Alexander memutuskan untuk kembali ke mansion nya. Apalagi keadaan Alice tidak baik-baik saja. Dia meringkuk ketakutan di pelukan. Dia bahkan tidak membiarkan Alexander pergi darinya. Dia terus memeluk pria itu sampai ia tertidur.
Alexander membaringkan Alice dan menarik selimut menutupi tubuh wanita itu. Dia mengusap wajah wanita itu dan mendaratkan kecupan singkat di keningnya.
"Tenang sayang!! Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu." Ucapnya.
Alexander beranjak keluar dari kamar Alice dan menemui Aaron. "Bagaimana?" Tanya Alexander
"Saya sudah menyelidikinya. Seperti nya mereka anak Buah Tuan Sean."
"Sean!!" Geram Alexander. Dia mengepalkan kedua tangannya.
"Kirimkan hadiah istimewa untuk nya sebagai balasan atas apa yang dia lakukan hari ini." Seru Alexander
"Baik tuan." Aaron pergi menjalankan perintah dari Alexander.
"Sean, kau salah mencari lawan. Aku tidak akan membiarkan mu menyakiti orang yang aku cintai. Dan akan aku pastikan kau akan mendapatkan balasan yang setimpal." Geram Alexander
Setelah kejadian itu, Alice menjadi pendiam. Dia akan ketakutan jika mendengar suara yang keras. Sepertinya Alice mengalami trauma. Untuk itu, Alexander memanggil dokter psikiater untuk Alice.
"Nona Alice mengalami syok berat. Dia akan ketakutan jika melihat atau mendengar sesuatu yang mengingatkannya pada peristiwa yang membuatnya takut. Tapi ini belum terlambat. Dan nona Alice masih bisa di sembuhkan dengan melakukan terapi." Seru dokter Bahri
"Lakukan yang terbaik untuk nya. Aku ingin dia seperti sedia kala."
"Baik tuan. Saya akan berusaha semaksimal mungkin."
Jika Alice tengah menjalani terapi, di mansion Sean, Sam sudah terlihat membaik. Dia sudah melakukan aktivitas seperti biasa dengan berlatih mengasah kemampuannya.
Dia ingin menjadi lebih kuat mengingat Alexander yang begitu kuat. Berbagai cara akan dia lakukan untuk menyelamatkan Alice dan membalas perbuatan Alexander padanya.
"Cukup Sam!! Kau baru saja sembuh. Jangan terlalu memaksakan diri seperti itu." Cegah Sean
"Maaf tuan. Aku sangat kesal saat pria itu memperlakukan ku seperti binatang. Bahkan dia tega pada Alice. Aku sangat ingin membalas pria gila itu." Geram Sam
"Aku tahu perasaanmu, Sam. Tapi.....
Ucapan Sean tertahan saat Ghani menemuinya dengan terburu-buru.
"Tuan!! Tuan Sean!!! Ini gawat." Seru Ghani
"Ada apa? Kenapa kau panik seperti itu?"
"Gudang senjata kita habis di lalap api, Tuan."
"APA? APA KAU BERCANDA?" Pekik Sean
"Tidak Tuan. Dan semua itu adalah perbuatan tuan Alexander." Ghani mengeluarkan iPad nya dan memperlihatkan rekaman yang dikirim oleh Alexander.
"Hai Sean. Apa kabar? Apa kau menyukai hadiah dari ku?" Seru Alexander
"Ini baru permulaan Sean. Jika kau berani mengusikku, aku pastikan kau akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari ini."
"Brengsek!!" Teriak Sean. Dadanya kembang kempis menahan amarahnya. Ini sudah keterlaluan. Gudang yang di hancurkan Alexander adalah gedung senjata terbesar miliknya. Dan otomatis dia rugi miliaran rupiah.
"Tuan!!" Panggil Sam
Sean hanya melirik sekilas dan bergegas pergi di ikuti Ghani yang berjalan di belakangnya. Ini hal penting dan dia tidak ingin Sam mengetahuinya jika dia baru saja menyerang Alexander dengan menjadikan wanita itu sebagai targetnya.
Tapi siapa sangka, anak buahnya begitu mudah di kalahkan oleh Alexander yang hanya dengan Aaron saat itu. Bahkan dia harus kehilangan mobil dan juga anak buah terhebatnya.
Sial!! Ini benar-benar sial untuk nya. Sepertinya dia terlalu meremehkan Alexander. Pria itu masih saja hebat seperti dulu.
"Aku akan membalasmu, Alexander." Geram Sean.
...****************...
Beberapa hari melakukan terapi, membuat keadaan Alice semakin membaik. Perlahan dia keluar dari rasa takutnya melihat api, tembakan dan darah. Hal itu di karenakan, setelah memberinya sugesti, Alexander mengajak Alice ke arena tembak dan mengajak Alice bersenang-senang di sana.
Awalnya, Alice takut. Tapi lama kelamaan dia menyukai olahraga itu. Bahkan setiap hari, Alice mengajak Alexander untuk berlatih menembak.
Dan yang terpenting adalah rasa nyaman yang Alice rasakan pada Alexander.
Setiap melakukan terapi, Alexander selalu menemaninya. Saat dia berteriak ketakutan, Alexander selalu memeluknya dan menenangkan dirinya. Hal itu selalu pria itu lakukan sampai-sampai Alice terbiasa dengan pelukan Alexander.
Rasanya Alice ingin selalu berada di samping pria itu. Apakah benih-benih cinta telah tumbuh di hatinya?
Entahlah. Alice sendiri takut untuk mengartikan dari rasa nyaman yang ia rasakan.
Seperti saat ini. Alexander sedang mengajari Alice menembak papan target. Posisi keduanya sangat dekat. Alexander yang berdiri di belakangnya mengarahkan tangan Alice yang memegang pistol dan mengajarkan cara menembak agar tepat sasaran.
Alice dapat merasakan hembusan nafas beraroma mint milik pria itu.
"Sekarang tembak!!"
Dor
Alice melepas tembakan sesuai arahan Alexander.
"Lumayan." Seru Alexander
"Ck.. kenapa selalu saja meleset? Padahal aku kan bermain setiap hari."Gerutu Alice
"Kau hanya perlu mengasah kemampuanmu, sayang." Ucap Alexander
"Dan kau selalu mengatakan hal yang sama setiap tembakkan ku meleset." Ucapan Alice membuat Alexander tertawa. Dia membawa Alice untuk masuk ke mansion karena ada hal penting yang ingin dia katakan.
"Ada apa?" Tanya Alice
"Besok aku harus melakukan perjalanan bisnis ke luar kota." Seru Alexander
"Perjalanan bisnis?" Tanya Alice memastikan dan di jawab anggukan oleh Alexander
"Berapa hari?" Tanya Alice
"Tidak lama. Mungkin lima hari."
Alice terdiam. Dia sangat ingin meminta Alexander untuk tidak pergi. Tapi dia tidak mempunyai alasan yang tepat. Lagipula untuk apa dia menghalanginya?
"Alice? Kenapa kau diam?" Tanya Alexander
"A_apa? Siapa yang diam? Jika kau ingin pergi ya pergi saja, kenapa harus bilang padaku?" Gerutu Alice.
Alexander hanya tersenyum. Awalnya dia berfikir jika Alice akan menahannya karena dia yakin jika wanita itu sudah mulai menyukainya. Tapi ternyata dia salah.
"Baiklah. Aku akan berangkat besok dengan Laura."
"What? Laura?" Pekik Alice
"Iya, kenapa?"
"Aaron?"
"Dia akan menjagamu saat aku tidak ada. Jujur, kejadian waktu itu membuatku takut. Aku akan tenang jika Aaron berada di samping mu. Jadi....
