8 tahun kemudian
"Nona Rebecca, ada panggilan variety show di salah satu acara televisi. Apakah anda akan mengambilnya?" tanya Manager Elley pada Rebecca.
"No, aku tidak akan menerima job di variety show dari televisi manapun. Jadi tolak saja jika ada yang menawarkannya padaku," jawab Rebecca tegas.
"Tapi Nona, jika anda mengambil job ini, saya pastikan karir anda akan lebih melejit. Media ini di sponsori oleh brand dari Italia yang sangat terkenal itu. Saya harap anda bisa mempertimbangkannya dengan baik," sambung sang manager.
Rebecca menghela nafas panjang dan menjawab, "Baiklah akan aku pikirkan lagi. Tapi aku membutuhkan banyak waktu. Kamu tahu kan yang aku pikirkan?"
"Saya sangat tahu Nona. Kalau anda menerima job ini saya akan memastikan rahasia anda akan tetap terjaga," jawab manager dengan maksud menyakinkan rekan kerjanya.
Setelah itu, Rebecca keluar ruangan. Dia ingin pergi ke suatu tempat. Dia menaiki mobil sport mewahnya. Semenjak kecelakaan beberapa tahun silam. Rebecca dibawa sang pengasuh kembali ke California. Keadaan Rebecca yang terluka parah membuatnya fakum dari dunia hiburan dalam kurun waktu yang lama.
Rebecca hidup dalam masa kelam setelah memergoki perselingkuhan kekasih tercinta. Tidak hanya itu, dia juga mengalami depresi setelah kehilangan mahkotanya satu-satunya yang harus di jaga, tapi sayang terenggut paksa oleh seseorang.
Untung saja, ada sang pengasuh yang sangat sayang dan juga peduli dengan kehidupannya. Hingga dia bisa melewati dari jurang keterpurukan yang sangat mempengaruhi mentalnya.
Mobil sport berwarna merah itu melaju dengan kecepatan tinggi dan berhenti di salah satu gedung sekolah.
"Mommy," teriak seorang anak dari kejauhan. Rebecca turun dari mobil dan melambaikan tangan lalu menghampiri anak tersebut.
"Hai, Honey. Bagaimana harimu apakah menyenangkan?" tanya Rebecca pada anak itu.
"Ya Mommy, hari ini sangat menyenangkan. Mommy, tadi aku mendapatkan nilai sempurna saat pelajaran menggambar. Mommy tahu Alinski? Dia jahat sama aku Mom, dia suka mengambil pensil warna yang sudah aku simpan," ucap anak kecil itu dengan suara manja.
Rebecca menggelengkan kepalanya. Dia sangat tahu sifat putri tercintanya itu. "Mommy bukannya sudah pernah bilang sama kamu Sayang. Harus selalu berbagi dengan teman, apalagi hanya pensil warna. Bolehlah, kalau kamu meminjamkan itu sebentar. Tidak boleh pelit, nanti kamu tidak punya teman," jelas Rebecca pada anak perempuannya.
"Mommy." Terdengar lagi satu panggilan dari arah belakang.
"Sayang, kamu telat keluarnya. Apa ada PR dari guru?" tanya Rebecca pada anak laki-lakinya.
"No, Mom, hanya saja tadi Excel dapat tugas untuk mencatat kegiatan teman sekelas," jawab Excel pada Ibunya.
Delapan tahun yang lalu, Rebecca harus menerima kenyataan kalau dirinya hamil. Dia dinyatakan hamil setelah koma kurang lebih satu bulan. Keadaan tubuh yang belum membaik membuatnya harus bekerja keras, karena pada saat itu kaki dan juga tangan Rebecca patah. Butuh waktu yang cukup lama untuk kembali sempurna.
"Ya sudah, kalau begitu kita pulang Sayang. Ayo, Excel! Ayo Evelyn!"
"Wait Mommy! Evelyn ingin makan ice cream. Mommy kita beli dulu ya," pinta Evelyn dengan wajah imutnya.
"No Mommy, kita langsung pulang saja. Excel ada tugas dan harus cepat mengerjakannya," sahut Excel menyela ucapan saudara perempuannya.
Evelyn pun menolak permintaan sang Kakak, "No, kita harus beli ice cream dulu Kakak!"
"No, kita harus pulang dulu. Tugas kakak lebih penting Evelyn!"
"No, kita beli ice cream sekarang. Mommy, come on. Beli ice cream dulu ya. Please Mommy! Mom!" Evelyn terus merengek pada Rebecca sehingga membuatnya pusing menghadapi kedua anak kembarnya itu.
"Stop, jangan berdebat lagi. Stop membuat Mommy pusing. Oke! Kita pulang dulu Evelyn. Nanti kamu pergi sama Kakek Abrein membeli ice cream. Oke! Ayo sekarang masuk ke mobil."
Keputusan sang Ibu membuat Evelyn cemberut karena selalu mengalah dalam setiap kesempatan. Bibir mungil itu mengerucut dan membuat muka imutnya itu sangat lucu.
Excel yang berpikiran lebih dewasa pun tak menghiraukan sikap adiknya yang selalu manja itu. Dia lebih bisa pengertian dengan jadwal sang Ibu yang sangat padat.
Excel Alvenlino Martin dan Evelyn Alvenlina Marseille adalah anak kembar Rebecca. Mereka berumur tujuh tahun dan telah bersekolah di California Internasional School.
Anak laki-laki Rebecca mempunyai IQ yang tinggi sehingga dia menjadi murid teladan di sekolah itu. Berbeda dengan Evelyn, anak perempuan Rebecca yang satu itu lebih suka dan menonjol di bidang Seni. Mungkin gen Rebecca menurun pada anak perempuannya itu.
Sifat keduanya juga sangat berbeda. Excel lebih bersifat pendiam, cool, lebih ke introvet. Sedangkan Evelyn, dia mempunyai sifat yang ceria, manja, dan suka mencari perhatian.
Rebecca sangat bahagia ketika memiliki kedua malaikat kecil itu. Meski dia harus mengawalinya dengan kejadian buruk. Namun, dibalik kejadian itu dia bisa menemukan kebahagiaan yang sebenarnya.
Tak lama kemudian, Rebecca sampai juga di apartemennya. Excel turun duluan, dan Rebecca masih melihat anak perempuannya itu cemberut, "Evelyn ayo turun. Masuk dulu dan ganti baju," perintah Rebecca pada putrinya.
Akan tetapi, perintah itu tak membuat Evelyn bergeming. Dia tetap diam di kursi belakang dengan tangan dilipat ke depan.
"Evelyn, apa kamu tidak mendengar suara Mommy?" seru Rebecca sekali lagi.
Evelyn masih terdiam. Sifat keras kepalanya sangat mendominasi. Terkadang membuat Rebecca kesal dan gemas dengan sifat putrinya itu. Rebecca menghela nafas panjang, kemudian memanggil sopir pribadinya,"Paman Abrein, bisa minta tolong antarkan Evelyn membeli ice cream?"
Paman Abrein berjalan mendekat. Dia adalah sopir pribadi dan orang kepercayaan Rebecca juga. "Siap Nona. Saya akan mengantarkan Nona muda," jawab Paman Abrein mengambil alih kemudi.
Melihat sang Ibu memerintahkan orang lain membuat Evelyn bicara, "No Mommy. Aku ingin pergi bersama Mommy," ucap Evelyn dengan nada melas.
Rebecca pun merendah ketika melihat wajah sedih putrinya. "Sayang, Mommy tahu apa yang kamu inginkan, Nak! Mommy minta maaf, kalau Mommy belum bisa menemani kamu jalan-jalan. Tapi, Mommy janji kalau ada kesempatan Mommy akan bawa kamu dan kakak holiday. Oke!"
"Janji?" sahut Evelyn dengan mengacungkan jari kelingkingnya.
"Janji," jawab Rebecca dengan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Evelyn.
"Baiklah, kali ini Evelyn maafin Mommy. Tapi, No untuk lain kali. Kalau Mommy ingkar janji, Evelyn aku kabur. Biar Mommy bingung mencariku."
"Hem, apa kamu tega berbuat seperti itu dengan Mommy, Evelyn?" tanya Rebecca dengan mata melotot, dia tidak menyangka putrinya akan berbicara senekat itu.
Melihat raut wajah sang Ibu yang serius membuat Evelyn takut, "No, Evelyn tidak berani Mom. Aku hanya bercanda. Evelyn sayang Mommy. Emuuach!"
"Jangan ulangi lagi bicara seperti itu ya. Mommy tidak suka. Oke! Pergilah dengan Kakek Abrein, jangan nakal dan harus menurut."
"Siap Mommy," jawab Evelyn senang.
Setelah itu Evelyn pergi bersama sopir kepercayaan Rebecca. Mereka menuju ke pusat perbelanjaan yang ada di tengah kota.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
Auliya
Lah, ujug-ujug 8 tahun kemudian. pakai jalur cepat rupanya 👍👍
2023-02-12
0
💕Leyka Gallardiev 💕
wah tau² udah 8th lalu aja 😁
2023-02-05
1
cadzburyy
aku sukak ceritanya+latar nya luar negri😍😍😍
2023-01-27
0