Buku Catatan Abah

Aku masih menimbang-nimbang buku ini, ketika lembar pertama terbuka, tampak jelas goresan tangan Abah, aku hafal betul tulisan seluruh anggota keluarga kami.

Buka, enggak. Buka, enggak. Aku masih menimbang-nimbang apakah harus membacanya atau mengembalikan kembali ke tempat semula agar Abah menemukan saat kembali mencarinya. Rasanya masih bimbang sebab tahu membaca catatan orang lain tanpa seizin pemiliknya sangatlah tidak sopan. Tapi rasa penasaran itu sangatlah besar. Selain ingin tahu apa yang Abah tulus, aku juga penasaran apakah Abah menyimpan rahasia, meski rasanya tak mungkin orang seperti Abah menulis catatan seperti diary.

"Aghhh, bagaimana ini?" aku semakin bimbang. Sambil berjalan, ku pertimbangkan antara membacanya atau tidak. Begitu sampai di motor, sebuah keputusan sudah ku ambil. "Aku akan membaca satu halaman saja, palingan ini hanya catatan kajian Abah, seperti yang dulu biasa dilakukannya." kataku. Dengan entengnya aku membuka halaman bagian akhir secara acak.

Anak itu telah pergi. Ia benar-benar pergi selamanya dan akulah yang menyebabkannya pergi. Aku membunuhnya. Membunuh darah dagingku sendiri! Ia sudah memberikan semuanya yang bisa ia lakukan, melaksanakan perintahku tanpa banyak membantah. Tapi aku sudah membuatnya menjadi manusia yang paling tidak bahagia di muka bumi ini. Lalu apakah aku masih pantas disebut sebagai ayah?

Satu paragraf tulisan Abah yang ku baca itu membuat jantung berdebar. Aku bahkan sampai panas dingin. Ini tak salah tulis, kan? Ini pasti tentang bang Sigit. Apa maksudnya? Bang Sigit meninggal karena kecelakaan, kan? Apa ada hubungannya dengan Abah yang tadi menangis di depan makam Abang?

Kepalaku rasanya sangat sakit, perutku mual membayangkan semuanya. Entah kenapa aku sangat menyesal sudah memberanikan diri membacanya. Harusnya tadi aku tak lancang. Kini aku benar-benar dilanda penasaran. Buku itu kumasukkan dalam tas, lalu dengan susah payah aku menghidupkan mesin motor, menjalankannya membelah jalanan yang tak terlalu ramai. Sudah ku putuskan, aku tak akan pulang, aku akan kembali ke kosan untuk membaca semua ini.

***

Perjalanan dari makam bang Sigit menuju kosan rasanya berkali-kali lipat jauhnya. Mungkin karena kepalaku yang tiba-tiba sakit ditambah perut mual usai membaca satu paragraf. Tapi setidaknya kini aku bersyukur, sudah sampai di kosan dengan selamat. Masih dengan tubuh yang bergetar, usai mengunci pintu, aku menjatuhkan tubuh di atas tempat tidur.

"Ya Tuhan, rahasia apa yang kira-kira akan hamba ketahui hari ini?" aku masih bertanya-tanya. Rasa penasaran sudah sangat besar namun masih ada kekhawatiran. Takut tak sanggup mengetahui semua rahasia Abah. Tapi aku juga tak ingin melewatkannya begitu saja. Aku ingin tahu semuanya. "Kamu harus kuat, Ben. Harus kuat!" Aku menyemangati diri sendiri.

Setelah merasa agak baikan, aku mulai membuka catatan milik Abah. Halaman pertama berisi tentang catatan Abah saat masih lajang, ada tulisan yang amat pendek, proses ketika Abah hendak menikahi bunda. Semua tulisan di sini masih sangat normal. Bagaimana perasaan seorang laki-laki lajang yang hendak mempersunting pujaan hatinya.

Di halaman berikutnya, cerita Abah mulai mengerikan, bagaimana Abah bergelut dengan perasaannya saat ia begitu kesal pada bunda yang melakukan kesalahan kecil. Namun pada akhirnya Abah menyakiti bunda juga. Menganggapnya sebagai hukuman dan Abah mulai menganggap itu normal sebagai bentuk seorang suami yang mendidik istrinya. Meski apa yang dilakukan Abah susah benar-benar diluar batas. Sayangnya tak ada seorangpun yang berani membantah Abah kala itu.

"Sakit!" aku begitu kesal membaca tulisan Abah yang mulai percaya diri, bahkan cenderung bangga saat menuliskan bagaimana ia mendidik bunda dan anak-anaknya. Semua dengan cara kekerasan. Aku benar-benar muak.

Buku catatan itu ku letakkan. Ingin sekali berteriak usai membaca bagaimana Abah begitu puas dengan semuanya. Bahkan di halaman berikutnya Abah merasa bangga. Ia bahkan merasa berhasil mendidik istri dan anaknya meski menggunakan kekerasan sebab setelah memukuli istri dan anaknya, semuanya jadi penurut.

