"Bang Sigit meninggal karena kecelakaan, bang." kata Ami, ketika aku mempertanyakan tentang kematian abangku.
"Bukan itu yang Abang maksud. Kita sama-sama mendengar keterangan polisi bahwa motor yang dilajukan bang Sigit kecepatannya standar. Tidak ada bahaya juga yang menghadang yang memungkinkan ia mengalami hal buruk. Tapi kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan tunggal yang mengakibatkan kondisi bang Sigit fatal. Kita juga tahu bahwa sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, hanya ada Abah dan bang Sigit di ruangan rumah sakit. Kamu yakin, tidak terjadi sesuatu antara mereka berdua sebelum bang Sigit menghembuskan nafas terakhir?" Pertanyaanku membuat Ami terkejut, ia sampai menutup mulutnya dengan tangan.
"Nggak nggak nggak. Aku nggak mau membayangkan apapun. Sudah bang, jangan dibahas lagi. Ini semakin mengerikan. Aku nggak mau dengar kezaliman Abah lagi!" Ami menegaskan.
"Tapi aku akan cari tahu!" kataku.
"Bang," Ami memohon. Wajar ia melakukan semua itu sebab bagaimanapun Abah adalah ayahnya, ayah kami berdua. Namun aku tak bisa membiarkan Abah semena-mena terhadap abangku. Kami harus tahu semuanya. "Apa Abang nggak kasihan sama aku dan bunda? Kami hidup tertekan batin, bang."
"Justru karena Abang sayang sama kalian. Juga pada Abah meski Abah memperlakukan kita dengan tidak baik. Kita harus menyadarkan Abah bahwa Abah sudah sangat salah dan Abah harus mentaubatinya!"
Ami tak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa pasrah, tak lupa ia memintaku agar menepati janji kembali ke rumah dan tinggal bersama lagi.
"Bang, ditunggu di rumah ya. Aku benar-benar berharap Abang pulang. Kasihan bunda juga, bang. Sejak kepergian Bang Sigit sering melamun, merasa bersalah sebab kedua putranya meninggalkan dirinya." kata Ami, sebelum kami berpisah di lobby mall. Aku mengantarkan ia dan Alif naik ke atas taksi, setelah itu barulah aku kembali ke kosan dengan motorku.
***
Hp milikku berdering. Dari nomor Reni, ku abaikan. Aku masih sibuk berbenah barang-barang sebelum pindah ke rumah malam ini.
Beberapa pesan masuk, masih dari nomor Reni. Tetap ku abaikan karena aku ingin menyelesaikan beres-beres dahulu. Nanti kalau sudah selesai semuanya barulah aku akan menghubungi Reni kembali.
Beberapa waktu belakangan ini kami memang sering berkomunikasi. Sesuai permintaan ayahnya. Aku membantu pemulihan Reni, terutama dari mentalnya yang cukup hancur usai musibah yang menimpanya.
Sedikit lagi beres, tiba-tiba pintu kamar kosku digedor. Riko lagi. Aku sampai geleng-geleng kepala, apa ia tak punya cara yang lebih lembut agar tidak mengagetkan.
"Reni bunuh diri, Ben!" kata Riko.
Aku lebih terkejut dengan informasi yang dibawa Riko. Badanku langsung lemas mendengarnya. Kemarin kami bertemu, ia masih baik-baik saja. Reni sudah sangat ceria, persis seperti ia biasanya. Hanya saja ia masih butuh waktu untuk bertemu orang lain. Orang asing yang mau ditemuinya hanya aku dan Riko.
Aku ingat, beberapa jam lalu ia juga menghubungi aku. Apa aku melakukan kesalahan kedua? Mengabaikan saat ia butuh bantuanku?
"Ta ... tadi Reni menghubungiku. Sekitar satu atau dua jaman." kataku, dengan tangan bergetar, membuka Hp, melihat panggilan dan pesan dari Reni yang sempat aku abaikan.
"Itu ayahnya, Ben. Kejadiannya pagi." jawab Riko. Ia pun sama sepertiku. Duduk lemas di lantai kamar kosku dengan perasaan sedih.
"Lalu sekarang dimana Reni?"
"Ia di rumah sakit. Orang tua Reni menghubungi kamu pasti butuh bantuan kamu. Hanya kamu yang bisa mengembalikan semangatnya."
