Jangan Pergi, Ren!

Aku melangkah lunglai memasuki rumah sakit diikuti tatapan dari mata-mata yang mengenaliku dan tahu kejadian yang menimpa Reni. Entah apa yang mereka pikirkan, tapi dari tatapannya terlihat bahwa mereka menyalahkan aku dan aku menerima itu semua. Karena orang tua Reni tak menyukai kehadiranku, makanya aku memilih menjaga jarak, tak ingin menambah beban mereka lagi setelah begitu banyak duka yang secara tidak langsung ku sebabkan.

Getaran dari telepon genggam membuatku tersadar, telepon dari Abah. Seperti biasa, ia masih marah. Menyuruhku pulang dengan sumpah serapah. Aku hanya bisa mematikan panggilan tersebut. Tapi tak lama masuk lagi panggilan dari nomor Abah. Ku abaikan karena kini pandanganku tertuju pada pesan dan panggilan tak terjawab dari Reni. Air mataku mengalir membaca pesan-pesannya. Bahkan, kemungkinan ketika ia dijahati oleh berandalan itu, Reni sempat menghubungi aku, mungkin ia ingin meminta bantuanku, tapi sayangnya aku gak peka hingga akhirnya ia harus mengalami peristiwa naas itu.

"Sial, benar-benar sial kamu Ben! Bodoh. Penjahat. Dungu. Tak bisa diandalkan!" Aku memaki diri sendiri sambil memukul kepalaku sendiri untuk menyalurkan emosi. Aku benar-benar kesal, kenapa tak terpikirkan tentang keselamatannya. Padahal Reni sangat memikirkan aku, ia selalu siap dan maksimal kalau urusan membantuku.

"Ben, sudah cukup!" Riko datang menghampiri. Rupanya ia memperhatikan aku sejak tadi.

"Aku teman yang bangsat, Ko." Kataku, sambil menangis. "Bisa-bisanya aku membiarkannya dalam bahaya. Benar-benar tolol. Aku tak pantas menjadi temannya. Ia susah banyak membantu tapi ini yang aku lakukan. Bahkan untuk melindunginya sekali saja aku tak bisa. Apa yang diharapkan dariku sebagai teman?"

"Semula aku juga berpikir begitu Ben. Kamu tak pantas menjadi teman Reni, ia terlalu baik untuk kamu. Tapi sayangnya, Tuhan mentakdirkan lain. Kamulah yang jadi teman terdekatnya. Kamu juga yang menjadi laki-laki yang ia cintai. Kamu tahu kan Ben, bagaimana irinya aku padamu. Kenapa harus kamu? Padahal aku yang selalu berusaha ada untuknya, tapi dihatinya malah memilih kamu." Riko geleng-geleng kepala. Begitulah takdir cinta, kadang mulus kadang penuh cobaan. "Jangan menghancurkan hidup kamu sendiri Ben, kalau kamu mau menebus kesalahanmu, tetaplah jadi Ben yang seperti Reni tahu karena aku sangat yakin, kedepan ia akan sangat membutuhkan kamu." Riko menepuk pelan Punggungku, lalu ia berlalu setelah menyerahkan sebuah bungkusan kecil berisi air mineral dan roti.

[Bang, pulanglah. Bunda sakit. Semalam Abah marah membabi buta. Bunda jadi bulan-bulanan pelampiasan kemarahan Abah ] pesan dari Ami.

Hp ku matikan, aku tak peduli. Bunda yang memilih tetap berada di sisi Abah meski bunda punya pilihan untuk mengakhiri penderitaannya. Hidup itu pilihan, kalau bunda sudah memilih itu maka aku gak bisa membantu. Lagipula aku gak mau jadi budaknya Abah. Disuruh kisah atau menikah sesuai keinginan Abah. Hidup itu harus realistis!

***

Entah sudah jam berapa ini, yang jelas sudah lama sejak azan Isya berkumandang, aku masih berada di lorong rumah sakit, berjarak beberapa dari kamar rawat inap Reni. Pergi hanya untuk salat dan kebutuhan ke kamar mandi. Selebihnya tetap stay di sini meski kadang harus sembunyi-sembunyi agar tak terlihat oleh orang tua Reni. Bukan aku takut dipukuli ayahnya lagi tapi tak tega melihat mereka menahan sakit hati kalau melihatku.

"Maaf mas, selain yang menemani pasien di larang menunggu di sini." kata seorang satpam yang menghampiri.

"Pak, apa saya tidak bisa dijadikan pengecualian? Saya harus tahu kondisi teman saya, pak. Sampai saat ini katanya ia belum sadarkan diri. Saya khawatir ia kenapa-napa pak." pintaku.

"Enggak bisa mas. Kalau saya izinkan mas nanti banyak yang beralasan seperti mas. Bisa-bisa penuh lorong ini. Nunggunya di luar saja, mas. Lagian kalau kepala rumah sakit tahu bisa-bisa saya yang dapat masalah. Tolong ikuti aturan ya mas, biar sama-sama enak." pinta pak satpam lagi

Aku jadi tak enak hati. Tidak tega juga jika harus menyusahkan orang lain lagi. Makanya dengan berat ku tinggalkan lorong rumah sakit menuju ruang tunggu yang ada dikuar. Sudah ku putuskan akan tidur di sini malam ini juga

***

Sudah tiga hari Reni dirawat di rumah sakit. Entah sudah bagaimana kondisinya saat ini, tak ada yang tahu sebab keluarganya merahasiakan semuanya. Bahkan kini tak ada seorang pun yang diizinkan untuk membesuk. Meski begitu, aku masih setia menanti di ruang tunggu, berharap mendapatkan kesempatan untuk bertemu Reni atau sekedar tahu kabarnya.

Sore ini, tiba-tiba dari kamar Reni segerombolan perawat dan pihak keamanan membawa bed yang di atasnya Reni dengan cepat naik ke atas mobil ambulan. Tak berapa lama mobil itu melesat dengan cepat. Aku sempat melihat Reni, ia memakai masker dan kami saling tatap. Hanya seperkian detik sebab pihak keamanan dengan cepat menyibak sehingga aku tak bisa melihat Reni.

"Maaf mbak, itu pasien mau dibawa kemana ya?" tanyaku pada salah seorang perawat yang ikut mengiringi kepergian Reni.

"Maaf, saya tidak tahu mas." Kata siperawat yang jelas-jelas berusaha menghindari aku, entah kenapa.

Semaksimal mungkin aku mencari tahu keberadaan Reni, tapi tak ada seorangpun yang memberitahu. Bahkan Riko yang sudah kenal Reni dan keluarganya pun tidak tahu dimana Reni saat ini. Ia seperti menghilang di tekan bumi. Hanya saja Riko berjanji akan memberitahu jika ia sudah mendapatkan informasi.

***

Setelah tiga hari tidak pulang ke kosan, hari ini akhirnya aku pulang juga dengan perasaan tak menentu sebab masih belum tahu tentang kabar Reni. Sampai di kosan, rupanya adikku Ami sudah menunggu.

"Abang kemana saja? Tiga hari ini nomornya nggak aktif. Aku sampai bingung harus menghubungi kemana!" Ami sangat marah, ia sampai menangis meluapkan emosinya.

"Maaf, aku di rumah sakit. Lupa bawa charger, bahkan bajupun nggak ganti " kataku, sambil masuk ke kamar.

"Siapa yang sakit? Abang baik-baik saja, kan?"

"Ya."

"Bang, Abah dan Bunda ...."

"Biarkan saja, itu pilihan hidup mereka."

"Bang!"

"Apa Mi? Lalu aku harus bagaimana? Menikah dengan Yohana? Kamu mikir nggak sih, aku itu juga manusia biasa, punya perasaan juga."

"Kak Yohana akan dinikahkan dengan orang lain. Pekan depan keluarganya akan menjemput." Aku diam, tak tahu harus menjawab apa. Tapi ada perasaan tak nyaman.

"Pulanglah Bang, setidaknya ucapkan salam perpisahan sebab kak Yohana akan dibawa ke Sumatra, kemungkinan kalian tak akan bertemu lagi. Ucapkan salam perpisahan sebelum ia menjadi istri orang." Kata Ami.

Entah, aku harus bagaimana. Hanya bisa diam, duduk termenung di pinggir tempat tidur.

Episodes
1 Disuruh Pulang
2 Dalam Penjara Kuasa Abah
3 Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4 Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5 Permintaan Atau Paksaan
6 Abah Yang Toxic
7 Reni ... Reni
8 Permintaan Maaf Yohana
9 Kacau
10 Kabar Buruk Tentang Reni
11 Jangan Pergi, Ren!
12 Selamat Tinggal Yohana!
13 Ada Reni!
14 Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15 Buku Catatan Abah
16 Cerita Ami
17 Rahasia Yang Sebenernya
18 Permintaan Ayah Reni
19 Tanggung Jawab
20 Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21 Kabar Ingin Menikah
22 Isi Hati Bunda
23 Setelah Akad
24 Setelah Enam Bulan
25 Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26 Bersama Yohana
27 Harapan Membahagiakan Yohana
28 Usaha Untuk Bertahan
29 Baju Kurung Untuk Yohana
30 Apakah Kamu Bahagia, Han?
31 Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32 Reni Datang
33 Berdebat Dengan Reni
34 Reni Sakit
35 Reni Belum Bisa Dipulangkan
36 Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37 Hinaan Reni
38 Orang Tua Reni Datang
39 Nasib Orang Miskin
40 Saling Adu
41 Hanya Kamu Seorang
42 Double Date?
43 Penolakan Reni
44 Ketahuan?
45 Yohana, Kamu Dimana?
46 Reni Meniru Yohana
47 Reni Akhirnya Pergi
48 Pulanglah, Ben!
49 Demi Sebuah Bakti
50 Putusan Cerai
51 Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52 Tiga Ganjalan Besar (1)
53 Tiga Ganjalan Besar (2)
54 Bertemu Anak-anak Pak Diki
55 Bunda Meninggal
56 Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57 Dua Hambatan Telah Selesai
58 Akhirnya Bertemu Yohana
59 Yohana: Pergilah Ben!
60 Lelaki Yang Disebut Monster
61 HAMBATAN SEBELUM PERGI
62 Menjemput Upik Dan Puti
63 Kejutan Tasyakuran
64 Membesuk Abah
65 Yohana Yang Suci
66 Mbak Lila Ingin Pergi
67 Hambatan-hambatan
68 Membawa Abah Pulang
69 Kecurigaan Ami
70 Kecurigaan Ami (2)
71 Sebelum Abah Pergi
72 Peristirahatan Terakhir
73 Mbak Lila Menikah
74 Tahun Pertama Pernikahan
75 Tentang Anak
76 Marah
77 Menjadi Pelayan Yohana
78 Salam Perpisahan
79 Anak-anak Hilang
80 Mencari Anak-anak
81 Bangkitlah Yohana
82 Seorang Anak Yang Terpilih
83 Tiga Orang Putri
84 Setelah 12 Tahun
85 Anak Magang
86 Desas-desus
87 Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88 Pulang
89 Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90 Dugaan
91 Kamu Harus Pergi
92 Kejutan Dari Nilam
93 Masalah Demi Masalah
94 Informasi Genta
95 Bertemu Upik
96 Cerita Upik
97 Caca Cemburu
98 Keinginan Puti
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Disuruh Pulang
2
Dalam Penjara Kuasa Abah
3
Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4
Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5
Permintaan Atau Paksaan
6
Abah Yang Toxic
7
Reni ... Reni
8
Permintaan Maaf Yohana
9
Kacau
10
Kabar Buruk Tentang Reni
11
Jangan Pergi, Ren!
12
Selamat Tinggal Yohana!
13
Ada Reni!
14
Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15
Buku Catatan Abah
16
Cerita Ami
17
Rahasia Yang Sebenernya
18
Permintaan Ayah Reni
19
Tanggung Jawab
20
Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21
Kabar Ingin Menikah
22
Isi Hati Bunda
23
Setelah Akad
24
Setelah Enam Bulan
25
Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26
Bersama Yohana
27
Harapan Membahagiakan Yohana
28
Usaha Untuk Bertahan
29
Baju Kurung Untuk Yohana
30
Apakah Kamu Bahagia, Han?
31
Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32
Reni Datang
33
Berdebat Dengan Reni
34
Reni Sakit
35
Reni Belum Bisa Dipulangkan
36
Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37
Hinaan Reni
38
Orang Tua Reni Datang
39
Nasib Orang Miskin
40
Saling Adu
41
Hanya Kamu Seorang
42
Double Date?
43
Penolakan Reni
44
Ketahuan?
45
Yohana, Kamu Dimana?
46
Reni Meniru Yohana
47
Reni Akhirnya Pergi
48
Pulanglah, Ben!
49
Demi Sebuah Bakti
50
Putusan Cerai
51
Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52
Tiga Ganjalan Besar (1)
53
Tiga Ganjalan Besar (2)
54
Bertemu Anak-anak Pak Diki
55
Bunda Meninggal
56
Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57
Dua Hambatan Telah Selesai
58
Akhirnya Bertemu Yohana
59
Yohana: Pergilah Ben!
60
Lelaki Yang Disebut Monster
61
HAMBATAN SEBELUM PERGI
62
Menjemput Upik Dan Puti
63
Kejutan Tasyakuran
64
Membesuk Abah
65
Yohana Yang Suci
66
Mbak Lila Ingin Pergi
67
Hambatan-hambatan
68
Membawa Abah Pulang
69
Kecurigaan Ami
70
Kecurigaan Ami (2)
71
Sebelum Abah Pergi
72
Peristirahatan Terakhir
73
Mbak Lila Menikah
74
Tahun Pertama Pernikahan
75
Tentang Anak
76
Marah
77
Menjadi Pelayan Yohana
78
Salam Perpisahan
79
Anak-anak Hilang
80
Mencari Anak-anak
81
Bangkitlah Yohana
82
Seorang Anak Yang Terpilih
83
Tiga Orang Putri
84
Setelah 12 Tahun
85
Anak Magang
86
Desas-desus
87
Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88
Pulang
89
Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90
Dugaan
91
Kamu Harus Pergi
92
Kejutan Dari Nilam
93
Masalah Demi Masalah
94
Informasi Genta
95
Bertemu Upik
96
Cerita Upik
97
Caca Cemburu
98
Keinginan Puti

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!