BRSM 7

"Mom, aku sudah selesai. Mau ke kamar dulu," ucap Excel pada Ibunya.

"Iya sayang. Apa tugasmu masih belum selesai?" sahut Rebecca.

"Sedikit lagi Mommy." Excel berlari naik ke atas untuk menuju ke kamarnya.

Evelyn juga mempercepat makan malamnya. Dia ingin membahas sesuatu yang sangat penting bersama sang Kakak.

"Aku juga mau ke kamar Mommy." Evelyn turun dari kursinya namun, segera dicegah oleh Rebecca.

"Wait, habiskan dulu sayur di piringmu Evelyn," seru Rebecca.

"No Mommy, aku sudah kenyang!" Evelyn tetap berlari ke atas tanpa menghiraukan Ibunya lagi.

Rebecca hanya menggelengkan kepala melihat sikap putrinya yang selalu membantah setiap perintah yang dia katakan.

Sesampainya di kamar, Evelyn segera mengambil tas sekolahnya. Lalu, duduk di meja belajar menyusul Excel. Dia mengeluarkan buku pelajaran dan mulai mengerjakan tugasnya.

Evelyn mengerjakan tugas dengan sangat serius. Sesekali dia melirik kakaknya yang tak kalah serius. Namun, satu kejelekan Evelyn yaitu berisik ketika sedang menulis.

Excel menarik nafas dalam, dia merasa terganggu dengan sikap adiknya itu. Lalu, dia pun menegurnya, "Evelyn, please jangan berisik. Kakak tidak bisa konsentrasi. Come on!"

Evelyn langsung terdiam ketika ditegur kakaknya. Setelah itu dia berubah sedikit tenang. Excel melanjutkan tugas yang hampir selesai, kemudian Evelyn mengajukan beberapa pertanyaan.

"Kakak, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama Kakak," bisik Evelyn pelan.

Sang Kakak hanya diam tak menanggapi hingga membuat gadis kecil itu gemas. Evelyn turun dari kursi dan mendekatkan wajahnya di samping buku Excel.

Merasa kesal, Excel melirik Evelyn dengan tatapan malas. "What?" tanyanya singkat.

Evelyn tersenyum manis menampakkan giginya yang putih. "Kakak apa tidak penasaran dengan wajah Daddy?" tanya Evelyn sangat pelan.

Excel meluruskan pandangannya lagi dan menjawab, "No, karena Kakak sudah cukup mempunyai Mommy."

"Kakak, tidak mempunyai cita-cita untuk bertemu dengan Daddy kita?"

"No Evelyn, sekali tidak tetap tidak. Oke! Stop jangan ganggu Kakak."

Evelyn kembali lagi ke kursinya dengan perasaan kesal. Excel yang bersikap terlalu dingin membuat Evelyn kesusahan ketika membujuknya.

Merasa penasaran, Evelyn berkata kembali, "Kakak, aku tadi bertemu dengan Daddy."

Pensil Excel berhenti seketika, dia menoleh ke arah sang adik dengan raut wajah serius, "Tidak usah bercanda Evelyn."

"No, im seriously Kakak. Daddy berasal dari Italia."

"Aku tidak percaya dengan ucapan mu Evelyn," sahut Excel keras kepala.

"Kak, wajah Daddy mirip sekali dengan wajah Kakak. Aku tidak bohong," ucap Evelyn sangat yakin.

"Aku ingin pergi ke sana Kak. Kita pergi ke Italia mencari Daddy," rengek Evelyn pada Kakak.

"Italia itu sangat jauh Evelyn. Bagaimana caramu ke sana?"

Evelyn menarik telinga sang Kakak dan membisikkan tujuannya. Setelah menjelaskan panjang lebar dan membuat Excel terkejut. "No, jangan membuat Mommy marah Evelyn. No, aku tidak mau membujuk Mommy."

"Kakak, please! Help me! Hanya Kakak yang bisa membantu ku. Please Kakak! Mau ya?"

"No, no, no! Sekarang kamu cepat selesaikan tugasmu," ucap Excel dengan nada sedikit membentak.

"Kenapa Kakak selalu cuek sama aku. Bahkan di rumah ini Mommy lebih sayang sama Kakak. Aku benci Kakak, benci," teriak Evelyn setengah menangis. Gadis kecil itu berlari dan menghamburkan tubuhnya di atas kasur.

Evelyn menangis pelan dengan membenamkan wajah dibalik bantal. Sikapnya itu membuat hati Excel tersentuh. Tentu saja dia tidak tega melihat sang adik menangis dan bersedih. Excel turun dari kursinya, lalu menghampiri Evelyn.

Dia naik ke atas kasur dan membuang bantal yang menutupi kepala sang adik. "Evelyn bangunlah. Kakak minta maaf sama kamu," ucap Excel pada adiknya, akan tetapi tak membuat gadis kecil itu berhenti.

"Oke fine! Kakak menerima idemu tadi! Tapi dengan beberapa syarat. Bagaimana mau tidak? Kalau tidak mau ya sudah Kakak tidak peduli lagi." Excel akan turun dari atas tempat tidur. Akan tetapi tangannya langsung ditahan oleh Evelyn.

"Stop, jangan pergi! Oke, aku menerima syarat darimu Kakak," ucap Evelyn.

Excel kembali duduk, dia mulai membisikkan syarat pada sang adik. "Dengar baik-baik ya Evelyn. Syarat pertama, kamu harus rajin belajar untuk menyempurnakan nilai-nilai merah yang kamu dapatkan. Kedua, Kakak ingin kamu mendapat juara 1 di kelas. Ketiga, jadilah adik yang manis, dan anak yang berbakti untuk Mommy. Kalau kamu bisa menyelesaikan syarat itu, Kakak berjanji akan membujuk Mommy biar mau liburan ke Italia."

Evelyn mengiyakan syarat dari kakaknya. Meski dalam hati sangat berat, akan tetapi dia harus melakukan semuanya. "Oke deal! Akan aku buktikan pada Kakak kalau aku bisa memenuhi syarat itu," ucap Evelyn dengan semangat sekali.

Setelah itu, Evelyn turun dari kasur menuju ke meja belajar. Excel pun tersenyum senang melihat sang adik yang sangat antusias sekali.

Di ruang kerja, Rebecca sedang duduk dengan mengerjakan sesuatu di laptopnya. Dia membalas email dari manager. Besok ada sebuah pertemuan yang harus dia hadiri untuk sebuah kerjasama. Jadi Rebecca harus menyiapkan semuanya.

"Astaga, semua ini membuatku pusing. Kenapa aku tidak bisa menolak sama sekali. Seandainya di berikan pilihan, aku akan menolak kerjasama ini. Sungguh sangat merepotkan," gumam Rebecca dengan jari yang sangat sibuk.

Tiba-tiba saja, pintu kamarnya terbuka dan muncul Paulina masuk ke dalam.

"Ada apa Bi?" tanya Rebecca heran. Tak seperti biasanya, Paulina bersikap seperti itu.

"Lihatlah anak-anak di kamarnya. Terutama Evelyn, Nona," ucap Paulina membuat Rebecca penasaran.

"Ada apa dengan mereka Bibi? Apa mereka bertengkar?"

"Sebaiknya Nona melihatnya sendiri," sahut Paulina.

Hal itu membuat Rebecca penasaran. Dia bangkit dan keluar dari kamar menuju ke kamar anaknya. Sesampainya di depan pintu, Rebecca mendengar Evelyn yang sedang berdiskusi dengan sang Kakak. Rebecca yang tak percaya dengan apa yang didengarnya langsung mengintip sedikit dari luar pintu.

Di dalam tampak kedua anaknya sedang akur dan tampak manis sekali. Sikap Evelyn yang tenang membuat hatinya bahagia. Tak kuat menahan, Rebecca pun masuk ke dalam untuk menyapa kedua anak kembarnya itu.

"My baby honey. Manis sekali kesayangan Mommy. Kalian sedang apa? Bolehkah Mommy tahu," seru Rebecca dari depan pintu.

"Mommy," seru Evelyn turun dan memeluk ibunya.

"Hem, ada apa ini? Mommy jadi curiga dengan perubahan yang sangat tiba-tiba ini," ucap Rebecca menyindir putrinya.

"Nothing Mommy. Aku hanya belajar bersama Kak Excel. Kakak mengajariku menghitung Mommy," ucap Evelyn dengan raut wajah yang sangat menggemaskan.

"Oh, ya rajin sekali kedua malaikat Mommy ini. Ya sudah lanjutkan tugasnya, Mommy keluar dulu membuatkan susu buat kalian berdua. Tunggu ya!" Rebecca mencium pipi Excel dan juga Evelyn. Dia merasa sangat senang jika kedua anaknya tampak akur seperti anak-anak lainnya.

Terpopuler

Comments

Badriah

Badriah

lanjut seru ceritanya

2023-01-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!