"Abangmu meninggalkan istri dan seorang anak. Alif, saat ini menjelang usia tiga tahun. Ia sedang tumbuh, butuh kasih sayang orang tua dan keluarga yang lengkap. Anak itu anak yang baik, ia adalah penerus keluarga kita. Meski Sigit tak bisa digantikan, tapi bagi kami, Alif sudah disiapkan Allah untuk menggantikan dirinya yang akan pergi meninggalkan keluarga ini." Bunda kembali menangis. "Kepergian Sigit juga membuat kami berduka sebab ada Alif, kami sedih, takut membayangkan bagaimana anak ini tumbuh tanpa figur Ayah. Ben, dua pekan lalu datang pamannya Yohana, ia menyampaikan niatannya untuk membawa Yohana dan Alif ke kampung mereka di Sumatra. Tentu saja kami kaget Ben, kami tak siap kehilangan Yohana dan Alif sekaligus. Meski zaman sudah canggih, bisa komunikasi lewat telepon, tapi tetap saja sama. Hanya akan membuat khawatir saja. Apalagi nanti, Yohana harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan Alif. Padahal sekarang Yohana adalah orang tua tunggal. Kalau ia bekerja, dengan siapa Alif akan tinggal? Menyedihkan bukan, Ben?" Bunda menatapku, tapi aku diam saja.
Aku diam bukan berarti tak iba dengan Alif, ia anak yatim sekarang, juga keponakanku. Dengan anak yatim yang gak ada hubungan darah saja aku iba apalagi keponakan sendiri. Tapi aku bisa apa? Mendekat saja aku tak berani sebab takut dengan prasangka Abah. Bisa-bisa bukan menjadi lebih baik malah semakin berantakan.
"Ben, maukah kamu membantu Abah dan Bunda?" Pinta Bunda dengan suara bergetar.
"Sudah seharusnya Beni melakukan itu!" Abah menegaskan. "Itupun kalau ia tahu agama."
Astagfirullah. Aku hanya bisa menahan amarah dalam diam. Kenapa Abah begitu sensitif denganku. Semua yang ku lakukan selalu salah. Bahkan entah apa yang dimaksud Bunda saja aku tak tahu tapi sudah menilai ku seperti itu.
"Ben, kamu adalah anak laki-laki kami yang tersisa saat ini. Kamu satu-satunya. Abah dan Bunda ingin kamu menggantikan peran Sigit untuk Alif." ungkap Bunda.
"Ya, nanti Ben coba bicara dengan Alif." kataku.
"Bukan sekedar itu, Ben. Tapi ... menikahlah dengan Yohana." Pinta Bunda.
"Me menikah?" aku terkejut mendengar permintaan bunda. Menikah dengan Yohana yang sudah menjadi kakak iparku? Sebenarnya hal itu wajar, sering juga terjadi di lungkunganku. Namanya turun ranjang. Tapi kenapa harus menikah dengannya sekarang, setelah luka yang begitu dalam di hatiku tertancap, aku dengan susah payah untuk mengobatinya, namun sekarang dipaksa untuk dibuka kembali. Aku termenung, tak mampu menjawab.
"Bagaimana Ben?" tanya bunda lagi.
"Ben tidak tahu, Bun." Kataku.
"Kenapa Ben?" Bunda terus meminta kejelasan.
"Aku butuh waktu untuk berpikir, Bun." Kataku lagi. "Sebab menikah itu bukan perkara gampang."
"Apa lagi yang kamu pikirkan? Bukankah dulu kamu yang menginginkan semua ini, sampai membantah Abah pun kamu rela. Sekarang keinginan kamu dituruti tapi malah mengundur-undur waktu seolah kamu tak mau. Sebenarnya mau kamu apa Beni? Kamu itu benar-benar laki-laki tak berprinsip. Ditolak keinginan ngamuk, dikabulkan malah mengundur-udnur. Kamu benar-benar tak berpendirian. Sekarang kamu sadarkan, kamu itu nggak punya kwalitas sama sekali, dikasih calon kebingungan dengan diri sendiri yang belum juga mapan. Padahal kamu sudah dua puluh empat tahun, Ben. itu sudah tidak muda lagi. Sigit saja seusia kamu sudah hebat. sudah pegawai tetap, punya penghasilan lebih dari cukup."
Ini yang aku katakan pada kamu, Bun, sia-sia saja memiliki nya bantuan anak satu ini. Dia itu tak berguna. Hanya jadi beban saja di keluarga ini. Mana bisa dia diandalkan seperti kita mengandalkan Sigit. Kalaupun dia benar-benar jadi ayah Alif nantinya, aku tak tahu entah bagaimana nasib cucu kesayanganku itu nantinya. Jangan-jangan malah disia-siakan seperti dirinya sendiri yang hidupnya tak jelas. Kalau saja aku punya anak laki-laki yang lain, tak Sudi aku meminta bantuan ibu padanya. Sama saja minta tanduk ke kucing!" tegas Abah.
Sakit, Bah. Sungguh sakit semua kata-kata yang Abah katakan. Kenapa Abah selalu begitu? Aku berhak untuk berpikir ulang sebab menyangkut masa depanku. Menikah dengan perempuan yang sudah membuat hatiku hancur, tidaklah mudah. Apalagi ada Alif yang akan kami bimbing berdua sementara kami sudah menjelma menjadi dua manusia yang tak ingin saling kenal lagi. Kenapa tak ada yang bisa memahami hatiku. Apa aku sebegitu tak berharganya?
"Jadi Abah masih menganggap aku sebagai anak Abah?" Tanyaku. Sambil terus berbisik pada diri sendiri untuk tidak menangis. Aku tak cengeng, aku anak laki-laki yang kuat meski Abah terus menghantam ku. Aku ini anak yang kuat. aku juga bisa seperti bang Sigit.
"Apa maksudmu?" Abah balik menatapku.
"Bah, ini bukan masalah bisa menggantikan posisi bang Sigit atau tidak. Ben tahu, Ben tak sehebat anak sulung Abah itu. Ben memang urakan, tak punya masa depan cerah, cengeng. Apa lagi Bah? Semua yang Abah sebutkan itu benar. Tapi apa Abah tahu, semua itu karena Abah. Abah yang membuat Ben menjadi anak laki-laki seperti itu." kataku. "Abah terlalu keras pada Ben. aku hancur Bah karena Abah!"
"Apa maksudmu? Kamu nyalahin Abah? Kamu dan Sigit mendapatkan perlakuan sama, Sigit bisa jadi anak baik tapi kamu kenapa enggak? Itu kan kamu yang bermasalah, bukan didikan Abah." Sanggah Abah. "Kalau kamu nurut dan punya otak, kamu tak akan seperti ini Beni Mulyadi!" bentak Abah.
"Mental orang beda-beda, Bah." kataku. Andai Abah tahu, dulu, setiap hari aku selalu berusaha menjadi anak Abah yang baik, tapi memang aku tak mampu. Ada banyak hal yang tak bisa diterima oleh hatiku hingga akhirnya aku memberontak. Itupun sebenarnya aku sampaikan dengan cara baik. Namun Abah memang tipe yang tak suka dibantah. Maunya dituruti terus hingga Abah menilai aku anak pembangkang.
"Pokoknya aku tak mau tahu, kamu harus menikah awal bulan nanti dengan Yohana.Aku akan siapkan semuanya, kamu pun harus begitu. Jangan membatah atau aku akan mengusir kamu dari keluarga ini. titik!" kata Abah, lalu beranjak meninggalkan meja makan.
Aku hanya bisa menatap kepergian Abah dengan banyak tanda tanya. Meski aku anak anak, tapi aku tak bisa memahami jalan pikiran Abah. Mengapa ia begitu keras hati dan kepala.
Menikah, itu bukan perkara gampang. Kenapa seenaknya memutuskan tanpa mengetahui kesiapannya. Paling tidak ada persetujuan antara aku dan Yohana. Tapi bagaimana mau setuju, enam tahun ini, jangankan bicara, saling tatap pun baru kemarin. Itupun tak sengaja.
Kadabg aku berpikir, seperti apa Abah di masa lalu hingga bisa seenaknya seperti ini padaku. Apakah Abah sehebat itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments