Alice membuka matanya perlahan. Dia merasa kepalanya berdenyut pusing. "Dimana aku?" gumamnya. Tapi suara deheman seseorang membuat nya tersentak dan Alice menegakkan tubuhnya seketika.
"Alex?" lirih Alice. Dia melihat sekelilingnya dan ternyata dia kembali ke kamar yang sudah dia tempati beberapa hari ini. "Sial!! Seperti nya aku gagal." batin Alice
"Ada yang ingin kau jelaskan, Alice?" tanya Alexander dengan ekspresi dinginnya
"A_aku...
"Apa kau tahu apa yang sudah kau lakukan, hah? Kau hampir saja mati di terkam binatang buas di luar sana jika Aaron tidak datang tepat waktu." bentak Alexander
Alice menunduk takut. Dia tahu jika dia bersalah. Jika tidak ada Aaron, mungkin dia sudah menjadi santapan lezat harimau di hutan. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mempunyai pilihan lain selain lari saat Aaron mengejarnya.
"Ma_maafkan aku." isak Alice
Alexander mengusap wajahnya kasar. Dia memeluk Alice dan menenangkan wanita itu. Dia salah karena telah membentaknya. Saat ini, Alice pasti ketakutan. Dia baru saja mengalami hal mengerikan tapi dia justru memarahinya.
"Maaf sayang. Bukan maksudku membentak mu. Aku hanya takut terjadi sesuatu padamu. Aku takut Alice." lirih Alexander. Dia mengurai pelukannya dan menghapus air mata Alice. "Jangan menangis lagi. Yang terpenting kau baik-baik saja." lanjut Alexander
"Sekarang katakan padaku!! Darimana kau mendapatkan obat tidur itu, hm?" tanya Alexander
Tubuh Alice menegang seketika. Dia tidak mungkin mengatakan jika obat tersebut dari Laura. Bisa-bisa wanita itu menjadi sasaran kemarahan Alexander.
"Alice!! Katakan baby!! Aku tidak akan marah jika kau berkata jujur padaku."
"A_apa maksud mu? Aku tidak mengerti." seru Alice
Alexander mengambil botol obat dari saku celananya dan memperlihatkannya pada Alice.
Deg
Alexander melihat perubahan di wajah Alice. Dia yakin jika semua perbuatan wanita itu. Dia tidak mengira jika Alice bisa melakukan hal senekad itu. Entah dari mana dia mendapatkan obat tersebut, tapi hal ini benar-benar membuatnya geram. Tidak hanya satu atau dua orang, tapi semua menghuni mansion nya di buat tidak sadarkan diri. Bahkan sampai saat ini mereka masih terlelap dalam tidurnya. Entah berapa banyak dosis yang Alice berikan pada mereka. Tapi kemungkinan, Alice mencampur obat tersebut pada makanan. Karena di temukan kue kering di samping mereka yang tertidur.
"Masih tidak mau mengaku?" tanya Alexander yang melihat Alice hanya terdiam
"Baiklah!!" Alexander berdiri dan memasukan kedua tangannya kedalam saku celana. "Aku akan mencari tahu sendiri. Dan untukmu, sayang. Aku tidak akan membiarkan mu keluar satu langkah pun dari kamar ini."
Alice mendongakkan kepalanya menatap Alexander. "Apa?" pekiknya
"Itu hukuman untuk mu. Dan berdoa saja untuk keselamatan orang yang sudah berani membantumu untuk keluar dari sini." Alexander keluar dari kamar Alice tanpa menghiraukan Alice yang terus berteriak.
"Perketat penjagaan. Jangan biarkan Alice keluar selangkah pun dari kamar nya." titah Alexander
"Baik tuan." sahut Aaron
"Buka pintunya, Alex!! Biarkan aku pergi dari sini, aku mohon!! hiks .. Hiks.. Aku hanya ingin pulang, Aku ingin pulang, Lex." Alice menggedor pintu terus menerus sambil terisak. Dia ingin keluar dari sana tapi lagi-lagi Alexander mengurungnya.
"Biarkan aku pergi, Lex. Aku mohon!!" tubuh Alice merosot di lantai. Dia menangis meratapi nasibnya yang tidak bisa keluar dari istana yang bagaikan penjara itu.
Alexander menulikan telinganya dan memilih pergi ke ruang kerjanya. Kepalanya sangat pusing memikirkan Alice yang terus menerus meminta untuk dilepaskan. Dia tahu caranya salah telah mengurung wanita itu. Tapi dia begitu mencintainya, dan dia tidak ingin Alice pergi darinya. Untuk itu dia memilih mengurung Alice dan membuatnya jatuh cinta padanya.
"Tuan!!" Aaron datang dengan membawa tumpukan berkas di tangannya.
"Ada apa?" tanya Alexander
"Ini beberapa laporan yang harus anda tandatangani." Aaron meletakkan berkas-berkas tersebut di meja.
"Jam 10 di Low light Bar." seru Aaron
Alexander mendongakkan kepalanya menatap Aaron. "Persiapkan semuanya. Dan lakukan seperti biasanya." perintah Alexander
"Baik." Aaron membungkuk dan pergi undur diri. Dia harus menyiapkan barang yang akan mereka bawa di bar nanti malam.
...****************...
MALAM HARINYA
Alexander masuk ke kamar Alice. Dia melihat tubuh mungil wanita yang sudah berhasil membuat nya jatuh cinta, meringkuk di bawah selimut dengan posisi membelakanginya. Dia mendekat dan duduk di tepi tempat tidur.
"Maafkan aku, Alice. Aku tidak akan bisa jika kau pergi dariku." Alexander mencium kening wanita itu dan beranjak keluar. Malam ini dia akan pergi ke tempat di mana dia akan menjalankan bisnis sampingan nya.
Alexander bukan hanya seorang CEO di AS Corp. Tapi dia juga king mafia Red Dragon, mafia yang paling di takuti di Qatar. Tapi semua orang lebih mengenal Alexander dengan nama Demon saat memimpin organisasi mafia miliknya.
"Apa semua sudah siap?" tanya Alexander
"Sudah Tuan. Bodyguard juga sudah berada di posisi mereka." seru Aaron
"Good." Alexander masuk kedalam mobil dan mulai meluncur ke tempat di mana transaksi akan di lakukan.
Low Light Bar's
Tidak butuh waktu lama, mobil yang di kendarai Aaron sampai di Low Light Bar's. Alexander keluar dari mobil dan di kawal bodyguard saat masuk ke bar tersebut.
Semua pengunjung tahu siapa yang datang. Dia adalah Demon, si mafia Kejam. Tidak ada yang mau berurusan dengannya. Untuk itu mereka memilih menyingkir dan memberi jalan untuk Alexander
"Tuan Malik menunggu di ruang VVIP, Tuan." seru Aaron
"Hm." Alexander hanya menjawab dengan deheman singkat. Dia menuju ruang di mana pembelinya berada dan melakukan transaksi jual beli obat-obatan terlarang.
"Terimakasih, tuan. Senang bekerja sama dengan anda." seru Malik
"Aku pun begitu, Tuan Malik. Jika kau membutuhkan barang lagi, kau bisa menghubungi ku."
"Pasti Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu." Malik pergi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Alexander menghela nafas. Dia melepas mantelnya dan hanya menyisakan kemeja dengan lengan yang dia lipat sampai ke siku. Jika sudah begitu, Alexander tidak terlihat seperti king mafia tapi seorang Ceo. Bahkan bodyguard yang mengawal Alexander akan menyebar dan melindungi tuannya dari jarak jauh.
"Pesankan aku minuman." titah Alexander
"Baik Tuan." Aaron pergi memesankan minuman untuk Alexander.
Alexander memejamkan matanya sejenak. Dia sangat ingin meninggalkan dunia hitam ini, tapi dia tidak mungkin bisa. Karena dengan menjadi mafia, tidak ada yang berani meremehkannya.
"Sepertinya aku membutuhkan hiburan." Alexander keluar dari ruangan tersebut dan bergabung dengan orang-orang yang menari mengikuti alunan musik yang di mainkan DJ. Dia duduk dan memperhatikan semua orang yang terlihat bebas mengekspresikan diri mereka. Rasanya dia juga ingin melakukan hal yang sama. Tapi dia terlalu kaku untuk melakukannya.
Aaron datang dan meletakan minuman di meja dimana Alexander berada. Dia ikut duduk dan menuangkan minuman untuk Alexander.
"Apa tuan juga membutuhkan wanita?'' tanya Aaron
Alexander melirik sinis Aaron yang tertawa. Dia menyesap perlahan minuman dengan terus menatap orang-orang di sana.
"Terkadang aku ingin seperti mereka. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Bahkan untuk pertama kalinya aku jatuh cinta, justru aku di tolak mentah-mentah. Apa aku tidak diperbolehkan untuk bahagia?" seru Alexander
"Siapapun berhak untuk bahagia tuan. Begitu juga dengan anda. Mungkin nona Alice masih membutuhkan waktu untuk menerima semua ini. Saya yakin cepat atau lambat, nona Alice akan membalas cinta anda."
"Ya, aku juga berharap begitu."
"Wah, wah, wah.. Coba lihat, siapa ini?"
Deg
Alexander menatap tajam seseorang yang saat ini duduk di depannya. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal erat.
"Ada perlu apa anda kemari, Tuan Sean?" tanya Aaron. Dia pun menjadi waspada karena Sean adalah rival abadi dari Alexander.
"Ini tempat umum, jadi tidak ada yang salah jika aku berada di sini, bukan?" seru Sean. "Justru yang harus dipertanyakan itu adalah tuan mu. Untuk apa dia datang kemari? Seorang CEO sepertinya tidak biasa datang ke tempat seperti ini, bukan?" lanjut Sean
"Tuan Alexander....
Alexander mengangkat tangannya memberi kode Aaron untuk diam. "Seperti yang kau katakan, ini adalah tempat umum dan siapapun bisa datang kemari." seru Alexander dengan ekspresi dinginnya
"Kau tidak pernah berubah, Alex. Masih sama seperti dulu. Dingin dan arogan. Tapi apa kau masih bisa se arogan sekarang jika aku berhasil mendapatkan wanita mu."
"Apa maksudmu?" pekik Alexander
"Wanita asing yang kau sembunyikan, cepat atau lambat aku akan mendapatkan nya."
"Jangan macam-macam kau, Sean Immanuel! Aku tidak akan memaafkan mu jika kau sampai melukainya." bentak Alexander
"Wah Aku sangat takut." ejek Sean. Dia mencondongkan tubuhnya dan kembali berkata, "kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang." seringai Sean
Alexander mendengus dan memilih pergi diikuti Aaron yang mengekor di belakangnya. Sean sudah tahu jika dia menyembunyikan seorang wanita dan dia yakin, Sean akan memanfaatkan wanita itu untuk menghancurkannya. Ini tidak bisa di biarkan. Alice bisa dalam bahaya. Sean orang yang kejam dan dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Untuk itu dia akan memperketat keamanan.
"Sangat mudah untuk menggertak mu, Alexander. Dan sekarang aku semakin yakin jika wanita itu adalah kelemahan mu. Permainan akan segera di mulai. Dan aku pastikan kali ini aku yang akan menang." seringai Sean.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Aidah Djafar
Sean mengerikan 🤔🤦
2024-02-29
1
Raihanqu
permisi buknya d Qatar ketat ko ad bar
2023-02-24
1
Staffs AZ Zahro
ini kemana sih ko sepi
2023-02-02
1