"Ben," Reni kembali menepukku.
"Menurut kamu, aku pulang enggak?" Tanyaku.
"Kenapa nanya aku?"
"Karena kamu temanku, Ren. Aku percaya sama kamu."
"Mmmmm, begitu ya." Reni sumringah. "Kalau pulang mau dinikahin, jangan pulang deh Ben. Aku nggak mau kehilangan kamu."
"Hahahah, kalau begitu aku pulang, karena ga mungkin Abah dan Bunda mau menikahkan aku, mustahil. Palingan juga mau dimarahi."
"Kalau begitu jangan pulang juga."
"Kenapa?"
"Aku nggak mau kamu sedih lagi nanti. Bisa-bisa nambah tugasku untuk mengembalikan mood kamu yang sering hancur kalau sudah pulang.".
Reni benar, setiap pulang ke rumah selama enam tahun ini aku selalu berantakan. Ada saja kata-kata Abah yang menyakiti perasaanku. Mulai dari merendahkan, menghina hingga kecurigaan-kecurigaan tak mendasar yang membuatku sakit hati. Tapi tak bisa melawan sebab aku hanyalah anak yang tak boleh durhaka pada orang tuanya atau aku akan masuk neraka. Begitu ancaman Abah semala ini.
"Jadi?" Reni menatapku.
"Aku pulang." kataku
"Hmmm, semoga semuanya aman-aman saja ya." Reni menatap khawatir.
Jakarta Depok, jarak yang tak terlalu jauh. Setiap hari juga sebenarnya bisa bolak-balik, namun karena situasi yang tidak membuat nyaman akhirnya membuatku memutuskan untuk ngekos. Selama enam tahun ini, sejak lulus di bangku SMA, aku bisa dihitung jari berapa kali pulangnya. Bahkan ekstrimnya, Ramadhan dan Idul Fitri pun aku pernah tak pulang. Alasannya, karena rumah itu tak pernah memberikan kenyamanan untukku.
***
Motor tuaku melaju melewati jalan Jakarta Selatan, membelok ke arah Cinere. Motor ku pacu dengan kecepatan tinggi, namun, beberapa ratus meter dekat dari rumah, laju motor ku pelankan. Bahkan lebih pelan dari pejalan kaki sehingga membuat orang-orang yang berada di belakang mengklakson berkali-kali sebab terganggu dengan caraku berkendara. Tapi aku tak peduli. Di depan gang, barulah aku berhenti, hanya duduk diam di atas motor.
Tiiin. Motor di belakang membunyikan klakson cukup kencang, diikuti tawa cekikikan karena aku kaget. Saat aku menoleh, ternyata Ami, adik bungsuku. Ia baru pulang dari minimarket di depan.
"Isss kamu itu ya, ngapain sih ngagetin gitu. Usil banget. Bagaimana kalau abangmu ini jantungan? Mau kamu nggak punya Abang lagi?" kataku.
"Iiihhh Abang ngomong apa sih. Amit-amit. Astagfirullah ya Allah, jangan ambil bang Ben dulu, panjangkan umurnya ya Allah. Bang Ben belum merasakan bahagia. Nanti kalau cepat mati malah jadi hantu gentayangan." cetus Ami.
"Ehh sembarangan!" aku melotot.
"Lagian Abang ngapain di situ. Bukannya segera pulang. Sudah ditunggu bunda tuh."
"Mmmm,"
"Abah? Nggak di rumah, lagi di pondok."
"Oh," aku agak lega. Lalu melajukan Motor menunu rumah, suasana sepi. Begitu mesin motor matic, bunda keluar.
"Sudah sampai?" Tanya bunda, menyongsong kedatanganku, sembari menyodorkan tangannya.
"Tadi nongkrong di depan, Bun." cerita Ami, yang baru masuk ke teras rumah.
"Lha, kenapa?" Bunda melirik.
Aku enggan menjawab, masuk sambil menenteng tas yang hanya berisi satu lembar pakaian. Baru beberapa langkah, aku terhenti mendengar suara tangisan anak kecil. Alif, keponakanku.
"Ben, Alif sama uminya tidur di kamar kamu, sudah sebulanan. Kamu tidur di kamar depan ya " Kata bunda.
Aku tak menjawab, langsung berbalik arah menuju kamar tamu paling depan. Waktu mau nutup pintu, bunda ikut masuk sehingga aku tak jadi menutupnya.
