BRSM 12

Rebecca telah selesai berganti baju. Dia keluar dari ruang ganti, setelah itu menuju ke bawah untuk menemui Mario. Sesampainya di lantai bawah ternyata Mario sudah menunggunya. Rebecca berjalan ke arah Mario.

"Hai, sudah siap ayo kita jalan," ucap Mario dengan menggandeng tangan Rebecca.

Rebecca mencoba untuk melepaskan genggaman tangan itu. Namun, Mario menggenggamnya sangat erat. Semua karyawan kantor sudah tahu jika bos mereka menyukai modelnya sendiri.

Mobil sudah disiapkan di depan kantor. Rebecca masuk ke dalam dan diikuti oleh Mario. Setelah itu mobil berangkat menuju ke restoran. Di dalam mobil, Rebecca menyibukkan diri dengan bermain handphone. Hal itu membuat Mario kesal. Dia mengambil handphone itu dan menyembunyikannya di saku.

"Jangan bermain handphone ketika bersamaku, Sayang." Mario mengambil handphone Rebecca.

"Mario, apa-apaan kamu? Kembalikan padaku!" Rebecca mencoba mengambil akan tetapi, dengan cepat Mario mengunci tubuhnya. Mario mendekatkan wajahnya pada Rebecca.

"Rebecca, di perusahaanku. Aku lah yang paling berkuasa atas semua isinya baik itu karyawan atau hanya sekedar barang. Jadi, selama kamu masih bekerja dengan ku. Aku berhak atas dirimu. So, menurut lah! jadilah wanita yang lembut dihadapanku. Ingat Rebecca. Semua orang tahu kalau aku menyukaimu, dan kamu juga tahu kalau aku sudah menahan sesuatu sejak lama. Kamu tidak ingin kan, jika aku berbuat semakin nekat. Aku bisa melakukannya jika aku mau. Maka tentukan pilihanmu dan pikiran baik-baik."

Selesai bicara, Mario mengecup kening Rebecca dengan lembut. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat wanita yang disukainya itu ketakutan. Rebecca kembali duduk dan merapikan rambutnya yang berantakan. Setelah itu, dia mencoba tenang untuk membuat pria yang ada disampingnya itu tidak semakin nekat.

Rebecca menghela nafas panjang, dia ingin meminta kembali handphonenya,"Mario kembalikan handphone ku, please!"

"Tenang akan aku kembalikan nanti selesai makan siang. Bersikaplah dengan baik," jawab Mario tegas.

Kedua tangan Rebecca mencengkeram kuat dress-nya. Dia sangat ingin keluar dari situasinya saat ini. Tak lama kemudian, mobil Mario sampai juga di restoran mewah. Dia keluar dan menunggu Rebecca turun. Setelah itu, Mario menggandeng tangan Rebecca untuk masuk ke dalam.

Mario segera menuju ke tempat yang sudah dia pesan sebelumnya. Rebecca duduk dengan gaya anggun menambah kesan cantik dan elegan. Mario segera memesan makanan tanpa menawari wanita yang ada di depannya.

Rebecca hanya diam melihat semua yang dilakukan oleh bosnya itu. Dia tidak mau bicara sembarangan lagi. Melihat Rebecca diam membuat Mario semakin gemas. Dia sampai bingung, bagaimana cara untuk menaklukkan wanita pujaannya itu.

"Apakah pergi dengan ku begitu membosankan bagimu, Sayang?" tanya Mario memecah keheningan.

Rebecca tersenyum sinis, pertanyaan terhadap pertanyaan tak penting itu. "Tak perlu aku menjawabnya pun kamu sudah tahu jawabannya, Mario," sahut Rebecca dengan nada dingin.

"Semakin kamu galak, maka aku akan semakin suka, Baby," ucap Mario pada Rebecca. Lalu tak lama kemudian pelayan membawa makanan dan diletakkan di meja.

Pelayan itu menata makanan tepat di hadapan Rebecca dan juga Mario. Setelah itu Rebecca mengambil lauk dan juga salad. Mario mengiris stik yang ada di piringnya lalu menyuapi Rebecca dengan sepenuh hati.

"Cobalah steak ini, Sayang! Sepertinya sangat enak sekali," ucap Mario dengan menusuk potongan steak itu dengan garpu.

Rebecca menggeleng tidak mau menerima suapan dari Mario. Namun, dengan cepat Mario mengedipkan mata agar Rebecca mau menerima suapannya. Akhirnya dengan terpaksa Rebecca membuka mulutnya untuk menerima steak dari Mario.

Rebecca mengunyah steak itu dan menelannya dengan kasar. Mario memakan makanannya dengan tak henti menatap wajah cantik Rebecca.

"Sayang aku akan di California selama 3 hari. Lalu aku ingin selama 3 hari itu kamu selalu menemani aku dalam makan siang maupun makan malam. Kamu harus mau dan tidak boleh menolak. oke!"

Mata Rebecca melotot mendengar perintah yang ucapkan oleh Mario. Entah kenapa dia tidak bisa menolak ataupun mengatakan tidak kepada bosnya itu. Pernah sekali Rebecca menolak ajakan Mario. Resiko menolak ajakan itu adalah dengan sikap kasar Mario terhadap Rebecca yang disengaja. Jadi untuk menghindari hal itu dengan terpaksa Rebecca harus menjalaninya selama 3 hari kedepan.

Satu jam berlangsung makan siang pun selesai. Mario mengelap mulutnya dengan tisu dan segera mengambil handphone Rebecca dari saku jasnya, " Ini handphonemu, Sayang. Maaf harus menyitanya darimu."

Rebecca mengambil handphone itu, kemudian Mario membayar semua tagihan makanannya. Mario bersiap untuk pergi dari restoran, karena setelah ini dia akan menemui seorang klien di suatu acara. Sebelum pergi Mario berpesan sesuatu pada Rebecca.

"Sayang jangan lupa dengan apa yang aku ucapkan tadi, karena 3 hari kedepan aku sudah mengosongkan semua jadwalmu. Aku juga sudah bilang kepada Elley tentang hal ini, " ucap Mario.

"Terserah padamu Mario, kalaupun aku menolak itu sangat percuma. Kamu tidak akan melepaskanku. Padahal aku ingin sekali bisa lepas darimu," sahut Rebecca dengan sinis.

Mario tergelak dengan sangat keras,"Tentu saja tidak semudah itu kamu pergi dariku, Sayang. Selama kontrak itu masih, kamu tidak akan bisa pergi kemanapun."

" Jujur aku masih penasaran denganmu Rebecca. Aku tidak tahu apa yang sedang kamu rahasiakan dariku. Sepertinya kamu merahasiakan sesuatu yang sangat besar di dalam rumahmu itu. Pernah aku mengirim mata-mata tapi hasilnya nihil. Orang suruhanku itu tidak bisa masuk ke dalam rumahmu."

Rebecca memandang pria yang ada di depannya itu dengan tatapan tajam. Dia tak pernah menyangka jika Mario bisa berbuat senekat itu.

"Kita berpisah di sini, Sayang. Aku sudah menyiapkan sopir untukmu, dan sekarang sudah menunggu di depan. Besok akan aku beritahu ke mana kita pergi."

"Aku akan mengajakmu happy-happy besok. Jadi berpenampilan yang cantik. Oke! Aku pergi dulu, Baby," bisik Mario dengan mengecup kening Rebecca.

Rebecca ingin menangis rasanya. Dia benar-benar tidak bisa berbuat apapun. Sepanjang hari kedatangan Mario adalah sebuah ancaman untuknya. Bahkan dalam setahun ini dia menjalani pekerjaannya itu dengan hati yang tertekan.

Rebecca segera menelepon Elley sang manager. Dia ingin menyetujui kontrak dengan perusahaan R&M dari Italia.

"Elley tolong katakan dengan Tuan Edward kalau aku menyetujui kontrak itu. Katakan juga kalau aku siap berangkat kapanpun," ucap Rebecca pada Elley di kantornya.

[ Baik Nona saya akan segera menghubungi Tuan Edward agar kontrak itu segera diproses] jawab Elley dari seberang sana.

Setelah itu, Rebecca menutup sambungan teleponnya. Dia ingin segera pulang ke rumah karena kepalanya serasa ingin pecah memikirkan kondisinya saat ini. Dia pulang dengan menaiki taksi dan menolak sopir yang telah disiapkan oleh Mario.

Di Rumah.

Excel dan Evelyn masih menjalani perang dingin. Excel kesal dengan sang adik, karena mengetahui semua rahasianya. Evelyn yang bersikap masa bodoh dengan kekesalan sang kakak, hanya bisa tertawa senang dan bernyanyi sesuka hati di kamarnya.

" Evelyn, please keluar dari kamar. Kakak ingin belajar," seru Excel dari meja belajar.

"No, sebelum Kakak ceria kembali. Tahu tidak wajah Kakak yang seperti itu sangat jelek sekali," sahut Evelyn dan menambah kekesalan sang Kakak.

Excel menghela nafas panjang. Dia benar-benar kehabisan akal untuk mengusir adiknya dari kamar, "Evelyn come on, please! dengarkan Kakak ya. Keluar dari kamar ini sebentar saja. Evelynnya Kakak, yang manis dan imut.

"Oke fine! Aku akan keluar sebentar, Kakak. Tapi ingat, jika nanti malam Mommy sudah pulang. Kakak harus bicara langsung dan utarakan rencana aku untuk pergi ke Italia. Oke!

Demi mengambil hati sang adik, Excel memaksakan senyumnya, " Baiklah Evelyn yang cantik dan imut. Kakak akan bicara dengan Mommy setelah Mommy pulang nanti."

" Yes, I see. Aku keluar sekarang Kakakku yang tampan. Ingat rahasia Kakak tetap aman di tanganku," bisik Evelyn dengan nada menggoda.

Excel harus menahan kekesalannya demi ketenangan belajarnya. Meski dalam hatinya sangat ingin memukul Evelyn.

"Ya, tolong jaga rahasia Kakak itu dengan baik ya, Evelyn. Jangan kasih tahu pada sembarang orang, bahkan itu Mommy sekalipun."

"Yes, Kakak aku mengerti!"

Setelah itu, Evelyn keluar dari kamar dan menuju ke ruang televisi untuk menonton kartun kesukaannya.

Terpopuler

Comments

SENJA ROMANCE

SENJA ROMANCE

ehmmmmm @Citra Nindi nih share ke anak anak

2023-02-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!