Ada Abah Dimakam Bang Sigit

Hari ini aku pulang ke rumah. Sebelumnya, ku sempatkan membeli oleh-oleh. Bedak untuk bunda, panganan kipang untuk Abah, tas untuk Ami dah Snek untuk Alif yang aku tak tahu apakah ia akan suka atau tidak. Aku hanya membeli Snek kesukaanku saat masih sekolah dulu. Semua itu aku beli sesuai dengan apa yang menurut ku mereka suka dan butuhkan saat ini berdasarkan pengamatan ku saat beberapa hari ada di rumah kemarin.

Setelah di rasa cukup barulah aku pulang.

Sebenarnya aku membeli semua itu bukan tanpa alasan, tapi karena sesuatu hal. Aku melakukan itu untuk memperbaiki semuanya. Mengobati luka di hati bunda sebab aku sempat membantah bunda yang memintaku menikah dengan Yohana, menjadi musuh besar Abah di rumah dan juga tak dekat dengan Ami dan Alif. Padahal aku Abang dan omnya. Aku sangat berharap pertikaian di rumah segera berakhir dan hubungan kami bisa membaik agar normal seperti orang lain.

Meski sebenarnya keluargaku sejak dulu memang tak pernah akur. Abah, meksipun ia alim ulama yang dikenal berilmu dalam lingkungan masyarakat, namun punya perangai yang tidak baik pada keluarganya. Abah suka memaksakan kehendak pada anak dan istrinya. Suka main tangan bila keinginan tidak dituruti. Menjadikan istrinya samsak kemarahan dan anak-anaknya di perlakukan bak budak yang bisa diperintahkan apapun yang ia mau tanpa memikirkan perasaan kami. Abah selalu beralasan surga anak ada pada ibunya, Sementara surga istri ada pada Ridha suaminya. Jadi semuanya harus tunduk padanya tanpa ada pengecualian.

Selesai dengan urusan oleh-oleh, aku segera tancap gas menuju rumah. Sebelum masuk ke gang rumah, motor ku belokkan dulu ke arah pemakaman milik komplek, dimana bang Sigit dimakamkan. Sejak bang Sigit meninggal tiga bulan lalu, aku tak pernah lagi ziarah ke sini. Hubunganku dengan bang Sigit memang tak terlalu dekat. Selain usia kami yang terpaut cukup jauh, ditambah bang Sigit yang memang sejak dulu "dipaksa" mengekor pada Abah. hingga kami berjarak. Ia sering dibawa Abah kalau sedang mengisi kajian, sering harus mengikuti kehendak Abah. Sementara aku terbiasa bebas dan selalu menjaga jarak dengan Abah.

Kalau ku pikir-pikir, bang Sigit cukup kasihan sebenarnya. Ia dulu pernah mengatakan ingin menjadi pemain bola, tapi Abah marah besar, Abah ingin ia jadi ustadz juga. Makanya Abah selalu membawa Abang kemanapun Abah mengisi kajian. Bang Sigit dipaksa menyukai semua yang Abah sukai, menjauh apapun yang tidak Abah sukai, termasuk bola.

Aku pernah melihat dengan mata kepala sendiri, Bang Sigit dipukuli Abah karena ia lebih memilih ekskul bola ketimbang les bahasa Arab. Baju, sepatu dan bola yang ia beli dengan tabungannya sendiri pun habis dihancurkan Abah. Kondisinya saat itu sangat menyedihkan, tapi gak ada seorangpun di rumah yang berani membela apalagi menolongnya, bisa-bisa berbalik malah jadi bahan amukan Abah selanjutnya. Kami hanya bisa menonton dari balik jendela kamar masing-masing.

Kedatanganku kali ini, selain ingin ziarah juga ingin menceritakan tentang Yohana dan Alif. Juga tentang perasaanku padanya yang sudah tidak marah lagi. Aku sudah merelakan semuanya hingga bang Sigit bisa pergi dengan tenang. Aku sebenarnya menyesal, baru bisa ikhlas setelah beberapa waktu, namun ini jauh lebih baik dari pada menyimpan dendam untuk selamanya.

Dulu, sehari setelah menikah, bang Sigit pernah berusaha menemuiku, tapi aku menolaknya mentah-mentah. Bahkan aku mengamuk, mengusirnya dari kosanku. Aku benar-benar benci dan marah sebab ia tak jauh beda dengan Yohana. Menghancurkan cinta dan harapanku. Bang Sigit yang sempat menangis akhirnya pergi meninggalkan kosanku dan sejak itu kami tak pernah lagi bertegur sapa.

Motor ku parkir di depan, aku berjalan menuju makan bang Sigit yang berada paling pojok. Meski baru ke sana, tapi aku cukup hafal tempat peristirahatan terakhir abangku itu.

Beberapa blok lagi menuju makam bang Sigit, langkahku terhenti. Ada Abah di sana. Tengah duduk, menatap batu nisan bang Sigit. Yang membuatku langsung bersembunyi adalah karena melihat Abah menangis dengan mulut bergerak-gerak seperti sedang bercakap-cakap, tapi entah Abah mengatakan apa, karena jarak yang lumayan dan suara Abah sangat pekan membuatku tak bisa mendengarkan.

Aku tak salah lihat. Abah benar-benar menangis. Ia membelai lembut batu nisan Abang seperti membelai kepala bang Sigit. Apa ini? Ini adalah sisi lain Abah yang tak pernah aku ketahui sebelumnya. Dua puluh empat tahun aku hidup sebagai anak Abah, tak pernah kulihat laki-laki keras kepala itu menitikkan air mata, bahkan saat bang Sigit meninggal dunia. Abah seperti biasa, melengos, meninggalkan kami yang otomatis menangis, sementara jika ada tamu yang ia rasa patut dihormati maka barulah ia akan menemui dan mengajak bicara.

Ku pikir, kepergian Abang yang tiba-tiba bisa membuat Abah berubah. Tapi tidak, laki-laki itu tetap berkepala batu. Ia tetap diktator yang memaksakan kehendaknya pada kami Keluarganya. Tak ada yang berubah dan sepertinya ia memang tak punya hati dan akan seperti itu untuk selamanya.

Abah masih khusyu di depan makan bang Sigit. Ia masih menangis. Aku semakin penasaran apa yang membuat Abah melakukan semua itu. Baru hendak memperbaiki posisi mengintip, tiba-tiba Abah bangkit, membuat jantungku berdebar, takut ketahuan Abah dan jadi masalah baru. Padahal tujuan kepulanganku untuk memperbaiki hubungan dengan semua anggota keluarga, terutama Abah. Memang kata orang susah mengubah sifat orang, tapi tak ada salahnya mencoba.

Setelah Abah pergi, aku mendekati makam abangku. Lelaki yang darahnya sama dengan darahku, tapi tak pernah dekat denganku. Aku mengusap nisannya. Tak terasa air mata pun mengalir.

"Bang ... Ben rindu," kataku. "Abang, andai saja waktu bisa diputar, Ben ingin dekat dengan Abang. Ingin memperbaiki hubungan kita yang terasa asing. Sayangnya semua sudah sangat terlambat. Bahkan mengucapkan selamat tinggal saja aku gak bisa, bang. Sekarang aku menyesal, bang. Tapi aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan membuat keluarga kita jadi lebih baik lagi ke depannya. Abang ... tenang di sana ya. Aku berdoa agar Abang mendapatkan tempat terbaik. Aku juga akan berusaha menjaga anak Abang dengan baik. Saat ini ia sebatang kara, setelah Abang pergi, ibunya pun pergi. Tapi tenang, bang, ada aku juga, yang meski tak akan pernah bisa mengganti posisi Abang di hatinya, tapi aku akan berusaha menjadi om yang baik untuk Alif " kataku. Bulir-bulir bening yang sudah terlanjur jatuh kini ku seka dengan tangan kanan. Seikat mawar yang tadi ku beli di depan kini telah berada di atas batu nisan bang Sigit, tapi ketika aku hendak bangkit, mataku tertuju pada sesuatu yang ada di samping kakiku. Buku bersampul hitam.

Episodes
1 Disuruh Pulang
2 Dalam Penjara Kuasa Abah
3 Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4 Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5 Permintaan Atau Paksaan
6 Abah Yang Toxic
7 Reni ... Reni
8 Permintaan Maaf Yohana
9 Kacau
10 Kabar Buruk Tentang Reni
11 Jangan Pergi, Ren!
12 Selamat Tinggal Yohana!
13 Ada Reni!
14 Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15 Buku Catatan Abah
16 Cerita Ami
17 Rahasia Yang Sebenernya
18 Permintaan Ayah Reni
19 Tanggung Jawab
20 Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21 Kabar Ingin Menikah
22 Isi Hati Bunda
23 Setelah Akad
24 Setelah Enam Bulan
25 Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26 Bersama Yohana
27 Harapan Membahagiakan Yohana
28 Usaha Untuk Bertahan
29 Baju Kurung Untuk Yohana
30 Apakah Kamu Bahagia, Han?
31 Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32 Reni Datang
33 Berdebat Dengan Reni
34 Reni Sakit
35 Reni Belum Bisa Dipulangkan
36 Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37 Hinaan Reni
38 Orang Tua Reni Datang
39 Nasib Orang Miskin
40 Saling Adu
41 Hanya Kamu Seorang
42 Double Date?
43 Penolakan Reni
44 Ketahuan?
45 Yohana, Kamu Dimana?
46 Reni Meniru Yohana
47 Reni Akhirnya Pergi
48 Pulanglah, Ben!
49 Demi Sebuah Bakti
50 Putusan Cerai
51 Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52 Tiga Ganjalan Besar (1)
53 Tiga Ganjalan Besar (2)
54 Bertemu Anak-anak Pak Diki
55 Bunda Meninggal
56 Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57 Dua Hambatan Telah Selesai
58 Akhirnya Bertemu Yohana
59 Yohana: Pergilah Ben!
60 Lelaki Yang Disebut Monster
61 HAMBATAN SEBELUM PERGI
62 Menjemput Upik Dan Puti
63 Kejutan Tasyakuran
64 Membesuk Abah
65 Yohana Yang Suci
66 Mbak Lila Ingin Pergi
67 Hambatan-hambatan
68 Membawa Abah Pulang
69 Kecurigaan Ami
70 Kecurigaan Ami (2)
71 Sebelum Abah Pergi
72 Peristirahatan Terakhir
73 Mbak Lila Menikah
74 Tahun Pertama Pernikahan
75 Tentang Anak
76 Marah
77 Menjadi Pelayan Yohana
78 Salam Perpisahan
79 Anak-anak Hilang
80 Mencari Anak-anak
81 Bangkitlah Yohana
82 Seorang Anak Yang Terpilih
83 Tiga Orang Putri
84 Setelah 12 Tahun
85 Anak Magang
86 Desas-desus
87 Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88 Pulang
89 Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90 Dugaan
91 Kamu Harus Pergi
92 Kejutan Dari Nilam
93 Masalah Demi Masalah
94 Informasi Genta
95 Bertemu Upik
96 Cerita Upik
97 Caca Cemburu
98 Keinginan Puti
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Disuruh Pulang
2
Dalam Penjara Kuasa Abah
3
Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4
Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5
Permintaan Atau Paksaan
6
Abah Yang Toxic
7
Reni ... Reni
8
Permintaan Maaf Yohana
9
Kacau
10
Kabar Buruk Tentang Reni
11
Jangan Pergi, Ren!
12
Selamat Tinggal Yohana!
13
Ada Reni!
14
Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15
Buku Catatan Abah
16
Cerita Ami
17
Rahasia Yang Sebenernya
18
Permintaan Ayah Reni
19
Tanggung Jawab
20
Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21
Kabar Ingin Menikah
22
Isi Hati Bunda
23
Setelah Akad
24
Setelah Enam Bulan
25
Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26
Bersama Yohana
27
Harapan Membahagiakan Yohana
28
Usaha Untuk Bertahan
29
Baju Kurung Untuk Yohana
30
Apakah Kamu Bahagia, Han?
31
Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32
Reni Datang
33
Berdebat Dengan Reni
34
Reni Sakit
35
Reni Belum Bisa Dipulangkan
36
Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37
Hinaan Reni
38
Orang Tua Reni Datang
39
Nasib Orang Miskin
40
Saling Adu
41
Hanya Kamu Seorang
42
Double Date?
43
Penolakan Reni
44
Ketahuan?
45
Yohana, Kamu Dimana?
46
Reni Meniru Yohana
47
Reni Akhirnya Pergi
48
Pulanglah, Ben!
49
Demi Sebuah Bakti
50
Putusan Cerai
51
Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52
Tiga Ganjalan Besar (1)
53
Tiga Ganjalan Besar (2)
54
Bertemu Anak-anak Pak Diki
55
Bunda Meninggal
56
Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57
Dua Hambatan Telah Selesai
58
Akhirnya Bertemu Yohana
59
Yohana: Pergilah Ben!
60
Lelaki Yang Disebut Monster
61
HAMBATAN SEBELUM PERGI
62
Menjemput Upik Dan Puti
63
Kejutan Tasyakuran
64
Membesuk Abah
65
Yohana Yang Suci
66
Mbak Lila Ingin Pergi
67
Hambatan-hambatan
68
Membawa Abah Pulang
69
Kecurigaan Ami
70
Kecurigaan Ami (2)
71
Sebelum Abah Pergi
72
Peristirahatan Terakhir
73
Mbak Lila Menikah
74
Tahun Pertama Pernikahan
75
Tentang Anak
76
Marah
77
Menjadi Pelayan Yohana
78
Salam Perpisahan
79
Anak-anak Hilang
80
Mencari Anak-anak
81
Bangkitlah Yohana
82
Seorang Anak Yang Terpilih
83
Tiga Orang Putri
84
Setelah 12 Tahun
85
Anak Magang
86
Desas-desus
87
Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88
Pulang
89
Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90
Dugaan
91
Kamu Harus Pergi
92
Kejutan Dari Nilam
93
Masalah Demi Masalah
94
Informasi Genta
95
Bertemu Upik
96
Cerita Upik
97
Caca Cemburu
98
Keinginan Puti

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!