BRSM 2

Keesokan Pagi.

Seorang pria masih tertidur dalam keadaan polos tanpa memakai baju. Pria itu adalah Reigner Anverton seorang pebisnis yang hampir tertipu oleh para pesaingnya. Pria asal Italia itu hampir terjebak malam panas dengan seorang artis yang sengaja ingin memiliki skandal dengannya.

Reigner mempunyai beberapa bisnis fashion dan juga perusahaan di bidang saham. Dia pria yang sangat mapan ditambah wajahnya yang sangat tampan. Di usianya yang hampir kepala tiga itu tak membuatnya terburu-buru mencari seorang pendamping. Hidup Reigner sangat lah teratur dan juga tertib. Hal itu membuat dirinya memiliki kriteria sendiri dalam memilih seorang istri.

Akhirnya, Reigner terbangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan kedua matanya sembari memijit pangkal hidungnya. "Ssssh, aku dimana? Apa yang terjadi semalam? Kepalaku pusing sekali," des@h Reigner di atas ranjang.

Dia bangun dan duduk mencari handphone, akan tetapi tak menemukannya. Reigner pun membuka selimut yang berantakan dan betapa terkejutnya dia melihat noda merah dia atas kasur.

"What? Noda apa ini? Seperti darah, tapi darah siapa? Apa yang sudah terjadi semalam? Mengapa aku tidak mengingat apapun?" ucap Reigner gugup.

Reigner mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. Dia berpikir sangat keras, tak lama kemudian Reigner mengingat sedikit kejadian yang menimpanya.

"Aku semalam ada di bar, lalu aku memesan minuman. Setelah itu kepala ku sedikit pusing. Ada seorang yang membantuku berjalan. Dia memapah dan membawaku ke hotel ini. Iya aku ingat. Lalu ada seorang wanita di dalam kamar ini, karena aku masih sadar dengan cepat aku mengusir wanita itu dan mengunci pintu. Namun, lama-lama badanku terasa panas sekali. Aku ingin keluar mencari bantuan, akan tetapi niatku terhenti ketika melihat seorang gadis yang berjalan di depan pintu. Setelah itu dengan gerakan refleks aku menariknya ke dalam kamar. Lalu aku tidak mengingatnya, bagaimana wajahnya? Ahhh, siial! Bagaimana kalau dia gadis baik-baik. Bukankah aku telah merusak masa depannya?"

Reigner terus berbicara sendiri dan sangat frustasi. Dia benar-benar tidak bisa berpikir secara jernih. Setelah itu, Reigner menemukan handphonenya. Dia mengaktifkan handphonenya terlebih dahulu dan segera menelepon Edward sang asisten.

"Halo, Edward cepat datang ke hotel Andora. Aku membutuhkan bantuan mu," ucap Reigner pada asistennya.

[Baik Tuan.] jawab Edward dari jauh.

Reigner terus memandangi noda merah di seprei itu. Dia mencoba mengingat wajah gadis yang bersamanya semalam. Namun semua itu percuma, karena dia tidak ingat sama sekali.

"Ahhhh, siall! Kenapa aku tak mengingat apapun," teriak Reigner semakin gundah. Dia turun dari ranjang menuju ke toilet untuk membersihkan badannya.

20 menit kemudian, Reigner selesai mandi. Kebetulan sekali, Edward sudah sampai. Reigner segera memerintahkan asistennya itu untuk melakukan sesuatu.

"Edward, aku beri tugas untukmu. Cek cctv di hotel ini. Cari gadis yang memakai dress ini," ucap Reigner dengan menenteng dress yang sudah sobek.

"Baik Tuan, saya laksanakan. Semalam saya sangat khawatir dengan keadaan Tuan," sahut Edward.

Reigner memakai kaosnya dan menjawab, "Aku baik-baik saja, tapi ada masalah dan kamu cepat selesaikan masalah itu segera."

"Saya pergi dulu Tuan. Permisi." Edward pun keluar dari kamar bosnya.

Di dalam kamar itu, Reigner sangat cemas dan merasa bersalah. Dia terus memandangi dress hitam itu dengan seksama. Sesekali dia melirik ke atas ranjang yang terdapat noda merah.

"Siapapun kamu, jika kamu adalah gadis yang baik maka aku akan menikahimu," gumam Reigner pelan.

Di lobi bawah, Edward sedang bersitegang dengan petugas hotel. Dia marah karena pihak keamanan tak mengizinkannya melihat rekaman cctv. Bukan Edward namanya jika tak mendapatkan apa yang dia mau. Dia melakukan negosiasi pada salah satu petugas. Hingga akhirnya petugas itu mau membawa Edward untuk mengecek cctv hotel.

Edward masuk ke dalam ruangan pengawas. Dia melihat banyak monitor yang menyoroti semua tempat di hotel itu. Edward pun langsung memerintahkan untuk membuka rekaman tadi malam.

