Aku melangkah lunglai memasuki rumah sakit diikuti tatapan dari mata-mata yang mengenaliku dan tahu kejadian yang menimpa Reni. Entah apa yang mereka pikirkan, tapi dari tatapannya terlihat bahwa mereka menyalahkan aku dan aku menerima itu semua. Karena orang tua Reni tak menyukai kehadiranku, makanya aku memilih menjaga jarak, tak ingin menambah beban mereka lagi setelah begitu banyak duka yang secara tidak langsung ku sebabkan.
Getaran dari telepon genggam membuatku tersadar, telepon dari Abah. Seperti biasa, ia masih marah. Menyuruhku pulang dengan sumpah serapah. Aku hanya bisa mematikan panggilan tersebut. Tapi tak lama masuk lagi panggilan dari nomor Abah. Ku abaikan karena kini pandanganku tertuju pada pesan dan panggilan tak terjawab dari Reni. Air mataku mengalir membaca pesan-pesannya. Bahkan, kemungkinan ketika ia dijahati oleh berandalan itu, Reni sempat menghubungi aku, mungkin ia ingin meminta bantuanku, tapi sayangnya aku gak peka hingga akhirnya ia harus mengalami peristiwa naas itu.
"Sial, benar-benar sial kamu Ben! Bodoh. Penjahat. Dungu. Tak bisa diandalkan!" Aku memaki diri sendiri sambil memukul kepalaku sendiri untuk menyalurkan emosi. Aku benar-benar kesal, kenapa tak terpikirkan tentang keselamatannya. Padahal Reni sangat memikirkan aku, ia selalu siap dan maksimal kalau urusan membantuku.
"Ben, sudah cukup!" Riko datang menghampiri. Rupanya ia memperhatikan aku sejak tadi.
"Aku teman yang bangsat, Ko." Kataku, sambil menangis. "Bisa-bisanya aku membiarkannya dalam bahaya. Benar-benar tolol. Aku tak pantas menjadi temannya. Ia susah banyak membantu tapi ini yang aku lakukan. Bahkan untuk melindunginya sekali saja aku tak bisa. Apa yang diharapkan dariku sebagai teman?"
"Semula aku juga berpikir begitu Ben. Kamu tak pantas menjadi teman Reni, ia terlalu baik untuk kamu. Tapi sayangnya, Tuhan mentakdirkan lain. Kamulah yang jadi teman terdekatnya. Kamu juga yang menjadi laki-laki yang ia cintai. Kamu tahu kan Ben, bagaimana irinya aku padamu. Kenapa harus kamu? Padahal aku yang selalu berusaha ada untuknya, tapi dihatinya malah memilih kamu." Riko geleng-geleng kepala. Begitulah takdir cinta, kadang mulus kadang penuh cobaan. "Jangan menghancurkan hidup kamu sendiri Ben, kalau kamu mau menebus kesalahanmu, tetaplah jadi Ben yang seperti Reni tahu karena aku sangat yakin, kedepan ia akan sangat membutuhkan kamu." Riko menepuk pelan Punggungku, lalu ia berlalu setelah menyerahkan sebuah bungkusan kecil berisi air mineral dan roti.
[Bang, pulanglah. Bunda sakit. Semalam Abah marah membabi buta. Bunda jadi bulan-bulanan pelampiasan kemarahan Abah ] pesan dari Ami.
Hp ku matikan, aku tak peduli. Bunda yang memilih tetap berada di sisi Abah meski bunda punya pilihan untuk mengakhiri penderitaannya. Hidup itu pilihan, kalau bunda sudah memilih itu maka aku gak bisa membantu. Lagipula aku gak mau jadi budaknya Abah. Disuruh kisah atau menikah sesuai keinginan Abah. Hidup itu harus realistis!
***
Entah sudah jam berapa ini, yang jelas sudah lama sejak azan Isya berkumandang, aku masih berada di lorong rumah sakit, berjarak beberapa dari kamar rawat inap Reni. Pergi hanya untuk salat dan kebutuhan ke kamar mandi. Selebihnya tetap stay di sini meski kadang harus sembunyi-sembunyi agar tak terlihat oleh orang tua Reni. Bukan aku takut dipukuli ayahnya lagi tapi tak tega melihat mereka menahan sakit hati kalau melihatku.