Ada sesuatu yang salah pada Abah. Entah apa. Aku masih mencari-cari. Namun tak kunjung menemukan hingga akhirnya tanganku terhenti pada halaman pertengahan. Ketika Abah menceritakan tentang bang Sigit. Abangku itu sempat menolak,Abah menulis, karakter bang Sigit seperti dirinya saat masih kecil, Tapi berkat dihajar oleh ayahnya habis-habisan makanya Abah kini menjadi seorang ustadz yang cukup disegani. Tapi itu semua hanya topeng. Abah yang ada di rumah kami adalah Abah yang kejam.

Aku meyakini, Abah mengalami luka batin semasa kecilnya karena orang tuanya. Luka itu yang kemudian membuatnya menjadi sangat kasar kepada kami. Abah juga menceritakan bagaimana ia memaksakan kehendak pada bang Sigit yang membuat bang Sigit tertekan saat pergi dari rumah menahan marah usai berdebat dengan Abah hingga akhirnya mengalami kecelakaan. Abah menuliskan penyesalannya namun ia juga menyebutkan melakukan itu demi kebaikan abangku. Berarti masih ada sisi Abah menganggap itu semua wajar.

Aku sudah berusaha menghindari agar Sigit tak bersama dengan perempuan itu. Tapi pengakuannya yang mengatakan mengandung anak Sigit membuatku murka. Rasanya aku ingin menghabisi nyawa anak breng--- itu saja. Tapi lagi-lagi Femi memohon agar aku mau memaafkan Sigit dan perempuan itu membuatku luluh juga. Aku memberi mereka kesempatan terakhir tapi ia tak boleh bersama perempuan itu lagi.

Keningku berkerut. Perempuan siapa yang dimaksud Abah. Rahasia apa yang sebenarnya mereka sembunyikan? Aku benar-benar penasaran namun tak bisa menebak apapun. Sepengetahuan ku, tak ada seorang pun perempuan yang pernah dekat dengan bang Sigit. Ia memang pernah didekati oleh beberapa remaja teman satu sekolahannya. Sebagai adiknya, aku pernah melihat dititipi kakak-kakak seusianya surat dan hadiah kecil yang isinya coklat. Namun surat-surat itu berakhir di tempat sampah, sementara coklatnya jadi milikku dan Yohana.

p

Terakhir, yang menitipkan adalah mbak Wulan, anak pak RT di perumahan ini. Ia memang sangat menyukai bang Sigit. Sampai-sampai ia rela salat berjamaah setiap hari ke masjid, datang paling awal, pulang paling akhir demi bisa bertemu dengan bang Sigit. Tapi dengan tegas bang Sigit menolaknya, bahkan sempat memarahi mbak Wulan hingga ia menangis dan sejak itu ia tak pernah lagi ke masjid. Yang aku tahu kabarnya, sebulan setelah itu ia pindah sekolah ke pondok pesantren. Lulus langsung menikah dengan salah satu santri di sana.

Setelah kejadian itu tak pernah lagi ada yang menitipkan surat dan hadiah padaku dan Yohana, sepertinya mereka sadar bahwa itu hanya akan jadi perbuatan sia-sia sebab bang Sigit tak akan pernah membalasnya. Lalu perempuan mana yang dimaksud Abah?

Terpopuler

Comments

Nova

Nova

ichhhhh tambah penasaran....ayooooo kak othor.....up lg...jgn Ampe aku sakit Krn penasaran

2023-01-14

1

lihat semua
Episodes
1 Disuruh Pulang
2 Dalam Penjara Kuasa Abah
3 Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4 Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5 Permintaan Atau Paksaan
6 Abah Yang Toxic
7 Reni ... Reni
8 Permintaan Maaf Yohana
9 Kacau
10 Kabar Buruk Tentang Reni
11 Jangan Pergi, Ren!
12 Selamat Tinggal Yohana!
13 Ada Reni!
14 Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15 Buku Catatan Abah
16 Cerita Ami
17 Rahasia Yang Sebenernya
18 Permintaan Ayah Reni
19 Tanggung Jawab
20 Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21 Kabar Ingin Menikah
22 Isi Hati Bunda
23 Setelah Akad
24 Setelah Enam Bulan
25 Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26 Bersama Yohana
27 Harapan Membahagiakan Yohana
28 Usaha Untuk Bertahan
29 Baju Kurung Untuk Yohana
30 Apakah Kamu Bahagia, Han?
31 Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32 Reni Datang
33 Berdebat Dengan Reni
34 Reni Sakit
35 Reni Belum Bisa Dipulangkan
36 Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37 Hinaan Reni
38 Orang Tua Reni Datang
39 Nasib Orang Miskin
40 Saling Adu
41 Hanya Kamu Seorang
42 Double Date?
43 Penolakan Reni
44 Ketahuan?
45 Yohana, Kamu Dimana?
46 Reni Meniru Yohana
47 Reni Akhirnya Pergi
48 Pulanglah, Ben!
49 Demi Sebuah Bakti
50 Putusan Cerai
51 Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52 Tiga Ganjalan Besar (1)
53 Tiga Ganjalan Besar (2)
54 Bertemu Anak-anak Pak Diki
55 Bunda Meninggal
56 Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57 Dua Hambatan Telah Selesai
58 Akhirnya Bertemu Yohana
59 Yohana: Pergilah Ben!
60 Lelaki Yang Disebut Monster
61 HAMBATAN SEBELUM PERGI
62 Menjemput Upik Dan Puti
63 Kejutan Tasyakuran
64 Membesuk Abah
65 Yohana Yang Suci
66 Mbak Lila Ingin Pergi
67 Hambatan-hambatan
68 Membawa Abah Pulang
69 Kecurigaan Ami
70 Kecurigaan Ami (2)
71 Sebelum Abah Pergi
72 Peristirahatan Terakhir
73 Mbak Lila Menikah
74 Tahun Pertama Pernikahan
75 Tentang Anak
76 Marah
77 Menjadi Pelayan Yohana
78 Salam Perpisahan
79 Anak-anak Hilang
80 Mencari Anak-anak
81 Bangkitlah Yohana
82 Seorang Anak Yang Terpilih
83 Tiga Orang Putri
84 Setelah 12 Tahun
85 Anak Magang
86 Desas-desus
87 Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88 Pulang
89 Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90 Dugaan
91 Kamu Harus Pergi
92 Kejutan Dari Nilam
93 Masalah Demi Masalah
94 Informasi Genta
95 Bertemu Upik
96 Cerita Upik
97 Caca Cemburu
98 Keinginan Puti
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Disuruh Pulang
2
Dalam Penjara Kuasa Abah
3
Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4
Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5
Permintaan Atau Paksaan
6
Abah Yang Toxic
7
Reni ... Reni
8
Permintaan Maaf Yohana
9
Kacau
10
Kabar Buruk Tentang Reni
11
Jangan Pergi, Ren!
12
Selamat Tinggal Yohana!
13
Ada Reni!
14
Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15
Buku Catatan Abah
16
Cerita Ami
17
Rahasia Yang Sebenernya
18
Permintaan Ayah Reni
19
Tanggung Jawab
20
Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21
Kabar Ingin Menikah
22
Isi Hati Bunda
23
Setelah Akad
24
Setelah Enam Bulan
25
Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26
Bersama Yohana
27
Harapan Membahagiakan Yohana
28
Usaha Untuk Bertahan
29
Baju Kurung Untuk Yohana
30
Apakah Kamu Bahagia, Han?
31
Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32
Reni Datang
33
Berdebat Dengan Reni
34
Reni Sakit
35
Reni Belum Bisa Dipulangkan
36
Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37
Hinaan Reni
38
Orang Tua Reni Datang
39
Nasib Orang Miskin
40
Saling Adu
41
Hanya Kamu Seorang
42
Double Date?
43
Penolakan Reni
44
Ketahuan?
45
Yohana, Kamu Dimana?
46
Reni Meniru Yohana
47
Reni Akhirnya Pergi
48
Pulanglah, Ben!
49
Demi Sebuah Bakti
50
Putusan Cerai
51
Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52
Tiga Ganjalan Besar (1)
53
Tiga Ganjalan Besar (2)
54
Bertemu Anak-anak Pak Diki
55
Bunda Meninggal
56
Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57
Dua Hambatan Telah Selesai
58
Akhirnya Bertemu Yohana
59
Yohana: Pergilah Ben!
60
Lelaki Yang Disebut Monster
61
HAMBATAN SEBELUM PERGI
62
Menjemput Upik Dan Puti
63
Kejutan Tasyakuran
64
Membesuk Abah
65
Yohana Yang Suci
66
Mbak Lila Ingin Pergi
67
Hambatan-hambatan
68
Membawa Abah Pulang
69
Kecurigaan Ami
70
Kecurigaan Ami (2)
71
Sebelum Abah Pergi
72
Peristirahatan Terakhir
73
Mbak Lila Menikah
74
Tahun Pertama Pernikahan
75
Tentang Anak
76
Marah
77
Menjadi Pelayan Yohana
78
Salam Perpisahan
79
Anak-anak Hilang
80
Mencari Anak-anak
81
Bangkitlah Yohana
82
Seorang Anak Yang Terpilih
83
Tiga Orang Putri
84
Setelah 12 Tahun
85
Anak Magang
86
Desas-desus
87
Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88
Pulang
89
Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90
Dugaan
91
Kamu Harus Pergi
92
Kejutan Dari Nilam
93
Masalah Demi Masalah
94
Informasi Genta
95
Bertemu Upik
96
Cerita Upik
97
Caca Cemburu
98
Keinginan Puti

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!