Aku dan om Bili masih terlibat perdebatan. Ia tetap dengan prinsipnya menolak kehadiran bayi yang ada dalam kandungan Reni saat ini. Sementara aku memberikan pandangan berbeda. Anak itu tak salah apa-apa, kenapa harus menggugurkan padahal ibunya pun sudah siap menerimanya. Harusnya orang--orang di sekeliling Reni bangga dengan keputusannya dan mendukung.
Mungkin karena jengah menanti kami tak kunjung mendapatkan titik tengah, akhirnya Reni muncul. Ia memaksakan kehendak pada ayahnya sehingga kini beralih, yang berdebat adalah Reni dan om Bili. Aku mengamati, mencari waktu yang tepat untuk ikut berbicara.
"Kamu pikir segampang itu punya anak tanpa suami? Enggak mudah Ren. Akan banyak yang mempertanyakannya. Papa bukannya malu tapi lebih ke kasihan pada anak ini nantinya. Bagaimana caranya ia menghadapi dunia yang begitu keras ini? Enggak akan mudah, Ren. Jadi tolong pikirkan baik-baik. Mumpung ini baru trimester awal, sebaiknya kita sama-sama legowo menghilangkannya. Sekali lagi, ini demi kebaikannya juga. Pikirkan itu baik-baik!" ayahnya Reni menegaskan.
"Pa, Reni sudah punya keputusan..Jadi tolong bantu Reni agar kuat menghadapi semuanya nanti, berdua dengan anak Reni." kata Reni.
"Tak akan semudah itu. Hari ini mungkin kamu akan kuat, tapi nanti, bisa saja kamu melemah. Ren, Papa dan mama tak akan selamanya berada di sisi kamu. Kami juga sudah tua, suatu saat akan meninggalkan dunia ini. Sementara kamu, anak kami satu-satunya. Kamu gak punya saudara lainnya..Siapa yang akan menguatkan kamu? Saat kamu ingin menyerah, siapa yang akan menjadi teman kamu berbagi? Sederhana saja, nama siapa yang akan kamu tulis di atas akte anak itu nantinya? Kamu akan lihat ia akan menjadi cemoohan orang-orang!" tegas Om Bili.
"Tapi anak ini gak bersalah, om." Kataku. "Ia ditakdirkan menjadi anaknya Reni sebab Tuhan yakin ia akan dijaga oleh seorang ibu yang hebat seperti Reni."
"Lalu apakah putriku bersalah dalam kasus ini sehingga harus menanggung semua ini? Kamu memang bisa menjanjikan akan ada untuk Reni dan anaknya nanti. Tapi itu sekarang saat kamu belum punya pasangan. Bagaimana kalau kamu sudah punya istri dan anak-anak. Apakah kamu bisa menjamin akan tetap ada untuk mereka berdua atau malah sebaliknya, seolah janji itu gak pernah ada. Lagipula saya tak akan tega membiarkan anak itu di kartu identitasnya tanpa ayah. Keputusan saya sudah bulat, ia gak boleh lahir ke dunia ini!" Tegas om Bili. "Terkecuali kamu mau bertanggung jawab menikahi putri saya." Tambah om Bili.
Apa yang dikatakan om Bili itu membuatku tak bisa berkata-kata. Menikah dengan Reni? Ini lelucon, kan?
Reni dan aku bagaikan langit dan bumi. Reni dengan segala keluar biasanya. Ia sangat pintar, cantik dan pastinya ia dokter. Akan sangat jomplang dengan aku yang masih mahasiswa abadi, tanpa karir sama sekali sebab sekarang sudah berhenti bekerja di cafe. Tak ada yang bisa dibanggakan dari hidupku.
"Bagaimana? Kamu nggak bisa jawab, Ben? Karena memang semua tak segampang itu!" tegas om Bili. "Kamu saja juga tak akan sudi namanya tercantum sebagai ayah dari anak ini. Iya, kan?"
"Pa, tak perlu memberatkan Ben seperti itu. Ben nggak punya kewajiban untuk ikut menanggung. Biarlah semua jadi tanggung jawab Reni!" Reni menegaskan sebab ia tak enak hati pada Ben.
"Huh, sudah saya duga. Sudah. Sekarang tak perlu dibahas lagi. Keputusan papa sudah bulat, kamu harus gugurkan anak itu. Mamamu yang akan mengurus semuanya!" tegas om Bili.
"Siapa bilang, om. Siapa bilang saya nggak bisa jawab. Saya tak keberatan menjadi ayah di akte anak itu nantinya. Saya juga janji akan membantu Reni menjaganya. Tadi saya hanya berpikir, apakah Reni juga bersedia menikah dengan saya. Mencantumkan nama saya sebagai ayah dari anaknya?" aku menatap Reni. Ia menggelengkan kepalanya.
"Ben, apa-apaan sih ini? Kamu enggak perlu melakukan semua itu. Aku nggak apa-apa..Semua yang dikatakan papa enggak usah diambil hati." kata Reni.
"Aku memang enggak secemerlang kamu, Ren. Tapi kamu harus percaya, aku akan berusaha jadi ayah yang membanggakan untuk anak kamu. Bagaimana?" tanyaku.
"Ben," Reni menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Terimakasih banyak, Ben. Aku janji, nggak akan memberatkan kamu. Terimakasih sudah mau menjadi ayah untuk anak ini."
"Aku juga janji, nggak akan menjadi perusuh dalam hidup kamu, Ren. Setelah bayi ini lahir, kita akan urus perpisahan. Kamu boleh melanjutkan hidup kamu tanpa embel-embel suami yang nggak berprestasi." kataku. Senyum di wajah Reni langsung memudar. Ia menatapku dengan ekspresi yang tak bisa aku tebak.
Kami sepakat menikah pekan depan. Hanya secara agama dan hukum, tidak mengundang banyak orang selain keluarga besar. Tujuannya hanya untuk memiliki dokumen untuk anak ini kelak, jadi tak perlu digembor-gemborkan. Apalagi kami sepakat akan mengakhiri pernikahan ini setelah bayi itu lahir.
"Ben, maafkan aku sudah membuat kamu terlibat dalam semua ini." kata Reni.
"Tak mengapa Ren. Selama ini pun kamu sudah terlibat dalam masalahku. Kamu yang paling banyak membantuku. meski aku tak bisa membantu banyak, tapi melakukan ini sudah membuatku bahagia." kataku. Sebelum pergi meninggalkan rumah Reni.
"Ben, kamu beneran nggak apa-apa menikah denganku?"
"Kenapa?"
"Perempuan itu ... bukannya kamu mencintainya. Kakak ipar kamu. Siapa namanya? Yohana?"
"Ia sudah jadi istri orang, Ren. Bagaimana aku bisa berharap padanya. Mungkin ini memang takdir yang harus aku hadapi."
"Ben," Reni tampak ragu. "Kalau kamu berat menikahi aku, enggak apa-apa kok. Aku mengerti."
"Ren, jangan terlalu merasa terbebani. Pernikahan ini hanya formalitas saja. Hanya untuk kepentingan dokumentasi anak ini nantinya. Jadi kamu jangan merasa berat, ya. Seperti yang aku katakan. Kita berdua sama-sama bebas. Tak ada yang berubah selain status. Itupun tak akan lama. Hanya sekitar sembilan bulanan. Sampai bayi itu lahir."
"Ben, bagaimana kalau nanti ...."
"Apa? kamu jangan berpikir macam-macam ya. Aku nggak akan melakukan hal-hal yang terlarang. Kita tetap seperti biasa, hanya status saja yang menikah."
"Oh, begitu ya." Reni kembali terlihat terpaksa tersenyum. Aku berpikir ia pasti berat menikah denganku. Bagaimana tidak, aku hanya seorang laki-laki biasa Sementara ia bintang. Harusnya Riko saja yang menikah dengan Reni sebab Riko lebih serasi dengan Reni, sayangnya Reni menolak. Mungkin karena ia menyadari akan kekurangannya saat ini meski ia tak menginginkan kekurangan itu menimpa dirinya sendiri.
Begitulah perkara jodoh. Aku tak menyangka, sebentar lagi akan menikah dengan Reni. Tiba-tiba menjadi suaminya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments