BRSM 3

Rebecca menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Dia ingin memberi pelajaran pada sang pengkhianat. Rebecca terus mendengarkan rintihan dan juga erangan panas dari kamar itu. Dia bersiap ketika salah satu dari mereka ingin mencapai puncak. Di saat itu terjadi Rebecca akan masuk ke dalam.

"Baby, I love you more!" ucap Arnold pada wanita itu.

Hati Rebecca semakin sakit. Dia tak pernah menyangka akan sakit untuk yang kedua kalinya. Suara dalam kamar semakin berat dan saling bersahutan. Sepertinya, Arnold sudah ingin mencapai puncaknya.

Rebecca bersiap dan, "Braakk!" Pintu ditendang keras hingga mengejutkan kedua orang itu.

Mereka kalan kabut melihat Rebecca yang sudah berdiri tegap di depannya."Honey, kamu kenapa ada disini?" tanya Arnold tanpa rasa bersalah.

"Dasar manusia menjijikkan. Beraninya kamu berbuat seperti ini di belakang ku Arnold," teriak Rebecca dengan sangat keras. Emosinya sudah membuncah melihat perselingkuhan kekasihnya.

Tidak merasa bersalah, Arnold justru tergelak dengan keras, "Hahaha, my honey Rebecca yang cantik jelita. Aku memang mencintaimu, tapi aku ini pria normal. Aku butuh kehangatan dari seorang wanita. Sekarang lihat dirimu, berdiri di depanku dengan tatapan yang menyedihkan. Lebih baik kamu gabung bersamaku saja. Aku bisa memuaskan mu meski aku telah lebih dulu memuaskan dia."

Mendengar hinaan Arnold membuat Rebecca semakin membenci pria yang ada di depannya itu, "Dasar pria brengsek. Aku tidak butuh semua itu. Mulai sekarang kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Enyah lah dari kehidupan ku, sampah."

Rebecca berjalan cepat menghampiri Arnold, "Plak, plak."

Dua tamparan keras mendarat tepat di wajah tampan kekasihnya itu. Mata Arnold membulat seketika. Dia tak percaya kalau gadis yang lemah lembut bisa menjadi kasar dalam sekejap.

Rebecca juga tak melewatkan wanita yang sedang bersama Arnold. Dia menarik rambut wanita itu dengan keras. "Kamu jallaang sialan! Kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan aku. Jadi aku tidak perlu bersaing dengan sampah seperti mu."

"Hei, Lepaskan rambutku, kamu tidak punya hak untuk menyentuh ku," teriak wanita itu kesakitan.

"Honey, lepaskan dia! Pretty tidak bersalah dalam hal ini karena akulah yang merayunya. Sudahlah jangan buang tenagamu secara percuma. Sini duduk dengan tenang, aku akan memberikan sentuhan lembut ku padamu," ucap Arnold menyebalkan. Dia terus mengeluarkan rayuan mautnya untuk Rebecca.

Rebecca melepaskan rambut wanita itu dengan kasar. Lalu dia tertawa dengan keras, "Sungguh bodohnya aku bisa mempercayai pria bajingan sepertimu Arnold. Sore ini kalian berdua pergi dari apartemen ku, karena aku akan menjual tempat ini."

"Selamat tinggal para sampah," ucap Rebecca pergi dari tempat itu. Hatinya hancur berkeping-keping. Dia sangat mencintai pria yang telah dikenalnya selama kurang lebih 2 tahun. Bahkan Rebecca rela memberikan apa saja demi sang pujaan hati. Tapi, balasan sungguh menyakitkan.

"Arnold kenapa kamu tidak mengejarnya?" seru wanita itu pada Arnold. Ia khawatir kalau Arnold benar-benar putus dengan sumber mata uangnya.

"Buat apa mengejarnya, nanti juga bakal balik sendiri kok. Dia itu tidak bisa menjauh dariku baby. Lebih baik kita lanjutkan kegiatan yang tertunda tadi. Sungguh siial, padahal sedikit lagi keluar," jawab Arnold dengan entengnya.

Arnold melanjutkan kembali adegan bercintanya itu. Dia tidak peduli dengan kemarahan dan juga ancaman Rebecca.

Di luar, Rebecca menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh. Ingin sekali di menghilang dari dunianya saat ini. "Akkhh, Kenapa ini terjadi padaku? Karirku, masa depanku, kisah percintaan ku semua hilang. Bahkan mahkota berharga ku telah terenggut secara paksa."

Rebecca terus menangis tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya yang ramai. Dia justru menambah kecepatan mobilnya hingga menerjang lampu merah dan kebetulan dari arah samping ada truk besar yang sedang berjalan.

Truk itu memencet klakson dengan sangat keras. Akan tetapi, Rebecca tak mendengarkan itu hingga kecelakaan tak terhindarkan lagi. Mobil Rebecca tertabrak oleh truk dan mendorongnya hingga beberapa meter. Tubuh Rebecca terluka parah karena terjepit oleh badan mobil.

Reigner sedang rapat bersama kliennya di sebuah gedung. Rapat itu membahas tentang kerja sama dalam bidang investasi saham. Sebagai pebisnis sukses tentunya hal yang wajar jika para pengusaha mengincar kerja sama dengan perusahaan Reigner.

"Terima kasih atas kerjasamanya Tuan Reigner. Kami sangat senang sekali, semoga kerjasama ini berjalan dengan lancar," ucap klien Reigner.

"Sama-sama Tuan Benny, saya juga menaruh harapan pada perusahaan anda. Semoga banyak keuntungan yang kalian dapatkan," jawab Reigner.

Setelah berjabat tangan dan rapat selesai, Reigner keluar dari gedung itu. Sore ini dia akan kembali ke Italia karena tugasnya sudah selesai.

"Edward, bagaimana dengan tugas yang aku berikan padamu? Apa sudah mendapatkan petunjuk?" Reigner masih penasaran dengan gadis yang tidur bersamanya kemarin malam.

"Belum Tuan, saya sudah mengecek semua cctv yang berada di sekitar hotel. Namun hasilnya nihil," sahut Edward menyerah.

Reigner terdiam membuang pandangannya ke luar jendela, "Baiklah, sore ini kita kembali ke Italia."

"Baik Tuan," jawab Edward.

Setelah itu, Edward mengemudikan mobilnya kembali ke hotel. Di tengah perjalanan justru dia terjebak macet. Hal itu membuat Reigner semakin tidak sabar. "Ada apa ini kenapa bisa macet sekali?"

"Sepertinya di depan ada kecelakaan Tuan. Polisi sedang mengevakuasi korban, "sahut Edward sembari mencari informasi dalam handphonenya.

Akhirnya setelah menunggu selama setengah jam lebih, lalu lintas lancar kembali. Reigner melihat ada sebuah truk yang sedang menabrak sebuah mobil hingga rusak parah.

Petugas medis sedang menangani Rebecca yang terkulai lemas dengan luka di seluruh tubuhnya. Kaki dan tangannya patah. Wajahnya penuh serpihan kaca. Sungguh akhir yang tragis untuk seorang gadis yang karirnya mulai merangkak naik.

Di depan ruang operasi ada seorang perempuan paruh baya yang sedang cemas memikirkan anak asuhnya. Ia berjalan mondar-mandir dengan raut wajah yang khawatir.

Ia adalah Paulina baby sitter Rebecca. Sejak bayi hingga dewasa dia selalu setia menjaga anak asuhnya itu seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan setelah kedua orang tua kandung Rebecca meninggal dunia, dia tetap setia menjaga dan selalu mengarahkan Rebecca ke jalan yang benar.

Dua jam berlalu, akhirnya dokter keluar dari ruang operasi. Paulina segera menghampiri dokter itu untuk menanyakan kondisi Rebecca. "Dokter bagaimana kondisi putri saya?" tanya Paulina dengan menyeka air mata.

"Kondisi pasien yang terluka parah membuat kesadarannya menghilang. Operasi berjalan lancar akan tetapi pasien dinyatakan koma karena sempat ada pendarahan di otak."

Paulina terkejut lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia tak menyangka akan menjadi separah ini.

"Apa yang harus saya lakukan Dok?" tanya Paulina sedih.

"Hanya bisa berharap ada keajaiban. Kalau begitu saya permisi dulu."

Paulina tertunduk lesu, dia bingung harus berbuat apa, "Semoga kamu bisa melewati ini Nona muda. Saya akan terus berjuang demi anda."

Terpopuler

Comments

Purwati Ningsih

Purwati Ningsih

Othorr aq mampir di karyamu ini n sdh aq favorit kan jg. ❤😘

2023-05-20

0

Riskejully

Riskejully

baru mulai sudah kecelakaan, miris banget nasibmu eca

2023-02-06

1

Cerita Aveeii

Cerita Aveeii

kasihan sekali rebeccaaa 😔aku pikir bahagia tega kamu thor awal2 dibikin tragis

2023-02-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!