BRSM 14

Di dalam kamar hotel Reigner sedang meminum segelas anggur merah. Pikirannya melayang jauh memikirkan tentang Evelyn. Dia merasa bersedih dan sedikit kecewa karena tidak berhasil menemuinya lagi.

Lamunannya terganggu di saat panggilan telepon dari Edward masuk ke di layar handphonenya. Reiner mengangkat panggilan telepon itu, " Hai, Edward ada apa?"

[ Saya hanya ingin memberikan informasi kepada Tuan, bahwa Nona Rebecca sudah menyetujui kontrak dengan kita.]

"Wah cepat sekali dia memikirkannya. Kalau begitu segera proses semua kontrak tertulis agar dia bisa cepat melakukan tugasnya," ucap Reigner pada Edward.

[ Baik Tuan akan saya laksanakan.]

Setelah itu Reigner menutup sambungan teleponnya dengan Edward. Reigner merebahkan tubuhnya di atas ranjang, perlahan dia memejamkan mata dan tertidur.

Keesokan harinya

Reigner sudah bersiap untuk ikut dengan Edward ke Ameera Fashion. Edward sudah menyiapkan kontrak tertulis, di mana kontrak tersebut harus ditandatangani oleh Rebecca, agar dia bisa bekerja sama dengan R&M Group.

"Bagaimana Edward ? apa semuanya sudah siap? setelah tanda tangan selesai nanti kita langsung pergi ke bandara," tanya Reigner dengan mengancingkan lengannya.

"Semuanya sudah siap Tuan," jawab Edward.

Setelah itu mereka berangkat ke kantor Ameera fashion untuk bertemu dengan Rebecca.

Di Tempat Lain.

" Mommy, Evelyn berangkat ke sekolah dulu ya!" seru Evelyn dengan mencium pipi Ibunya.

" Iya putri Mommy yang cantik hati-hati ya! Jangan nakal di sekolah!"

Tak hanya Evelyn yang berpamitan Excel juga ikut berpamitan pada Ibunya, " Excel berangkat dulu Mommy."

" Iya sayang hati-hati ya! jaga adik kamu."

Excel dan Evelyn pun melambaikan tangannya, "Bye Mommy. "

" Bye sayang!"

Setelah kedua anaknya berangkat sekolah, Rebecca langsung bersiap untuk pergi ke perusahaan. Dia ada pertemuan untuk tanda tangan kontrak bersama R&M group.

Satu jam berlalu, Rebecca telah siap untuk berangkat ke perusahaan. Dia selalu berpenampilan maksimal karena sebagai model dia harus tetap berpenampilan cantik. Namun, hati Rebecca diliputi rasa gelisah. Dia sedang khawatir dengan kehadiran Mario di kantor.

Dia pergi ke perusahaan dengan menaiki mobil. Jarak rumah dan perusahaan ditempuh dalam waktu setengah jam.ini Rebecca telah sampai di perusahaan. Dia memarkirkan mobil setelah itu masuk ke dalam.

Rebecca langsung menuju ke ruang pertemuan. Di dalam ruangan sudah ada Elley yang menunggunya. "Pagi Elley apakah kamu sudah mempersiapkan semuanya?" sapa Rebecca pada manajernya.

"Semua sudah saya siapkan Nona. Tinggal menunggu tuan Edward datang ke sini," jawab Elley sembari menata berkas di meja.

Setelah itu, Rebecca duduk di kursinya. Tak lama kemudian Edward pun datang dengan membawa beberapa dokumen. "Selamat pagi, nona Rebecca," sapa Edward dengan ramah.

"Selamat pagi, tuan Edward. Senang bisa bertemu anda kembali," balas Rebecca dengan tersenyum.

"Baiklah saya mulai sekarang saja karena Bos saya sudah menunggu di mobil."

Mendengar itu membuat Rebecca mengerutkan alisnya, "Maaf kenapa Bos anda tidak ikut ke dalam?"

"Beliau ada kesibukan sendiri sekarang, jadi semua diwakilkan kepada saya," jawab Edward dengan mengeluarkan beberapa file.

Setelah itu, Edward menjelaskan kontrak yang akan ditandatangani oleh Rebecca. Lalu, ketika semua sudah jelas Rebecca langsung menandatangani semua kertas itu.

"Oke, semuanya sudah beres. Kalau begitu saya permisi dulu Nona. Keberangkatan anda ke Italia akan segera saya proses. Semoga kerjasama kita berjalan lancar," ucap Edward bersalaman dengan Rebecca.

Tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk dan memberitahukan sesuatu pada Rebecca, "Permisi Nona, Tuan Mario sudah menunggu anda di bawah. Beliau menyuruh anda ke mobilnya sekarang."

Wajah Rebecca pucat seketika, jantungnya berdegup kencang karena gelisah.

"Ba-baik aku akan segera turun," jawab Rebecca gugup.

Elley sang manager pun heran dengan perubahan sikap partnernya itu, "Nona, are you okay?"

"Oh, tidak apa-apa," jawab Rebecca dengan senyum dipaksakan.

Edward yang belum keluar dari ruangan itu juga merasa aneh karena wajah Rebecca yang berubah pucat.

"Anda ingin ke bawah Nona? Kalau begitu kita keluar bersama saja," ucap Edward memecah keheningan.

"Iya Tuan Edward, mari kita keluar."

Setelah itu Rebecca dan Edward keluar dari ruangan itu. Meski jalan bersama tak membuat wajah Rebecca berubah. Dia tetap saja diam dan tak berbicara. Kini mereka sudah sampai di bawah. Edward mengucapkan salam perpisahan.

"Saya duluan Nona. Mobil saya berada disana," ucap Edward dengan menunjuk mobilnya.

Rebecca mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan Edward. Tak lama kemudian ada suara seseorang yang memanggilnya. "Nona, sebaiknya anda segera masuk ke mobil. Tuan sudah menunggu anda," seru asisten Mario.

Rebecca menoleh dan mengangguk. Setelah itu dia berjalan menuju ke mobil Mario yang sudah bersiap sejak tadi. Asisten itu pun membukakan pintu untuk Rebecca, kemudian dia masuk dan duduk dengan tenang.

Mario hanya diam tak menyapa. Dia meminta pada asistennya untuk segera berangkat, "Cepat jalan."

Mobil itu berjalan meninggalkan area kantor. Ameera Fashion hanya lah sekedar perusahaan kecil bagi Mario. Jadi kedatangan Mario hanya untuk melihat dan mengunjungi Rebecca.

Di depan perusahaan, Edward masih menatap kepergian Rebecca. Entah kenapa dia merasa sedikit aneh. Setelah itu Edward kembali ke mobilnya dan mendapati bosnya sedang bermain dengan laptopnya.

"Apa sudah beres semuanya, Edward?" tanya Reigner pada asistennya.

"Sudah Tuan, tinggal mengurus visa kunjungan dan juga izin tinggal," jawab Edward.

"Bagus segera urus biar cepat terlaksana. Siapa wanita tadi?"

"Oh, dialah Nona Rebecca yang saya maksud, Tuan."

Reigner menutup laptopnya dan melihat ke arah Edward, "Ya ternyata pilihanku tidak salah. Oke, segera jalan. Kita tidak boleh ketinggalan pesawat."

Setelah semuanya beres, Reigner kembali ke negaranya. Dia tidak mengetahui bahwa Rebecca adalah orang yang dia cari.

Di mobil lain.

Rebecca duduk dengan perasaan yang gelisah. Pikirannya tidak bisa tenang. Lalu dia memberanikan diri untuk berbicara pada pria yang ada di sampingnya itu," Kita mau pergi kemana?"

Mario terdiam dan memasukkan handphonenya di dalam saku. Dia menoleh ke arah Rebecca yang melihat lurus ke depan. Tangan Mario menjamah paha Rebecca yang sedikit terekspos karena dia mengenakan dress di atas lutut.

Rebecca melihat tangan yang semakin kurang ajar itu. Dia ingin menyingkirkan tangan Mario namun, dengan gerak cepat Mario mencegahnya.

"Stop, Sayang. Jika kamu berani menyingkirkan tanganku maka sebagai hukumannya ...Aku akan melakukan hal nekat di sini," bisik Mario pelan di telinga Rebecca.

Mendengar ancaman dari Mario membuat Rebecca tak bisa berkutik. Dia hanya bisa diam dan menahan pelecahan itu.

Satu jam perjalanan, Rebecca tiba di sebuah villa mewah dengan pagar yang menjulang tinggi. Melihat keadaan sekitar membuatnya semakin khawatir. Rebecca selalu takut kalau Mario akan melecehkannya.

Terpopuler

Comments

Megabaiq

Megabaiq

model kok bodoh bgt....

2023-02-21

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!