Reni ... Reni

Baru saja Abah masuk, aku dan Reni cekikikan. Kami menertawakan ketegangan kami usia menghadapi Abah. "Bagaimana, jantung masih aman, kan?" Tanyaku, sambil melirik Reni yang sempat memucat saat awal dimarahi Abah. Tapi sekarang ia sudah bisa tersenyum lebar. Ternyata ia cukup tangguh juga, tak lari terbirit-birit seperti teman-teman ku saat main ke rumah dan diusir oleh Abah sebab Abah paling tak suka kalau ada temanku yang datang. Entah kenapa Abah selalu menganggap temanku adalah berandal, termasuk Reni pun dinilai begitu, padahal betapa kerennya Reni dengan segudang prestasinya.

"Lumayan.. ternyata abahmu galak banget, tapi tetap menarik kok." jawab Reni. Ia tersenyum lebar.

"Menarik apanya. Capek iya dimarahi terus." Aku mendengus kesal.

"Kadang dimarahi itu menyenangkan Ben, itu bukti sayang."

"Hah, teori dari mana pula itu?" Aku geleng-geleng kepala. "Kalau sayang nggak bakal nyakitin sama kata-katanya. Tajam Ren, setajam silet. Duh kalau lama-lama kamu bisa nangis beneran sama Abah " aku kembali berbisik, senang punya teman untuk menggunjing Abah.

"Habis dong kamu Ben diiris-iris." lagi-lagi kami tertawa. Tapi tawa itu terhenti saat seseorang datang bersama anak kecil. Yohana dan Alif. Entah darimana mereka, tapi yang jelas aku langsung berubah tak nyaman, apalagi sekilas mata kami saling tatap.

Aku masih membencinya! Masih ada perasaan marah yang cukup besar. Entah apa ini, tapi disebut pendendam pun aku gak masalah sebab memang aku masih membencinya.

"Ada tamu rupanya," diluar dugaanku, Yohana malah menyapa Reni, bukannya masuk menghindari aku seperti biasanya. "Saya Yohana, dan ini Alif putra saya." Ia memperkenalkan diri dengan ramahnya. "Mbak Reni mau minum apa? Sebentar saya buatkan teh ya."

Kenapa dengannya? Aku malah menjadi tak nyaman dengan sikapnya yang tiba-tiba hangat pada Reni. Saking bingungnya, aku malah melamun memikirkan hal tersebut sehingga mengabaikan pertanyaan Reni.

"Ben, kamu ngelamu?" Tanya Reni lagi. Ia sampai menepuk kedua tangannya di hadapanku.

"Hah, oh, maaf," kataku.

"Jauh-jauh aku ke sini, dimarahi abahmu malah dicuekin." Reni cemberut.

"Maaf Ren, tapi kapan kamu pulang?"

"Dih, Kamu ngusir aku Ben? Aku ini tamu lho. Tamu itu adalah raja yang harus dihormati. Apalagi aku datangnya jauh lho khusus untuk kamu..Enggak menghargai banget sih." Reni pura-pura marah.

"Tapi itu tak berlaku di rumah kami. Hanya tamu Abah yang boleh singgah di sini." kataku, setengah berbisik, lalu kami kembali tertawa cekikikan. Kembali menjadikan Abah sebagai bahan gunjingan. Puas pokoknya aku membongkar keburukan Abah pada Reni.

"Lalu kapan kamu pulang ke Jakarta?"

"Entah,"

"Kenapa Ben? apa ada masalah?"

"Kalau aku bilang ada, apa kamu mau membantuku?"

"Mmmm, tentu saja. Bukannya setiap ada masalah kamu selalu ngerepotin aku Ben?"

"Ren, nanti akan aku ceritakan lewat WA, tapi sekarang sebaiknya kamu pulang karena dalam hitungan detik abahku pasti akan keluar dan itu tandanya ia akan kembali menceramahi kamu dengan tidak sopannya. Aku tak mau kamu sakit hati gara-gara Abah dan berakhir dengan membenciku. Aku masih ingin jadi teman kamu, Ren."

"Baiklah, tapi kalau aku WA balas ya!"

Aku mengangguk. Reni langsung pamit, ia cepat-cepat memacu jazz-nya meninggalkan rumah kami.

Seperti kata-kataku tadi, Abah keluar dengan wajah masamnya. Celingak-celinguk, pasti mencari Reni.

"Kemana anak itu?" tanya Abah.

"siapa?" aku balik bertanya. Pura-pura tidak tahu, sekalian menguji kesabaran Abah yang setipis tisu.

"Itu, perempuan yang nggak ada adabnya itu!"

"Siapa sih Bah, nggak ada perempuan yang nggak ada adab di sini."

"Temanmu!"

"Oo, Reni?"

"Ya. Anak perempuan yang berani nyamperin rumah laki-laki. Apa itu namanya?"

"Sudah pulang."

"Tuh kan, apa Abah bilang. Perempuan macam apa itu. Datang dan pergi sesuka hatinya saja. Benar-benar tak tau adab. Paling tidak pamit lah. Abah tak yakin dia itu dokter yang baik, palingan lulus juga karena nyogok..Begitulah kalau anak orang kaya. Apa-apa cuma ngandelin uang."

Aku tak menjawab, membiarkan Abah nyerocos dengan pikirannya sendiri. Siapa yang tak punya adab, ia atau Abah? Kalaupun Reni pamit, aku tak yakin Abah akan menjawab dengan baik. Abah selalu berpikiran negatif pada teman-temanku.

"Ingat Ben dengan apa yang kita bicarakan tadi. Keputusan Abah sudah bulat dan kamu harus nurut. Jangan coba-coba menjalin hubungan dengan perempuan lain!" Abah menegaskan sebelum tanganku menggapai gagang pintu.

Ahhh basi. Aku tak ingin membahas apalagi menyetujui keputusan sepihak Abah. Aku ini laki-laki yang sudah dewasa. Aku berhak memutuskan dengan siapa akan menikah nantinya.

"Beni!" Abah membentak saat sebagian badanku hampir masuk ke dalam kamar. "Kamu tak punya mulut? Tak bisa menjawab Abah?" Abah menyentak tanganku, cukup sakit. Tapi seolah mati rasa aku tetap berjalan masuk ke kamar.

Bunyi kain sobek. Rupanya Abah berhasil meraih sebagian baju bagian belakang yang aku pakai hingga robek. Kali ini aku benar-benar terganggu dengan sikap Abah.

"Apa sih bah?" tanyaku, berbalik arah menghadapnya.

"Dari tadi Abah panggil kamu sengaja diam. Kamu mau membuat Abah marah ya. Benar-benar kamu. Kalau aku punya anak laki-laki lain tak akan sudi ku serahkan cucu kesayanganku pada laki-laki seperti kamu!" Abah menegaskan.

"Abah pikir aku mau?" aku balik menantang Abah.

"Kau!" sepasang mata itu menatapku penuh kemarahan. "Berani melawanku!"

"Ben tak bermaksud melawan Abah, Ben tahu diri siapa Abah. Tapi Ben tetap tak akan menuruti keinginan Abah untuk menikahi uminya Alif!" kataku, tegas.

Waktu aku hendak berbalik, terlihat bunda, Ami dan Yohana yang menggendong Alif berdiri di dekat meja makan.

"Kamu ...." kataku, menunjuk Yohana. "Bisa kan bicara pada Abah seperti dulu kalau kamu tidak mau menikah dengan saya. Jangan diam saja seperti itu. Abah hanya akan mendengar kamu, bukan saya!"

"Ben, nggak sopan ya kamu!" Abah hendak meraihku, tapi ditahan oleh panggilan Yohana.

"Bah, izinkan Hana bicara." kata Yohana. "Ya Ben, aku ingin menikah dengan kamu. Aku ingin kamu menjadi suamiku, menjadi ayah pengganti untuk Alif " kata Yohana dengan suara terbata -bata.

Apa ini? Ada apa dengan perempuan itu, kenapa sekarang ia malah lantang bicara seperti itu meski dengan suara terbata? Apa sih yang sebenarnya ia pikirkan? Aku benar-benar heran melihatnya. Apalagi yang ia inginkan?

"Omong kosong!" kataku, kesal dengan apa yang ia ucapkan. Bukannya masuk ke kamar, kini aku keluar dari rumah, berlalu menuju masjid dengan kaus yang robek di bagian belakang. Aku gak peduli dengan semuanya!

Episodes
1 Disuruh Pulang
2 Dalam Penjara Kuasa Abah
3 Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4 Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5 Permintaan Atau Paksaan
6 Abah Yang Toxic
7 Reni ... Reni
8 Permintaan Maaf Yohana
9 Kacau
10 Kabar Buruk Tentang Reni
11 Jangan Pergi, Ren!
12 Selamat Tinggal Yohana!
13 Ada Reni!
14 Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15 Buku Catatan Abah
16 Cerita Ami
17 Rahasia Yang Sebenernya
18 Permintaan Ayah Reni
19 Tanggung Jawab
20 Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21 Kabar Ingin Menikah
22 Isi Hati Bunda
23 Setelah Akad
24 Setelah Enam Bulan
25 Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26 Bersama Yohana
27 Harapan Membahagiakan Yohana
28 Usaha Untuk Bertahan
29 Baju Kurung Untuk Yohana
30 Apakah Kamu Bahagia, Han?
31 Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32 Reni Datang
33 Berdebat Dengan Reni
34 Reni Sakit
35 Reni Belum Bisa Dipulangkan
36 Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37 Hinaan Reni
38 Orang Tua Reni Datang
39 Nasib Orang Miskin
40 Saling Adu
41 Hanya Kamu Seorang
42 Double Date?
43 Penolakan Reni
44 Ketahuan?
45 Yohana, Kamu Dimana?
46 Reni Meniru Yohana
47 Reni Akhirnya Pergi
48 Pulanglah, Ben!
49 Demi Sebuah Bakti
50 Putusan Cerai
51 Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52 Tiga Ganjalan Besar (1)
53 Tiga Ganjalan Besar (2)
54 Bertemu Anak-anak Pak Diki
55 Bunda Meninggal
56 Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57 Dua Hambatan Telah Selesai
58 Akhirnya Bertemu Yohana
59 Yohana: Pergilah Ben!
60 Lelaki Yang Disebut Monster
61 HAMBATAN SEBELUM PERGI
62 Menjemput Upik Dan Puti
63 Kejutan Tasyakuran
64 Membesuk Abah
65 Yohana Yang Suci
66 Mbak Lila Ingin Pergi
67 Hambatan-hambatan
68 Membawa Abah Pulang
69 Kecurigaan Ami
70 Kecurigaan Ami (2)
71 Sebelum Abah Pergi
72 Peristirahatan Terakhir
73 Mbak Lila Menikah
74 Tahun Pertama Pernikahan
75 Tentang Anak
76 Marah
77 Menjadi Pelayan Yohana
78 Salam Perpisahan
79 Anak-anak Hilang
80 Mencari Anak-anak
81 Bangkitlah Yohana
82 Seorang Anak Yang Terpilih
83 Tiga Orang Putri
84 Setelah 12 Tahun
85 Anak Magang
86 Desas-desus
87 Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88 Pulang
89 Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90 Dugaan
91 Kamu Harus Pergi
92 Kejutan Dari Nilam
93 Masalah Demi Masalah
94 Informasi Genta
95 Bertemu Upik
96 Cerita Upik
97 Caca Cemburu
98 Keinginan Puti
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Disuruh Pulang
2
Dalam Penjara Kuasa Abah
3
Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4
Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5
Permintaan Atau Paksaan
6
Abah Yang Toxic
7
Reni ... Reni
8
Permintaan Maaf Yohana
9
Kacau
10
Kabar Buruk Tentang Reni
11
Jangan Pergi, Ren!
12
Selamat Tinggal Yohana!
13
Ada Reni!
14
Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15
Buku Catatan Abah
16
Cerita Ami
17
Rahasia Yang Sebenernya
18
Permintaan Ayah Reni
19
Tanggung Jawab
20
Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21
Kabar Ingin Menikah
22
Isi Hati Bunda
23
Setelah Akad
24
Setelah Enam Bulan
25
Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26
Bersama Yohana
27
Harapan Membahagiakan Yohana
28
Usaha Untuk Bertahan
29
Baju Kurung Untuk Yohana
30
Apakah Kamu Bahagia, Han?
31
Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32
Reni Datang
33
Berdebat Dengan Reni
34
Reni Sakit
35
Reni Belum Bisa Dipulangkan
36
Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37
Hinaan Reni
38
Orang Tua Reni Datang
39
Nasib Orang Miskin
40
Saling Adu
41
Hanya Kamu Seorang
42
Double Date?
43
Penolakan Reni
44
Ketahuan?
45
Yohana, Kamu Dimana?
46
Reni Meniru Yohana
47
Reni Akhirnya Pergi
48
Pulanglah, Ben!
49
Demi Sebuah Bakti
50
Putusan Cerai
51
Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52
Tiga Ganjalan Besar (1)
53
Tiga Ganjalan Besar (2)
54
Bertemu Anak-anak Pak Diki
55
Bunda Meninggal
56
Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57
Dua Hambatan Telah Selesai
58
Akhirnya Bertemu Yohana
59
Yohana: Pergilah Ben!
60
Lelaki Yang Disebut Monster
61
HAMBATAN SEBELUM PERGI
62
Menjemput Upik Dan Puti
63
Kejutan Tasyakuran
64
Membesuk Abah
65
Yohana Yang Suci
66
Mbak Lila Ingin Pergi
67
Hambatan-hambatan
68
Membawa Abah Pulang
69
Kecurigaan Ami
70
Kecurigaan Ami (2)
71
Sebelum Abah Pergi
72
Peristirahatan Terakhir
73
Mbak Lila Menikah
74
Tahun Pertama Pernikahan
75
Tentang Anak
76
Marah
77
Menjadi Pelayan Yohana
78
Salam Perpisahan
79
Anak-anak Hilang
80
Mencari Anak-anak
81
Bangkitlah Yohana
82
Seorang Anak Yang Terpilih
83
Tiga Orang Putri
84
Setelah 12 Tahun
85
Anak Magang
86
Desas-desus
87
Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88
Pulang
89
Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90
Dugaan
91
Kamu Harus Pergi
92
Kejutan Dari Nilam
93
Masalah Demi Masalah
94
Informasi Genta
95
Bertemu Upik
96
Cerita Upik
97
Caca Cemburu
98
Keinginan Puti

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!