BRSM 9

Pagi hari yang cerah, gadis kecil yang sedang semangat sekali telah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Evelyn bangun pagi-pagi sekali hanya untuk menarik perhatian sang Ibu. Bahkan Excel yang selalu bangun awal pun didahuluinnya.

Evelyn berkaca di depan cermin dengan menyisir rambut panjangnya. Dia menata poni rata yang menambah keimutannya. Setelah itu dia ingin keluar dari kamar, namun suara Excel menghentikannya. "Evelyn kenapa kamu tidak membangunkan Kakak?"

Evelyn berhenti dan menoleh. "Kakak, hari ini aku harus merebut perhatian Mommy. Jadi, Kakak harus mengalah sebentar untukku. Oke!"

Setelah itu, Evelyn melanjutkan rencananya lagi. Dia berjalan menuruni anak tangga dan menyapa Ibunya dengan suara keras namun tetap manis," Morning, Mommy."

Rebecca pun menoleh ke arah putrinya yang sudah berpakaian rapi, "Sayang, kamu sudah bangun? Baru saja Mommy ingin membangunkan mu. Hem, ada apa ini? kenapa putri Mommy sangat rajin sekali?"

"Come, Baby! Jelaskan pada Mommy," ucap Rebecca penasaran.

Evelyn berjalan ke pelukan Ibunya. Dia mengecup lembut pipi sang Ibu. "Nothing, Mommy. Evelyn hanya ingin menjadi anak yang manis untuk Mommy."

Rebecca tersentuh dengan perubahan sikap putrinya itu. Biasanya dia dibuat khawatir dan kesal oleh sifat bandel Evelyn. "Dimana Kakak? Kamu tidak membangunkannya?"

"No Mommy. Sebentar lagi Kakak juga turun."

Tak lama kemudian, Excel turun dari atas. Dia sudah berpakaian rapi, dan juga berpenampilan sangat cool dengan muka datarnya.

"Sayang, tumben kamu bangunnya telat," seru Rebecca pada putranya.

Melihat sang Kakak mendapat teguran membuat Evelyn senang. Dia melirik ke arah Excel dengan raut wajah yang mengejek.

"Bukan telat Mommy, tapi Evelyn yang bangun sangat pagi. Mommy harus hati-hati dengan Evelyn. Siapa tahu dia sedang merencanakan sesuatu untuk Mommy," ucap Excel mempengaruhi sang Ibu. Dia sangat hobi sekali mengganggu adiknya.

Ucapan Excel membuat Evelyn kesal. Sang kakak hampir saja membongkar jalan aktingnya. Dia pun langsung protes dan menyangkal tuduhan sang Kakak, "No, Mommy. Kakak Excel bohong."

"Sudah-sudah, stop jangan bertengkar. Mommy mulai pusing jika kalian berdua selalu bertengkar," ucap Rebecca memarahi anak kembarnya.

Bibir Evelyn mengerucut karena sang Kakak berhasil mengerjainya. Alih-alih ingin membuat kesal sang Kakak, justru dia sendiri yang kesal. Excel pun duduk dengan sombongnya, ada kesenangan sendiri ketika dia bisa membuat Evelyn kesal.

"Sudah cepat kalian sarapan dulu. Hari ini pergi ke sekolah biar Kakek Abrein yang mengantar kalian. Mommy sangat sibuk hari ini, mungkin akan pulang larut malam. Jangan menunggu Mommy ya, selesai belajar langsung tidur," ucap Rebecca sembari memakan sandwichnya.

"Tapi Mommy ...!" Evelyn ingin protes akan tetapi tertahan dengan tatapan mata dari ibunya.

"Not drama with Mommy, Evelyn!" Rebecca berusaha menahan ucapan putrinya.

Bibir mungil itu seketika mengerucut, padahal nanti malam dia ingin mengutarakan idenya untuk liburan ke Italia. Tapi, karena jadwal sang ibu yang padat hal itu belum bisa diutarakan.

Excel hanya diam memperhatikan sang adik dengan tatapan kasihan. Selesai sarapan, kedua anak itu segera berangkat ke sekolah. Di dalam mobil, Evelyn terdiam tanpa bicara apapun. Dia sangat kesal dengan kakaknya.

"Sudahlah tidak usah bersedih. Nanti pasti ada waktu untuk membicarakannya dengan Mommy, Evelyn," ucap Excel membujuk adiknya.

"Maaf, jika Kakak menggodamu tadi. Habisnya Kakak gemas melihat dramamu."

Evelyn masih diam. Dia tak mau menanggapi ucapan kakaknya.

"Kakek, nanti sepulang sekolah antar aku beli es krim ya!" ucap Evelyn pada Paman Abrein.

"Baiklah Nona," jawab Paman Abrein. Setelah itu mobil melaju dengan tenang menuju ke sekolahan.

Rebecca sedang bersiap untuk ke perusahaan tempatnya bekerja. Dia sangat terburu-buru karena pertemuan diadakan setengah jam lagi. Dia mempersiapkan semua catatannya dan segera pergi ke kantor.

Dia pergi dengan menggunakan mobil kesayangannya. Sang manager pun sudah beberapa kali menghubunginya namun, Rebecca tak menghiraukan panggilan itu. Dia lebih fokus mengemudi.

Dua puluh menit kemudian, Rebecca telah memasuki kawasan kantor. Dia memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam. Rebecca berjalan cepat, dan hampir saja menabrak seseorang.

"Oh Sorry," ucap Rebecca setelah itu dia melanjutkan langkahnya.

Rebecca menuju ke lantai 20 karena sudah di tunggu oleh klien. Setibanya di atas, dia langsung keluar dan masuk ke dalam ruangan, "Good morning, maaf saya terlambat."

Semua orang menoleh ke arah Rebecca yang berdiri sembari merapikan rambutnya. Rebecca pun duduk bergabung lalu memulai pembahasan.

"Baiklah, mari kita mulai rapatnya," ucap Rebecca tidak enak.

Edward melihat Rebecca dengan seksama. "Memang benar kata orang-orang kalau dia model paling mempesona di kota ini. Aku harus bisa mendapatkan kontrak dengannya, agar bonus ku makin bertambah," gumam Edward dalam hati.

Setelah itu mereka semua melakukan pembahasan tentang keunggulan dan juga keuntungan jika mau bekerjasama. Rebecca sebenarnya tidak berminat, namun perusahaan menuntutnya untuk menerima kontrak itu.

"Apa? Maksud anda saya harus tinggal di Italia sampai kontrak selesai? Oh, maaf saya tidak bisa melakukan itu," seru Rebecca hingga membuat sang manager terkejut.

"Permisi, Tuan Edward. Saya meminta waktunya sebentar. Sepertinya saya harus berbicara dengan Nona Rebecca dalam ruangan sana," sahut manager Elley.

Sang manager menarik tangan Rebecca ke sebuah ruangan. Dia ingin mendiskusikan mengenai kontrak itu,"Nona, kenapa anda tidak menerima tawaran itu? Perusahaan sangat menginginkan kerja sama ini. Jadi demi pekerjaan anda dan juga masa depan saya yang sangat bergantung pada Nona, maka dengan penuh harap anda bisa menerima kerjasama itu."

"Elley kamu tahu kan, aku mempunyai anak yang masih harus aku rahasiakan statusnya. Apa kata orang dan juga perusahaan jika ternyata aku mempunyai seorang anak?"

"Bukankah saya pernah menjamin semua itu Nona. Rahasia anda akan tetap aman di tangan saya. Jadi saya mohon terima kontrak itu," ucap Elley dengan serius.

Hal itu membuat Rebecca bingung. Kalau dia menerima kontrak itu, otomatis kedua anaknya akan ikut bersamanya.

"Oke, beri aku waktu untuk berpikir. Aku harus mendiskusikan ini dengan kedua anakku."

"Terimakasih Nona, saya tunggu jawabannya besok. Kalau begitu saya akan bicara dengan Tuan Edward kalau anda akan memberi keputusan besok pagi."

Manager Elley senang karena partner kerjanya itu mau menerima job besar yang ada di depan mata. Setelah itu, mereka keluar dan memberikan jawaban pada Edward yang sedang menunggu sebuah jawaban.

"Permisi, Tuan. Maaf telah menunggu lama. Setelah saya berdiskusi tadi, Nona Rebecca akan memberikan jawabannya besok pagi, karena dia harus membicarakannya pada keluarga."

Edward mengangguk dan menjawab,"Baiklah, saya memberikan waktu sampai besok pagi. Saya harap anda menyetujuinya dan tidak mengecewakan kami. Kalau begitu saya permisi dulu, senang bertemu dengan anda berdua."

"Sama-sama Tuan Edward."

Setelah berjabat tangan Edward pun pergi meninggalkan ruangan itu. Rebecca menghembuskan nafas lega. Dia merasa sangat terbebani dengan kesepakatan itu.

Terpopuler

Comments

SENJA ROMANCE

SENJA ROMANCE

Ante esklimnya aca otlat atu ya

2023-02-08

0

Farfadh

Farfadh

kalo bisa 1x sehari ya thor😅 aku ga bisa nunggu berhari2🤭

2023-01-14

2

Farfadh

Farfadh

updateny brpa kali sehari thor???

2023-01-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!