Laura sangat senang karena dia bisa pergi berdua dengan Alexander tanpa adanya pengganggu. Dia kira Alexander akan mengajak Alice untuk perjalanan bisnis kali ini. Tapi ternyata pria itu hanya pergi seorang diri. Bahkan asisten nya yang bernama Aaron yang biasa mengekor kemana-mana tidak terlihat batang hidungnya.
Dan Laura tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Rencana yang dia lakukan kemarin sempat gagal karena Alexander yang begitu percaya pada Alice. Bahkan Alexander sampai memeriksa rekaman cctv yang ada di pantry.
Tapi sekarang, Dia akan berusaha mendekati Alexander. Dia akan membuat Alice semakin membenci Alexander nantinya.
Alexander dan Laura sudah sampai di hotel tempat mereka menginap. Mereka tinggal di kamar yang berbeda tapi berdekatan.
Mereka akan beristirahat sejenak sebelum mengecek lokasi pembangunan pusat perbelanjaan yang akan mereka dirikan. Dan Laura mencoba mendekati Alexander dengan berkunjung ke kamar pria itu.
Tok Tok Tok
Cklek
Alexander membuka pintu dan langsung mempersilahkan Laura untuk masuk. "Ada apa?" Tanya Alexander
"Tidak ada. Aku hanya bosan di kamar karena tidak ada teman ngobrol." Laura duduk di sofa dan melihat jika Alexander sedang bekerja melalui laptopnya. "Kau sedang sibuk?" Tanya Laura.
"Aku selalu sibuk." Alexander mengambil laptop yang ada di meja dan mulai mengerjakan kembali pekerjaannya.
"Apa itu pekerjaan di kantor? Bukankah ada Aaron yang menghandle perusahaan?" Tanya Laura
"Aku meminta Aaron untuk menjaga Alice." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
Laura memutar kedua bola matanya malas. Lagi-lagi Alice, Alice dan Alice yang Alexander perhatikan.
Alexander menutup laptopnya dan beranjak dari tempat duduknya. "Sepertinya kau mempunyai banyak waktu luang. Jadi lebih baik kita langsung cek lokasi pembangunan saja." Ajak Alexander
"A_apa? Bukankah kita baru saja sampai? Kita membutuhkan istirahat, Lex."
"Kau sendiri yang bilang jika kau bosan berada di kamar sendirian. Jadi lebih baik kita langsung mengerjakan pekerjaan kita. Lagipula, semakin cepat kita kerjakan, semakin cepat kita pulang." Setelah mengatakan hal itu, Alexander meninggalkan Laura begitu saja.
Laura begitu geram. Alexander yang sekarang sangat berbeda. Pria itu seperti menghindarinya. Dan dia yakin semua ini karena Alice.
Tidak mau membuat pria itu menunggu, akhirnya Laura menyusul Alexander. Mereka pergi menggunakan mobil Alexander.
Laura senang karena dia bisa duduk bersanding dengan Alexander. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka sampai di lokasi pembangunan.
Alexander pria yang sangat teliti. Dia mendengarkan dengan seksama penjelasan dari pemilik tanah. Dan dengan perundingan yang rumit akhirnya mereka mencapai kesepakatan bersama dan mereka mendapatkan lokasi tersebut dengan harga yang lumayan murah.
"Hari sudah hampir malam. bagaimana jika kita makan malam sekalian. Kita juga belum mengisi perut kita setelah sampai di hotel, bukan." Ajak Laura
Alexander mengiyakan ajakan Laura. Walaupun dia masih bisa menahan rasa laparnya, tapi otak tidak akan bisa berfikir jika perut dalam keadaan kosong. Dia berencana untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa segera pulang. Karena jujur dia sangat merindukan Alice.
Mereka sampai di sebuah restoran mewah dengan dekorasi yang sangat elegan dan romantis.
Alexander dan Laura masuk ke restoran itu dan banyak mata menatap mereka berdua. Itu karena mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Alexander yang tampan dan Laura yang cantik dan anggun.
Diam-diam Laura menyewa seseorang untuk mengambil foto mereka berdua saat makan malam. Dan dia berencana untuk mengirimnya pada Alice nantinya. Bahkan dia akan mengirimkan foto mereka pada media dan menyebarkan rumor jika mereka berkencan.
Ide yang sempurna.
"Tempat ini sangat indah ya." Seru Laura membuka pembicaraan
"Biasa saja." Jawab Alexander datar
Laura hanya bisa tersenyum kikuk. Walaupun pria itu terlihat dingin dan kaku, tapi dia tetap menyukainya. Dia melirik kearah orang yang bersiap memotret mereka berdua. Dan saat itulah Laura berakting.
"Em... Lex, Tunggu sebentar!!" Laura mengambil tisu dan mengusap sudut bibir Alexander. "Ada noda di sudut bibirmu." Ucapnya lagi. Dia melirik orang yang memotret mereka dan terlihat jika orang itu mengacungkan ibu jarinya tanda jika dia berhasil.
Laura terlihat senang. Dia masih membersihkan sudut bibir pria itu. Tapi Alexander mengambil tisu dari tangan Laura dan mengusap bibirnya sendiri. "Terimakasih. kau tidak perlu repot." Alexander beranjak dan pergi ke toilet.
Laura melihat ponsel Alexander yang tergeletak di atas meja. Dia mengambil ponsel tersebut dan mengirim nomor Alice ke ponselnya. Dia akan mengirimkan hasil jepretan foto romantis dirinya dengan Alexander ke nomor wanita itu.
Setelah mendapatkan nomor Alice, Laura buru-buru meletakkan ponsel Alexander ketempat semula dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa saat Alexander kembali.
"Apa kau sudah selesai? Aku ingin segera kembali ke hotel dan mengerjakan pekerjaan ku yang lain." Seru Alexander
"Baiklah. Kita kembali ke hotel sekarang."
Setelah membayar bill, mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap.
"Selamat malam Lex. Jangan tidur terlalu larut." Ucap Laura yang dijawab deheman oleh Alexander.
Setelah memastikan jika Alexander sudah masuk ke kamarnya, Laura menemui orang yang dia sewa untuk memotret dirinya dengan Alexander tadi di restoran.
"Mana hasilnya?" Pinta Laura
Pria itu mengeluarkan flashdisk dan memberikannya pada Laura. "Jangan lupa bayaran ku." Seru pria itu
"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan mentransfernya nanti. Tapi aku masih mempunyai tugas untukmu." Laura membisikkan sesuatu di telinga pria itu.
"Apa kau mengerti?"
"Kau tenang saja. Aku masih mempunyai salinan foto itu di komputerku. Dan aku pastikan itu akan menjadi berita besar nantinya." seru pria itu.
Laura kembali ke kamarnya dan keesokan harinya, dia mengirimkan fotonya bersama Alexander pada Alice.
"Semoga kau suka dengan kejutan dari ku, Alice." Seringai Laura.
TIGA HARI KEMUDIAN
Alexander dan Laura berada dalam perjalanan pulang karena pekerjaan mereka sudah selesai. Ini merupakan pekerjaan yang kilat. Pekerjaan yang harusnya di selesaikan lima hari tapi bisa selesai dalam waktu tiga hari.
Dan tentu saja semua Alexander kerjakan sendiri. Dia rela begadang tiap malam agar pekerjaan nya cepat selesai dan dia bisa segera pulang karena dia sangat merindukan Alice.
Laura terlihat menahan kesal. Tapi tidak masalah, karena saat Alexander sampai di rumah nanti, Alice pasti akan membencinya.
Dan benar saja. Saat Alexander memberi kejutan pada Alice, wanita itu hanya diam tidak merespon.
"Aku pulang sayang." Seru Alexander
"Kau sudah pulang?" Tanya Alice dengan ekspresi datar. Hal itu membuat Alexander bingung.
"Alice, kau baik-baik saja?" Tanya Alexander
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." Alice beranjak dan kembali ke kamarnya.
"Ada apa dengan nya? Apa dia tidak senang aku pulang lebih awal?" Gumam Alexander. Dia menemui Aaron dan menanyakan kegiatan Alice selama dia tidak ada di rumah.
Dan ternyata selama dia pergi, Alice sama sekali tidak keluar dari kamarnya kecuali untuk makan saja. Hal itu membuat Alexander merasa ada yang tidak beres.
Dia menyusul Alice ke kamarnya dan mendapati wanita itu tengah merias wajahnya.
"Ada apa ini? Kau merias wajahmu? Apa kau melakukan hal ini untuk diriku, hm?" Tanya Alexander
"Cih.. kau terlalu percaya diri." Alice memoles wajahnya dengan make up tipis. Setelah dia memoles bibir nya dengan lipstik merah muda.
"Alice, katakan padaku!! Kenapa kau tiba-tiba berdandan seperti ini?" Tanya Alexander curiga
Alice berdiri dan berkata, "bukan urusanmu, tuan Alexander." Alice mendorong Alexander dan memilih baju di wordrobe.
"Kau tidak sedang berkencan dengan pria lain, bukan?" Tanya Alexander
"Memangnya kenapa jika aku ingin berkencan dengan pria lain, hm? Apa kau cemburu?" Alice mendekati Alexander dan mengusap wajah pria itu dengan jarinya. Bahkan sentuhan Alice sampai di jakun pria itu dan semakin turun membuka satu persatu kancing kemeja Alexander.
"Alice, jangan menggodaku!!" Ucap Alexander memperingatkan. Dia memejamkan matanya saat jari lentik Alice mengusap dadanya hingga perutnya yang berotot.
"Tubuh mu bagus juga. Kira-kira, siapa saja yang sudah menjamahnya?" Pertanyaan Alice membuat Alexander membuka matanya dan menatap Alice bingung. "Apa maksud mu?" Tanya Alexander
"Maksudku....." Alice mendorong Alexander hingga terlentang di tempat tidur dan menindihnya. Dia mengendus leher Alexander dan menggigit sensual telinga pria itu
"Alice!!!" Alexander menahan nafasnya sejenak merasakan sensasi aneh yang membuat adik kecilnya menegang.
"Yes, honey." Ucap Alice sensual. Tapi setelah melihat Alexander yang terlena, Alice beranjak dari atas tubuh pria itu.
"Kau boleh pergi." Usir Alice
"What?" Pekik Alexander. Setelah berhasil membuatnya tenggelam dalam gejolak kenikmatan, wanita itu justru menghentikan nya begitu saja. Ini tidak bisa di biarkan.
Alexander menarik Alice yang membuat wanita itu jatuh di atas tubuhnya. Dan dia merubah posisi menindih Alice.
"Kyaaa.." pekik Alice
"Setelah kau membangunkannya, kau pergi begitu saja?" Seru Alexander
"K_kau pantas mendapatkannya." Sentak Alice. "Kau bersenang-senang dengan bahkan makan malam romantis dengan wanita lain. Kau juga tidak menghubungi ku sama sekali. Kau bilang kau mencintaiku, tapi kenapa kau lakukan hal itu padaku?" teriak Alice.
Alexander terdiam sejenak sebelum akhirnya dia tertawa keras. "Apa kau cemburu, hm?
"A_apa? Cemburu? Si_siapa yang cemburu?" Sangkal Alice
"Kau tidak perlu berbohong sayang. Aku bisa melihat dari matamu."
"Asalkan kau tahu, aku dan Laura tidak melakukan hal seperti yang kau tuduhkan tadi. Kami memang makan malam bersama. Tapi itu setelah kami menyelesaikan pekerjaan kami. Bahkan setiap malam aku lembur agar aku bisa cepat pulang dan bertemu dengan mu." Terang Alexander
"A_apa?"
"Iya sayang. Aku merindukanmu. Makanya aku cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan ku." Seru Alexander. Dia melihat Alice yang tersenyum simpul dan mengusap pipi wanita itu.
"Aku sangat lelah. Untuk itu aku membutuhkan pengisian tenaga."
Alice mengerutkan keningnya. "Apa mak...
Belum selesai ucapan Alice, Alexander sudah terlebih dahulu membungkam bibir Alice dengan bibirnya.
Awalnya Alice terkejut. Tapi lama-kelamaan dia terbuai dengan permainan lidah Alexander dan perlahan mulai membalas ciuman pria itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
pertahanan Alice terlalu mudah runtuh 🤦♀️
2024-10-15
1
Yunerty Blessa
Alice cemburu saat Laura mengirim foto dirinya dan Alex
2024-10-15
1
Yunerty Blessa
mantap Alex, jangan bagi ruang pada Laura
2024-10-15
1