BRSM 18

"Kamu sedang apa Evelyn? Apa yang sedang kamu sembunyikan dari kakak?" tanya Excel yang memergoki adiknya.

Evelyn merasa gugup ketika kakaknya datang dan membuat Excel curiga. "Ini Kak, aku tadi sedang mencari video tarian karena aku lupa dengan dance yang aku pelajari di sekolah," ucap Evelyn berbohong.

Excel tetap tidak percaya dengan jawaban sang adik. Dia berjalan menuju ke laptopnya dan membuka hasil pencarian Evelyn.

Excel menggerakkan mouse laptopnya dan menemukan pencarian tentang Reigner."Kamu mencari ini Evelyn?" tanya Excel pada adiknya.

Mau tidak mau Evelyn harus jujur, karena dia sudah tertangkap basah."Ya, aku tadi memang membuka laptop Kakak. Aku melihat di story pencarian, kalau Kakak sedang mencari informasi tentang Uncle baik. Benar kan?"

Excel terdiam merasa ketahuan oleh sang adik. Setelah itu Evelyn mendekati kakaknya. Dia justru memberikan beberapa pertanyaan pada sang kakak. Excel bersikap cuek ketika Evelyn ingin menginterogasinya.

"Kakak kenapa diam-diam mencari informasi tentang Uncle baik? Hem, ayo bicara! Jujur padaku Kak," ucap Evelyn penuh selidik.

Excel tetap diam, dia bingung mau menjawab apa? Setelah itu dia mencoba membalikkan pertanyaan sang adik, "Memang kenapa kalau Kakak ingin tahu? Bukankah kamu yang meminta tolong sama Kakak dalam rencana ini. Lusa kita akan berangkat ke Italia tapi jam terbang kita beda dengan Mommy. Jadi kita bisa menyusun langkah selanjutnya."

Evelyn mendekat dia terpengaruh dengan kata-kata Excel. "Bagaimana rencana kita selanjutnya Kakak?"

"Rencana ini sebenarnya terlalu beresiko, Evelyn. Tapi, akan sulit jika tidak menggunakan cara ini."

Setelah itu, Excel berdiskusi dengan adiknya. Evelyn pun sangat antusias sekali karena memang dia sudah mengharapkan semuanya. Evelyn mengangguk-angguk mengerti dengan setiap perkataan Excel.

"Bagaimana kamu mengerti kan rencana Kakak?"

"Ya, aku mengerti Kak. Kalau kita sudah sampai disana kan perlu naik taksi atau bis. Bayar itu semua pakai apa Kak?" tanya Evelyn dengan polos.

"Kamu bisa bayar dengan kertas yang kamu gunting-gunting Evelyn," jawab Excel asal.

Evelyn langsung kesal ketika Excel menggodanya, "Kakak serius, jangan membuat ku kesal."

"Kamu lucu, bayar ya pakai uang,"sungut Excel.

Muka Evelyn langsung cemberut ketika Excel berhasil menggodanya. Lalu dia mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku celananya.

"Kita bayar pakai ini," jawab Excel sembari memperlihatkan beberapa lembar uang Italia.

Mata Evelyn melotot melihat uang yang yang dibawa oleh Excel, "Kakak dapat uang ini dari mana?" tanya Evelyn sangat penasaran.

"Kakak mendapatkanya darimana? Kakak tidak mencuri kan?" tanya Evelyn sangat ingin tahu.

"Sembarangan saja. Kakak mendapatkan dengan tidak mudah. Jadi kamu harus menuruti semua perkataan ku. Okay! Sudah sana beres-beres barangmu. Tadi sebelum kesini, Mommy menyuruhmu untuk memilih baju."

"No aku tidak mau. Sebutkan dulu uang itu dari mana, Kakak?"

"Ya sudah kalau begitu, Kakak tidak mau membantu mu nanti.

Mendengar ucapan Kakaknya, Evelyn langsung turun dari kursi dan segera menyiapkan barang-barangnya. Evelyn menata baju-bajunya dengan menggerutu Dia sangat sebal sekali dengan Excel yang suka bermain rahasia.

"Huh, Kak Excel sangat menyebalkan."

Sesaat kemudian, cara Rebecca memanggil kedua anaknya, "Sayang, apa semua baju kalian sudah siap?"

"Sudah Mommy,"jawab Excel.

"Belum Mommy," sahut Evelyn.

Rebecca langsung masuk ke dalam kamar, "Astaga Sayang, kamu akan membawa semua baju ini, Nak?"

Evelyn melihat Ibunya dengan tatapan bingung, "Why Mommy? Ini semua baju kesayangan ku. Jadi nanti aku harus memakainya ketika berfoto."

Rebecca menepuk jidatnya, dia benar-benar dibuat gemas dengan putrinya itu.

"Sayang, kamu bawa barang sebanyak ini nanti kasihan Nenek dan Kakek. Kamu tahu kan, kalau penerbangan kita tidak sama. Mama duluan yang akan sampai sana, Sayang," ucap Rebecca menjelaskan.

"Evelyn, nanti kita akan beli jika sampai sana. Oke! Sekarang rapikan kembali bajumu, masukkan beberapa saja."

"Excel ikut Mommy ke bawah sebentar ya." Rebecca memanggil anak laki-lakinya.

Excel langsung berdiri dan mengikuti Ibunya dari belakang. Sedangkan Evelyn, sibuk melipat bajunya. Tidak lama kemudian, Evelyn telah selesai. Dia kembali duduk di meja belajar Excel.

Tiba-tiba kakinya menyentuh sesuatu di bawah meja. Evelyn menunduk dan melihat kertas berwarna pink.

"Apa Ini?" batinnya.

Evelyn membaca kertas itu dan membuatnya ternganga, "Oh God! Its really? Jadi Kak Excel ...!"

"What?" seru Excel dari belakang.

Evelyn menoleh dan segera menyembunyikan kertas di balik punggung. Namun, Evelyn tidak dapat menahan tawanya dan membuatnya ketahuan lagi.

"Kakak membutuhkan bantuan aku tidak, untuk membalas surat cinta dari Angela," ucap Evelyn pelan.

Excel langsung menoleh dan melihat adiknya itu tersenyum sangat lebar.

"No Evelyn, kembalikan kertas itu pada Kakak. Sini kembalikan!" teriak Excel berlari mengejar adiknya.

"No, Kakak. Jadi uang itu dari Angela. Wah, Kak Excel aku menyayangimu," sahut Evelyn dengan masih berlari berputar dalam kamar.

"Evelyn kembalikan, atau Kakak tidak akan membantumu. Sini adik jelek," seru Excel sangat kesal.

Evelyn terus tertawa dengan sangat senang. Dia benar-benar suka membuat Kakaknya kesal. Evelyn terus lari, hingga kakinya tersandung karpet dan terjatuh.

"Aww, sakit Kakak! No lepaskan aku. Kak Excel, please! Geli Kak, Kakak jangan gelitikin aku. No!"

"Rasakan ini adik jelek, suka sekali ya kamu mengganggu ku. Rasakan ini!"

Excel dan Evelyn tertawa bersama. Evelyn pun terus memohon agar sang Kakak tidak menggelitiki perutnya.

"Oke, stop! Stop please!"

Excel melepaskan Evelyn yang hampir menangis karena kegelian. Lalu dia menyerahkan surat itu dengan tertawa dan juga menangis. Excel menerima surat itu, lalu merebahkan tubuhnya di samping Evelyn yang masih tertawa.

"Evelyn berhenti tertawa. Suaramu berisik sekali,"

Evelyn pun berhenti tertawa, setelah itu dia menghadap Kakaknya, "Kak, terimakasih sudah berusaha untukku. Aku sayang sama Kakak. Sini aku peluk!"

"No, aku tidak ingin di peluk adik jelek sepertimu," sahut Excel ketus.

"Ck, Kakak juga jelek," sambung Evelyn.

Sebenarnya Evelyn ingin menanyakan kejadian itu pada Kakaknya. Tapi semua itu pasti percuma karena Excel tidak akan menceritakannya.

Sebenarnya Excel juga sudah mengirimkan email ke website Reigner. Namun, email tersebut belum di balas.

Excel bangun dari lantai dan menuju ke meja belajar. Dia membuka laptopnya kembali untuk melihat pesan email. Namun, belum ada balasan sama sekali. Evelyn melihat kegelisahan Kakaknya.

"Ada apa Kakak? Apa ada maslah?" tanya Evelyn.

"No, Evelyn. Hanya saja Kakak ragu!"

"Ragu? Why?"

"Kalau Uncle itu benar Daddy, apakah Mommy akan hidup bahagia?"

"Tentu saja, Uncle itu sangat baik."

"Kalau Uncle itu baik, kenapa tidak mencari kita? Sangat tidak masuk akal kalau dia tidak tahu tentang kita, Evelyn."

Ucapan Excel membuat mata Evelyn berkaca-kaca karena dia sangat berharap kalau Reigner itu adalah ayahnya.

"Oke, jangan menangis di depan Kakak. Wajahmu yang seperti semakin jelek saja."

"Uncle itu baik Kakak. Dia pasti sayang sama kita dan Mommy," ucap Evelyn dengan suara serak.

"Ya, kita buktikan dulu. Tapi jika Uncle itu tidak baik, jangan paksa Kakak untuk menerimanya, karena Kakak tetap harus bersama Mommy."

Evelyn mengangguk pelan, dia benar-benar sedih melihat sikap Excel yang tidak yakin.

Terpopuler

Comments

SENJA ROMANCE

SENJA ROMANCE

Bersatu dan menyatu itu kenikmatan yang tiada tara, rasanya Uuuuuhhhhh

2023-02-08

0

Vera Wati

Vera Wati

lnjut thoor

2023-01-21

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!