Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.

Tahun ketiga, akhirnya aku berani pulang. Saat pertama masuk, tak ada seorangpun yang mau bicara denganku, semua menutup mulutnya rapat-rapat, bahkan berpaling meski aku sudah mengulurkan tangan. aku benar-benar tak dianggap. kadang terpikir olehku untuk benar-benar tak pulang saja, tapi gak bisa ku pungkiri aku merindukan keluargaku, meski tak sehangat keluarga lainnya.

Dengan Yohana, sejak saat itu kami tak pernah bicara. bahkan untuk bertatap wajah saja tidak. Aku sangat yakin saat pulang ia menghindari dengan mengunci diri di kamarnya. Tapi begitu lebih baik menurutku sebab ia adalah pengkhianat cinta, ia tak setia, tega meninggalkan aku yang sudah berjuang mati-matian.

Aku membaringkan tubuh di atas kasur, saat berbaring ke sebelah kanan, tampak bayangan Yohana tengah menyapu teras rumah. Tak berapa lama terdengar suara tangis anak kecil. Anaknya dan bang Sigit. Namanya Alif. Aku pernah berpapasan beberapa kali dengan bocah lucu itu, wajahnya menggemaskan, perpaduan antara ibu dan ayahnya. Ia hanya melihat dengan raut penasaran, aku pun tak berani menyapanya. Antara takut jadi masalah dan juga ada perasaan tak enak. bagaimanapun itu adalah anak dari perempuan yang sudah menghancurkan hatiku.

"Main di sini ya, Umi mau nyapu halaman dulu." suara Yohana bicara pada putranya.

Aku ingin berpaling dan melanjutkan tidur saja tapi seolah tertahan oleh sisi lain hatiku yang penasaran dengannya. Tadi saat aku berpapasan, masih terbayang wajahnya yang cantik itu.

"Tidak. Ini tidak benar." Aku segera bangkit, masuk ke kamar mandi yang ada di dalam ruang kamar, lalu mengguyurkan air ke kepala hingga basah kuyup. Aku tak boleh memikirkan Yohana. Ia adakah istri abangku, janda abangku! Aku sangat membencinya. Ia adakah pengkhianat. dulu ia berjanji akan memperjuangkan cinta kami bersama-sama. Apapun yang terjadi ia ingin menikah denganku, tapi ternyata yang terjadi sebaliknya..Saat gilirannya tiba bicara dengan Abah, ia hanya mengunci mulutnya hingga dipersepsikan hanya aku yang menginginkan pernikahan kami berdua, sementara Yohana nurut saja dengan keputusan Abah menikahkan dirinya dengan bang Sigit.

Tok tok tok. Pintu kamar di ketuk. Bunda masuk membawakan sepiring nasi goreng dan segelas susu putih. Aku tentu terkejut, tumben sekali begitu? Enam tahun diabaikan, tapi sekarang sebaliknya, tentu saja membuatku was-was tidak nyaman .

"Bunda tahu ini sudah sangat terlambat. Kamu pasti sangat membenci ibumu ini, tapi walau bagaimana aku ini ibumu, meski surga tak pantas di bawah telapak kakiku, tapi kau harus tetap berbuat baik padaku." Kata bunda. "Ben, maafkan bunda. Meski ini terasa basi, tapi bunda tulus minta maaf. Bunda tak akan menjelaskan bagaimana perasaan bunda setelah kejadian waktu itu, yang jelas, bunda menyesalinya Ben." Kata bunda. "Makanlah. Kamu mungkin merasa risih, tapi bunda mohon, izinkan bunda untuk kembali memperbaiki semuanya meski sudah sangat terlambat. Setidaknya inilah bukti kalau bunda menyesalinya Ben. Bunda menyesal sudah jadi ibu yang buruk untuk kamu. Bunda sudah tidak adil sebagai seorang ibu!"

Meski sangat terluka, tapi hatiku tak sekeras itu, dibuat begini oleh Bunda sudah membuatku meneteskan air mata.

"Ben, boleh bunda memeluk kamu?" Pinta Bunda.

"Enggak. Jangan!" Kataku, sambil menyuap nasi dengan air mata berlinang. Sudah enam tahun bunda mengabaikan aku, bahkan untuk ku sentuh saja tangannya saat ingin bersalaman bunda selalu mengelak, mungkin aku terlalu pendendam, tapi saat ini aku belum bisa berdamai dengan diriku sendiri. Biarlah aku yang terbiasa sendiri melanjutkan semuanya sendiri. Aku janji tak akan membenci, asal jangan diusik lagi.

"Ben!" bunda berlari keluar, tentunya sambil menangis. Akupun sama, menitikkan air mata semakin deras.

Maaf, Bun. Maaf. Kalian yang mengajarkan aku seperti ini. Kataku, lirih.

***

"Beni!" suara teriakan Abah, membuatku yang sedang makan sambil menangis tersedak.

Abah sudah ada di rumah? Kapan pulangnya? Aku melirik ke arah jendela, sudah ada bayangan mobil Abah di sana. Sepertinya saking terhanyut pembicaraan dengan Bunda makanya aku tak sadar kalau Abah pulang. Sialnya, Abah melihat bunda nangis.

"Keluar, Abah mau bicara!" Panggil Abah.

Aku langsung bangkit dari tempat tidur setelah Abah nyamperin ke kamar. Meski ia hanya muncul di depan pintu tapi sudah membuatku kalang kabut.

"Ada apa, Bah?" kataku, setelah dekat dengan Abah.

"Duduk!" Ia menunjuk kursi meja makan di hadapannya. Aku menurut saja. "Kenapa kamu membuat ibumu menangis? Mau jadi anak durhaka, kamu? Asal kamu tahu, kalau bukan karena rengekan ibumu, aku tak akan sudi menyuruh kamu pulang!"

Aku kembali terluka. Apakah itu perlu diperjelas? Tapi tak ada gunanya membantah Abah, sama saja menggali kubur sendiri.

"Maaf," kataku.

"Lain kali ku Hajar kamu agar tahu sopan santun!" Abah bicara dengan suara pelan namun penuh dengan penekanan. Sementara bunda yang baru keluar dari kamar langsung duduk di antara kami berdua. Bunda tak berani menatapku, tapi dari caranya memainkan ujung baju kurungnya, jelas kalau Bunda sangat tidak nyaman.

"Ben, sebenarnya Abah dan Bunda meminta kamu pulang karena ada satu hal." Kata bunda.

"Apa?" tanyaku, tanpa mengangkat kepala, terus menunduk sembari melamun. Membiarkan pikiranku melayang agar aku tak menangis dengan kata-kata menyakitkan yang diucapkan Abah tadi. Jika aku meneteskan air mata maka Abah pasti akan menghinaku habis-habisan. Anak laki-laki lemah, cengeng dan lainnya.

"Ben, kamu tahu kan keluarga kita baru saja berduka karena kehilangan salah satu anggota yaitu abangmu Sigit. Kamu tahu betapa besarnya luka di hati Abah dan Bunda." Kata bunda, sambil menyeka air matanya.

"Aku juga!" kataku, dalam hati. Meski sering diperlakukan tidak adil, namun aku pun sama seperti orang tuaku, kehilangan bang Sigit. Meski kami terbilang tidak dekat, namun darah kami sama. Itulah kenapa aku berusaha menghindar selama ini agar abangku itu bisa menjalani hidupnya dengan nyaman.

"Kepergiannya begitu tiba-tiba. Kita semua kaget dan jujur sangat tidak siap. Selama tiga bulan ini kami masih saja merasa semua ini bagai mimpi buruk." lanjut Bunda.

Aku jadi terpancing, kira-kira kalau aku yang dipanggil Tuhan lebih dulu, apakah mereka juga akan merasa hak yang sama atau malah tak peduli sama sekali?

Ahhh, kenapa aku begitu tergelitik untuk tahu jawabannya meski itu akan membuatku terluka. Sudah jelas Abah dan Bunda tak akan peduli sebab dahulu saat aku kena DBD saja mereka abai. Aku benar-benar cemburu. Hanya karena aku menyukai Yohana dan berani memperjuangkan maka aku langsung di perlakukan berbeda seperti ini. Tiba-tiba senyum terukir di bibirku, senyum kekecewaan, sekaligus ejekan bahwa sehitulah nilai aku di keluarga ini.

Episodes
1 Disuruh Pulang
2 Dalam Penjara Kuasa Abah
3 Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4 Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5 Permintaan Atau Paksaan
6 Abah Yang Toxic
7 Reni ... Reni
8 Permintaan Maaf Yohana
9 Kacau
10 Kabar Buruk Tentang Reni
11 Jangan Pergi, Ren!
12 Selamat Tinggal Yohana!
13 Ada Reni!
14 Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15 Buku Catatan Abah
16 Cerita Ami
17 Rahasia Yang Sebenernya
18 Permintaan Ayah Reni
19 Tanggung Jawab
20 Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21 Kabar Ingin Menikah
22 Isi Hati Bunda
23 Setelah Akad
24 Setelah Enam Bulan
25 Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26 Bersama Yohana
27 Harapan Membahagiakan Yohana
28 Usaha Untuk Bertahan
29 Baju Kurung Untuk Yohana
30 Apakah Kamu Bahagia, Han?
31 Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32 Reni Datang
33 Berdebat Dengan Reni
34 Reni Sakit
35 Reni Belum Bisa Dipulangkan
36 Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37 Hinaan Reni
38 Orang Tua Reni Datang
39 Nasib Orang Miskin
40 Saling Adu
41 Hanya Kamu Seorang
42 Double Date?
43 Penolakan Reni
44 Ketahuan?
45 Yohana, Kamu Dimana?
46 Reni Meniru Yohana
47 Reni Akhirnya Pergi
48 Pulanglah, Ben!
49 Demi Sebuah Bakti
50 Putusan Cerai
51 Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52 Tiga Ganjalan Besar (1)
53 Tiga Ganjalan Besar (2)
54 Bertemu Anak-anak Pak Diki
55 Bunda Meninggal
56 Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57 Dua Hambatan Telah Selesai
58 Akhirnya Bertemu Yohana
59 Yohana: Pergilah Ben!
60 Lelaki Yang Disebut Monster
61 HAMBATAN SEBELUM PERGI
62 Menjemput Upik Dan Puti
63 Kejutan Tasyakuran
64 Membesuk Abah
65 Yohana Yang Suci
66 Mbak Lila Ingin Pergi
67 Hambatan-hambatan
68 Membawa Abah Pulang
69 Kecurigaan Ami
70 Kecurigaan Ami (2)
71 Sebelum Abah Pergi
72 Peristirahatan Terakhir
73 Mbak Lila Menikah
74 Tahun Pertama Pernikahan
75 Tentang Anak
76 Marah
77 Menjadi Pelayan Yohana
78 Salam Perpisahan
79 Anak-anak Hilang
80 Mencari Anak-anak
81 Bangkitlah Yohana
82 Seorang Anak Yang Terpilih
83 Tiga Orang Putri
84 Setelah 12 Tahun
85 Anak Magang
86 Desas-desus
87 Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88 Pulang
89 Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90 Dugaan
91 Kamu Harus Pergi
92 Kejutan Dari Nilam
93 Masalah Demi Masalah
94 Informasi Genta
95 Bertemu Upik
96 Cerita Upik
97 Caca Cemburu
98 Keinginan Puti
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Disuruh Pulang
2
Dalam Penjara Kuasa Abah
3
Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4
Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5
Permintaan Atau Paksaan
6
Abah Yang Toxic
7
Reni ... Reni
8
Permintaan Maaf Yohana
9
Kacau
10
Kabar Buruk Tentang Reni
11
Jangan Pergi, Ren!
12
Selamat Tinggal Yohana!
13
Ada Reni!
14
Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15
Buku Catatan Abah
16
Cerita Ami
17
Rahasia Yang Sebenernya
18
Permintaan Ayah Reni
19
Tanggung Jawab
20
Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21
Kabar Ingin Menikah
22
Isi Hati Bunda
23
Setelah Akad
24
Setelah Enam Bulan
25
Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26
Bersama Yohana
27
Harapan Membahagiakan Yohana
28
Usaha Untuk Bertahan
29
Baju Kurung Untuk Yohana
30
Apakah Kamu Bahagia, Han?
31
Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32
Reni Datang
33
Berdebat Dengan Reni
34
Reni Sakit
35
Reni Belum Bisa Dipulangkan
36
Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37
Hinaan Reni
38
Orang Tua Reni Datang
39
Nasib Orang Miskin
40
Saling Adu
41
Hanya Kamu Seorang
42
Double Date?
43
Penolakan Reni
44
Ketahuan?
45
Yohana, Kamu Dimana?
46
Reni Meniru Yohana
47
Reni Akhirnya Pergi
48
Pulanglah, Ben!
49
Demi Sebuah Bakti
50
Putusan Cerai
51
Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52
Tiga Ganjalan Besar (1)
53
Tiga Ganjalan Besar (2)
54
Bertemu Anak-anak Pak Diki
55
Bunda Meninggal
56
Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57
Dua Hambatan Telah Selesai
58
Akhirnya Bertemu Yohana
59
Yohana: Pergilah Ben!
60
Lelaki Yang Disebut Monster
61
HAMBATAN SEBELUM PERGI
62
Menjemput Upik Dan Puti
63
Kejutan Tasyakuran
64
Membesuk Abah
65
Yohana Yang Suci
66
Mbak Lila Ingin Pergi
67
Hambatan-hambatan
68
Membawa Abah Pulang
69
Kecurigaan Ami
70
Kecurigaan Ami (2)
71
Sebelum Abah Pergi
72
Peristirahatan Terakhir
73
Mbak Lila Menikah
74
Tahun Pertama Pernikahan
75
Tentang Anak
76
Marah
77
Menjadi Pelayan Yohana
78
Salam Perpisahan
79
Anak-anak Hilang
80
Mencari Anak-anak
81
Bangkitlah Yohana
82
Seorang Anak Yang Terpilih
83
Tiga Orang Putri
84
Setelah 12 Tahun
85
Anak Magang
86
Desas-desus
87
Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88
Pulang
89
Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90
Dugaan
91
Kamu Harus Pergi
92
Kejutan Dari Nilam
93
Masalah Demi Masalah
94
Informasi Genta
95
Bertemu Upik
96
Cerita Upik
97
Caca Cemburu
98
Keinginan Puti

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!