"Apa kabar, Ben?" Bunda duduk di sisi tempat tidur. Mungkin ini pertanyaan yang aneh, sebab kami tinggal di kota yang hanya berjarak dua jam-an kalau naik kendaraan. Apalagi di jaman serba canggih seperti ini, tidak saling berkabar, padahal sama-sama punya gawai.
"Seperti yang bunda lihat." Kataku
"Kuliahmu bagaimana?"
"Masih."
"Biaya kuliahnya aman? Kamu masih kerja di ... dimana itu?"
"Cafe coklat,"
"Iya itu. Bunda ingin main ke sana. Ingin melihat kamu kerja. Serius, nggak? Bunda juga ingin melihat kosan kamu, Ben. Nyaman nggak? Juga kampus kamu. Sudah semester berapa kamu sekarang, Ben? Dua belas, ya? Apa masih aman, kamu enggak di DO, kan?"
Pertanyaan bunda terdengar aneh di telingaku. Biasa untuk ibu dan anak-anak kebanyakan. Sama seperti biasa jika pertanyaan itu bunda tanya pada almarhum bang Sigit atau Ami. Tapi tidak padaku. Bahkan ketika aku sakit demam berdarah, dalam keadaan kritis lima tahun lalu saja mereka tak peduli. Tak ada yang datang, boro-boro menemani, membesuk pun tidak.
Aku punya keluarga tapi seperti sebatang kara. Sejak lulus SMA, keberadaanku seolah dikucilkan dari keluarga. Aku ingin lanjut kuliah atau tidak, tak ada yang bertanya ataupun menawarkan biaya. Aku berjuang sendiri. Itulah kenapa aku ogah-ogahan menjalani semua ini. Pulang rasanya sangatlah asing.
"Ben, kok nggak dijawab?" Bunda menatapku.
"Apa yang mau dijawab?" aku balik bertanya.
"Kapan kamu lulus?"
"Entah. Sebenarnya ada apa, Bun?" tanyaku. Bosan dengan basa-basi kaku ini. Kalau sebelumnya kami biasa hangat, mungkin aku gak akan seperti ini, terlanjur menutup diri dengan keluarga. Tapi sebelumnya, setiap aku pulangpun, tak ada yang menyapa. Di rumah seperti benar-benar tak ada. Palingan hanya Ami yang mengajakku bicara. Itu juga sembunyi-sembunyi, kalau ketahuan Abah biasanya akan menjauh dariku.
"Kamu masih marah pada Bunda dan Abah?" bunda bertanya.
"Aku yang harusnya nanya, Abah dan Bunda kenapa? Apa salahku hingga diperlakukan seperti ini? Kalau aku memang salah, apa sefatal itu hingga dianggap tidak ada. Keberadaanku benar-benar tidak kalian pedulikan. Lalu sekarang, ada apa, Bun? Jangan membuatku bingung. Aku sudah terbiasa dengan kondisi diabaikan. Kenapa sekarang diperlakukan sebaliknya. Ada apa? Aku benar-benar bingung juga takut. Takut kalau tiba-tiba harus mendapatkan perlakuan yang lebih tidak enak lagi." pertanyaan yang selama ini mengganggu benakku itu akhirnya terlontar juga.
Bunda menangis. Aku semakin bingung. Takut juga kalau tiba-tiba Abah datang dan salah paham lalu bertambah benci padaku.
"Bun, jangan nangis. Katakan saja. Aku sudah terbiasa dengan segala hal yang pahit. Jadi jangan memberi angin di tengah gersangnya Sahara." kataku.
"Ben, bunda minta maaf. Bunda selama ini mendiamkan kamu juga bukan atas keinginan bunda. Kalau kamu tahu, Bunda juga tersiksa, rasanya serba salah. Bunda ingin memeluk kamu tapi tak bisa. Bunda teramat rindu, Ben."
"Aku tak mengerti."
"Ben ... namanya istri, harus ikut apa kata suaminya. Begitulah bunda yang harus nurut pada Abah kalian. Selama ini kalian tahu, kan, bunda tak pernah punya kuasa untuk sekedar membantahnya. Semua harus bunda turuti, demi ketenangan keluarga kita."
"Bunda tenang lepas tanggung jawab atas anak bunda? Bunda tenang tak tahu aku dimana, apakah aku makan, apakah aku hidup dengan baik? Bunda bisa tenang dengan hatiku yang hancur? Begitu Bun?" aku menatap Bunda yang diam tertunduk. Ahhh Tuhan, maafkan aku yang terpaksa bicara setegas ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments