Pagi hari di Italia.
Rebecca dan managernya masih berdiri menunggu di tempat pengambilan koper. Dia sudah sampai setengah jam yang lalu. Setelah mendapatkan kopernya ketika keluar dan menuju ke tempat imigrasi.
Selesai mendapatkan cap dari imigrasi, Rebecca keluar untuk menemui Edward yang sudah menunggu di luar bandara. Etika berjalan dengan menarik kopernya. Setelah sampai di luar, Rebecca menoleh ke sekitar untuk mencari Edward.
Tak lama kemudian seorang pria berpakaian rapi berjalan menghampiri dua wanita yang sedang berdiri menunggu.
"Selamat datang di Italia Nona Rebecca," ucap Edward menyambut Rebecca.
"Selamat pagi Tuan Edward senang sekali bertemu dengan anda di pagi hari ini," sahut Rebecca menyapa.
"Mari saya antar ke rumah yang sudah saya persiapkan untuk Nona. Pasti anda berdua sangat lelah sekali dengan perjalanan yang panjang."
"Baiklah saya akan mengikuti anda bahwa Tuan Edward. Terima kasih atas sambutan baiknya," ucap Rebecca.
Setelah itu, Rebecca dan manajernya masuk ke mobil Edward. Lalu mobil itu melaju ke rumah yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di rumah.
Mobil yang dikendarai oleh Edward masuk ke dalam halaman yang cukup luas. Rumah besar bercat putih itu terlihat mewah untuk ditempati oleh seorang model yang baru saja dikontrak.
Rebecca sedikit kagum dengan rumah yang telah dipersiapkan oleh R&M group. "Emm, maaf tuan tidak kah rumah ini terlalu besar untuk saya, dan sepertinya juga terlalu mewah," ucap Rebecca merasa tidak enak.
"Tidak Nona, rumah ini sudah dipersiapkan oleh Tuan kami khusus untuk Nona. Kalau begitu mari saya antar ke dalam," ucap Edward mempersilahkan.
Rebecca dan Elley turun dari mobil dan mengambil kopernya di bagasi belakang. Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah mengikuti Edward dari belakang.
Setibanya di dalam, Rebecca cukup takjub melihat interior rumah yang serba mewah. "Wow, ini lebih dari mewah tuan saya jadi tidak enak menerimanya," seru Rebecca canggung.
"Tidak apa-apa, Nona. Kalau masih kurang bagaimana anda bisa bilang sama saya."
"No, no! Terima kasih sudah sangat cukup untuk saya. Sampaikan salam terima kasih sayang untuk bos anda Tuan Edward," ucap Rebecca ramah.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, Nona. Kalau membutuhkan apa-apa tinggal telepon saya. Permisi."
"Baik Tuan, hati-hati di jalan."
Setelah itu Edward pergi dari rumah itu. Dia akan kembali ke kantor untuk mengurus meeting pagi yang ditugaskan oleh Reigner.
Di bandara.
"Di mana lagi anak itu? Bukankah kemarin aku sudah bilang untuk tidak telat menjemput! Sudah setengah jam di sini tapi belum muncul juga," gerutu seorang wanita paruh baya yang berdiri dengan kesal.
Tak lama kemudian terdengar suara memanggilnya dari belakang, "Mom, sorry terlambat sedikit."
Wanita itu adalah Teresa Anverton ibu dari Reigner. "Dasar anak kurang ajar. Mom kan sudah beritahu kalau jangan sampai telat. Kamu tahu Mom sudah setengah jam berdiri di sini hanya untuk menunggumu," ucap Teresa dengan sangat kesal.
"Oke, oke. Rei mengaku salah, sekarang ayo kita cepat pulang Mom. Hari ini ada rapat yang sangat penting!"
"Cih, siapa yang peduli dengan rapat mu," sahut Teresa dengan nada marah. Setelah itu mobil Reigner melaju untuk mengantarkan ibunya pulang ke rumah.
Satu jam kemudian.
"Nona muda bangun, pesawat kita sudah mendarat, Nona!" ucap Paulina membangunkan Evelyn yang masih tertidur.
Salah satu sifat jelek Evelyn adalah malas bangun. Butuh tenaga ekstra sabar untuk membangunkan gadis kec yang cerewet itu.
"Sudahlah Nek, tinggal saja kalau si jelek itu tidak mau bangun," sahut Excel dengan sengit.
Mendengar suara sang kakak yang sangat nyaring membuat Evelyn menggeliatkan badan. "Emmm, Daddy im coming," gumam Evelyn pelan.
Evelyn membuka matanya dengan perlahan. Dia melihat Paulina yang sedang duduk di sampingnya. "Nenek, ayo turun. Nanti bisa terlambat aku," ucap gadis kecil itu dengan langkah sempoyongan.
"Kakak wait! Jangan tinggal aku," seru Evelyn dengan suara malas.
Excel pun tak menghiraukan panggilan adiknya. Dia sedang memikirkan rencana untuk kabur dari pengasuhnya. Sebenarnya ada rasa tidak tega, Excel merasa kasihan karena kondisi Abrein dan Paulina yang sudah tua.
Kini mereka berada di tempat pengambilan koper. " Tuan dan Nona tunggu disini jangan kemana-mana ya! Kakek sama Nenek mau antri mengambil koper di sana," ucap Paman Abrein pada kedua anak asuhnya.
"Baik Kakek," jawab Rebecca dengan manis. Setelah itu, Paman Abrein pergi untuk membantu Paulina mengambil koper.
"Kakak, ayo segera pergi dari sini," ucap Evelyn membujuk sang Kakak.
"No, Evelyn! Nanti Kakek dan Nenek bisa bingung mencari kita! Kamu tidak melihat kalau mereka sudah tua."
Jawaban Excel membuat kaget Evelyn terkejut, dengan cepat muka imut gadis kecil itu berubah menjadi murung. Dia merasa kalau Excel sedang mempermainkannya.
"Oke Fine! Aku akan pergi sendiri, aku juga tidak butuh bantuan Kakak. Lagi, aku bisa kok mencari alamat itu sendiri." Evelyn marah kepada Kakaknya. Dia pergi setelah Excel menolak ajakannya.
Melihat adiknya marah, membuat Excel menjadi bingung. Dia tidak bisa membiarkan Evelyn berjalan sendirian. Excel menepuk jidatnya dan berteriak memanggil adiknya yang sudah berlari jauh. "Wait Evelyn, jangan pergi sendirian. Tunggu Kakak!"
Evelyn terus berlari tak menghiraukan Kakaknya lagi. Dia sudah sangat kecewa dengan sikap sang Kakak. Kaki kecil itu terus berlari hingga tak sengaja dia terpeleset lalu jatuh tersungkur di lantai.
"Awww! Sssss, Mommy sakit!" Evelyn jatuh dan sikunya lecet.
Melihat adiknya terjatuh membuat Excel semakin panik. Dia berlari dengan kencang untuk menghampiri Evelyn.
"Evelyn kamu tidak apa-apa?"
"Apa peduli mu? Sana pergi! Aku bisa pergi sendiri, aku tidak membutuhkan bantuanmu! Sana pergi!" Evelyn mengusir Kakaknya dengan mata berkaca-kaca. Dia ingin menangis karena hatinya yang sangat kesal.
"Maafkan Kakak, Evelyn. Bukan maksud Kakak seperti itu. Hanya saja ...."
"What? Kalau Kakak tidak mau ya sudah, aku tidak akan memaksa lagi. Sana pergi!"
Akhirnya Excel mengalah, dia terpaksa menuruti keinginan adiknya itu. Excel pun membantu Evelyn untuk berdiri. Setelah itu mereka berjalan dengan bergandengan tangan.
Di tempat lain, Paman Abrein dan Paulina sedang kebingungan mencari anak asuhnya yang tidak ada ditempat. Tentu saja mereka sangat panik.
"Bagaimana ini, kenapa mereka cepat sekali menghilang?" ucap Paulina dengan gugup dan sangat panik.
"Kita telepon Nona Rebecca dulu, Lina," sahut Paman Abrein.
Tanpa menunggu lama, Paulina menelepon Rebecca. Namun lama sekali tak ada jawaban, sehingga membuatnya semakin khawatir.
"Bagaimana ini? Nona belum mengangkat telepon kita. Aku khawatir kalau mereka tersesat dan ada orang jahat."
"Sudah jangan berpikiran yang aneh-aneh. Sekarang coba hubungi lagi Nona Rebecca," sahut Abrein tak kalah gugup.
Sementara itu, Excel dan Evelyn sedang berdiri untuk mencari taksi. Mereka nekat pergi dengan alamat yang dia miliki.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
💕Leyka Gallardiev 💕
harus nya jangan main pergi gitu aja dong kembar kan paman abien sama bibi Paula jadi kebingungan deh tuh
2023-02-07
3
Yuyun Yuningsih
lanjut up lg thor...mulai seru nih petualangan c kembar di mulai lagi..lagi...lagi💪💪
2023-01-22
0
Farfadh
lanjutkan thor. aku kasih kopi biar ga ngantuk. tetap semangat🥰
2023-01-22
2