Kabar Buruk Tentang Reni

Sudah pukul Tujuh. Dengan mata masih mengantuk, aku buru-buru ke kamar mandi yang juga berada dalam kamar untuk berwudhu. Semalam karena tidur terlalu larut, akhirnya aku harus bangun kesiangan sehingga terlambat salat Subuh. Meski begitu aku tetap salat, lebih baik terlambat daripada tidak salat sama sekali.

Bruk. Bruk. Bruk. Bersamaan dengan salam, seseorang menggedor pintu kamarku. Diikuti suara teriakan. Rupanya itu Riko, teman satu angkatan Reni, juga satu organisasi dengan kami. Aku mengenalnya sejak lama. Ia sempat meminta bantuanku untuk menjadi comblang dirinya dan Reni. Tapi ditolak mentah-mentah oleh Reni.

"Ada apa Ko, pagi-pagi sudah ke sini " Kataku, agak kesal sebab kaget dengan caranya mengetuk pintu.

"Reni, Ben. Reni," katanya sambil menunjuk arah luar

"Kenapa dengan Reni?"

"Semalam ia hilang, kami mengira ia pulang setelah izin sakit, tapi ternyata tidak. Reni jadi korban geng motor. Tadi ditemukan di semak lapangan bola yang berada di Timur rumah sakit, dia ...." Riko tak bisa melanjutkan ceritanya, ia menangis sambil berlutut.

"Innalilahi, Reni kenapa Ko? Cerita yang benar. Jangan nangis dulu!" aku terlanjur terbawa emosi, langsung menarik dokter muda itu agar kembali bangkit dan bercerita.

"Dia jadi korban pelecehan," Riko kembali menangis.

Rupanya, semalam, setelah ku tinggalkan, Reni yang kemungkinan hendak kembali ke rumah sakit di hadang oleh geng motor yang sudah mengintai sejak kami jalan berdua ke lesehan. Tak hanya mengambil barang-barang berharga Reni, mereka juga merebut paksa kesuciannya. Reni ditemukan pagi-pagi di semak-semak lapangan bola yang berada masih sekitar rumah sakit. Namun kalau malam di sana sepi, bahkan bisa dipastikan tak ada yang ke sana selarut itu.

Semula tak ada yang ngeh dengan kehilangan Reni. Baru ketahuan saat salah seorang teman koas Reni yang kebetulan juga masih saudara menghubungi ibunya pagi ba'da Subuh. Menanyakan apa Reni baik-baik saja sebab mobilnya masih diparkiran padahal orangnya sudah pergi sejak semalam. Ibunya tentu panik sejak semalam ia tak pulang, yang orang tuanya tahu Reni dinas malam dan biasanya baru pulang jam tujuh pagi.

Jam lima pagi itu juga, atas koneksi orang tuanya, semua mencari Reni dibantu oleh polisi, satu jam kemudian ia ditemukan dan betapa terkejutnya saat gadis malang itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan.

"Sekarang Reni dimana?" aku pun ikut terbawa suasana, menangis mendengar kondisi Reni saat ini. Sebagai teman dekatnya aku pun tak sampai hati mendengar cerita itu. Aku merasa iba padanya.

"Dia di rumah sakit, masih dalam perawatan sebab selain mengalami luka-luka, Reni juga sepertinya trauma." kata Riko.

Kami berdua segera meluncur menuju rumah sakit. Aku bahkan tak sempat ganti baju, hanya mengenakan kaus oblong dan celana training yang dipakai tidur. Di depan ruangan tempat Reni dirawat, sudah menunggu orang tuanya yang menangis berpelukan, juga keluarga dan teman-teman Reni.

Mereka pasti sangat terpukul dengan apa yang menimpa Reni, semua terjadi tiba-tiba, apalagi Reni adalah anak tunggal. Harapan orang tuanya ada pada Reni.

"Seharusnya semalam kami menemani Reni pulang. Kami kira ada temannya sebab semalam ada yang menjemputnya. Ia bahkan kembali ke ruang UGD setelah yang menjemputnya datang." Kata teman koasnya.

Aku diam. Mencoba mencerna kejadian ini, ditambah cerita teman-temannya.

Semalam Reni pergi denganku. Setelah pengakuan yang dibuatnya, karena kesal, aku meninggalkan ia di tempat makan sendiri.

Kejadian yang menimpa Reni terjadi di sekitar wilayah Timur rumah sakit. Berarti itu terjadi setelah aku meninggalkannya. Pasti Reni pulang sendiri dan geng motor itu melakukan aksi bejatnya.

Sial. aku benar-benar kecewa pada diriku sendiri. Tahu lokasi itu sangat rawan, tapi kenapa begitu bodoh meninggalkan Reni sendirian. Harusnya aku mengajaknya kembali ke rumah sakit bersama. Setidaknya kalau di rumah sakit ia bisa kembali ke rumahnya naik mobilnya sendiri dan itu jauh lebih aman ketimbang meninggalkan dirinya sendiri di wilayah itu.

Aghhhh, aku benar-benar bersalah. Aku sudah ceroboh membiarkan Reni dalam masalah besar. Ia sampai harus menderita seperti ini.

Bruk. Aku langsung bersimpuh di hadapan kedua orang tua Reni.

"Kenapa Ben?" Tanya teman-temannya yang mengenal aku.

"Pak, Bu ... maafkan saya. Saya yang salah. Saya tak seharusnya membiarkan Reni sendiri. Semalam saya adalah orang yang menjemputnya di UGD. Tapi ia mengajak saya makan di lesehan Timur. Usai makan saya pulang duluan, membiarkan Reni sendiri di sana. sehingga ia harus mengalami ini semua " Kataku.

"Kamu?" ibunya Reni menunjuk aku.

Ayah Reni langsung menarik leher baju kausku, ia kemudian meninju wajahku hingga aku terhuyung ke lantai.

"Bajing-- kamu ya. Laki-laki tidak bertanggung jawab, berani sekali kamu membiarkan Putri kami dalam bahaya!" Kata ayahnya sambil menunjuk wajahku. "Aku tak akan memaafkan kamu. Kau harus mendapatkan ganjaran atas perbuatanmu!" baru saja ayahnya Reni hendak memukulku, polisi yang berada di sana segera melarai, memisahkan kami berdua. "Lepaskan saya. Laki-laki itu sudah mencelakai putri saya. Sekarang saya akan memberinya pelajaran. Saya akan membunuhnya dengan tangan saya sendiri agar sakit putriku bisa terbalaskan!" Kata ayahnya.

Sekuat mungkin ayahnya Reni berusaha memukulku, tapi polisi cukup banyak hingga aku berhasil lepas dari cengkraman ayahnya.

"Pak, kalau saya tidak bisa membalas anak ini dengan tangan saya, maka saya akan menjebloskan ia ke penjara. Tolong bawa ia ke kantor polisi pak, tahan dia, biarkan ia membusuk di penjara!" Kata ayahnya Reni.

Pimpinan polisi yang berada di tempat segera memerintahkan bawahannya untuk membawaku ke kantor polisi. Sampai di sana aku ditanyai, tapi karena aku tak terbukti bersalah, saat itu juga aku dilepaskan meski sebenarnya aku rela di penjara sebab sudah membuat Reni seperti itu.

"Tak ada pasal yang bisa mengenai mas, jadi kami tidak bisa menahan mas." kata polisi yang mulai kewalahan sebab aku tetap ngotot minta di penjara.

"Tapi pak, gara-gara saya meninggalkan teman saya makanya Reni jadi begini. Jadi tahan saja saya pak." pintaku, sambil menangis dan memohon pada polisi.

Kini polisi harus bekerja keras untuk mengusir ku dari kantor mereka sebab aku tetap tak mau pergi. Aku ingin di tahan, aku sudah bersalah membuat seorang gadis yang baik hati harus menderita seperti ini.

Langit pagi ini sebenarnya sangatlah cerah, namun terasa muram bagiku sebab ujian yang menimpa Reni. Andai waktu bisa diulang lagi, sekesal apapun aku tak akan membiarkan Reni sendiri di sana. Aku akan mengantar tak hanya sampai rumah sakit, tapi sampai ke rumahnya agar ia aman.

Episodes
1 Disuruh Pulang
2 Dalam Penjara Kuasa Abah
3 Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4 Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5 Permintaan Atau Paksaan
6 Abah Yang Toxic
7 Reni ... Reni
8 Permintaan Maaf Yohana
9 Kacau
10 Kabar Buruk Tentang Reni
11 Jangan Pergi, Ren!
12 Selamat Tinggal Yohana!
13 Ada Reni!
14 Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15 Buku Catatan Abah
16 Cerita Ami
17 Rahasia Yang Sebenernya
18 Permintaan Ayah Reni
19 Tanggung Jawab
20 Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21 Kabar Ingin Menikah
22 Isi Hati Bunda
23 Setelah Akad
24 Setelah Enam Bulan
25 Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26 Bersama Yohana
27 Harapan Membahagiakan Yohana
28 Usaha Untuk Bertahan
29 Baju Kurung Untuk Yohana
30 Apakah Kamu Bahagia, Han?
31 Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32 Reni Datang
33 Berdebat Dengan Reni
34 Reni Sakit
35 Reni Belum Bisa Dipulangkan
36 Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37 Hinaan Reni
38 Orang Tua Reni Datang
39 Nasib Orang Miskin
40 Saling Adu
41 Hanya Kamu Seorang
42 Double Date?
43 Penolakan Reni
44 Ketahuan?
45 Yohana, Kamu Dimana?
46 Reni Meniru Yohana
47 Reni Akhirnya Pergi
48 Pulanglah, Ben!
49 Demi Sebuah Bakti
50 Putusan Cerai
51 Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52 Tiga Ganjalan Besar (1)
53 Tiga Ganjalan Besar (2)
54 Bertemu Anak-anak Pak Diki
55 Bunda Meninggal
56 Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57 Dua Hambatan Telah Selesai
58 Akhirnya Bertemu Yohana
59 Yohana: Pergilah Ben!
60 Lelaki Yang Disebut Monster
61 HAMBATAN SEBELUM PERGI
62 Menjemput Upik Dan Puti
63 Kejutan Tasyakuran
64 Membesuk Abah
65 Yohana Yang Suci
66 Mbak Lila Ingin Pergi
67 Hambatan-hambatan
68 Membawa Abah Pulang
69 Kecurigaan Ami
70 Kecurigaan Ami (2)
71 Sebelum Abah Pergi
72 Peristirahatan Terakhir
73 Mbak Lila Menikah
74 Tahun Pertama Pernikahan
75 Tentang Anak
76 Marah
77 Menjadi Pelayan Yohana
78 Salam Perpisahan
79 Anak-anak Hilang
80 Mencari Anak-anak
81 Bangkitlah Yohana
82 Seorang Anak Yang Terpilih
83 Tiga Orang Putri
84 Setelah 12 Tahun
85 Anak Magang
86 Desas-desus
87 Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88 Pulang
89 Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90 Dugaan
91 Kamu Harus Pergi
92 Kejutan Dari Nilam
93 Masalah Demi Masalah
94 Informasi Genta
95 Bertemu Upik
96 Cerita Upik
97 Caca Cemburu
98 Keinginan Puti
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Disuruh Pulang
2
Dalam Penjara Kuasa Abah
3
Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4
Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5
Permintaan Atau Paksaan
6
Abah Yang Toxic
7
Reni ... Reni
8
Permintaan Maaf Yohana
9
Kacau
10
Kabar Buruk Tentang Reni
11
Jangan Pergi, Ren!
12
Selamat Tinggal Yohana!
13
Ada Reni!
14
Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15
Buku Catatan Abah
16
Cerita Ami
17
Rahasia Yang Sebenernya
18
Permintaan Ayah Reni
19
Tanggung Jawab
20
Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21
Kabar Ingin Menikah
22
Isi Hati Bunda
23
Setelah Akad
24
Setelah Enam Bulan
25
Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26
Bersama Yohana
27
Harapan Membahagiakan Yohana
28
Usaha Untuk Bertahan
29
Baju Kurung Untuk Yohana
30
Apakah Kamu Bahagia, Han?
31
Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32
Reni Datang
33
Berdebat Dengan Reni
34
Reni Sakit
35
Reni Belum Bisa Dipulangkan
36
Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37
Hinaan Reni
38
Orang Tua Reni Datang
39
Nasib Orang Miskin
40
Saling Adu
41
Hanya Kamu Seorang
42
Double Date?
43
Penolakan Reni
44
Ketahuan?
45
Yohana, Kamu Dimana?
46
Reni Meniru Yohana
47
Reni Akhirnya Pergi
48
Pulanglah, Ben!
49
Demi Sebuah Bakti
50
Putusan Cerai
51
Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52
Tiga Ganjalan Besar (1)
53
Tiga Ganjalan Besar (2)
54
Bertemu Anak-anak Pak Diki
55
Bunda Meninggal
56
Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57
Dua Hambatan Telah Selesai
58
Akhirnya Bertemu Yohana
59
Yohana: Pergilah Ben!
60
Lelaki Yang Disebut Monster
61
HAMBATAN SEBELUM PERGI
62
Menjemput Upik Dan Puti
63
Kejutan Tasyakuran
64
Membesuk Abah
65
Yohana Yang Suci
66
Mbak Lila Ingin Pergi
67
Hambatan-hambatan
68
Membawa Abah Pulang
69
Kecurigaan Ami
70
Kecurigaan Ami (2)
71
Sebelum Abah Pergi
72
Peristirahatan Terakhir
73
Mbak Lila Menikah
74
Tahun Pertama Pernikahan
75
Tentang Anak
76
Marah
77
Menjadi Pelayan Yohana
78
Salam Perpisahan
79
Anak-anak Hilang
80
Mencari Anak-anak
81
Bangkitlah Yohana
82
Seorang Anak Yang Terpilih
83
Tiga Orang Putri
84
Setelah 12 Tahun
85
Anak Magang
86
Desas-desus
87
Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88
Pulang
89
Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90
Dugaan
91
Kamu Harus Pergi
92
Kejutan Dari Nilam
93
Masalah Demi Masalah
94
Informasi Genta
95
Bertemu Upik
96
Cerita Upik
97
Caca Cemburu
98
Keinginan Puti

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!