"Tapi kenapa ia melakukan semua itu? Bukannya sebelumnya ia baik-baik saja?"
"Reni hamil, Ben. Tadi pagi sepertinya ia melakukan tes, setelah tahu hasilnya ia langsung menyakiti dirinya sendiri. Sepertinya Reni terpukul dengan kenyataan itu, ia benar-benar tidak siap mengandung anak dari para penjahat itu. Mereka benar-benar kejam, selain menghancurkan hidup Reni, mereka juga membuatnya harus menanggung beban seumur hidupnya dengan keberadaan anak tersebut."
"Tapi anak itu tak bersalah." kataku.
"Ben, Reni itu calon dokter hebat. Sekarang ia hamil di luar nikah. Bisa bayangkan bagaimana hancurnya masa depan Reni? Ia harus membersamai anak itu seumur hidupnya. Itu artinya ia harus melihat terus kenangan buruk itu selamanya!"
"Anak itu tak salah apa-apa. Para pelakulah yang harusnya mendapatkan kutukan itu."
Untuk menghindari pertikaian akibat perdebatan, aku memutuskan untuk mengunjungi Reni di rumah sakit bersama dengan Riko.
Sampai di sana, kedua orang tua Reni langsung menyambut kami dengan tangisan. Ayah dan ibunya menceritakan kondisi Reni saat ini yang kembali kacau, bahkan lebih parah lagi. Kedua tangannya sampai harus diikat agar tak melakukan perbuatan melukai diri sendiri lagi.
"Tak ada seorangpun yang diterima oleh Reni, nak Ben. Bahkan kami orang tuanya pun diabaikan. Kami benar-benar sedih melihatnya seperti itu." kata ayahnya
"Om, kalau boleh, izinkan saya untuk menemui Reni." pintaku.
"Tentu saja, dengan senang hati nak Ben!"
Aku memberanikan diri masuk ke kamar tempat Reni di rawat. Seperti yang dikatakan orang tuanya, kedua tangannya harus diikat.
"Ren," panggilku. Betapa sedihnya aku melihatnya seperti itu. Tapi ia yang terlihat masih terpukul berusaha tersenyum. Ia gak ingin orang lain tahu bagaimana perjuangannya.
"Ben, aku hamil!" kata Reni dengan suara parau, ia menangis.
Aku mendekati ranjangnya. Membuka kedua ikatan di tangannya. "Jangan tambah penderitaan kamu lagi. Jangan sakiti diri sendiri. Kalau kamu mau mati, tanpa perlu menyakiti diri sendiri pun kamu akan mati juga jika waktunya tiba, tapi kalau waktunya belum datang ya jangan diakhiri, kamu menggunakan cara apapun kalau Allah bilang belum waktunya maka kamu akan tetap hidup, Ren!"
"Ben," ia menatapku. "Apakah kamu akan. meninggalkan aku?"
"Tidak, aku akan tetap jadi sahabat kamu, Ren. Saat aku terpuruk, kamu selalu ada untukku, sekarang akupun akan begitu. Jangan sakiti diri kamu sendiri dan bayi itu ya Ren. Kamu pasti bisa menjaganya dengan sangat baik."
"Ben, aku nggak siap menjadi ibu. Aku ..."
"Kalau belum dicoba, jangan bilang enggak siap dulu, Ren. kamu pasti bisa. Kamu perempuan hebat, Ren. Tuhan mempercayakan anak ini pada kamu karena Dia tahu kamu bisa."
"Aghhhhh," Reni menggerutu. Ia bahkan nyaris menangis saking putus asanya.
"Kamu akan menjaganya, kan?"
"Aku nggak tahu."
"Please ...."
"Aku nggak bisa sendiri, Ben!"
"Kalau begitu akan ku temani."
"Benar?" Serius!
"Yap. Aku akan menemani kamu dan anak kamu, Ren. Kita hadapi Semua bersama -sama. Oke!"
"Ben!" Reni kini benar-benar menangis.
Ia sangat berterima kasih sebab aku sudah membantunya. Ia sebenarnya tak ingin berharap banyak, aku bersedia jadi ayah angkat anaknya saja ia sudah sangat banyakbersyukur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments