Permintaan Maaf Yohana

Aku membasahi wajah dan semua anggota tubuh yang menjadi rukun wudhu. Sejuk rasanya. Setelah merasa lebih tenang barulah keluar. Semula ingin berbaring di dalam masjid sambil menunggu azan Maghrib tapi tak jadi ketika mendapati Yohana berdiri menunggu di depan pintu kamar mandi putra.

"Ben," ia memanggilku lirih.

Aku masih acuh tak acuh.

"Ben, bisa kita bicara?" pintanya.

"Tidak!" jawabku tegas.

"Ben," ia memelas. "Demi Bunda, untuk kedamaian di rumah. Kita harus menentukan sikap."

"Sudah sejak kamu memutuskan mengikuti Abah enam tahun lalu!" Aku tak kalah tegas.

"Sekarang pun aku masih mengikuti keinginan Abah,"

"Oh, kalau begitu lakukan saja. Aku tak ingin terlibat!"

"Juga keinginan hatiku " ia bicara dengan suara teramat pelan, namun sangat jelas sampai di telingaku. "Ben, aku ... masih mencintai kamu."

Sakit. Kenapa rasanya sangat sakit. Kenapa baru sekarang ia mengatakan mencintai aku? Kenapa tidak dari dulu? Kenapa? Apa karena bang Sigit sudah tidak ada, atau karena ia juga terpaksa sebab takut pada Abah? Ahhh pembohong! Aku tak peduli, terus berjalan menuju masjid. Dulu saat ditanya apakah ia mencintai aku, terakhir ia menjawab tidak. Dan aku sudah memutuskan untuk percaya pengakuannya itu.

"Ben!" Ia memanggilku lagi. Tapi aku tak peduli, terus masuk ke shaf laki-laki.

***

Banyak doa yang ku panjatkan pada Sang Pencipta, tentang hatiku yang entah bagaimana rasanya sekarang. Yang jelas aku kecewa pada Yohana. Aku masih sangat marah hingga tak ingin mempedulikan ucapannya tadi. Bagiku ia adalah pengkhianat yang tak patut untuk didengar. Di mataku, ia bahkan lebih buruk dibandingkan Abah.

Usai salat Maghrib, aku tak langsung pulang, terus berdiam diri di masjid hingga salat Isya berakhir. Aku memutuskan keluar paling akhir sebab masih mengulur waktu. Rencananya malam ini juga ingin kembali ke Jakarta. Aku ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Tapi sayangnya, Yohana masih berdiri di dekat pintu keluar jamaah laki-laki. Melihatnya di sana membuatku gondok. Ia pasti menungguku, tak mungkin yang lain.

"Kenapa kamu di sini? Kenapa tak pulang?" tanyaku, masih dengan raut kesal.

"Aku sengaja menanti kamu Ben, aku ingin semuanya jelas hari ini juga." Kata Yohana.

"Egois kamu. Sama saja seperti abahmu. Pantas kamu jadi anak angkat Abah!" Kataku. "Kamu lupa kalau sudah punya anak? Sejak sore kamu di sini, apa tidak dicari anakmu? Ibu macam apa kamu, hah?" aku membentaknya.

"Ya, aku memang ibu yang buruk. Bahkan saat menikah dengan ayahnya pun aku masih memikirkan kamu."

"Sudahlah, diam!" Aku semakin kesal mendengarnya. Bagaimanapun juga, Bang Sigit adalah abangku, adik mana yang tak marah jika istri abangnya ternyata memikirkan laki-laki lain dan sialnya laki-laki itu adalah aku!

"Ben, sebenci itukah kamu kepadaku?" Ia menatapku dengan tatapan mengiba. "Kamu tak tahu bagaimana posisiku kala itu, kalau aku mengikuti rencanamu kita akan sama-sama hancur."

"Makanya kamu membuat rencana sendiri sehingga aku hancur sendiri. Begitu Hana? Tega sekali kamu. Padahal kita sudah membuat kesepakatan yang kita rencanakan berdua. Tapi kamu berkhianat. Tak ada hukuman yang pantas untuk pengkhianat selain melupakannya!" Mendengar pengakuan Yohana membuatku makin meradang.

"Ben," ia kembali memanggil.

"Jangan pernah bermimpi menjadi istriku Yohana. Aku tak akan pernah mau. Hanya perempuan setia yang akan ku nikahi!" Kataku.

"Kamu mencintai aku, Ben," kata Yohana.

"Itu dulu. Sekarang tidak. Pantang untukku kembali kepada perempuan yang sudah mengkhianati aku. Kamu sudah memilih jalanmu sendiri, menjadi kakak iparku, selamanya akan begitu. aku tak mau bekas orang, meski itu bekas kakaku sendiri!"

"Ben!"

Aku berjalan cepat menuju rumah, tak peduli Yohana mengikuti dengan susah payah. Bagiku, tak ada lagi yang perlu kami bicarakan sebab antara Kami sudah tak ada apa-apa yang perlu dipertahankan. Kisah kami sudah berakhir, bukunya sudah berganti dengan buku lain yang satu sama lain antara kami tak perlu bersinggungan lagi.

***

"Abah, Bunda ... Ben minta maaf, tapi Ben tak bisa mengikuti keinginan Abah dan Bunda. Ben sudah punya pilihan lain. Maafkan Ben, malam ini juga Ben akan kembali ke Jakarta." Kataku. Sambil menenteng tasku.

"Apa maksudmu? Kamu tak mau menuruti perintah Abah?" tanya Abah dengan suara pelan namun mengandung ancaman.

"Maafkan Ben, Bah. Ben dan Yohana tak akan mungkin bisa bersama, Ben sudah punya pilihan lain." kataku.

Abah meradang, bunda dan Ami pucat, semnetara Yohana berusaha menahan agar tangisnya tak pecah, tapi ternyata pecah juga. Isak tangisnya bahkan terdengar jelas di telingaku.

Tidak Yohana, tidak. Jangan menangis. Diamlah. Tetaplah bersikap seperti dulu. Jangan buat aku merasa buruk dengan keputusan yang sudah ku buat. Kamu yang mulai menyakiti terlebih dahulu, sekarang nikmatilah permainan yang sudah kamu buat!

Seperti tak punya perasaan, aku beranjak pergi meninggalkan ruangan utama. Tiba-tiba terdengar suara Abah membentak diikuti tangis Alif yang kaget dengan suara Abah. Suara itu semakin lama semakin keras,berubah menjadi makian. Namun aku tak peduli, seolah semua seperti angin lalu.

"Kalau kau berani pergi maka selamanya kamu tak boleh lagi ke sini. Kamu bukan anakku. Sampai mati aku tak ingin bertemu denganmu. Kamu dengar itu kan Ben? Bahkan ibumu pun tak akan pernah bisa kamu temui. Ngerti kamu!" Abah terus bicara.

Hidup itu adalah pilihan, Ben. Kamu sudah menentukan pilihan, jadi pergilah dan jangan pernah khawatir. Kamu berhak menentukan semuanya. Kamu bukan anak kecil lagi yang bisa diatur sesuka Abah. Kamu punya perasaan dan bukan ban serep. Yohana juga harus tahu itu!

Motor tuaku melaju pelan meninggalkan halaman rumah, setelah sampai di depan gang. Aku memacunya sekencang mungkin. Sampai orang-orang minggir. Aku sendiri nyaris kehilangan kendali atas kendaraan yang aku tumpangi. Baru berhenti ketika aku nyaris menabrak pembatas jalan.

"Aaaaaaa kenapa harus begini? Kenapa aku harus menjalani Skenario yang rumit ini! Aku hanya butuh mereka menghargai aku saja, bukan sembarang seperti ini. Apa karena aku ajak jadi bisa diperlakukan seenaknya saja!" Aku terus mengomel, tak peduli dengan pengguna jalan lainnya. "Kenapa Abah jadi ayah egois sekali. Sungguh benar-bemar tidak punya hati. Abah bisa berbuat seenaknya tanpa peduli hatiku. Sejak dulu aku selalu dianak tirikan, aku mencoba menerima kenyataan tapi selalu saja salah!"

Puas berteriak untuk menyalurkan emosi, barulah motor tua itu kembali ku pacu menuju kosan. Sampai di halaman kosan, motor ku parkir sembarang, aku tak peduli kalau Riki, sahabatku menegur caraku parkir, bahkan ketika ia menyusul ke kamar, tetap ku abaikan. Pintu kamar sudah ku tutup rapat-rapat, lalu lampu ku matikan. Aku memutuskan menghempaskan diri di kasur, mencoba menenangkan diri tapi gak juga bisa.

Episodes
1 Disuruh Pulang
2 Dalam Penjara Kuasa Abah
3 Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4 Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5 Permintaan Atau Paksaan
6 Abah Yang Toxic
7 Reni ... Reni
8 Permintaan Maaf Yohana
9 Kacau
10 Kabar Buruk Tentang Reni
11 Jangan Pergi, Ren!
12 Selamat Tinggal Yohana!
13 Ada Reni!
14 Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15 Buku Catatan Abah
16 Cerita Ami
17 Rahasia Yang Sebenernya
18 Permintaan Ayah Reni
19 Tanggung Jawab
20 Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21 Kabar Ingin Menikah
22 Isi Hati Bunda
23 Setelah Akad
24 Setelah Enam Bulan
25 Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26 Bersama Yohana
27 Harapan Membahagiakan Yohana
28 Usaha Untuk Bertahan
29 Baju Kurung Untuk Yohana
30 Apakah Kamu Bahagia, Han?
31 Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32 Reni Datang
33 Berdebat Dengan Reni
34 Reni Sakit
35 Reni Belum Bisa Dipulangkan
36 Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37 Hinaan Reni
38 Orang Tua Reni Datang
39 Nasib Orang Miskin
40 Saling Adu
41 Hanya Kamu Seorang
42 Double Date?
43 Penolakan Reni
44 Ketahuan?
45 Yohana, Kamu Dimana?
46 Reni Meniru Yohana
47 Reni Akhirnya Pergi
48 Pulanglah, Ben!
49 Demi Sebuah Bakti
50 Putusan Cerai
51 Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52 Tiga Ganjalan Besar (1)
53 Tiga Ganjalan Besar (2)
54 Bertemu Anak-anak Pak Diki
55 Bunda Meninggal
56 Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57 Dua Hambatan Telah Selesai
58 Akhirnya Bertemu Yohana
59 Yohana: Pergilah Ben!
60 Lelaki Yang Disebut Monster
61 HAMBATAN SEBELUM PERGI
62 Menjemput Upik Dan Puti
63 Kejutan Tasyakuran
64 Membesuk Abah
65 Yohana Yang Suci
66 Mbak Lila Ingin Pergi
67 Hambatan-hambatan
68 Membawa Abah Pulang
69 Kecurigaan Ami
70 Kecurigaan Ami (2)
71 Sebelum Abah Pergi
72 Peristirahatan Terakhir
73 Mbak Lila Menikah
74 Tahun Pertama Pernikahan
75 Tentang Anak
76 Marah
77 Menjadi Pelayan Yohana
78 Salam Perpisahan
79 Anak-anak Hilang
80 Mencari Anak-anak
81 Bangkitlah Yohana
82 Seorang Anak Yang Terpilih
83 Tiga Orang Putri
84 Setelah 12 Tahun
85 Anak Magang
86 Desas-desus
87 Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88 Pulang
89 Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90 Dugaan
91 Kamu Harus Pergi
92 Kejutan Dari Nilam
93 Masalah Demi Masalah
94 Informasi Genta
95 Bertemu Upik
96 Cerita Upik
97 Caca Cemburu
98 Keinginan Puti
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Disuruh Pulang
2
Dalam Penjara Kuasa Abah
3
Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4
Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5
Permintaan Atau Paksaan
6
Abah Yang Toxic
7
Reni ... Reni
8
Permintaan Maaf Yohana
9
Kacau
10
Kabar Buruk Tentang Reni
11
Jangan Pergi, Ren!
12
Selamat Tinggal Yohana!
13
Ada Reni!
14
Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15
Buku Catatan Abah
16
Cerita Ami
17
Rahasia Yang Sebenernya
18
Permintaan Ayah Reni
19
Tanggung Jawab
20
Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21
Kabar Ingin Menikah
22
Isi Hati Bunda
23
Setelah Akad
24
Setelah Enam Bulan
25
Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26
Bersama Yohana
27
Harapan Membahagiakan Yohana
28
Usaha Untuk Bertahan
29
Baju Kurung Untuk Yohana
30
Apakah Kamu Bahagia, Han?
31
Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32
Reni Datang
33
Berdebat Dengan Reni
34
Reni Sakit
35
Reni Belum Bisa Dipulangkan
36
Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37
Hinaan Reni
38
Orang Tua Reni Datang
39
Nasib Orang Miskin
40
Saling Adu
41
Hanya Kamu Seorang
42
Double Date?
43
Penolakan Reni
44
Ketahuan?
45
Yohana, Kamu Dimana?
46
Reni Meniru Yohana
47
Reni Akhirnya Pergi
48
Pulanglah, Ben!
49
Demi Sebuah Bakti
50
Putusan Cerai
51
Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52
Tiga Ganjalan Besar (1)
53
Tiga Ganjalan Besar (2)
54
Bertemu Anak-anak Pak Diki
55
Bunda Meninggal
56
Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57
Dua Hambatan Telah Selesai
58
Akhirnya Bertemu Yohana
59
Yohana: Pergilah Ben!
60
Lelaki Yang Disebut Monster
61
HAMBATAN SEBELUM PERGI
62
Menjemput Upik Dan Puti
63
Kejutan Tasyakuran
64
Membesuk Abah
65
Yohana Yang Suci
66
Mbak Lila Ingin Pergi
67
Hambatan-hambatan
68
Membawa Abah Pulang
69
Kecurigaan Ami
70
Kecurigaan Ami (2)
71
Sebelum Abah Pergi
72
Peristirahatan Terakhir
73
Mbak Lila Menikah
74
Tahun Pertama Pernikahan
75
Tentang Anak
76
Marah
77
Menjadi Pelayan Yohana
78
Salam Perpisahan
79
Anak-anak Hilang
80
Mencari Anak-anak
81
Bangkitlah Yohana
82
Seorang Anak Yang Terpilih
83
Tiga Orang Putri
84
Setelah 12 Tahun
85
Anak Magang
86
Desas-desus
87
Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88
Pulang
89
Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90
Dugaan
91
Kamu Harus Pergi
92
Kejutan Dari Nilam
93
Masalah Demi Masalah
94
Informasi Genta
95
Bertemu Upik
96
Cerita Upik
97
Caca Cemburu
98
Keinginan Puti

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!