Hari ini adalah hari perjalanan liburan Excel dan Evelyn. Pagi-pagi mereka sudah sangat sibuk mempersiapkan semuanya. Rebecca yang tidak bisa tidur dari malam berusaha untuk menyiapkan keperluan anak kembarnya.
"Paman, Bibi, sesampainya di bandara nanti segera hubungi aku ya! Nanti, aku yang akan menjemput kalian," ucap Rebecca pada Paulina.
"Baik Nona," jawab keduanya.
"Satu lagi, awasi Evelyn! Entah kenapa akhir-akhir ini sikapnya sangatlah aneh. Aku khawatir kalau dia melakukan sesuatu hal yang membahayakan," ujar Rebecca dengan penuh rasa khawatir.
"Iya Nona," sahut Paman Abrein.
Setelah itu dari lantai atas Excel dan Evelyn berlarian menghampiri ibunya. Mereka sangat sedih karena berangkat secara terpisah.
"Mommy, Mommy," teriak Excel dan Evelyn. Lalu mereka memeluk ibunya.
"Ya Baby? Ada apa? Harusnya senang dong hari ini?" tanya Rebecca berjongkok di depan anaknya.
"Ya aku senang Mommy tapi sayang tidak bisa satu pesawat dengan Mommy," ucap Excel mengeluh.
Rebecca tersenyum dia tau sifat anak laki-lakinya itu, "Sayang, jarak kita hanya dua jam. Nanti, jika kalian sudah sampai langsung telepon Mommy ya! Lalu, untuk kamu Evelyn. Mommy harap kamu tidak membuat ulah ya, kalau saja kamu berbuat macam-macam. Mommy pasti akan menghukum mu. Mengerti!"
"Mengerti Mommy," jawab Evelyn sembari melirik sang Kakak yang terlihat sangat cuek.
"Oke, kalau begitu Mommy berangkat dulu. Tante Elley sudah menunggu sejak tadi. Emuach! Miss you, my Honey." Rebecca pun pergi dengan mencium kedua anak kembarnya.
Setelah itu dia pergi ke bandara untuk berangkat ke Italia bersama managernya.
"Bye Sayang, sampai ketemu disana, ya!"
"Bye Mommy, bye Mommy," jawab keduanya.
Melihat sang Ibu yang sudah pergi membuat Evelyn senang. Dia sudah tidak sabar untuk mencari Reigner. Excel melirik adiknya dengan malas.
"Singkirkan senyuman itu, Evelyn. Menyebalkan sekali," ucap Excel dengan sangat ketus.
Sontak saja Evelyn langsung mengerucutkan bibirnya. "Kakak tuh yang menyebalkan," gerutunya dengan mengekor dari belakang.
Di dalam mobil, Rebecca sedang memainkan ponselnya melihat info dan berita dalam dunia permodelan. Dia selalu update untuk berita-berita terkini maupun yang viral. Meski terkenal, tidak pernah ada berita skandal tentangnya, karena memang dia menghindari sesuatu yang bersifat sensasional.
"Elley, siapa yang menjemput kita sesampainya di sana?" Rebecca bertanya pada managernya.
"Tuan Edward yang akan menjemput kita Nona. Semua fasilitas sudah disediakan oleh R&M group. Rumah, mobil, dan juga fasilitas lainnya," jawab Elley.
"Oke, untuk kali ini aku akan bekerja secara profesional. Saya yakin karir Nona akan semakin bagus karena R&M adalah perusahaan yang terkenal di Italia Nona."
Rebecca mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Sebenarnya ada rasa malas jika harus aktif dalam variety show, Rebecca terpaksa melakukan hanya untuk menghindari Mario.
Tak lama kemudian, Rebecca sampai juga di bandara. Dia segera turun dan melakukan check in untuk mendapatkan boarding pass. Selesai check in Rebecca dan managernya masuk ke dalam gate untuk menunggu waktu terbang yang masih setengah jam lagi.
Sembari menunggu, Rebecca melihat aktivitas kedua anaknya dalam handphone yang terhubung dengan cctv di rumah. Dia melihat Excel yang selalu di ekori oleh adiknya.
"Dasar anak ini jail sekali dengan Kakaknya. Untung saja Excel orangnya sabar dan pengertian," gumam Rebecca pelan. Dia gemas sendiri jika melihat tingkah putrinya.
Setengah jam berlalu, kini saatnya Rebecca naik ke pesawat. Butuh kurang lebih 14 jam untuk sampai di Italia. Waktu yang cukup lama membuatnya khawatir, karena Excel dan Evelyn hanya pergi dengan kedua pengasuhnya.
"Semoga anak itu tidak membuat ulah," ucap Rebecca saat pesawat lepas landas.
Dua jam kemudian.
"Nenek ayo cepat kita berangkat! Kakek ayo cepat! Kakak tolong bawakan tasku sebentar ya!" seru Evelyn yang sangat antusias sekali.
"Nona muda, tunggu Nenek dulu. Dia harus memeriksa semua keadaan rumah agar aman ketika kita tinggal," sahut Paman Abrein lembut.
"Evelyn kamu sangat menyebalkan," ucap Excel mencibir adiknya.
Melihat sang Kakak yang kesal membuat Evelyn merasa gemas sendiri. Namun, dia harus menahannya demi rencana besar yang sudah tersusun. Setelah semua lengkap, mereka semua berangkat ke bandara.
Evelyn berjalan melenggang dengan bernyanyi riang gembira. Sedangkan Excel cemberut karena selalu diganggu oleh adiknya. Mereka semua ke bandara dengan menaiki taksi.
Kurang lebih setengah jam, mereka sampai di bandara. Evelyn dan Excel turun dari taksi dengan digandeng oleh Paulina dan juga Paman Abrein. Mereka segera check in dan setelah mendapat boarding pass, mereka masuk ke dalam untuk menunggu pesawat yang masih dalam persiapan.
Evelyn masih bernyanyi dengan senangnya. Dia tak tahu kalau perjalan ke Italia membutuhkan waktu yang lama.
"Nona sebaiknya istirahat karena perjalanan kali ini membutuhkan waktu yang cukup lama," ucap Paulina menasehati anak asuhnya.
"No, no, no! Aku sangat semangat sekali Nenek. Ini pertama kalinya aku naik pesawat. Jadi aku harus melihat proses perjalananku biar nanti aku bisa cerita pada Dadd ....Oh maksudku, pada teman-teman nanti kalau kita sudah kembali," jawab Evelyn dan hampir salah bicara.
Excel hanya diam dan pura-pura cuek. Dia selalu mengecek emailnya yang belum ada balasan sama sekali. Hal itulah yang membuatnya kesal. "Awas saja! Kalau kamu memang benar Daddy ku. Tidak akan semudah itu untuk mendapatkan Mommy. Harus ada penjelasan dulu sebelum mengambil Mommy dariku," gerutu Excel dalam hati.
Beberapa menit kemudian, panggilan pesawat akan lepas landas pun terdengar. Evelyn dan Excel segera mengantri untuk masuk ke dalam pesawat. Evelyn selalu bergerak karena dia ingin tahu keadaan dalam pesawat.
"Huh, kenapa lama sekali. Sangat menyebalkan!" gerutu Evelyn dengan menghentakkan kedua kakinya.
Excel langsung memukul pelan kepala sang adik, hingga gadis kecil protes,"Aww, Kakak kenapa kamu memukul ku. Nenek Kakak nakal, dia memukul kepalaku dengan keras."
"Tuan muda jangan jahil dengan adikmu," ucap Paulina menegur Excel.
"Si jelek itu berisik sekali Nek!" jawab Excel santai.
"Awas saja nanti kalau ...."
"Kalau apa? Hem, ayo kalau apa?" Excel memotong ucapan adiknya yang belum selesai. Alhasil muka Evelyn semakin cemberut dan hampir menangis.
"Sudah-sudah, Tuan muda dan Nona muda. Tidak baik bertengkar terus," sahut Paman Abrein melerai kedua anak kembar itu.
Akhirnya antrian pun berjalan, Excel digandeng oleh Paman Abrein dan Evelyn dengan Paulina. Mereka semua masuk ke dalam pesawat dan duduk di area bussiness class.
Evelyn masuk dan duduk di dekat jendela. Dia terus diam dan masih kesal karena selalu ditindas oleh sang Kakak. Beberapa saat kemudian, pesawat pun lepas landas. Evelyn pun tegang karena baru pertama kalinya dia naik pesawat.
"Ouh, jadi begini rasanya naik pesawat. Uncle, aku datang untukmu. Aku sangat yakin kalau kamu adalah Daddy ku," gumam Evelyn dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
💕Leyka Gallardiev 💕
jangan² si kembar Evelin dan Excel ketemu mommy nya Rey alias omahnya 😁😁
2023-02-07
0
Joey Joey
Pendendam juga tu anak kaya daddy nya
2023-01-22
3