Ada Reni!

Yohana telah menghilang dari pandanganku. Ia sudah masuk ke ruang keberangkatan. Meski kami harus berpisah tapi setidaknya aku sudah tenang sebab antara kami sudah saling memaafkan dan menerima takdir Tuhan. Ikhlas itu memang tak mudah, butuh enam tahun untuk bisa merelakan semuanya, aku hanya manusia biasa, sekarang ingin menjalani semuanya dengan tenang. Sekarang tinggal merelakannya, mau tidak mau aku harus benar-benar lepas dari bayangan Yohana. Ia akan menjadi milik orang lain, pantang bagiku mendamba milik orang lain.

Tapi, apakah bisa?

Aku tersenyum kecut membayangkan kisah kami. Dahulu rasanya sangat manis. Ketika masih memakai seragam SMA. Meski antara kami ada jarak, tapi kami berdua sama-sama yakin kelak akan bisa bersama.

"Ternyata kita salah Han," aku berbisik pada diriku sendiri. "Ku pikir kamu adalah jodoh yang ditakdirkan Allah untukku, tapi ternyata tidak. Kamu malah menjadi jodoh abangku meski kemudian jodoh kalian hanya enam tahun saja. Sekarang kamu akan menjadi milik orang lain yang entah siapa, yang jelas kita akan semakin jauh atau mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi padahal hatiku rasa-rasanya tak ingin melepaskan kamu. Aneh sekali, cinta, lalu menjadi benci, sekarang kembali menjadi begitu nyaman mengingat kamu." aku menutup wajahku dengan kedua tangan. "Astagfirullah ... astagfirullah ... astagfirullah. Sadar Ben, sadar. Yohana akan menikah dengan orang lain, kenapa masih memikirkannya?" aku menepuk pelan keningku. Tapi tak mudah membuat sadar diri sendiri agar benar-benar melepas Yohana meski tahu apa yang ku lakukan ini salah dan akan sia-sia saja.

Yohana mungkin terlalu baik untuk kamu yang bukan siapa-siapa ini, Ben! Aku kembali mengingatkan diriku sendiri.

Kini, aku bersiap meninggalkan bandara setelah melihat Yohana naik ke ruang tunggu di atas setelah check in. Ia sempat menoleh ke arahku, entah ia melihatku atau tidak tapi kini ia sudah berlalu. Akupun melakukan hal yang sama, berbalik arah hendak pulang.

"Ben!" seseorang kembali memanggil namaku. Suara yang berbeda, itu bukan Yohana, tapi siapa? Waktu aku berbalik, ternyata Reni. Ia ada di belakangku, duduk di atas kursi roda, menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Ben!" panggilnya lagi, lalu berusaha sekuat tenaga menuju ke arahku.

"Ren, Reni!" aku balas memanggil. Ikut mendekat.

"Ben, kamu ada di sini? Kamu tahu aku akan terbang ke Aceh? Kamu menyusul aku? Kamu tahu dari mana aku di sini? Aku benar-benar kaget melihat kamu, aku pikir ini hanya halusinasi tapi ternyata benar, Ben!" Reni nyaris berteriak histeris, ia terlihat bahagia sekali, senyum bercampur tangisan kecil sebagai bentuk ekspresi bahagia yang ia rasa.

"Ren," panggilku lagi. Aku benar-benar tak menyangka bisa bertemu Reni di sini. Meski dalam kondisi yang tidak baik-baik saja sebab sekarang ia menggunakan kursi roda. Wajahnya juga masih pucat. Namun kini aku bisa melihat senyumnya. Beberapa hari ini aku telah lupa akan dirinya tapi Tuhan di mempertemukan kami kembali setelah aku kehilangan dirinya.

"Ren, maafkan aku!" cepat aku mengucap maaf saat mendapat kesempatan itu.

Kemarin-kemarin aku sangat takut tak bisa bertemu Reni lagi sebab ia benar-benar menghilang bak di telan bumi. Tapi siapa sangka kini kami bertemu saat aku tak lagi mencarinya.

"Ma ... Mama, Papa!" Reni melambaikan tangannya pada kedua orang tuanya yang berdiri tak jauh dari kami. Saat aku melihat ke arah yang ditunjuk Reni, aku baru sadar rupanya sejak Reni memanggil aku sudah diperhatikan oleh kedua orang tuanya.

Jantungku langsung berdebar, membayangkan apakah akan kembali menjadi bulan-bulanan ayahnya atau lebih oarah lagi. Tapi apapun itu aku sudah pasrah. Aku tak peduli yang terpenting bisa ketemu Reni lagi. Ini sudah lebih dari cukup. "Mama dan Papa lihat kan, apa yang Reni ucapkan benar. Ben benar-benar datang menemui Reni. Ia menyusul ke sini. Ben tak melupakan Reni. Ia tak seburuk yang papa katakan." Kata Reni, membuatku menelan ludah.

Aku ke sini bukan untuk bertemu dengannya. Malah aku tak tahu ia ada di bandara ini. Pertemuan ini hanyalah kebetulan saja. Tapi ternyata Reni salah sangka. Aku juga tak tahu harus mengatakan apa sebab ia terlihat sangat bahagia sekaligus puas mengatakan hal tersebut pada kedua orang tuanya.

"Ma ... Pa, sekarang tolong batalkan kepergian kita. Reni mohon. Reni ingin di Jakarta saja, Reni nggak mau pulang ke Aceh. Reni nggak mau jauh dari Ben." Pinta Reni para orang tuanya.

Ayah dan ibu Reni saling pandang. Sebelum membuat keputusan, ayahnya meminta bicara empat mata denganku. Awalnya Reni tak setuju sebab ia takut ayahnya mengasari aku lagi, tapi setelah ayahnya membuat janji, barulah Reni membiarkan aku dan ayahnya berbicara. Kami menuju sudut bandara, Sementara Reni dan ibunya tetap menunggu di sana.

"Kamu lihat kan kondisi Reni sekarang?" Kata ayahnya. "Fisiknya masih belum pulih betul, apalagi mentalnya. Sejak masuk rumah sakit, ia benar-benar mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia hanya bicara seadanya. Itupun jarang mau bicara. Kami baru melihatnya tersenyum lagi saat ia melihat kamu. Saat itu juga kami baru sadar kamu bukan teman sembarang untuknya. Semula saya sangat benci sebab kamu sudah meninggalkan putri saya dan membuatnya menjadi seperti ini, tapi sekarang saya dan istri saya sadar hanya kamu yang bisa mengembalikan Reni kami yang ceria seperti dulu." Kata ayahnya. "Nak, saya pernah berdosa sebab sudah menyakiti kamu, tapi itu reflek dari kemarahan saya atas apa yang sudah kamu lakukan pada putri kami, saya rasa kamu pun akan melakukan semua itu, jadi tolong, bantu kami mengembalikan Reni yang dahulu." Pinta ayah Reni sambil menautkan kedua tangannya.

"Om, tak perlu begini. Apapun akan saya lakukan untuk kesembuhan Reni " kataku

"Be ... benarkah? Apapun itu? Kamu janji tak akan meninggalkan Reni?" tanya om Bili, ayahnya Reni

"Ya Om. Saya janji." Kataku lagi dengan penuh keyakinan. Lagipula setelah kesalahan yang aku lakukan, bagaimana mungkin aku bisa membiarkan ia berjuang sendiri padahal Reni sangat membutuhkan aku.

"Baiklah, kami tak akan membawanya pulang ke Aceh. Kami akan merawatnya di sini dengan bantuan kamu, nak Ben." Kata ayahnya. "Tolong, kapanpun nak Ben punya waktu, sering-seringlah main ke rumah kami agar Reni punya semangat hidup lagi. Kemarin-kemarin ia bahkan ingin mengakhiri hidupnya. Padahal Reni adalah satu-satunya putri yang kami miliki, tanpanya kami mungkin akan kehilangan cahaya dalam hidup." Kata om Bili lagi.

Meski tak tahu harus melakukan apa, tapi aku janji akan tetap menjadi temannya Reni. Aku akan membantu orang tuanya mengembalikan semangat hidup putri mereka

Episodes
1 Disuruh Pulang
2 Dalam Penjara Kuasa Abah
3 Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4 Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5 Permintaan Atau Paksaan
6 Abah Yang Toxic
7 Reni ... Reni
8 Permintaan Maaf Yohana
9 Kacau
10 Kabar Buruk Tentang Reni
11 Jangan Pergi, Ren!
12 Selamat Tinggal Yohana!
13 Ada Reni!
14 Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15 Buku Catatan Abah
16 Cerita Ami
17 Rahasia Yang Sebenernya
18 Permintaan Ayah Reni
19 Tanggung Jawab
20 Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21 Kabar Ingin Menikah
22 Isi Hati Bunda
23 Setelah Akad
24 Setelah Enam Bulan
25 Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26 Bersama Yohana
27 Harapan Membahagiakan Yohana
28 Usaha Untuk Bertahan
29 Baju Kurung Untuk Yohana
30 Apakah Kamu Bahagia, Han?
31 Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32 Reni Datang
33 Berdebat Dengan Reni
34 Reni Sakit
35 Reni Belum Bisa Dipulangkan
36 Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37 Hinaan Reni
38 Orang Tua Reni Datang
39 Nasib Orang Miskin
40 Saling Adu
41 Hanya Kamu Seorang
42 Double Date?
43 Penolakan Reni
44 Ketahuan?
45 Yohana, Kamu Dimana?
46 Reni Meniru Yohana
47 Reni Akhirnya Pergi
48 Pulanglah, Ben!
49 Demi Sebuah Bakti
50 Putusan Cerai
51 Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52 Tiga Ganjalan Besar (1)
53 Tiga Ganjalan Besar (2)
54 Bertemu Anak-anak Pak Diki
55 Bunda Meninggal
56 Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57 Dua Hambatan Telah Selesai
58 Akhirnya Bertemu Yohana
59 Yohana: Pergilah Ben!
60 Lelaki Yang Disebut Monster
61 HAMBATAN SEBELUM PERGI
62 Menjemput Upik Dan Puti
63 Kejutan Tasyakuran
64 Membesuk Abah
65 Yohana Yang Suci
66 Mbak Lila Ingin Pergi
67 Hambatan-hambatan
68 Membawa Abah Pulang
69 Kecurigaan Ami
70 Kecurigaan Ami (2)
71 Sebelum Abah Pergi
72 Peristirahatan Terakhir
73 Mbak Lila Menikah
74 Tahun Pertama Pernikahan
75 Tentang Anak
76 Marah
77 Menjadi Pelayan Yohana
78 Salam Perpisahan
79 Anak-anak Hilang
80 Mencari Anak-anak
81 Bangkitlah Yohana
82 Seorang Anak Yang Terpilih
83 Tiga Orang Putri
84 Setelah 12 Tahun
85 Anak Magang
86 Desas-desus
87 Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88 Pulang
89 Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90 Dugaan
91 Kamu Harus Pergi
92 Kejutan Dari Nilam
93 Masalah Demi Masalah
94 Informasi Genta
95 Bertemu Upik
96 Cerita Upik
97 Caca Cemburu
98 Keinginan Puti
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Disuruh Pulang
2
Dalam Penjara Kuasa Abah
3
Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4
Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5
Permintaan Atau Paksaan
6
Abah Yang Toxic
7
Reni ... Reni
8
Permintaan Maaf Yohana
9
Kacau
10
Kabar Buruk Tentang Reni
11
Jangan Pergi, Ren!
12
Selamat Tinggal Yohana!
13
Ada Reni!
14
Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15
Buku Catatan Abah
16
Cerita Ami
17
Rahasia Yang Sebenernya
18
Permintaan Ayah Reni
19
Tanggung Jawab
20
Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21
Kabar Ingin Menikah
22
Isi Hati Bunda
23
Setelah Akad
24
Setelah Enam Bulan
25
Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26
Bersama Yohana
27
Harapan Membahagiakan Yohana
28
Usaha Untuk Bertahan
29
Baju Kurung Untuk Yohana
30
Apakah Kamu Bahagia, Han?
31
Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32
Reni Datang
33
Berdebat Dengan Reni
34
Reni Sakit
35
Reni Belum Bisa Dipulangkan
36
Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37
Hinaan Reni
38
Orang Tua Reni Datang
39
Nasib Orang Miskin
40
Saling Adu
41
Hanya Kamu Seorang
42
Double Date?
43
Penolakan Reni
44
Ketahuan?
45
Yohana, Kamu Dimana?
46
Reni Meniru Yohana
47
Reni Akhirnya Pergi
48
Pulanglah, Ben!
49
Demi Sebuah Bakti
50
Putusan Cerai
51
Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52
Tiga Ganjalan Besar (1)
53
Tiga Ganjalan Besar (2)
54
Bertemu Anak-anak Pak Diki
55
Bunda Meninggal
56
Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57
Dua Hambatan Telah Selesai
58
Akhirnya Bertemu Yohana
59
Yohana: Pergilah Ben!
60
Lelaki Yang Disebut Monster
61
HAMBATAN SEBELUM PERGI
62
Menjemput Upik Dan Puti
63
Kejutan Tasyakuran
64
Membesuk Abah
65
Yohana Yang Suci
66
Mbak Lila Ingin Pergi
67
Hambatan-hambatan
68
Membawa Abah Pulang
69
Kecurigaan Ami
70
Kecurigaan Ami (2)
71
Sebelum Abah Pergi
72
Peristirahatan Terakhir
73
Mbak Lila Menikah
74
Tahun Pertama Pernikahan
75
Tentang Anak
76
Marah
77
Menjadi Pelayan Yohana
78
Salam Perpisahan
79
Anak-anak Hilang
80
Mencari Anak-anak
81
Bangkitlah Yohana
82
Seorang Anak Yang Terpilih
83
Tiga Orang Putri
84
Setelah 12 Tahun
85
Anak Magang
86
Desas-desus
87
Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88
Pulang
89
Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90
Dugaan
91
Kamu Harus Pergi
92
Kejutan Dari Nilam
93
Masalah Demi Masalah
94
Informasi Genta
95
Bertemu Upik
96
Cerita Upik
97
Caca Cemburu
98
Keinginan Puti

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!