BRSM 5

"Apa Nona ingin membeli ice cream di tempat biasa?" tanya Paman Abrein pada Evelyn.

"Ya, Kakek. Cepat sedikit nanti ice cream varian kesukaanku habis," rengek Evelyn dengan nada khawatir.

"Baik, Nona muda," jawab sang Sopir.

Jarak pusat kota dengan apartemen tak jauh. Hanya dengan lima belas menit saja sudah sampai di sana. Paman Abrein memarkir mobilnya di park area. Setelah itu dia turun dan menggandeng tangan kecil anak majikannya itu.

"Ayo Nona, jangan sampai berjalan sendiri," ucap Paman Abrein.

Evelyn dan sopirnya memasuki mall terbesar di California. Paman Abrein langsung menuju ke shop Big Sweet Ice Cream. Mereka harus mengantri untuk mendapatkan ice cream yang menjadi idola di saat musim panas berlangsung.

Kebetulan tempat ice cream itu sangatlah ramai. Harus mengantri dulu untuk mendapatkan sebuah ice cream. "Nona, tunggu disini dulu ya. Kakek biar antri dulu. Jangan kemana-mana!" ucap Paman Abrein pada Evelyn.

"Ya Kakek, Evelyn akan duduk manis di sini," jawab Evelyn.

Setelah itu, Paman Abrein mengantri untuk mendapatkan ice cream. Lima belas menit kemudian, sang sopir mendapatkan ice cream yang disukai oleh Evelyn, "Ini Nona, cepat makan ya! Nanti lama-lama bisa meleleh."

Evelyn menerima ice cream itu dan langsung memakannya pelan. "Hem, ini terlalu enak Kek. Boleh, minta yang rasa itu Kek. Cepat Kakek antri lagi nanti ada banyak orang," seru Evelyn sambil belepotan.

"Ba-baik Nona!" Paman Abrein pun kembali antri karena anak asuhnya itu meminta ice cream lagi.

Gadis kecil imut itu menikmati ice creamnya dengan semangat. Lalu, mata kecilnya melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Evelyn turun dari kursi dan berjalan sendiri mengikuti sesuatu tersebut.

Paman Abrein tidak mengetahui kalau anak asuhnya sedang pergi sendiri. Dia terlalu fokus dalam antrian. Hingga sepuluh menit kemudian, Paman Abrein kembali dan mendapati anak asuhnya telah menghilang.

"Nona ini ice cream ....! Nona, Nona muda kamu dimana? Gawat, bagaimana kalau ada seorang penculik? Aku harus lapor ke bagian informasi." Paman Abrein panik ketika tak mendapati anak asuhnya. Dia langsung berlari ke bagian informasi untuk mencari pertolongan.

"Kakek, Kakek dimana? Kakek," teriak Evelyn mencari Paman Abrein.

Evelyn berjalan mondar-mandir setelah tidak tahu arah kembali ke tempat ice cream tadi. Dia terus berputar-putar di tempat yang cukup ramai.

"Kakek, Kakek! Huh, harus bagaimana ini? Pasti Mommy nanti marah sama aku!"

Di saat Evelyn berdiri tiba-tiba dia menabrak seseorang, "Awww! Opps! Sorry," seru Evelyn, dia menabrak seseorang dan tak sengaja mengotori sepatunya dengan ice cream yang dia bawa.

Evelyn mendongakkan kepalanya, dia melihat sepasang pria dan wanita sedang melihatnya. "Sorry, aku tidak sengaja," ucap Evelyn meminta maaf.

"Hei, anak kecil. Kamu itu tidak tahu sopan santun ya. Lihat sepatu pacar aku kotor. Itu sepatu mahal tahu, orang tuamu pasti tidak sanggup menggantinya," bentak Caroline dengan suara kasar.

"Sorry, uncle. Aku tidak sengaja!" ucap Evelyn dengan kepala menunduk.

Pria itu hanya diam saja, ia tak menanggapi permintaan maaf Evelyn. Justru dia mengamati wajah Evelyn dengan seksama.

"Sayang, ayo kita pergi. Aku akan membelikan mu sepatu baru," ucap Caroline dengan bergelayut mesra di lengan pria itu.

"Sana pergilah sendiri. Bukankah dari tadi aku sudah menyuruhmu pergi Caroline?" usir Pria itu dengan nada ketus.

Pria itu berjongkok melihat Evelyn yang sedang bersedih, "Hei, Cantik tidak usah bersedih. Uncle tidak marah sama kamu. Sudah ya tidak apa-apa."

Evelyn menegakkan kepalanya melihat wajah pria itu, "Really, Uncle tidak marah sama aku? Gara-gara aku sepatu Uncle jadi kotor."

"Tidak apa-apa! Kamu juga sudah minta maaf sama Uncle. Jadi sudah sewajarnya Uncle maafin kamu," jawab pria itu dengan ramah.

"Terima kasih Uncle baik," sahut Evelyn dengan senyum manisnya.

Caroline marah karena dia diacuhkan oleh pria itu, "Sayang ayo kita pergi dari sini. Kamu ngapain di sini? Buang-buang waktu saja."

Pria itu melirik ke arah Caroline, "Kalau kamu ingin pergi ya pergi saja. Sana pergi, tidak usah ikuti aku."

"Bibi, kamu tidak dengar apa kata Uncle. Bibi disuruh pergi sama Uncle. My be, Bibi tuli ya!" celetuk Evelyn membuat Caroline tambah kesal.

"Kamu anak kecil tidak punya sopan santun ya. Tidak punya orang tua ya?" sahut Caroline kasar hingga membuat Evelyn tambah marah.

"Pantas saja Uncle mengacuhkan Bibi. Sikap Bibi seperti nenek sihir," seru Evelyn membuat Caroline semakin marah dan ingin memukulnya.

"Sini kamu anak nakal. Kamu harus di beri pelajaran. Sini kamu." Caroline menyiapkan tangannya untuk memukul Evelyn. Namun, Evelyn dengan cepat sembunyi di balik punggung pria itu.

"Caroline stop! Sekarang kamu pergi, kalau tidak mau jangan pernah muncul lagi dihadapanku." Pria itu membentak Caroline dan memaksanya untuk pergi.

"Shiiit! Awas kamu anak nakal!"

"Bye, bye Bibi galak!" Evelyn mengejek Caroline yang melangkah pergi dari lokasi itu.

Pria itu tersenyum melihat tingkah jail Evelyn. Lalu, ia mendekati gadis kecil itu untuk menanyakan beberapa pertanyaan.

"Hei, cantik siapa namamu?"

Evelyn menjawab, "jangan panggil aku cantik Uncle?"

"Why? Kamu sangat cantik Nak!" sahut pria itu heran.

"No, aku tidak suka dikatakan cantik Uncle. Tapi aku paling suka dipanggil manis," jawab Evelyn dengan wajah yang imut.

"Oke, Uncle ralat pertanyaan yang tadi. Namamu siapa manis?"

"Perkenalkan namaku Evelyn, Uncle. Umurku tujuh tahun."

"Hem, namamu bagus dan cantik. Cocok dengan wajah yang imut ini."

Evelyn pun mendekat ke arah telinga pria itu. Dia membisikkan sesuatu padanya. "Uncle, aku mau tanya. Apa Bibi tadi itu istri Uncle?" bisik Evelyn pelan. Sikap Evelyn membuat pria itu ingin tertawa.

"Mengapa kamu tanyakan itu manis? Kamu sepertinya sangat penasaran?"

Evelyn menggelengkan kepalanya. Dia menjawab dengan asal, "No, aku tidak penasaran. Tapi, cepat jawablah Uncle! Aku tidak suka menunggu."

Melihat wajah cemberut Evelyn membuat pria itu semakin gemas, "Oke! Uncle jawab. Bibi tadi bukan istri Uncle. Hanya teman kerja."

"Huh, syukurlah!" des@h Evelyn dengan menghembuskan nafas lega.

Pria itu mengerutkan kening. Dia semakin heran dan penasaran dengan gadis kecil itu.

"Kenapa jika Bibi itu adalah istri Uncle? Sepertinya kamu tidak senang dengannya?"

"Yap, aku tidak suka dengannya Uncle. Kalau dia istri Uncle, maka hari-hari Uncle akan sangat menyedihkan. Lihat mukanya, seperti nenek sihir dalam film yang aku tonton. Mengerikan!"

Pria itu tergelak melihat ekspresi lucu Evelyn, "Hahaha, kamu membuat Uncle ingin tertawa manis. Kamu lucu sekali Nak. Dimana orang tuamu, Hem?" tanya pria itu.

"Aku tersesat Uncle. Mommy ku di rumah, aku kesini tadi beli ice cream sama Kakek. Terus aku lihat sesuatu yang indah tadi. Aku turun lalu mengikutinya. Tapi, setelah aku berbalik, jalannya hilang Uncle."

"Hem, lain kali jangan gitu ya. Sangat berbahaya jika ada orang jahat. Untung saja kamu bertemu dengan Uncle."

Tiba-tiba ada suara pencarian anak hilang yang diinformasikan oleh bagian keamanan. Pria itu pun mendengar informasi itu dan segera mengajak Evelyn kembali, "Kakek sedang mencarimu. Uncle temani ke sana ya!"

"Boleh, tapi aku minta gendong Uncle! Boleh ya," ucap Evelyn dengan mengedipkan kedua matanya.

Pria itu tersenyum dan menerima permintaan gadis kecil itu. "Baiklah, ini spesial buatmu karena wajahmu yang sangat manis," jawab Pria itu dengan merengkuh Evelyn dalam gendongannya.

"Rumah Uncle dimana?" tanya Evelyn dengan memainkan kancing kemeja pria itu.

"Uncle berasal dari Italia, Nak. Uncle kesini karena urusan bisnis."

"Emm, andaikan Uncle tinggal disini ingin sekali aku memperkenalkan Uncle dengan Mommy."

"Memang Daddy mu kemana?" tanya pria itu dan membuat Evelyn langsung diam.

"Kenapa? Ada yang salah dengan pertanyaan Uncle?"

Evelyn menggelengkan kepalanya, "Aku tidak punya Daddy, Uncle."

"Sorry, baby! Uncle tidak tahu!"

Dari kejauhan, Paman Abrein melihat anak asuhnya kembali. Dia langsung berlari menghampiri Evelyn.

"Nona, syukurlah Nona muda selamat! Terima kasih Tuan, sudah berbaik hati mengantar anak asuh saya! Sekali lagi saya ucapkan terima kasih," ucap Paman Abrein kepada pria itu.

"Sama-sama Paman. Senang sekali bisa bertemu dengan gadis kecil yang manis dan pintar ini," seru pria itu dengan mencubit pelan pipi gembul Evelyn.

"Ya sudah, kamu pulang ke rumah. Uncle pergi dulu. Bye manis!"

"Tunggu Uncle, sini dulu," teriak Evelyn pada pria itu.

"Ada apa?" Pria itu berjongkok di depan Evelyn.

"Emuach! Terima kasih sudah menolong ku Uncle. Senang bertemu dengan Uncle!"

Pria itu tertegun sesaat. Ada perasaan aneh yang mengalir dalam hatinya ketika di kecup oleh Evelyn.

"Iya Uncle juga senang bertemu denganmu. Uncle pergi ya. Bye!" Pria itu melambaikan tangannya dan menghilang di balik kerumunan.

"Nona, ayo kita pulang. Nanti, Nona bisa dimarahi sama Mommy!" ucap Paman Abrein, dia membuyarkan lamunan Evelyn. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis kecil itu.

Terpopuler

Comments

Auliya

Auliya

Pertemuan yang tidak disengaja, ah aku harap selanjutnya tidak seperti tebakanku.😁

Semangat Thor, moga sehat selalu.

2023-02-12

0

SENJA ROMANCE

SENJA ROMANCE

Uncle dari Italia nanti bekerja sama dengan ibu Evelyn kemudian bertemu kembali.🤫🤫🤫

2023-02-08

0

💕Leyka Gallardiev 💕

💕Leyka Gallardiev 💕

ya ampun Evelin udah ketemu Deddy nya pake di cium lagi Deddy nya

2023-02-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!