"Kalian cepat buka rekaman tadi malam. Aku ingin mencari seseorang. Ayo cepat lakukan," perintah Edward dengan suara tegas.

Petugas itu langsung mengetik dan mencari rekaman yang di maksud oleh Edward. 15 menit mencari monitor itu menampakkan gadis yang dimaksud.

"Bagaimana? ada tidak rekaman itu?" tanya Edward menyela dan sangat tidak sabar.

"Maaf Tuan, anda lihat sendiri. Hanya dia yang berjalan melawati ruangan ini. Tapi wajahnya tidak terlihat dengan jelas ," jawab petugas itu.

Edward tak percaya jika akan menghadapi hal semacam itu. Pasti dia nanti akan mendapatkan amarah dari bosnya. "Siaal, tugasku akan semakin berat kali ini. Tuan pasti akan marah-marah padaku. Baiklah tolong kirim rekaman itu ke handphone saya," ucap Edward pada petugas itu.

Edward pun kembali untuk melaporkan pada bosnya dengan membawa rekaman cctv itu. Dia sudah mempersiapkan diri jika memang mendapatkan sebuah umpatan dari sang majikan.

Edward mengetuk pintu dan segera masuk ke dalam kamar. "Lapor Tuan, rekaman cctv itu tidak bisa terlihat dengan jelas. Gadis yang Tuan cari itu menyembunyikan wajahnya dibalik hodie dan masker," ucap Edward pada bosnya.

Reigner melihat rekaman yang ditunjukkan oleh asistennya. Dia mengepalkan kedua tangan dan semakin tak terkendali. "Siial, siial, siial! Siapa gadis itu, pasti dia bukan gadis biasa. Harus kemana aku mencarinya?"

"Edward kamu cari cctv di sekitar hotel pasti dia keluar berada di jalan sana. Cepat! Ingat aku mau hasil, kalau kamu kembali dengan tangan kosong. Jangan harap mendapatkan bonus akhir tahun," perintah Reigner pada asistennya.

"Siap Tuan, saya akan mencarinya sampai dapat." Edward undur diri dan pergi dari kamar itu.

Reigner masih ada kegiatan bisnis di kota tersebut. Dia akan kembali nanti setelah perjalanan bisnisnya selesai.

Rebecca terbangun dari tidurnya. Dia masih merasakan sakit di bagian intinya. Bahkan untuk berjalan saja sangat kesulitan. Untung saja semua pekerjaan sudah dia selesaikan. Sehingga hari ini dia benar-benar free.

Semenjak kedua orangtuanya meninggal, Rebecca hidup dengan pengasuhnya dari kecil. Rumah aslinya adalah di New York. Dia sengaja pindah ke London hanya untuk sang kekasih yang sangat dicintainya.

"Sakit sekali, apa yang harus aku jelaskan pada Arnold? Bagaimana ini bisa terjadi begitu saja? Ahhh malangnya nasibku," gumam Rebecca di bawah selimutnya.

"Aku harus jelaskan pada Arnold hari ini. Aku ingin jujur semoga saja dia bisa mengerti."

Rebecca beranjak dari kasur dan segera berganti baju. Dia ingin berkunjung ke apartemen kekasihnya. Disaat yang seperti ini, Rebecca hanya membutuhkan dukungan dan pelukan hangat sang kekasih. Setelah berganti baju, Rebecca keluar dari kamarnya.

Jarak apartemen Arnold cukup jauh dari apartemen Rebecca. Butuh waktu hampir satu jam untuk sampai ke sana. Setelah sampai, Rebecca langsung parkir di pinggir jalan. Dia langsung masuk ke dalam apartemen karena Rebecca sudah tahu kode sandinya.

Sesampainya di dalam, Rebecca langsung menuju ke lantai atas. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara aneh di dalam kamar Arnold. Samar terdengar suara orang yang sedang bercinta. Suara deru nafas yang saling bersahutan mampu membuat tubuhnya merinding.

Rebecca terpaku di tempatnya. Kakinya terasa lemas dan tak sanggup lagi melangkah. Semakin lama suara itu semakin jelas di pendengarannya. Hingga tak sadar air matanya mengalir membasahi pipi.

Terpopuler

Comments

SENJA ROMANCE

SENJA ROMANCE

Woy Tyo!!! besok ke ruang Dosen kau!!! jangan harap lulus November tahun ini!!🤬🤬🤬🤬

2023-02-09

0

Tyo Prasetyo

Tyo Prasetyo

Duh di perkosa ya rebeca? tapi enak kan?😒😒😒

2023-02-09

0

Tyo Prasetyo

Tyo Prasetyo

pasti kena anaconda milik Mr iban 😒😒😒

2023-02-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!