Meski malam semakin larut, aku tak juga bisa tidur. Hanya berbaring, miring kanan, miring kiri, duduk, bangkit lalu berbaring lagi. Begitu terus hingga akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi seseorang yang mau mendengarkan ceritaku, siapa lagi kalau bukan Reni. Sebenarnya aku tak berharap ia segera membalas karena tahu ini terlalu malam, tapi ternyata Reni membalasnya.
[Kalau mau ngobrol, ke sini saja. Aku tunggu kamu di ruang tunggu depan UGD.] balas Reni yang memang sedang jaga malam di rumah sakit.
[Oke, aku segera meluncur ke sana.] Karena tak bisa tidur dan tak tahu harus ngapain, akhirnya aku tancap gas menuju rumah sakit yang masih berada di kawasan kampus kami. Tak terlalu jauh dari kosanku juga.
Sampai di depan UGD, Reni melambaikan tangan padaku lalu memintaku untuk menunggu sebentar sebab ia harus masuk ke dalam untuk absen pulang sekalian mengambil tasnya.
"Kamu mau bolos?" Tanyaku, sebab tahu biasanya kalau jaga malam ia sampai pagi.
"Nggak apa-apa sekali-kali. Lagian bosan juga jadi anak baik terus, kapan lagi nyobain rasanya bolos. Percuma punya teman mahasiswa abadi kalau masih saja tetap jadi anak baik." Ia terkekeh. Aku tak terlalu peduli. "Kita mau ngobrol dimana? Bagaimana kalau di lesehan Timur rumah sakit saja? Jam segini biasanya tak terlalu ramai. Aku ingin makan lele goreng."
Reni mengajakku jalan kaki ke sana karena jaraknya tak terlalu jauh. Aku sempat mengajak naik motor atau mobilnya saja sebab meskipun jaraknya dekat, tapi daerah Timur terkenal rawan. Banyak geng motor yang suka lalu lalang.
"Enggak apa-apa, kan ada kamu. Kita hadapi berandal itu bareng-bareng." Kata Reni.
Sepanjang perjalanan, Reni terus saja bicara sementara aku diam seribu bahasa. Bahkan apa yang dikatakan Reni pun tidak aku tanggapi. "Sepertinya masalah kamu berat ya Ben, sampai suntuk begitu." ia kembali membuka pembicaraan saat makanan sudah di pesan.
"Abah nyuruh aku nikah." kataku, langsung ke topik masalah. "Entah apa yang dipikirkannya, padahal kuliah saja belum lulus, masa depan masih suram. Malah tiba-tiba suruh nikah setelah enam tahun ini aku dicuekin."
"Oh," Reni yang terlihat kaget hanya mengangguk-angguk. "Ya wajar sih, usia kamu kan sudah dua puluh empat. Sudah sewajarnya kamu memikirkan tentang jodoh. Makanya aku selalu ngingetin kamu untuk serius kuliahnya biar bisa segera nikah. Tapi
ngomong-ngomong kamu kan belum punya calon ya Ben, lalu nikah sama siapa? Kalau sama aku saja bagaimana?"
Reni tersenyum padaku, ia masih bisa bercanda di saat aku sangat suntuk hingga kepala mau pecah rasanya.
"Bagaimana Ben?' Ia masih menatapku.
"Jangan bercanda. Aku serius nih!" kataku.
"Siapa yang bercanda, aku juga serius? Udah, nikah saja sama aku dari pada pusing. Selesai, kan, masalah kamu. Aku nggak akan nuntut calon suami sarjana, nggak masalah kamu terus kerja di cafe. Pokoknya kamu bebas deh jadi diri kamu sendiri. Enak, kan? Kita bisa tetap hidup santai seperti ini."
"Abah ingin aku menikah dengan Yohana," kataku.
"Yohana? Kan dia kakak ipar kamu?" kini Reni baru terlihat serius.
"Bang Sigit, suaminya sudah meninggal." kataku.
"Eh iya, maksudnya aku, dia memang sudah jadi janda, tapi kan kamu sudah jadi adik iparnya." Reni sudah tahu semua tentangku. Padanya sudah ku beritahu tentang apa yang terjadi antara kami berdua. "Ben, sekarang jawab jujur, apa kamu masih mencintai Yohana?" tanya Reni, ia menatapku tanpa kedip.
"Tak tahu," kataku.
"Bagaimana mungkin kamu enggak tahu. Kan kamu yang berkuasa atas diri kamu sendiri. Perasaan ya perasaan kamu sendiri." kata Reni. "Atau jangan-jangan kamu masih mencintainya juga. Benar begitu, Ben?" tanya Reni lagi
"Entah. Yang jelas aku membencinya." Yohana, perempuan itu pernah sangat bertahta dalam hidupku, bahkan demi bisa bersatu dengannya aku rela menentang keputusan Abah yang ku nilai tidak adil. Tapi semua perjuanganku itu bertepuk sebelah tangan. Ia malah mengkhianati aku, atau kadang aku berpikir sebenarnya ia gak mencintai aku juga seperti perasaanku sebab ia santai menjalani pernikahan dengan abangku. Tak pernah terdengar di telingaku ia berselisih dengan suaminya. Mereka bahkan selalu tampil kompak dan mesra.
Semenjak ia menikah dengan bang Sigit, aku sudah membunuh rasa itu. Sempat merasa sangat frustasi hingga berniat untuk mengakhiri hidup ini, namun tak jadi sebab ku pikir suatu saat bisa move on darinya. Ia saja dengan mudah bisa melupakan aku, kenapa aku tak bisa melupakan dia yang sudah berkhianat padaku. Perempuan sepertinya tak pantas mendapatkan hatiku lagi. Pokoknya aku sangat membenci Yohana.
"Ben, apakah kamu akan menikah dengannya?" tanya Reni lagi, membuatku tersadar dari lamunan.
"Entah Ren, aku membencinya."
"Ben, kalau saat ini ada seorang perempuan yang menyatakan cintanya padamu, apakah kamu mau memilihnya sebagai calon istri kamu?"
"Maksudnya?"
Kami berhenti sesaat sebab pesanan kami datang.
"Ben, aku tak mau kamu menikah dengan Yohana sebab selain ia pernah membuat kamu patah hati dan begitu terpuruk, aku juga mencintaimu. Aku ingin menjadi istri kamu, Ben. Menjadi satu-satunya perempuan yang kamu cintai." Reni membuat pengakuan.
"Kamu bicara apa sih, Ren? Sudah malam. Segera makan lalu kita pulang." Aku menarik piring berisi lele bakar pesananku. Aku tak mau pembicaraan ini melebar kemana-mana, maksudku mengajak ia ketemuan untuk memberi pencerahan bukan mendengar bualannya.
"Aku serius, Ben. Aku mencintaimu."
"Omong kosong apa ini? Aku nggak butuh dikasihani. Aku hanya ingin kamu mendengar ceritaku. Lagipula aku tak semenyedihkan itu. Kita ini teman, Ren."
"Tak ada yang namanya pertemanan murni benar-benar berteman antara laki-laki dan perempuan. Pasti ada yang jatuh cinta, satu atau keduanya. Dan aku benar-benar merasa jatuh cinta pada kamu Ben."
"Kamu mengkhianati pertemanan kita!"
"Ya, terserah kamu mau bilang apa. Tapi begitulah yang aku rasakan. Aku jatuh cinta sama kamu, Ben. Bolehkah aku mendapat kesempatan?"
"Fiufgg, kamu itu kenapa sih Ren? Kenapa malah menambah beban pikiranku. Aku curhat supaya dapat solusi kamu malah nambah masalah lagi. Udah ahhh, aku mau pulang sama. Capek aku. Kacau, semuanya benar-benar tambah kacau!" sambil mengomel aku kembali menunju rumah sakit untuk mengambil motorku. Ku biarkan Reni sendiri di lesehan.
Sepanjang jalan, aku tak habis pikir dengan Reni. Kenapa ia malah bicara seperti itu. Biasanya ia adalah tempat curhat yang paling menyenangkan karena bicara dengannya bisa membuat hatiku tenang, tapi kali ini yang ada malah sebaliknya. Aku malah semakin pusing. Masalahku bertambah-tambah jadinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments