BRSM 10

Siang hari di California Internasional School.

Di dalam kelas tampak Evelyn sedang menulis dengan sangat serius. Dia mengerjakan setiap soal dengan teliti. Evelyn itu pintar, akan tetapi sifatnya yang pemalas dan suka berbuat sesuka hati itulah yang menghambat semuanya.

Detik-detik waktu habis sudah di umumkan di depan kelas. Evelyn segera menyelesaikan karena tinggal satu soal lagi, "Done, akhirnya aku bisa pulang cepat," ucap Evelyn girang. Dia maju ke depan untuk memberikan soal ulangan pada guru.

"Good Evelyn, kamu boleh keluar," sahut Guru ujian.

"Terima kasih, Miss!"

Setelah itu, Evelyn keluar dari dalam kelas untuk menghampiri sang Kakak yang pasti telah menunggunya. Evelyn berjalan melenggang dengan rasa bangga di hatinya. Akhirnya dia melihat bayangan sang Kakak dari kejauhan.

Evelyn berlari sembari memanggilnya,"Kak Excel," teriak Evelyn.

Excel diam dengan wajah tak percaya, ternyata adiknya yang bandel itu bisa keluar ujian dengan cepat. Itu artinya hari ini dia harus mau menuruti permintaan gadis kecil itu

"Kak Excel, bagaimana? Aku hebat bukan?" seru Evelyn dengan nada sombongnya.

"Oke, kamu menang hari ini. Mau kemana cepat katakan, karena Kakak tidak mempunyai banyak waktu bermain dengan gadis kecil jelek sepertimu," sahut Excel dengan nada kesal.

Evelyn tersenyum geli melihat kekesalan sang Kakak, "Aku kan saudara kembar Kakak. Jadi kalau aku jelek, maka Kakak juga jelek. Ayo Kakak! Cepat nanti kita terlambat dan tidak kebagian rasa varian kesukaanku."

Tangan kecil Evelyn terus menggandeng tangan sang Kakak. Siang ini gadis itu mengajak kakaknya untuk membeli eskrim. Awalnya, Excel menolak tapi karena Evelyn terus membujuknya dia jadi luluh dan akhirnya mau.

Paman Abrein, telah menunggu di depan halaman sekolah. Dia tidak pulang dan secara khusus menunggu anak asuhnya itu pulang sekolah.

"Kakek, pergi beli eskrim ya!" ucap Evelyn dengan masuk ke dalam mobil.

"Baik Nona," jawab Paman Abrein sembari menutup pintu mobil.

Setelah itu mobil melaju dengan kecepatan sedang. Excel membaca buku ceritanya dan Evelyn sibuk bermain game. Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil sampai juga di mall. Paman Abrein keluar dan membukakan pintu mobil untuk kedua anak asuhnya.

Excel dan Evelyn keluar dan segera menggandeng tangan keriput Kakek Abrein. Evelyn harus bersikap manis agar terhindar dari bahaya amarah sang Ibu.

Di Ice Cream Sweet Shop.

Reigner sedang duduk di sebuah kursi sembari menikmati segelas eskrim di depannya. Dia sudah satu jam duduk sendiri di sana. Entah apa tujuannya, namun dalam hati dia tak bisa menghindari perasaan ingin bertemu dengan gadis kecil itu kembali.

Sampai dalam suapan terakhir, namun bayang-bayang gadis kecil itu belum muncul. Setelah itu, Reigner memutuskan untuk pergi dari tempat itu karena sudah terlalu lama menunggu.

Baru beberapa detik melangkah Evelyn dan Excel tiba di tempat eskrim. "Kakek cepat antri, biar aku dan Kakak duduk disini!" seru Evelyn pada Paman Abrein.

Evelyn duduk di bekas kursi Reigner. Gadis kecil itu melihat bekas gelas eskrim milik orang lain. Evelyn melihat ke sekeliling, dia memperhatikan ke sekitar. Lalu matanya tertuju pada punggung pria dengan memakai jas berwarna hitam sedang berjalan dan masuk ke dalam lift.

"Uncle," gumam Evelyn pelan. Dia langsung turun dari kursi dan berlari mengejar Reigner yang sudah naik lift.

"Uncle, wait! Stop Uncle! Look me!" teriak Evelyn, sehingga membuat sang Kakak panik lalu ikut mengejarnya.

"Stop Evelyn! What's wrong to you?" ucap Excel dengan nada marah.

"Kak aku melihat Uncle itu. Dia naik kesana Kak. Kita harus kejar Uncle itu, Kak. Dia, Daddy kita!" jawab Evelyn dengan mata berkaca-kaca.

"Daddy? Kamu memanggilnya Daddy? Evelyn, come on! Jangan mengakui orang lain sebagai Daddy kita. Kalau Mommy sampai tahu, kamu pasti tahu sendiri kan apa yang akan terjadi?"

"Oke, kita kembali ke sana. Jangan buat masalah lagi Oke! Please kasihan Kakek Abrein, dia sudah sangat tua untuk mengatur anak bandel sepertimu."

Evelyn hanya bisa diam ketika ultimatum sang Kakak keluar. Dia berjalan dengan raut wajah sedih dan bibir mengerucut. Benar saja Kakek Abrein sudah panik dengan membawa du gelas eskrim di tangannya.

"Kakek, maaf tadi Excel mengantar Evelyn ke toilet," jelas Excel berbohong.

"Astaga, tuan muda. Kakek sudah panik sekali! Lain kali izin sama Kakek dulu ya. Ini eskrim kalian," ucap Paman Abrein dengan nada lembut.

"Iya Kakek. Maafkan kami." Excel langsung memakan eskrimnya. Namun, tidak untuk Evelyn. Dia masih sedih karena tidak bisa bertemu dengan Reigner. Sepertinya kontak batin diantara mereka sudah kuat secara tidak langsung.

"Aku yakin kalau Uncle itu adalah Daddy. Aku harus cepat membujuk Mommy agar mau pergi ke Italia. Aku ingin mencari dan bertemu dengan Uncle itu." Evelyn terus bermonolog dalam hati hingga dia tak sadar sedari tadi sang Kakak tengah memperhatikannya.

Di Hotel.

Reigner telah sampai di hotel. Dia merebahkan tubuh dan membuang pandangannya ke langit-langit kamar. Setiap melamun, dia terus terbayang dengan senyuman gadis kecil itu yang tak lain adalah Evelyn.

"What? Siapa gadis kecil itu? sungguh sangat aneh sekali aku begitu memikirkannya. Ada rasa ingin bertemu kembali. Rasa ini seperti orang yang tengah jatuh cinta. Sangat menggangu mood ku."

Sejak pertemuan itu, Reigner sering sekali memikirkan tentang Evelyn. Sampai dia sengaja mewakilkan urusan pekerjaan dengan sang asisten untuk bertemu dengan klien.

Tak lama kemudian, handphone Reigner berbunyi. Panggilan dari Edward muncul di layar handphonenya. "Ya Edward, ada apa? Bagaimana hasilnya?" ucap Reigner mengangkat telepon."

[Maaf Tuan, klien masih meminta waktu untuk mengambil keputusan. Dia meminta sampai besok pagi untuk menyetujui persyaratan yang kita berikan] jelas Edward di seberang sana.

Reigner tersenyum sinis, baru kali ini dia menunggu persetujuan dari seorang klien. "Secantik apa dia, Edward? Beraninya menggantung ku seperti ini?"

[Maaf Tuan, tapi model yang anda pilih kali ini benar-benar cantik. Saya hampir terpikat sesaat dengan kecantikannya.] ucap Edward pada Reigner.

"Oke mari kita beri kesempatan itu padanya. Segera putuskan besok paling lambat jam 9 pagi, karena jam 10 kita harus segera di bandara untuk kembali ke Italia."

[Baik Tuan, akan saya lakukan dengan baik.] sahut Edward menutup teleponnya.

"Siall, aku dibuat penasaran oleh dua wanita. Satunya seorang model yang cantik dan satunya lagi seorang gadis kecil yang sangat manis. Rasa penasaran ini sama dengan kejadian 8 tahun yang lalu. Dimana aku belum bisa menemukan gadis misterius itu?"

Reigner masih terus berargumen dengan pikirannya. Dia benar-benar kacau hari ini. Semua itu hanya karena gagal bertemu dengan gadis kecil pemikat hati.

Terpopuler

Comments

Rama 'Rooney' Budiyanto

Rama 'Rooney' Budiyanto

bukannya Rebecca itu model, kenapa uncle belum pernah lihat Rebecca,,,???????????????

2023-08-05

0

SENJA ROMANCE

SENJA ROMANCE

uncle uncle, esklim atu ya lasa bayal, uncle aja yang bayal

2023-02-08

0

Joey Joey

Joey Joey

Merindukan anak

2023-01-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!