"Bang, Abang nggak mau ketemu kak Yohana?" tanya Ami, malam ini, saat aku pulang ke rumah. Ia masih menemaniku menata kamar bekas dipakai Yohana dan Alif.
Deg. Aku terdiam. Sejak tahu apa yang sebenarnya terjadi, setiap mengingat atau mendengar namanya, jantungku langsung berdebar tak menentu.
"Dia kan sudah menikah. Ngapain ketemu istri orang." aku pura-pura cuek meski sebenarnya perasaan tak karuan.
"Bagaimana kalau kak Yohana belum menikah?" tanya Ami lagi.
"Apa sih Mi? Pamannya menjemput karena ada yang melamar. Kamu sendiri yang mengatakan, salah satu dari perempuan yang menjemput adalah keluarga dari laki-laki yang akan melamarnya. Berarti sudah fiks."
"Jodoh itu urusan Allah, bang. Sama seperti rezeki. Makanan saja, sudah didepan mulut belum tentu jadi rezeki kita karena bisa terjatuh, direbut orang atau apalah."
"Maksudnya aku harus merebut Yohana dari laki-laki itu? Ngawur kamu! Meski aku cinta berat sama dia, enggak bakalan aku melanggar aturan Allah, merebut istri orang. Pantang Mi!"
"Cinta berat? Abang beneran masih cinta sama kak Yohana? Jawab, bang!"
"Apa sih?" aku pura-pura sibuk menaruh pakaian di lemari, lalu hendak keluar untuk menghindari adikku tersebut, tapi di pintu kamar sudah berdiri bunda.
"Benar kamu masih suka Yohana, Ben?" tanya bunda.
"Bun," aku mengelak.
"Ben, tolong jawab bunda." kata bunda.
"Untuk apa membahas ini, Bun? Sia-sia saja. Kalaupun aku masih mencintainya, apa akan berpengaruh untuknya? Enggak, kan!" aku sedikit menaikkan nada suara sebab mulai tak nyaman di desak oleh Ami dan bunda.
"Bang, kok ngomong sama bunda begitu?" Ami mengingatkan.
"Maaf, Bun," aku mencoba untuk kembali menenangkan diri sendiri..
"Bang, asal Abang tahu, kak Yohana memutuskan menerima lamaran dari kerabatnya itu sebab ia meyakini bahwa Abang tak mencintainya lagi. Makanya ia memutuskan menjauh, agar bisa tenang melanjutkan hidupnya. Sebenarnya ia begitu cemburu sebab mengira mbak-mbak yang kemarin datang itu adalah kekasihnya Abang. Makanya ia akhirnya mundur." kata Ami.
"Benar Ben. Sebenarnya Yohana masih sangat berharap sama kamu. Andai kemarin kamu mau menerimanya, ia pasti tak akan pergi. Alif juga tak akan kehilangan ibunya." bunda menundukkan kepalanya.
"Semuanya sudah terlambat. Yohana sudah pergi, Bun." kataku.
"Ben, jika bunda boleh meminta. Maukah kamu mencari Yohana untuk bunda? Entah kenapa feeling bunda mengatakan kamu masih ada harapan, Ben. Selama ini ia belum pernah merasakan bahagia, jemput dia Ben, bahagiakan ia sebagai obat atas penderitaan yang dirasakannya karena keluarga kita." pinta Bunda.
Aku bingung. Bagaimana caranya menemui Yohana. Setelah kepergiannya itu, ia seolah sengaja menghapus semua jejaknya dari kami. Ami bercerita kalau nomor Hp Yohana sudah tidak aktif. Satu-satunya nomor pamannya yang biasa menghubungi Abah dan Bunda juga sudah tidak bisa dihubungi. Hanya tersisa alamat rumah pamannya. Lalu bagaimana caranya mencarinya?
"Bun, ikhlaskan saja." kataku
"Tapi Ben, anak itu sudah berkorban banyak untuk keluarga kita. Sejak ia diasuh, belum pernah kami orang tua angkatnya benar-benar membahagiakannya. Ia hadir hanya untuk pancingan saja agar bunda bisa punya anak perempuan." cerita Bunda.
Sebenarnya, bukan aku tak tahu semua itu. Selama ia datang ke rumah kami, Yohana hanya sebagai hiasan saja. Abah sering memamerkan punya anak angkat agar mendapatkan pujian dari orang-orang bahwa ia seorang yang berhati mulia mau mengasuh anak yatim piatu.
Bunda pun tak jauh beda. Niatnya mengasuh Yohana agar bisa mendapatkan anak perempuan. Begitu Ami lahir, Yohana bukan lagi menjadi anak, tapi lebih ke seorang pembantu di rumah kami. Semua pekerjaan rumah ia kerjakan. Meski kadang terlihat ia lelah dan kewalahan. Yohana baru hanya akan istirahat kalau sudah larut malam dan saat sekolah. Itulah kenapa ia begitu senang kalau sudah waktunya sekolah. Yohana juga selalu mengundur-undur waktu pulang untuk melepas lelahnya sejenak.
Pernah suatu hari aku memberinya usul agar menolak mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tapi Yohana tak mau. Ia takut jika bunda marah atau mengadu pada Abah.
Meski sangat lelah, Yohana selalu bersabar. Itulah kenapa aku sangat mencintainya. Dan hingga saat ini aku menyesali sudah sempat membencinya padahal ia melakukan semuanya demi keluarga kami.
"Ben," bunda menyadarkan aku dari lamunan.
"Ben nggak bisa janji apa-apa, Bun. Apalagi kalau ia diajak kembali hanya untuk mengasuh Alif yang bukan anak kandungnya. Yohana tak bertanggung jawab atas itu." kataku, membuat bunda kaget sebab tak tahu kalau aku sudah mengetahui semua. "Beban Yohana begitu besar dalam keluarga ini, biarkan ia merdeka dan merasakan kebahagiaan yang pastinya bukan diberikan oleh salah satu dari anggota keluarga kita." kataku.
"Ben, bunda janji, kalau Yohana kembali, ia tak akan jadi seperti dulu. bunda benar-benar akan memperlakukannya seperti anak kandung sendiri. Bunda akan menyayanginya. Bunda sudah banyak berdosa padanya." kata bunda.
Yohana ... kamu dimana? Aku benar-benar merindukan kamu. Jika kembali ke sini bisa membuat kamu bahagia, maka aku berdoa agar Allah mempertemukan kita lagi. Namun jika kamu bisa lebih bahagia di tempat lain, maka aku berdoa agar kita tak pernah bertemu lagi.
***
[Ben, aku ingin ketemu.] pesan dari Reni. Ditambah emoticon menangis.
[Kenapa?" aku membalas.
[Papa ingin aku menggugurkan kandungan ini.]
[Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un!"
[Ben, bantu aku. Aku nggak mau aborsi.]
[Aku meluncur ke sana.]
Aku segera meluncur menuju rumah Reni sambil terus berdoa agar bisa melunakkan hati ayahnya Reni, entah dengan cara apapun juga.
***
"Nggak bisa, Ben. Anak itu tak boleh hidup." kata ayahnya Reni.
"Tapi om, anak itu nggak bersalah. Reni juga tidak keberatan untuk mengasuhnya. Jadi tolong diijinkan, om." pintaku.
"Ben, kamu tahu itu anak siapa? Anak penjahat yang sudah melecehkan putri saya. Lagipula ada banyak pelakunya kata Reni, entah siapa ayah anak ini. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana ia besar nanti. Anak ini akan jadi beban untuk kami dan Reni pastinya. Masa depannya akan berakhir. Ia akan kesulitan mencari jodoh padahal Reni adalah putri tunggal kami. Ia adalah satu-satunya harapan kami untuk melanjutkan kehidupan ini. Jadi jangan membela Reni lagi." pinta ayahnya Reni.
"Tapi om, anak ini enggak bersalah."
"Dalam hukum, mengugurkan kehamilan atas hasil perkosaan itu boleh, Ben. Kami sangat yakin inilah solusi terbaik untuk putri kami."
"Om, saya memang bukan siapa-siapa, tapi saya sangat yakin akan jadi partner Reni dalam membesarkan bayinya nanti."
"Partner seperti apa, Ben? Sekedar jadi teman sharingnya, membantu antar jemput anak ini saat sekolah atau bagaimana? Saya adalah seorang ayah dari putri yang amat kami cinta, saya tak akan membiarkan Putri saya menderita nantinya karena bayi ini!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments