[Mi, bisa ketemu nggak? Penting!] sebuah pesan pendek ku kirim ke nomor Ami. Satu menit, dua menit, tiga menit. Aku benar-benar hilang sabar, langsung menelepon. Tapi tak diangkat. Entah kemana anak itu. Kembali tanganku lincah menekan nomor Ami, menghubuinya berulang kali hingga tak sadar sudah tiga puluh panggilan tak terjawab.
[Kenapa bang? Miscal sampai puluhan begitu. Chat saja. Lagi jagain Alif ini.] balas Ami, beberapa saat kemudian.
[Nggak bisa, aku mau ngomong langsung. Penting.] kataku.
[Kalau nanti sore bagaimana? Bunda lagi keluar, kasihan Alif nggak ada yang jagain.] balas Ami lagi.
[Bawa saja.] kataku lagi.
[Duh bang, ada apa sih? Aku nggak bisa bawa Alif naik motor. Bahaya. Lagian kalau Abah sama bunda tahu bisa-bisa aku dimarahi. Kenapa Abang nggak pulang saja, sih? Di rumah sepi ni.]
[Urgen, Mi. Kita ketemu di luar ya . Please]
[Apa sih? Bahaya bang kalau bawa Alif. Abang nggak tahu, anak seumuran itu lagi aktif -aktif banget.]
[Ketemu dekat rumah saja.]
[Oke. Tapi Abang jemput dong. Bahaya kalau naik motor. Jauh dekat sama saja.]
[Kalau begitu naik taksi saja. Ongkosnya nanti Abang ganti ]
[Oke!]
Aku dan Ami sepakat bertemu di mall yang tak jauh dari rumah kami agar ia tak terlalu kerepotan mengurus Alif. Tak lupa ku katakan padanya agar tak memberi tahu Abah ataupun bunda tentang pertemuan ini. Aku berharap bisa mencari tahu jawaban dari Ami. Selama enam tahun aku tak ada di rumah, ia pasti tahu semuanya sebab ia ada di rumah itu.
Ami sampai duluan, ia sempat mengomel karena kewalahan menjaga Alif yang rewel minta mainan padahal Ami uang yang dibawanya terbatas. Maklumlah, ia masih anak kuliahan yang bergantung penuh pada bunda dan Abah.
Untuk membungkam Ami, aku memberinya lima lembar uang seratus ribuan. Ia langsung tersenyum lebar. Benar-benar adik mata duitan. Sebelum kami bicara, tak lupa ku belikan mainan yang dinginkan Alif. Setelah mendapatkannya, sama seperti Ami, Alif langsung diam, sibuk dengan mainannya.
"Apa yang ingin Abang bicarakan?" tanya Ami, sambil menikmati makanan yang telah ku pesan
Aku memandang bocah tiga tahun, anak bang Sigit dan Yohana. Garis wajahnya sangat mirip Abinya, tak ada garis wajah Yohana sedikitpun. Melihat Alif, senyumku terkembang, seolah melihat bang Sigit kala masih kecil. Ya Allah, rindunya aku pada abangku itu.
"Alif nggak ada mirip-miripnya sama uminya, ya. Seratus persen mirip Abinya " kataku
"Ahhh kata siapa? Malah mirip ibunya banget. Apalagi bentuk wajahnya " ujar Ami, sambil menyendok es krim coklat.
Aku memandang Alif, wajahnya bulat. Dimana miripnya dengan Yohana yang berwajah oval. "Ngarang kamu, Mi. Mana ada Alif mirip Yohana, bentuk wajahnya saja berbeda."
"Lha, kenapa juga dimiripkan dengan kak Yohana. Kak Hana kan cuma ibu pengasuhnya saja, bukan ibu kandung, ya wajar nggak mirip!" Ami agak kesal dengan kata-kata ku.
Ibu pengasuh? Bukan ibu kandung? Apa maksudnya? Aku langsung mempertanyakan. "Maksudnya apa, Mi?"
"Hah, eh, itu ...." Ami gelagapan.
"Jawab Mi, jangan diam saja!"
"Bukan apa-apa, bang. Udah ahh, aku mau pulang saja. Takutnya nanti dicari bunda." Ami bersiap hendak pulang, ia memasukkan semua barang-barangnya yang berserak di atas meja kw dalam tasnya.
"Mi ... kamu merahasiakan sesuatu?" Aku mencecar adik bungsuku itu.
"Bang please, Ami nggak tahu apa-apa. Ami nggak mau dapat masalah. Abang tahu kan bagaimana Abah. Sudah ya, kalau ada apa-apa yang ingin diketahui tanya Abah saja, jangan Ami atau bunda. Kasihanilah kami, kami perempuan sudah terlalu banyak bebannya." Kata Ami. "Lagipula untuk apa mempertanyakan sesuatu yang sudah usai. Udah bang, lupakan saja apa yang tadi Ami katakan." Pintanya.
"Mi, tolong. Beritahu Abang apa yang sebenarnya terjadi. Abang benar-benar ingin tahu. Apa saja yang dirahasiakan Abah?"
"Untuk apa sih bang? Toh semuanya sudah berlalu, bang Sigit juga sudah enggak ada di sini, begitu juga dengan kak Hana. Lalu untuk apa lagi?"
"Aku sudah tahu sebagian." Kataku, sambil menunjukkan buku catatan Abah yang tadi di dalam tas. "Ini catatan Abah, tadi jatuh di makam. Dalam sini ada tulisan Abah tentang rahasia berkaitan dengan bang Sigit dan Yohana. Tapi apa? Tolong beritahu aku, jangan main rahasia-rahasia lagi, apa kamu enggak kasihan sama aku, Mi?" Aku memohon padanya.
"Kenapa Abang mengambil? Kalau Abah tahu habislah Abang. Sebaiknya sekarang kembalikan buku itu ke tempat Abang menemukan. Abang jangan macam-macam, tak perlu ingin tahu semuanya. Kasihan Abang juga nantinya." Pinta Ami.
"Aku nggak akan mengembalikan sebelum semuanya jelas. Kamu ngerti kan. Aku nggak mau ada rahasia-rahasia lagi! Lagipula kita itu Keluarga. Apakah pantas antara keluarga punya sesuatu yang dipendam satu sama lain dengan dalih keamanan."
"Tapi ini keputusan Abah, Bang. Masa Abang mau melawan Abah. Bisa-bisa Abang sendiri yang menyesal. Tahu kan bagaimana kalau Abah sudah mengamuk, menakutkan. Sebaiknya jangan coba-coba cari maslaha, bang!" Ami mencoba mengingatkan konsekuensinya. Tapi aku tak peduli.
"Sudah terlanjur basah, kalaupun harus terbuka semuanya ya sudah seharusnya begitu." Kataku dengan enteng.
Banyak hal yang membuat Ami ragu untuk memberitahu rahasia yang ia, bunda dan Abah simpan. Ia sangat takut Abah tahu ia membocorkan sehingga nanti akan mengundang murka Abah. Kata Ami, Abah itu kalau marah sangat menakutkan. Tak perlu diberitahu pun sebenarnya aku sangatlah tahu. Tapi rasa penasaran ku sangatlah besar makanya tak bisa membiarkan semuanya berlalu begitu saja meski Ami terus mengelak bahwa itu masa lalu.
"Please Mi, Abang itu Abang kamu, masa kamu tega membiarkan Abang penasaran. Atau kamu mau aku mati penasaran?" Kataku.
"Astagfirullah bang, Abang ngomong apa sih? Udah sih, jangan bicara sembarangan. Ami sudah kehilangan satu Abang, Ami nggak mau kehilangan Abang juga " Ami nyaris menangis. "Ami nggak mau jadi satu-satunya anak Abah. Lagian Abang nggak tahu rasanya jadi Ami, bertahun-tahun hidupnya dalam ketakutan. Belum lagi rahasia-rahasia yang tidak jelas." Ia tampak sedih.
"Kalau begitu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" Pintaku. "Kamu enggak perlu khawatir, mulai sekarang Abang akan melindungi kamu dan bunda "
"Caranya?"
"Abang akan tinggal di rumah lagi."
"Benar, bang? Ami nyaris bersorak. Ia yang semula sedih kembali ceria lagi. "Tapi Abang janji jangan pernah marah pada siapapun apalagi Abah. Bisa-bisa kita yang diamuk. Ami nggak mau Abah memukuli bunda lagi. Kami sudah sangat lelah hati dan fisik bang "
"Siap. Kamu tenang saja. Rahasia ini aman ditangan Abang." Janjiku kepada adikku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments