Alice pergi ke pantry untuk membuat minuman untuk Laura dan Alexander. Dia tidak sadar jika sedari tadi Ahmad memperhatikannya. Dia masuk ke pantry dan mengunci pintunya.
Perlahan Ahmad mendekati Alice dan memeluknya dari belakang.
"Kya.." pekik Alice
"A_ahmad? Apa yang lakukan?" Alice mencoba melepaskan pelukan Ahmad. Tapi bukannya terlepas, pelukan itu justru semakin erat.
"Tenang Alice. Biarkan aku memelukmu sebentar saja."
"Kau sudah gila, Ahmad." Teriak Alice
Ahmad mendorong Alice ke sofa dan menindihnya. " Ya bener, aku memang sudah gila. Dan itu karena dirimu, sayang." Ahmad mengusap pipi Alice.
"Menyingkir sialan!! Atau aku akan memberitahu Alex atas perbuatan mu ini." Ancam Alice
"Tidak perlu jual mahal sayang, Aku tahu kau juga menginginkan ini. Dan aku akan memberimu kenikmatan yang akan membuat mu puas."
"Kau gila, Ahmad." Alice terus mendorong Ahmad, tapi kekuatan nya tidak sebanding dengan pria itu. Hingga tiba-tiba terdengar suara pintu yang di dobrak membuat keduanya tersentak
BRAKH
"ALICE!!!" Teriak Alexander
"A_alex?" Alice mendorong Ahmad yang tertegun. dia berdiri dan mencoba menjelaskan nya pada Alexander. Begitu juga dengan Ahmad, dia terlihat ketakutan dan mencoba untuk menjelaskannya pada Alexander. Tapi tiba-tiba pria itu tumbang karena tembakan dari Alexander yang menyebabkan pria itu tewas seketika.
"Kyaaaa......
Alice berteriak saat melihat Ahmad mati mengenaskan. Dan kemudian dia jatuh tidak sadarkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ugh...." Alice melenguh pelan. Dia membuka matanya dan melihat sekitarnya. "Kenapa aku bisa ada di sini?" Gumamnya
"Kau sudah sadar, sayang?"
Deg
Alice melihat Alexander yang berdiri menatapnya. Dia segera bangun dan menggelengkan kepalanya takut.
"Tidak!! Jangan bunuh aku!!" Sentak Alice
"Hei... Siapa yang mau membunuhmu, hm?" Alexander mendekat dan mendekap Alice yang terus berteriak dan memberontak. Tapi pria itu tidak melepaskan nya begitu saja.
Sampai Alice tenang, Alexander melepaskan pelukannya. "Maaf harus membuat mu melihat hal mengerikan seperti tadi di kantor. Aku kehilangan kontrol. Aku marah saat dia melakukan hal itu padamu, sayang."
"Tapi kenapa kau membunuhnya?" Alice menatap Alexander dan kembali berkata, "Tidak perduli apa alasannya, kau tidak seharusnya membunuhnya."
"Jadi menurut mu aku harus diam saja saat wanita yang aku cintai di lecehkan?"
Alice terdiam dan memalingkan wajahnya. Hatinya terasa sakit mengingat orang yang dia anggap baik justru melecehkannya. Jika Alexander tidak datang tepat waktu, dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Mungkin saat itu juga dia akan memilih bunuh diri dengan melompat dari gedung perusahaan Alexander.
Alexander mencoba menggenggam tangan Alice, tapi wanita itu justru menghindar. "Apa kau takut padaku?" Tanya Alexander
Alice hanya diam dan melirik sekilas. Dia menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Alexander. "Tinggal denganmu dan melihat apa yang kau lakukan, aku tidak yakin jika kau hanya seorang CEO perusahaan."
"Kau mempunyai bodyguard yang banyak, kau biasa pergi tengah malam, kau juga menyiksa sahabatku begitu keji. Dan sekarang, kau membunuh seseorang dan tidak ada penyesalan sama sekali."
Alice menatap Alexander penuh selidik. Dia dapat melihat jika pria itu menyembunyikan sesuatu yang tidak dia ketahui. "Kenapa kau diam?"
Alexander menghela nafas panjang. Mungkin sekarang saatnya Alice tahu siapa sebenarnya.
"Ada yang ingin kau katakan?" Tanya Alice
"Kau benar. Aku memang bukan sekedar CEO di perusahaan. Tapi aku juga seorang pemimpin mafia."
Deg
"Ma_mafia?" Seru Alice terbata.
"Iya." Jawab Alexander. "Tapi bukan tanpa alasan kenapa aku menjadi seorang mafia. Ayahku seorang mafia dari Amerika. Beliau menikah dengan wanita yang berasal dari Qatar. Tapi sejak dulu keluarga Smith mempunyai musuh. Banyak yang ingin menghancurkan keluarga Smith. Untuk itu ayah dan ibu memilih tinggal di Qatar. Tapi semua itu tidak merubah apapun."
"Musuh ayah terus mengejarnya. Untuk itu, dia memutuskan untuk memperkuat pertahanan keluarga Smith demi kami. Dan dia menyerahkan tahta pemimpin mafia padaku sebelum meninggal."
Alexander memejamkan matanya sejenak dan kembali berkata, "Apa kau tahu bagaimana orangtuaku meninggal?" Alexander menatap Alice. "Mereka meninggal karena di bunuh oleh musuh ayah saat aku masih berusia 10 tahun."
Deg
"Itu sebabnya aku menjadi pria yang kejam. Tidak ada penyesalan saat aku membunuh seseorang. Apalagi jika orang itu sampai menyakiti orang yang aku sayangi."
Alice terdiam. Dia tidak menyangka jika Alexander mempunyai kehidupan yang sangat tragis. Dia harus kehilangan orang tua nya di usia belia. Di tambah beban yang dia tanggung sangat berat. Dan nyawanya juga terancam.
Sejenak dia merasa iba. Tapi tetap saja dia harus waspada. Alexander adalah pria yang berbahaya. Bisa saja dia membunuhnya jika dia melakukan kesalahan, bukan.
"Aku tahu kau takut padaku. Tapi percayalah, aku tidak akan menyakitimu. Walaupun kau mengkhianati ku sekalipun. Aku tidak akan membunuhmu. Karena aku mencintaimu." Seru Alexander
"Sekarang istirahatlah!!" Alexander beranjak keluar dari kamar Alice. Dia menutup pintu dan bersandar sejenak di sana. Ada rasa lega karena dia bisa jujur pada Alice. Tapi dia takut, Alice akan membencinya karena dia seorang mafia.
Mungkin mulai sekarang, dia harus mempersiapkan diri jika sampai dia kehilangan Alice. Tapi dia tidak akan menyerah untuk membuat Alice jatuh cinta padanya.
Keesokan harinya, seperti biasa Alice berangkat ke kantor bersama dengan Alexander.
Keadaannya sudah membaik. Dan dia juga tidak terlalu takut lagi pada Alexander. Tapi tetap saja dia was-was. Dia takut jika mengingat darah yang keluar dari tubuh Ahmad karena tembakan dari Alexander.
"Kau yakin mau masuk kerja?" Tanya Alexander
"Iya. Aku bosan di rumah sendiri."
"Kalau kau mau, aku akan menemanimu." Sahut Alexander
"Lalu apa bedanya, aku ke kantor bersamamu dengan kau menemaniku di rumah?" Gerutu Alice
Alexander terkekeh. Dia merasa senang karena Alice sudah merespon nya seperti biasa. Walau dia tahu jika wanita itu masih takut padanya.
Tapi tiba-tiba di pertengahan jalan, mobil mereka dihadang beberapa orang tak di kenal lengkap dengan senjata api. Jadi terpaksa Aaron menghentikan mobilnya.
"Ada apa?" Tanya Alexander
"Ada tamu yang tak di undang, tuan."
Alexander melihat ke depan. Dan ternyata banyak tamu yang mengantarkan nyawa padanya.
"Tunggu di sini, kunci pintunya dan jangan pernah keluar apapun yang terjadi." Titah Alexander pada Alice
"Ta_tapi....
"Ssst!! Aku akan menyelesaikannya dengan cepat." Alexander dan Aaron turun dari mobil. Mereka berdiri di depan mobil berhadapan dengan orang-orang itu.
"Siapa kalian?" Tanya Alexander dengan ekspresi dingin di wajahnya.
"Kami adalah malaikat maut mu."
Alexander menyeringai, "Bukan kalian, tapi akulah malaikat maut kalian." Alexander mengeluarkan dua senjata dari belakang punggungnya. Dia menembak orang-orang itu dan tepat sasaran. Sebagian dari mereka tumbang.
Aaron juga melakukan hal yang sama. Tapi karena jumlah mereka banyak, mau tidak mau mereka bersembunyi dari serangan balasan orang-orang tersebut.
Terjadi adu tembak antara mereka. Sedangkan Alice yang berada di dalam mobil hanya bisa meringkuk ketakutan. Untungnya mobil Alexander anti peluru. Jadi dia aman.
Tapi salah satu dari musuh berhasil mendekati mobil Alexander. Dia menggedor pintu mobil dan meminta Alice untuk keluar.
Alice ketakutan dan tidak menghiraukan teriakan orang tersebut. melihat hal itu, Alexander mengarahkan pistolnya dan menembak orang tersebut.
Dia mengumpat kesal karena mengira jika mereka mengincar dirinya, tapi ternyata target mereka adalah Alice. Dia berlari kembali ke mobil sambil mengeluarkan tembakan ke arah musuh.
Tapi di luar dugaan, salah satu dari mereka melemparkan granat ke arah mobil.
Alice yang tahu akan hal itu hanya bisa menutup mata dan berteriak. Sedangkan Alexander terus berlari dan menendang granat itu kembali kearah musuh dan.....
DUAAARRRR
Mobil musuh meledak bersama dengan musuh yang tidak sempat melarikan diri.
Alexander menggedor-gedor pintu mobil dan meminta Alice untuk segera membukanya. Tapi Alice terlalu syok. Dia menangis ketakutan di dalam mobil.
"Alice, buka pintunya!! Ini aku, Alexander." Teriaknya
Alice melihat Alexander yang berdiri di samping mobil. Dia buru-buru membuka pintu dan langsung memeluknya.
"Aku takut!! Aku takut!!" Isak Alice ketakutan
"Tenang!! Aku akan selalu melindungimu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
seram
2024-10-15
1
Aidah Djafar
di mana2 hrus slalu standby Alex🤔 bnyk bener musuhnya 🤔🤦
keren Alex 👌
2024-03-01
1
✯Fᴀᴋᴇ 𝐅✯ʰⁱᵃᵗᵘˢ
Otewe
2023-02-23
0