu di kediamannya.
Hal itu semakin membuatnya yakin jika orang itu adalah musuhnya karena tahu jika dia tidak akan melepaskan sahabat Alice.
"Apa kau mencurigai seseorang?" Tanya Alexander
"Maaf tuan. Aku rasa dia adalah tuan Sean. Dia sangat berambisi untuk menghancurkan anda. Dan dia juga pernah bilang akan merebut nona Alice bukan? Mungkin saja dia sengaja mengajak pria itu bekerjasama untuk mendapatkan nona Alice." Terang Aaron
Alexander kembali mengangguk. Ucapan Aaron ada benarnya juga. "Menurut mu apa di rumah ini ada mata-mata? Kita sudah memperketat keamanan. Tapi dia bisa lolos begitu saja."
"Soal itu akan saya selidiki tuan."
"Apa yang kalian bicarakan?" Alice muncul tiba-tiba dan menegur mereka. Dia sudah selesai mengisi amunisinya. Dan sekarang dia sudah siap untuk berperang.
"Tidak ada. Apa kau sudah siap?" Tanya Alexander
"Aku selalu siap."
"Baiklah kalau begitu, kita berangkat sekarang." Alexander dan Alice masuk ke mobil dan berangkat ke kantor bersama-sama.
********************
Kabar Alice bekerja di perusahaan Alexander telah sampai di telinga Laura. Dia begitu geram karena wanita itu terus menempel pada Alexander. Jika begini terus, dia tidak akan bisa berdekatan dengan pria itu.
Hal itu dia sampai kan pada Sean dan juga Sam. Tapi karena keadaan Sam belum pulih, akhirnya dia hanya bisa bersabar.
Bersabar?
Sepertinya itu bukan Laura. Dia akan mengambil kesempatan untuk memisahkan Alexander dan Alice jika memang ada peluang. Dan hari ini, dia akan berkunjung ke perusahaan Alexander karena memang ada beberapa hal yang harus mereka bahas. Dan dia akan mengambil kesepakatan itu.
Laura memarkirkan mobilnya di depan perusahaan Alexander. Dia turun dari mobil dan memberikan kunci mobilnya pada penjaga untuk diparkirkan.
Seperti biasa, kedatangannya menjadi bahan pembicaraan para karyawan Alexander. Mereka memuji kecantikan dan keindahan tubuh wanita itu.
Tapi kali ini berbeda, karena beberapa hari yang lalu, bos mereka membawa seorang wanita di dalam gendongannya. Dan mereka yakin jika wanita itu sangat spesial untuk Tuan mereka.
Terbukti sekarang wanita itu di angkat sebagai asisten pribadi Alexander. Dan beberapa hari bekerja membuat mereka mendapatkan tontonan gratis kemesraan keduanya.
"Selamat pagi. Apa Alexander ada di ruangannya?" Tanya Laura
"Ada nona. Sebentar saya sampaikan pada tuan terlebih dahulu." Resepsionis menelepon Alexander dan mengatakan jika ada Laura yang ingin bertemu.
"Baik tuan." Seru resepsionis. Dia meletakkan kembali gagang teleponnya dan berkata pada Laura jika Tuan Alexander menunggu di ruangan nya.
Laura melenggang pergi ke ruangan Alexander. Tapi saat dia mau masuk ke lift, dia tidak sengaja melihat Alice yang sedang berbicara dengan seorang pria.
Tiba-tiba bibir Laura terangkat. Dia memperhatikan keduanya dari jarak jauh. Dan setelah mereka berpisah, Laura mendekati pria itu.
"Kau, siapa namamu?" Tanya Laura
"Sa_saya Ahmad, nona. Ada apa ya? Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Ahmad.
"Tidak. Aku hanya ingin bertanya. Ku lihat dari caramu menatap Alice, sepertinya kau menyukai wanita itu ya."
Ahmad tersipu. Memang benar dia menyukaiku Alice saat pertama kali bertemu. tapi banyak yang bilang jika wanita itu adalah kekasih Tuan Alexander.
"Alice adalah kekasih tuan Alexander. Jadi mana mungkin saya berani, nona."
"Siapa yang bilang jika dia itu kekasih Alexander? Dia itu hanya adik angkat Alexander saja. Jika ada rumor yang mengatakan mereka sepasang kekasih, aku yakin itu perbuatan Alexander agar tidak ada yang mengganggu adiknya." Ucap Laura bohong.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Untuk itu aku akan membantumu untuk mendapatkan Alice."
"Me_membantu?"
Laura membisikan sesuatu di telinga Ahmad. Dan setelahnya terlihat senyum lebar di bibir Ahmad.
"Baiklah, aku akan melakukannya." Seru Ahmad
"Good." Laura pergi ke ruangan Alexander dan di sana ada Alice yang duduk di kursinya. Sepertinya mereka berada di satu ruang.
"Selamat pagi semua." Sapa Laura
"Laura!!" Alice berdiri dan langsung memeluk Laura. "Apa kabar?" Tanya Alice
"Kabarku baik, Alice. Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Aku bekerja di sini sekarang. Dan aku menjadi asisten pribadi Alexander." Terang Alice
"Oh begitu. Kalau begitu kita akan sering bertemu."
"Iya." Alice tersenyum lebar. Begitu juga dengan Laura. Tapi bedanya, ada maksud tertentu dari senyuman Laura.
Alexander dan Laura mulai membahas proyek yang mereka kerjakan. Karena Alice masih baru, dia hanya menyimak saja. Tapi tiba-tiba Laura mengeluh haus dan Alice menawarkan diri untuk membuatkan minuman untuk mereka.
Tidak ada kecurigaan sama sekali. Dan Alexander kembali berunding dengan Laura. Tapi Alice terlalu lama di pantry. Di tambah lagi, Laura mencoba menghasut Alexander.
"Kenapa Alice lama sekali ya?" Seru Laura tiba-tiba
Alexander melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Dan memang benar wanita itu sudah cukup lama pergi.
"Sepertinya Alice cukup populer ya di sini." Lanjut Laura
"Apa maksudmu?"
"Tadi aku melihat Alice begitu akrab dengan karyawan mu."
Alexander terdiam. Pikirannya sudah menjalar kemana-mana. Dia segera beranjak dan menyusul Alice.
"Cih.. mudah sekali menghasut nya." Laura menyusul Alexander. Dia tidak ingin melewatkan pertunjukan menarik saat Alice di tendang oleh Alexander.
Mereka sampai di depan pintu Pantry. Alexander mencoba membuka pintu tapi ternyata terkunci dari dalam.
Alexander merasa geram. Dia menendang pintu tersebut dan melihat Alice yang berada di bawah seorang pria.
"ALICE!!!"
Deg
"A_alex...." Alice mendorong Ahmad dan berdiri. "A_alex, dengarkan aku!! Semua ini tidak seperti yang kau lihat. Di_dia... Dia...
Belum sempat Alice menyelesaikan ucapannya, Sebuah tembakan menembus jantung Ahmad. Yang menyebabkan pria itu tewas seketika.
Deg
"Kyaaa........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
C a l l i s t o ®
Kasian si Ahmad 😲
2024-06-13
1
Aidah Djafar
duuh gegara ide uler licik Laura tuh 🤔 c Ahmed di tembakkan🤦🤦🤦
2024-02-29
1