"Kau menyebalkan Lex." Alice menghentakkan kedua kakinya dan pergi begitu saja. Membuat Alexander merasa bingung.
"Ada apa dengannya?" Gumam Alexander
Keesokan harinya, Alexander sudah siap untuk berangkat. Dia menunggu Alice di meja makan sekaligus ingin berpamitan dengan wanita itu. Tapi sedari tadi, Alice belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal biasanya Alice tidak pernah terlambat.
"Apa dia belum bangun?" Alexander melihat jam tangannya. Sebentar lagi dia harus berangkat tapi wanita itu belum turun juga.
Sementara itu di kamar, Alice terlihat mondar-mandir mencari cara untuk menahan agar Alexander tidak pergi. Apalagi pria itu pergi berdua dengan Laura. Dan itu sangat mengganggu pikirannya. Sampai-sampai dia tidak bisa tidur.
"Ada apa dengan ku? Kenapa aku malah ingin dia tidak pergi? Biar saja dia pergi." Gumamnya bermonolog
"Tapi dia pergi dengan Laura." Alice menghentakkan kedua kalinya kesal.
"Alice!!" Alexander membuka pintu kamar Alice secara tiba-tiba.
"Alex!! Kenapa kau kemari? Bukankah kau mau pergi?" Ketus Alice
"Sebenarnya ada apa denganmu? Aku perhatikan dari kemarin kau ketus terus padaku."
"Cih...
Alexander mendekat dan memeluk pinggang Alice. "Aku menunggumu di ruang makan karena ingin sarapan denganmu. Tapi sepertinya kau sibuk. Jadi aku akan langsung berangkat saja."
"Secepat itu?"
"Apa?" Tanya Alexander bingung
"Ma_maksudku ya sudah sana." Usir Alice
"Baiklah." Alexander mencium kening Alice. "Jaga dirimu baik-baik." Setelah mengatakan hal itu, Alexander keluar dari kamar Alice. Dia harus segera berangkat karena dia sudah terlambat.
"Pergi ya pergi. Kenapa harus pamit segala? Dasar menyebalkan." Gerutu Alice
Beberapa jam setelah kepergian Alexander, Alice tidak melakukan apapun. Dia hanya berguling kesana kemari di tempat tidur. Pikirannya melayang membayangkan Alexander yang berduaan denga Laura. Apalagi mereka hanya pergi berdua saja di temani asisten Laura dan sopir dan tinggal di hotel yang sama.
Hal itu membuat perasaan Alice tidak menentu. Apakah dia cemburu? Mungkin. Tapi Alice tidak mau mengakuinya.
"Mereka sedang apa ya? Seharusnya Alex sudah sampai dari tadi kan. Tapi kenapa dia tidak menghubungi ku?" Alice mengecek ponselnya berkali-kali. Tapi tidak ada telepon ataupun pesan dari Alexander
"Apa guna nya dia memberiku ponsel yang hanya ada nomornya jika dia tidak menghubungi ku? Dasar Alex menyebalkan!!" Teriak Alice.
Hal itu terjadi sampai keesokan harinya. Lagi-lagi dia tidak bisa tidur karena memikirkan Alexander. Bahkan sekalipun pria itu tidak mengiriminya pesan.
"Dia bilang, dia mencintai ku. Tapi dia tidak menghubungiku. Pasti sekarang mereka sedang bersenang-senang." Sungut Alice
Dan benar saja, beberapa saat kemudian ponsel Alice bergetar. Dia buru-buru membuka nya dan....
Deg
"Alexander!!" Pekik Alice
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
Alice mulai cemburu tu
2024-10-15
1
Yunerty Blessa
mahu nya Alice diajak juga....tapi Alex tidak peka dengan perubahan Alice
2024-10-15
1
Yunerty Blessa
padan muka kau Sean 😏
2024-10-15
1