Di dalam mobil Evelyn masih terdiam memikirkan pria asing yang bertemu dengannya. Dia merasa ada yang lain saat di gendong tadi. Evelyn hanya melamun saja sampai tiba di apartemen.
Sesampainya di apartemen, Evelyn segera turun dan masuk ke dalam bersama Paman Abrein. Setibanya di dalam, Evelyn berlari akan tetapi ada sang Ibu yang berdiri dengan tangan melipat ke depan, sehingga menghentikan langkahnya.
Evelyn berhenti terkejut, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan,"Mommy," seru Evelyn.
Rebecca terus menatap Evelyn dengan tatapan dingin. Sehingga membuat gadis kecil itu takut. "Sorry Mommy," ucap Evelyn dengan kepala menunduk. Sepertinya dia sudah mengetahui kesalahannya.
"Apa semua nasehat Mommy itu tidak pernah kamu dengar Evelyn?" seru Rebecca dengan tatapan lurus melihat putrinya.
"Evelyn selalu ingat pesan Mommy," jawab Evelyn dengan muka cemberut.
"Lalu kenapa hari ini kamu membuat kesalahan? Apa kamu sudah tidak ingin mendengarkan Mommy?"
"Sorry Mommy, Evelyn janji tidak akan mengulanginya lagi." Evelyn meminta maaf dengan mata berkaca-kaca. Dia takut jika sang Ibu kecewa.
Melihat wajah putrinya yang mulai berubah, Rebecca merendahkan suaranya, "Apa kamu sudah meminta maaf dengan Kakek. Kamu tahu betapa bingungnya Kakek Abrein?"
Evelyn pun membalikkan badan. Dia berjalan menuju ke Paman Abrein yang sedang berdiri di belakang.
Evelyn mendekat dan meminta maaf kepada Paman Abrein, "Evelyn minta maaf Kakek. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
Paman Abrein tersenyum lembut, dia selalu kasihan jika anak asuhnya itu sedang dimarahi oleh Ibu kandungnya. "Sudah, jangan bersedih, Nona. Kakek maafkan kamu, tapi Nona benar harus berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Evelyn menganggukkan kepalanya lalu berbalik lagi menghadap Ibunya.
"Sekarang kamu masuk ke kamar, mandi, dan belajar. Jangan keluar kamar sebelum Mommy suruh. Mengerti?"
"Ya, Mommy." Evelyn naik ke lantai atas untuk menuju ke kamarnya. Langkahnya lemas karena mendapat amarah dari sang Ibu.
Melihat kemarahan Rebecca membuat Paulina merasa prihatin. Dia melihat Rebecca terlalu keras mendidik putrinya.
"Nona, menurut pengamatan Bibi, caramu mendidik Evelyn terlalu keras. Evelyn masih terlalu dini, dia gadis yang pintar dan juga kreatif. Rasa keingintahuannya sangat besar, jadi sudah wajar jika Evelyn sangatlah aktif," ucap Paulina menasehati Rebecca.
Rebecca menghembuskan nafas kasar, dia duduk di sofa dengan memijat kepalanya yang pusing. Dia sangat kelelahan menghadapi sikap putrinya itu.
"Evelyn itu beda dari anak lain Bi. Dia tidak takut pada siapapun. Aku hanya khawatir kalau ada orang jahat, terus karena keberaniannya, Evelyn akan melawan tanpa rasa takut. Jika ada kejadian itu, aku tidak bisa membayangkan hal buruk apa yang akan terjadi?" ucap Rebecca dengan penuh rasa khawatir.
"Iya, Bibi mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi, lain kali jangan marahi Evelyn seperti tadi. Raut wajahmu ketika marah terlalu menakutkan untuknya."
"Baiklah Bi, lain kali aku akan kontrol emosi ini," ucap Rebecca memejamkan matanya.
Di lantai atas, Evelyn masuk ke dalam kamarnya. Dia langsung mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Excel hanya melirik sekilas saudara kembarnya itu, karena semua sudah sering terjadi.
Sepuluh menit kemudian, Evelyn keluar dari kamar mandi dengan memakai setelan piyama bermotif stroberi. Dia berjalan mendekati Excel yang sedang belajar. Evelyn duduk di samping saudaranya itu dengan melipat tangan di atas meja dan menunduk sedih.
Excel tak menghiraukan saudara kembarnya itu. Dia menganggap Evelyn hanya berakting sebagai korban. Merasa diabaikan, Evelyn pun menoleh ke arah Excel yang sedang mengerjakan tugas sekolah.
"Kakak," ucap Evelyn memanggil Excel.
"Kakak."
Excel diam tak menyahut, sehingga membuat gadis kecil itu kesal.
"Kakak, Kakak, Kakak, Kakak...."
"Stop, Evelyn please!" sahut Excel tak kalah kesal.
"What?"
Bibir Evelyn tambah mengerucut ketika sang Kakak marah kepadanya. Excel menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya pelan.
"Ada apa Evelyn? Cepat jawab, aku sedang sibuk."
"Kakak, apa sudah tidak sayang sama aku?" ucap Evelyn dengan wajah melasnya.
"Bukankah kamu sudah setiap hari melakukan drama ini bersama Mommy. Jadi, kenapa kamu menanyakan hal itu sama Kakak?"
Merasa bersalah, Evelyn kembali menundukkan kepalanya. Kakaknya itu benar-benar cuek dan sikapnya sangat dingin.
Tak lama kemudian, terdengar pelayan memanggil mereka dari luar kamar. "Tuan muda dan Nona muda, sudah waktunya makan malam," seru pelayan itu.
Excel menutup bukunya, lalu keluar dari kamar dengan meninggalkan adiknya. Evelyn pun kesal dengan sikap Kakaknya itu.
"Kak Excel menyebalkan," teriak Evelyn sebal. Setelah itu dia beranjak dari tempat duduknya dan keluar untuk makan malam bersama.
Evelyn turun dengan muka di tekuk. Bibir mungilnya itu terus mengerucut. Rebecca hanya menggelengkan kepala heran melihat sikap putrinya.
"Evelyn, bagaimana kamu harus bersikap ketika makan bersama Momny?" Rebecca menegur kembali sikap putrinya.
"Oke Mommy, harus bersikap senang dan tidak boleh cemberut walau keadaan hati sedang tidak baik," jawab Evelyn dengan senyum manis namun dipaksakan.
Excel sedikit tersenyum melihat sikap Evelyn yang terkesan imut. Meski bersikap dingin, Excel tetap menyanyangi saudara kembarnya itu. Eveliy pun duduk dihadapan sang Kakak.
Semua orang yang ada di meja makan memulai menyendok nasi berserta lauk pauknya. Mata Evelyn melihat Ibu dan juga Kakaknya itu secara bergantian. Dia terkejut kaget bahkan hampir tersedak.
"Ubuk, uhuk, uhuk." Evelyn batuk dan segera meminum air yang ada di depannya.
Matanya melotot melihat wajah Excel. Ada rasa tak percaya, akan tetapi apa yang dilihatnya sungguh nyata.
"Ada apa Sayang? Sampai terbatuk seperti itu?" tanya Rebecca.
"No-nothing Mommy," jawab Evelyn berbohong. Matanya terus fokus melihat wajah sang Kakak.
Excel pun heran dengan tatapan adiknya. Lalu, dia semakin narsis dan menggoda sang adik. "Aku tahu kalau wajah ini sangat tampan Evelyn, sampai membuatmu tercengang."
Suara Excel membuyarkan lamunan Evelyn. Setelah itu dia fokus dalam memakan nasinya. "What? Apakah ini suatu kebetulan? Mengapa wajah Kak Excel sangat mirip dengan Uncle baik? Atau jangan-jangan Uncle itu.... Daddy?"
Mata Evelyn semakin melotot hingga di menutup mulut dengan kedua tangannya. Rebecca langsung menegur putrinya itu karena dia tahu kalau Evelyn sedang memikirkan sesuatu.
"Evelyn bisakah kamu cepat memakan makananmu? Mommy tidak suka kamu memikirkan suatu hal yang aneh ketika sedang makan."
"Yes Mommy." Evelyn segera menghabiskan makanan di piringnya. Sesekali dia mencuri pandang dengan melihat wajah sang Kakak.
"Aku yakin kalau Uncle baik itu adalah Daddy. Akhirnya aku punya seorang Daddy, dan Daddy ku sangat baik. Aku harus merahasiakan ini dari Mommy. Kalau Mommy sampai tahu, pasti Mommy akan melarang ku."
Evelyn bermonolog dalam hati. Bibir mungilnya itu tersenyum manis. Dia terus mengingat pertemuannya dengan pria asing itu.
"Daddy tunggu aku. Putrimu yang imut ini akan segera mencari mu," ucap Evelyn dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
Inasitinurhasanah
ceritanya mkin seru,,,love artur ,,,🥰🥰🥰
2023-01-15
1