"Maaf mas, selain yang menemani pasien di larang menunggu di sini." kata seorang satpam yang menghampiri.
"Pak, apa saya tidak bisa dijadikan pengecualian? Saya harus tahu kondisi teman saya, pak. Sampai saat ini katanya ia belum sadarkan diri. Saya khawatir ia kenapa-napa pak." pintaku.
"Enggak bisa mas. Kalau saya izinkan mas nanti banyak yang beralasan seperti mas. Bisa-bisa penuh lorong ini. Nunggunya di luar saja, mas. Lagian kalau kepala rumah sakit tahu bisa-bisa saya yang dapat masalah. Tolong ikuti aturan ya mas, biar sama-sama enak." pinta pak satpam lagi
Aku jadi tak enak hati. Tidak tega juga jika harus menyusahkan orang lain lagi. Makanya dengan berat ku tinggalkan lorong rumah sakit menuju ruang tunggu yang ada dikuar. Sudah ku putuskan akan tidur di sini malam ini juga
***
Sudah tiga hari Reni dirawat di rumah sakit. Entah sudah bagaimana kondisinya saat ini, tak ada yang tahu sebab keluarganya merahasiakan semuanya. Bahkan kini tak ada seorang pun yang diizinkan untuk membesuk. Meski begitu, aku masih setia menanti di ruang tunggu, berharap mendapatkan kesempatan untuk bertemu Reni atau sekedar tahu kabarnya.
Sore ini, tiba-tiba dari kamar Reni segerombolan perawat dan pihak keamanan membawa bed yang di atasnya Reni dengan cepat naik ke atas mobil ambulan. Tak berapa lama mobil itu melesat dengan cepat. Aku sempat melihat Reni, ia memakai masker dan kami saling tatap. Hanya seperkian detik sebab pihak keamanan dengan cepat menyibak sehingga aku tak bisa melihat Reni.
"Maaf mbak, itu pasien mau dibawa kemana ya?" tanyaku pada salah seorang perawat yang ikut mengiringi kepergian Reni.
"Maaf, saya tidak tahu mas." Kata siperawat yang jelas-jelas berusaha menghindari aku, entah kenapa.
Semaksimal mungkin aku mencari tahu keberadaan Reni, tapi tak ada seorangpun yang memberitahu. Bahkan Riko yang sudah kenal Reni dan keluarganya pun tidak tahu dimana Reni saat ini. Ia seperti menghilang di tekan bumi. Hanya saja Riko berjanji akan memberitahu jika ia sudah mendapatkan informasi.
***
Setelah tiga hari tidak pulang ke kosan, hari ini akhirnya aku pulang juga dengan perasaan tak menentu sebab masih belum tahu tentang kabar Reni. Sampai di kosan, rupanya adikku Ami sudah menunggu.
"Abang kemana saja? Tiga hari ini nomornya nggak aktif. Aku sampai bingung harus menghubungi kemana!" Ami sangat marah, ia sampai menangis meluapkan emosinya.
"Maaf, aku di rumah sakit. Lupa bawa charger, bahkan bajupun nggak ganti " kataku, sambil masuk ke kamar.
"Siapa yang sakit? Abang baik-baik saja, kan?"
"Ya."
"Bang, Abah dan Bunda ...."
"Biarkan saja, itu pilihan hidup mereka."
"Bang!"
"Apa Mi? Lalu aku harus bagaimana? Menikah dengan Yohana? Kamu mikir nggak sih, aku itu juga manusia biasa, punya perasaan juga."
"Kak Yohana akan dinikahkan dengan orang lain. Pekan depan keluarganya akan menjemput." Aku diam, tak tahu harus menjawab apa. Tapi ada perasaan tak nyaman.
"Pulanglah Bang, setidaknya ucapkan salam perpisahan sebab kak Yohana akan dibawa ke Sumatra, kemungkinan kalian tak akan bertemu lagi. Ucapkan salam perpisahan sebelum ia menjadi istri orang." Kata Ami.
Entah, aku harus bagaimana. Hanya bisa diam, duduk termenung di pinggir tempat tidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments